NovelToon NovelToon
Retak Di Antara Kita

Retak Di Antara Kita

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Priska Heriska

Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.

sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.

dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5. Membuahkan hasil kebersamaan

Kami berdua melangkah meninggalkan kerumunan sekolah dengan hati yang jauh lebih tenang dan lega.

Kami berjalan menuju tempat parkir motor di samping halaman sekolah tapi kami tidak menggunakan motor kami menggunakan sepeda. Kakak menaiki sepedanya dan aku bonceng. di sepanjang perjalanan, angin siang terasa sejuk walau matahari terik.

Kami masih sempat membahas kepanikan orang-orang tadi sambil tersenyum, lalu tertawa.

Kami tiba di rumah tepat di teras rumah yang berhalaman kecil. melihat Ibu sedang duduk sambil mengobrol dengan Bapak yang sedang menampi beras. Dengan teh yang hangat itu.

Ibu langsung menanyakan dengan wajah cemas.

"bagaimana tadi?"

Aku dan Kakak duduk, lalu menceritakan semua dari awal mulai dari, kata ibu-ibu yang daftar ulang lagi, dan kabarnya tidak pasti.

Hingga kejadian di papan pengumuman.

Kami jelaskan bahwa namaku sudah tercantum resmi dan tidak ada data yang hangus.

Kami juga bercerita tentang gosip ibu-ibu yang membuat kita panik tidak karuan.

Bapak tersenyum bijak dan berkata bahwa kita tidak boleh langsung percaya kabar yang belum jelas sumbernya.

"Syukurlah" ucap ibu sambil menyuguhkan teh hangat untuk kami berdua.

Bapak kemudian meletakkan tampah berasnya di lantai teras, lalu menyeruput teh hangat yang sejak tadi mengepulkan uap tipis.

"Zaman sekarang itu, kalo ada omongan yang belum pasti jangan berpecaya dulu" ucap bapak sambil pelan berusaha mencairkan suasana.

"Ibu-ibu di sekolah tadi itu mungkin terlalu cemas, tapi kecemasannya diceritakan ke orang lain tanpa tahu kebenarannya, malah jadi fitnah dan bikin gaduh." ucap bapak.

Ibu mengembuskan napas lega yang panjang Wajah cemasnya dan tegang sejak kami datang kini berganti dengan senyuman penuh syukur.

Kakak mencondongkan badannya ke depan, lalu mengambil gelas tehnya.

"Iya, Bu, Pak. Tadi di depan papan pengumuman itu suasananya sempat tegang sekali. Ada beberapa orang tua murid yang protes sampai marah-marah ke panitia karena kemakan gosip itu."

"Untung Kita santai enggak tergesa-gesa.

tiba-tiba panitia mengumumkan di papan pengumuman. kita langsung cair nama siswa dan nama sekolah. Ternyata sudah ada nama dan lainnya." tanya kakak.

Aku mengangguk setuju, mengingat kembali betapa gemetarnya kakiku saat melihat kerumunan orang di sekolah tadi.

Namun sekarang, duduk di teras rumah yang sejuk ini, ditemani aroma teh hangat dan beras yang sedang ditampi Bapak, semua kepanikan itu hilang.

Bapak kembali mengambil tampahnya, menggoyang-goyangkannya dengan ritme yang teratur hingga kulit beras yang tersisa terbang tertiup angin yang mulai sore.

"Ini jadi pelajaran buat kamu," ucap Bapak sambil menatapku tajam namun lembut.

"Besok kalau sudah resmi masuk sekolah di sana, fokus belajar. Jangan gampang ikut-ikutan arus. Cari tahu dulu kebenarannya sebelum ikut berbicara.

Aku menganggukan kepala

"Sore itu, teras rumah kami yang kecil terasa begitu hangat. Kabar baik ini bukan hanya akhir dari kepanikan, tapi juga awal dari babak baru perjalanan sekolahku yang sudah lama dinanti-nantikan.

Sore tiba, ibu memasak untuk makan malam aroma masakan dari dapur mulai memenuhi seisi rumah.

Ibu sedang sibuk di depan wajan, memasak lauk sederhana. Tidak ada daging atau makanan mewah, hanya tempe goreng garing dan sayur bening bayam kesukaanku. Namun, wangi bawang goreng yang ditabur Ibu di atas sayur terasa jauh lebih nikmat dari biasanya.

Aku dan kakak menghampiri Ibu ke dapur

"Biarku bawa mangkuk sayurnya ke meja," kataku.

Kami pun makan malam bersama . Setiap suapan malam begitu terasa berharga.

Di tengah kesederhanaan lauk yang tersaji, ada rasa syukur yang luar biasa karena perjuangan panjang berburu sekolah akhirnya membuahkan hasil.

Sambil mengunyah, bayangan tentang seragam baruku teman-teman baruku seperti apa ketika berjumpa nanti apa akan sama seperti waktu SD.

tapi yang paling penting adalah aku tidak lagi melihat sahabatku yang membutuhkanku saat butuh saja.

Keesokan Hari demi hari datang begitu cepat. setelah pendaftaran hari itu selesai dan pada saat hari libur sekolah selesai sebelumnya aku sudah membeli buku baru, peralatan sekolah lainnya dari jauh hari. pada hari libur itu aku hanya di rumah membantu ibu dan beraktivitas seperti hari-hari biasanya.

setelah hari libur yang panjang menurutku akhirnya mulai besok sudah masuk ke sekolah di mana aku masuk SMP hari pertama kali dan besok aku akan bersemangat di lingkungan sekolah baruku.

