Di sekolah, Rendra Adijaya adalah pangeran sempurna yang dingin dan tak tersentuh. Namun di balik pintu kamar, dia hanyalah cowok anxious kronis yang menyembah seorang admin Discord anonim sebagai "pawang mental"-nya. Siapa sangka, admin gaming tempatnya mengemis semangat setiap malam itu ternyata Naya, cewek cuek bermulut tajam yang duduk di pojok kelasnya dan paling anti dengan cowok nyata.
Begitu rahasia terbongkar, saklar obsesi Rendra langsung menyala. Topeng pangeran dinginnya pecah total saat dia nekat menyudutkan Naya di kelas kosong sambil memelas gila, "Tolong jangan block gue... gue rela beliin angkot jalur sekolah ini asal lu tetep mau jadi pawang gue!" Mampukah Naya bertahan menghadapi tingkah bucin akut sang idola sekolah yang aslinya serapuh kerupuk kesiram kuah soto?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TCN_Luna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26: Latihan Presentasi atau Uji Nyali?
Pukul tujuh pagi, Rendra Adijaya sudah duduk di bangkunya dengan wajah serius.
Di atas meja terdapat laptop, catatan presentasi, dua pulpen, dan sebotol air mineral. Semuanya tersusun rapi, seolah-olah pemiliknya sedang mempersiapkan sidang penting yang menentukan masa depan perusahaan keluarga.
Padahal, tugas yang menunggunya hanyalah presentasi Bahasa Indonesia.
Sungguh, kehidupan Rendra belakangan ini semakin tidak masuk akal.
Ia membaca ulang materi kelompok mereka yang membahas penggunaan media sosial secara bertanggung jawab. Data sudah dikumpulkan, contoh kasus sudah dipilih, dan kesimpulan sudah dirapikan. Secara teori, tidak ada masalah.
Secara praktik, ia harus berbicara di depan kelas.
Dan itulah masalah sesungguhnya.
Rendra menatap halaman pertama catatannya. Kemudian ia membalik halaman kedua, membaca bagian ketiga, lalu kembali ke halaman pertama.
Lima menit berlalu.
Ia masih berada di paragraf yang sama.
“Ren.”
Tidak ada jawaban.
“Rendra Adijaya.”
Rendra mengangkat wajah. Aldi sudah berdiri di samping mejanya sambil membawa roti cokelat.
“Lo lagi belajar atau lagi berusaha menghipnotis kertas?”
“Gue sedang mempelajari materi.”
“Materinya nggak bakal masuk kalau cuma ditatap. Coba dibaca.”
“Gue sudah membacanya.”
“Terus kenapa muka lo kayak orang yang baru tahu nilai matematikanya nol?”
Rendra menutup catatan.
“Pergi, Di.”
Aldi menarik kursi dan duduk tanpa izin. Memang begitulah persahabatan mereka. Rendra mengusir, Aldi menganggapnya sebagai undangan.
“Gue dengar kemarin lo latihan sama Naya di perpustakaan.”
“Terus?”
“Gimana rasanya belajar bareng orang yang lo sukai?”
Rendra langsung menoleh.
“Gue nggak pernah mengatakan kalau gue menyukai dia.”
“Benar. Lo cuma menghafal jadwalnya, menyediakan sarapan, dan hampir membeli jalur angkot demi memastikan dia naik kendaraan yang sama dengan lo.”
“Itu sudah dibahas.”
“Sejarah tidak boleh dilupakan, kawan.”
Rendra meraih pulpen, mempertimbangkan kemungkinan menggunakan benda itu untuk menusuk harga diri Aldi.
Untungnya, bel masuk berbunyi sebelum tindak kriminal tersebut terjadi.
Saat jam istirahat, Rendra menemui Naya di perpustakaan sesuai janji mereka.
Naya sudah duduk di meja dekat jendela dengan buku catatan terbuka. Begitu Rendra datang, ia langsung mengulurkan tangan.
“Mana materi lo?”
Rendra menyerahkan dokumennya.
Naya membacanya selama beberapa menit. Awalnya ia hanya mengangguk, tetapi semakin lama alisnya semakin berkerut.
“Ren.”
“Apa?”
“Ini presentasi anak SMA atau seminar akademik?”
“Bahasanya formal dan informatif.”
“Kalimat lo panjangnya bisa dipakai sebagai jalur evakuasi.”
Rendra mengerutkan kening. “Bahasanya tetap harus benar.”
“Gue nggak bilang salah. Tapi kalau lo menjelaskan sesuatu dengan kalimat sepanjang kereta api, orang bisa lupa bagian awalnya sebelum lo sampai ke titik.”
Naya mengambil pulpen dan mulai mencoret beberapa bagian.
Rendra memperhatikan setiap coretan dengan ekspresi seperti pemilik restoran yang menyaksikan kokinya membuang bahan makanan mahal.
