Di dunia fantasi yang kejam, di mana hierarki ditentukan oleh kekuatan dan kemurnian garis keturunan, terlahir sebagai seekor Goblin adalah sebuah kutukan. Mereka adalah ras terendah-lemah, kotor, diburu sebagai ajang latihan para petualang amatir, dan dibantai tanpa ampun oleh umat manusia.
Namun, dari kedalaman keputusasaan ras yang nyaris punah di Hutan Misti, lahirlah sebuah anomali.
Bukan dengan kulit hijau menjijikkan atau tubuh bungkuk yang menyedihkan, melainkan dengan paras rupawan bagai seorang High Elf yang agung. Berambut pirang keemasan, bertelinga runcing yang elegan, dan dianugerahi ingatan serta kecerdasan dari dunia modern, ia adalah Altair-Sang Goblin Emperor pertama.
menyadari ras nya di ambang kepunahan altair pun bertekad membangkitkan kembali ras goblin yang hina, menjadi penguasa dunia dengan bantuan sistem manipulasi genetik dan kekuatan reproduksi nya sebagai sang kaisar goblin. bisakah dia menghadapi segala rintangan di depan nya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PrinceArslan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27: Kekalahan Pertama dan Benih Dendam
Pusaran awan badai di atas Hutan Selatan berputar semakin gila, menyedot seluruh cahaya dari langit. Di pusat pusaran itu, sebuah tombak petir raksasa setebal batang pohon purba mulai terbentuk, berderak dengan energi mematikan yang sanggup meratakan sebuah gunung.
Antarmuka sistem di mata Altair berkedip merah penuh kepanikan, menampilkan peringatan fatal:
[Peringatan: Kerusakan Fatal Terdeteksi! Probabilitas Kematian: 99.9%]
Dengan Kecerdasan stat 100, Altair tidak membiarkan ego menelan logikanya. Bertahan melawan serangan murni dari monster dengan kekuatan 2.500 Mana adalah kemustahilan bagi tubuh fisiknya saat ini.
Jika aku tidak bisa menahannya, aku harus membiarkannya memukulku mundur, batin Altair dengan cepat.
Ia menarik seluruh mana dari pedang auranya, memindahkannya ke depan tubuh untuk membentuk perisai berlapis-lapis, mengorbankan daya serang demi pertahanan mutlak. Di saat yang sama, sang Griffin memekik nyaring, menjatuhkan penghakiman dari langit.
JDAAAAAARRRRR!!!
Pilar petir biru itu menghantam perisai Altair. Langit seolah terbelah.
Dalam hitungan milidetik, tiga lapis perisai aura emas gelap milik Altair hancur seperti kaca tipis. Arus listrik jutaan volt menyambar tubuh sang Kaisar, membakar jubah hitamnya hingga menjadi abu dan memanggang kulitnya. Rasa sakit yang tak terlukiskan merobek sistem sarafnya. Darah menyembur dari mulutnya yang terbakar.
Namun, hantaman luar biasa itu jugalah yang Altair manfaatkan. Alih-alih mencoba menahan pijakannya, ia melepaskan gravitasi tubuhnya. Ledakan petir itu mementalkan tubuh Altair ke bawah seperti proyektil, melesat menembus lapisan kanopi dedaunan raksasa yang tebalnya mencapai belasan meter.
KRAK! KRAK! KRAK!
Tubuh Altair menghancurkan ranting-ranting seukuran lengan manusia, meluncur jatuh ke dalam kegelapan Hutan Pegunungan yang lembap. Di atas sana, sang Griffin meraung penuh kemenangan, suaranya menggelegar ke seluruh penjuru Qirwood. Monster purba itu terbang berputar sekali lagi, namun ia tidak menukik masuk ke dalam hutan. Ukuran sayapnya dan insting udaranya mencegahnya memasuki kerapatan pepohonan purba yang bisa menjebaknya.
Di dasar hutan, jauh di bawah kanopi, sebuah dentuman keras mengguncang tanah saat tubuh Altair menghantam salah satu akar pohon raksasa.
Batu-batu berhamburan. Asap mengepul dari kawah kecil yang tercipta dari jatuhnya sang Kaisar.