"besok sudah mulai masuk sekolah kan?" tanya ibu

"iya" jawabku sambil tersenyum.

"semoga mendapatkan teman yang baru dan lebih baik!" ucap ibu nada rendah.

Kakak yang berada di sampingku juga ikut tersenyum seolah memberiku semangat untuk besok.

Siang itu aku tertidur di dapur, ibu seperti biasa memasak kari bubur ayam untuk dijual, bau rempah kari yang gurih masih tertinggal lekat di udara. Setelah memasak kari ia menggoreng krupuk, ayam dan sebagainya.

kakak berada di ruang tamu yang tidak terlalu lebar itu. Ia mengerjakan tugasnya, sementara bapak pergi berkerja.

Sore tiba aku terbangun aku berjalan ke dapur melihat ibu bersama bapak yang sedang mengobrol dengan bapak yang baru pulang bekerja.

"Sudah pulang pak"tanya kau sambil berjalan mendekati meja.

"Sudah pulang dari jam empat tadi" jawab bapak.

lalu tersenyum hangat kemudian menyesap kopi buatan ibu yang biasanya ibu membuatkan nya Teh kini kopi. Dan bapak menikmati kopi buatan ibu itu.

ibu menyodorkan piring berisi pisang goreng yang masih hangat ke arahku.

"ini dimakan dulu mumpung masih hangat

sekalian untuk teman ngopi." tanya ibu

"terima kasih Bu" jawabku sambil mengambil sepotong pisang goreng di piring.

aku memakan pisang goreng itu rasa pisang goreng buatan ibu sangat pas,Tepungnya renyah dan gurih. daging buah pisangnya sangat manis alami.

aku menyeruput kopi hitam di cangkir yang kecil pahitnya menyatu sempurna dengan manisnya pisang goreng.

ibu duduk di sebelahku ia tersenyum melihat kau menikmati camilan itu.

"bagaimana manisnya pas kan." tanya ibu

"pas banget, Bu selalu enak kalau ibu yang buat." jawab kok sambil meraih potongan pisang yang kedua.

Malam pun tiba setelah mandi, berpakaian bersih.

aku melangkah ke ruang tengah melihat ibu, bapak dan kakak sudah berkumpul di dekat meja makan aroma masakan ibu langsung menyambutku. Bapak duduk melihat kami yang sedang sibuk menata piring dan sendok. sementara ibu membawa lodeh hangat dari dapur.

"Nah sudah matang!" tanya ibu

kami berempat duduk melingkar dan makan bersama di malam yang tenang itu.

setelah selesai makan, piring piring kotor bertumpukan di atas meja

kakak membawa piring-piring kotor itu ke bak

sementara itu aku membantu mengelap meja yang basah.

Setelah dapur bersih.

Tak lama kami kembali berkumpul di ruang tengah.

malam itu di ruang tengah terasa hangat.

di sudut ruangan bapak dan ibu asyik mengobrol. aku dan kakak duduk di lantai menghadap meja kecil, sibuk dengan urusan kami sendiri. kakak membantuku meratakan sampul buku tulis baru, sedangkan aku membantu menggunting solasi dan menempelkan label nama. di bagian depannya

agar siap digunakan untuk sekolah besok.

"memangnya pelajaran, hari pertama sekolah Biasanya diisi dengan Masa perkenalan dulu sebelum masuk ke materi pelajaran" tanya kakak

Aku mengangguk pelan.

Tiba waktu sudah malam

di ruang tengah sudah sunyi

Ibu, bapak mulai tertidur. aku dan kakak juga mulai tidur.

1
Gunadi Hudaya
priska, bisa ikuti aku? ada beberapa bagian yg ingin aku review dari novelmu kalo kamu tidak keberatan
Priska: Tentu saja boleh kakak
total 1 replies
Gunadi Hudaya
dulu aku memang pernah menikmati pendidikan di sekolah dasar. tp sdh lama sekali. dan ternyata saat berhadapan dengan keponakanku yg sd juga ga bisa related. sd dulu dan sd sekarang beda sekali
Priska: Benar SD sekarang berbeda, terimakasih kk udah mau mampir 🙏
total 1 replies
Jiayou
semangat ya kak
pokoknya harus Sampek ending
Priska: iya terimakasih kakak udah mampir 🙏
total 1 replies
Bayu Aksa
Berasa nostalgia jaman sekolah dasar 🤭💪semangat terus ya👍
Priska: siap, terimakasih kk
total 1 replies
Dino Prayoga
seruuu😍😍
Priska: terimakasih sudah mampir
total 1 replies
Dino Prayoga
💪
Huang ying308
halo kak , semangat👍
Priska: hai, terimakasih kak
total 1 replies
Pae Karjo
bagus semangat 💪💪
Priska: terimakasih
total 1 replies
jinggaarundari
waduhh, sedih juga ya jadi Riska...
Priska: iya, terimakasih sudah mampir kk
total 1 replies
Huang ying308
💪💪💪 semangat KK ⭐⭐⭐⭐⭐
Priska: terima kasih
total 1 replies
Rahman Ncusbre
yo tetap semangat
Priska: terima kasih
total 1 replies
Novita Wulan Sari
Ceritanya seru dan Emosional banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!