“Bagian ini bisa disederhanakan,” kata Naya. “Misalnya, daripada menjelaskan definisi panjang tentang verifikasi informasi, lo bisa bilang bahwa kita harus memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya.”
“Definisi aslinya lebih lengkap.”
“Lengkap bukan berarti harus bikin orang pusing.”
Rendra terdiam.
Argumen itu menyebalkan karena benar.
Naya mengembalikan kertasnya.
“Coba jelaskan pakai bahasa lo sendiri. Anggap aja lo sedang menjelaskan sesuatu ke teman di Discord.”
Rendra duduk tegak.
“Media sosial memungkinkan pertukaran informasi secara cepat, tetapi pengguna harus memverifikasi validitas informasi sebelum menyebarkannya.”
Naya menatapnya.
Rendra membalas tatapan itu.
“Apa?”
“Lo barusan kedengaran seperti pengumuman kementerian.”
“Lalu gue harus bicara bagaimana?”
“Misalnya, ada orang menyebarkan kabar kalau sekolah besok libur. Jangan langsung percaya cuma karena pesannya dikirim seratus kali. Periksa sumbernya dulu.”
Rendra berpikir sebentar.
“Jadi, jangan percaya berita hanya karena satu grup kelas mengirimkannya berulang kali?”
“Nah, itu lebih gampang dipahami.”
Rendra mencatat kalimat tersebut.
“Baik. Gue akan menyederhanakan seluruh materi.”
“Jangan semuanya sekaligus. Nanti kita malah presentasi tahun depan.”
Rendra menghela napas. Ternyata, menyampaikan sesuatu dengan sederhana jauh lebih sulit daripada yang ia bayangkan.
Setelah memperbaiki beberapa bagian, Naya menutup buku catatannya.
“Sekarang coba dari awal tanpa membaca.”
Rendra membeku.
“Tanpa membaca?”
“Iya.”
“Kalau gue lupa?”
“Lihat catatan sebentar, terus lanjut.”
“Kalau gue tetap lupa?”
“Tarik napas.”
“Kalau gue pingsan?”
“Gue panggil petugas UKS.”
Rendra menatapnya datar.
“Dukungan moral lo luar biasa.”
“Gue bisa kasih tepuk tangan juga kalau lo mau.”
“Tidak perlu. Gue belum siap menerima penghargaan.”
Naya menahan senyum, lalu meletakkan ponselnya di atas meja.
“Serius, Ren. Lo udah memahami materinya. Sekarang tinggal latihan menyampaikan. Kita mulai dari dua orang dulu.”
“Dua orang?”
“Gue sama Aldi.”
Rendra langsung mengernyit.
“Kenapa harus Aldi?”
“Karena kalau lo berhasil menjelaskan sesuatu di depan manusia yang satu ini, menghadapi kelas mungkin terasa lebih gampang.”
“WOI!” Suara Aldi mendadak terdengar dari pintu perpustakaan.
Naya menoleh santai. “Bagus. Berarti pendengaran lo masih berfungsi.”
Aldi menarik kursi dan duduk.
“Jadi gue dijadikan alat terapi?”
“Alat latihan,” koreksi Naya.
“Bayarannya?”
“Pengalaman.”
“Gue mau uang.”
“Keluar.”
Aldi langsung mengangkat kedua tangan.
“Baik, saya siap membantu pendidikan nasional!”
Rendra nyaris tertawa. Setidaknya, kehadiran Aldi membuat suasana tidak terlalu tegang.
Latihan pun dimulai.
Rendra berdiri di depan meja, memegang catatannya dengan kedua tangan. Aldi duduk sambil memasang ekspresi serius yang terlihat sangat dibuat-buat, sedangkan Naya memperhatikan dari samping.
“Selamat pagi. Kami dari kelompok—”
“Pertanyaan!” Aldi mengangkat tangan.
Rendra berhenti. “Belum mulai.”
“Gue mau tahu apakah presenter kita sudah sarapan.”
“ALDI.”
“Baik, baik!”
Rendra menarik napas dan mencoba lagi. Kali ini, ia berhasil menjelaskan pengertian penggunaan media sosial yang bertanggung jawab. Suaranya sempat mengecil, tetapi ia tetap melanjutkan. Ketika kehilangan satu kalimat, ia melihat catatannya sebentar, menemukan bagian yang dibutuhkan, lalu meneruskan penjelasan.
Dua menit kemudian, ia selesai.
Sunyi.
Rendra memandang Aldi dan Naya bergantian.
“Kenapa kalian diam?”
Aldi bertepuk tangan tiga kali.
“Selamat! Tidak ada korban jiwa!”
“Gue akan membunuh lo setelah ini.”
“Ancaman dari presenter terbaik XI-A!”