Zyrus dan Valdor, yang telah melompat turun dari dahan pengintaian, segera bergegas mendekati kawah tersebut. Untuk pertama kalinya sejak mereka dilahirkan, kedua pangeran itu merasakan sesuatu yang belum pernah ada di dalam garis keturunan mutlak mereka: Kekhawatiran.
"Ayahanda!" Zyrus berseru, aura ungu meledak dari tubuh remajanya saat ia melompat ke tepi kawah. Valdor yang berfisik setara anak lima tahun menyusul di belakangnya, mencengkeram pedang patahnya dengan tangan gemetar.
Di dasar kawah, Altair berlutut dengan satu kaki. Kondisinya sangat mengenaskan. Kulit pucatnya kini dipenuhi luka bakar kehitaman yang masih mengeluarkan asap. Darah segar menetes dari dagu dan lengannya, mendesis saat menyentuh batu yang panas. Sistemnya menampilkan HP (Health Points) yang tersisa kurang dari lima persen.
Ini adalah kekalahan mutlak. Kekalahan pertama Sang Kaisar Goblin.
Zyrus mengulurkan tangannya, bersiap merapalkan sihir penyembuhan tingkat rendah. Namun, Altair mengangkat tangannya yang hangus, menghentikan putra sulungnya.
"Jangan sentuh," desis Altair dengan suara parau yang bercampur darah. Ia memaksakan dirinya untuk berdiri tegak, meski kakinya bergetar hebat.
Valdor menatap ayahnya dengan mata kuning yang membelalak. Makhluk tak terkalahkan yang menciptakannya, sosok yang menghancurkan jiwa ibunya, kini berdiri bersimbah darah.
Alih-alih marah atau mengutuk, Altair justru menyeringai. Sebuah senyuman buas dan mengerikan perlahan terbentuk di wajahnya yang setengah terbakar, membuat darah segar kembali menetes dari sela giginya. Ia menatap tajam ke arah kedua putranya.
"Lihat baik-baik," suara Altair menggema pelan namun menusuk hingga ke tulang. "Tatap darah ini, Zyrus. Cium bau hangus ini, Valdor."
Kedua pangeran itu terdiam kaku.
"Kalian diciptakan dengan potensi tak terbatas, namun potensi tanpa rintangan hanyalah ilusi," lanjut Altair, matanya yang merah rubi menyala semakin terang, menolak untuk redup meski tubuhnya hancur. "Hari ini, langit menolak kita. Griffin itu membuktikan bahwa kita masih terlalu lemah, terlalu kecil untuk menggenggam dunia."
Altair mendongak, menatap ke arah celah kecil di kanopi yang ia hancurkan saat jatuh, tempat di mana langit abu-abu terlihat samar.
"Kekalahan hari ini bukanlah akhir, melainkan peta jalan kita. Ingatlah rasa sakit ini, ingatlah keputusasaan saat melihat kekuatan yang tidak bisa kalian tandingi," Altair meremas tangannya yang terluka hingga darah kembali menetes, menanamkan sumpah itu ke dalam jiwanya sendiri. "Karena suatu hari nanti... aku akan mematahkan sayapnya, mencabut paruhnya, dan menyeret monster sombong itu ke dasar tanah!"
Zyrus menundukkan kepalanya, menyerap setiap kata ayahnya dengan kecerdasan analitisnya, mengubah rasa takut menjadi tekad yang dingin. Di sampingnya, Valdor menggeram rendah, insting buasnya terpancing oleh amarah sang ayah, menancapkan pedang patahnya ke tanah sebagai janji darah.
"Kembali ke markas," perintah Altair, berbalik dan mulai berjalan terseok namun penuh wibawa menuju air terjun tempat Kekaisaran Goblin bersembunyi. "Kita membutuhkan senjata yang tidak akan hancur oleh petir, zirah yang bisa menahan badai, dan pasukan yang bisa menutupi langit dengan tombak mereka. Mulai hari ini, setiap detik di hutan ini adalah persiapan menuju perang balas dendam."
Sang Penguasa Badai mungkin telah memenangkan pertempuran di langit hari ini. Namun, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja membangunkan iblis sejati di dasar pegunungan Qirwood, iblis yang kini akan melakukan apa pun untuk merebut takhtanya.