Naya menyodorkan botol air mineral kepada Rendra.
“Bagus. Tadi lo sempat berhenti, tapi lo bisa lanjut sendiri.”
Rendra menerima botol tersebut.
“Bagian mana yang harus diperbaiki?”
“Jangan terlalu cepat waktu menjelaskan data. Terus, sesekali lihat teman-teman lo. Nggak harus menatap semua orang sekaligus.”
Rendra mengangguk, menyimpan masukan itu dalam pikirannya.
“Gue masih gugup kalau membayangkan seluruh kelas melihat gue.”
Naya tidak langsung bercanda kali ini.
“Wajar. Lo belum terbiasa. Makanya kita latihan bertahap, bukan langsung memaksa lo berdiri di depan semua orang.”
Rendra menatap catatannya.
“Gue biasanya nggak punya masalah kalau harus menjelaskan sesuatu lewat tulisan.”
“Karena lo punya waktu buat menyusun kalimat. Kalau bicara langsung, lo merasa harus menjawab semuanya saat itu juga, kan?”
Rendra mengangkat wajah, sedikit terkejut karena Naya memahami persoalannya.
“Iya.”
“Kalau begitu, jangan menuntut diri lo harus sempurna. Lo boleh berhenti sebentar buat berpikir. Orang lain juga melakukan itu.”
Rendra terdiam beberapa saat.
Ia terbiasa mempersiapkan segala sesuatu sampai detail terkecil. Kesalahan terasa seperti sesuatu yang harus dihindari dengan segala cara. Namun, semakin ia mencoba mengendalikan setiap kemungkinan, semakin besar pula rasa takutnya.
Mungkin Naya benar.
Mungkin ia tidak harus menjadi sempurna untuk bisa melakukannya dengan baik.
“Terima kasih,” katanya akhirnya.
Naya mengangguk. “Sama-sama. Tapi kalau besok lo masih membaca seluruh catatan tanpa melihat siapa pun, gue bakal menyuruh lo latihan lagi.”
Rendra langsung menarik napas panjang.
“Gue menarik kembali ucapan terima kasih gue.”
“Telat. Nggak bisa dikembalikan.”
Sebelum mereka meninggalkan perpustakaan, Naya mengingatkan Rendra untuk berlatih mandiri malam nanti.
“Besok kita coba pakai timer. Biar tahu durasinya sesuai pembagian waktu kelompok.”
“Oke.”
“Dan jangan begadang cuma buat menghafal semua kalimat.”
“Gue nggak akan begadang.”
Naya menatapnya curiga.
“Janji?”
“Janji.”
“Kalau besok mata lo kayak dua kantong belanja, gue tahu siapa yang bohong.”
Rendra menghela napas.
“Kenapa ancaman lo selalu berkaitan dengan kondisi fisik gue?”
“Karena kalau gue mengancam bakal melarang lo ikut presentasi, lo mungkin malah senang.”
“Itu tidak benar.”
“Kalau begitu, buktikan.”
Naya berjalan keluar lebih dulu. Rendra menyusul dengan jarak yang wajar, sementara Aldi mengikuti mereka sambil sibuk membicarakan kemungkinan membuat desain presentasi dengan animasi berlebihan.
“Gue punya ide,” kata Aldi. “Bagian pembuka bisa pakai efek suara ledakan.”
“Tidak,” jawab Naya.
“Animasi tulisan jatuh dari langit?”
“Tidak.”
“Gambar gue sebagai ahli media sosial?”
“Terutama tidak.”
Rendra akhirnya tertawa kecil.
Perjalanan kembali ke kelas terasa lebih ringan daripada saat ia datang ke perpustakaan. Rasa gugupnya belum hilang, tetapi setidaknya ia sudah tahu apa yang harus dilakukan untuk menghadapinya.
Besok masih ada latihan.
Setelah itu, presentasi sebenarnya menunggu mereka.
Dan untuk pertama kalinya, Rendra tidak langsung membayangkan semua kemungkinan buruk yang bisa terjadi.
Ia hanya berpikir bahwa ia akan mencoba lagi.
Meski begitu, ketika Aldi tiba-tiba merangkul bahunya dan berseru, “PRESENTER KESAYANGAN XI-A, BESOK JANGAN LUPA BAWA CAMILAN!”
Rendra langsung menepis tangan sahabatnya.
“Gue akan memasukkan lo ke daftar contoh penyalahgunaan media sosial.”
Aldi terbahak-bahak.
Naya menggeleng sambil berjalan di depan mereka.
Latihan presentasi ternyata bukan satu-satunya hal yang perlu dipelajari Rendra.
Menghadapi Aldi tanpa kehilangan kesabaran juga membutuhkan keterampilan khusus.
Sayangnya, belum ada modul pelajarannya.