NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25 — Batas yang Harus Dijaga

Cahaya matahari menembus celah tirai kamar Adrian Mahendra ketika alarm di atas nakas berbunyi. Adrian membuka mata, mematikan alarm, lalu duduk di tepi ranjang.

Seperti biasa, hal pertama yang terlintas dalam pikirannya adalah pekerjaan yang menunggu di kantor.

Ia bangkit, berjalan menuju kamar mandi, kemudian bersiap mengenakan kemeja putih dan celana bahan hitam. Setelah merapikan jam tangannya, ia mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja.

Ada beberapa pesan pekerjaan yang masuk sejak malam sebelumnya.

Namun, di antara pesan-pesan itu, matanya kembali tertuju pada nama yang beberapa hari terakhir muncul di layar ponselnya.

Clarissa.

Pesan dari perempuan itu masih belum dibalas.

Adrian membuka percakapan mereka, membaca kembali pesan singkat tersebut, lalu mengembuskan napas pelan.

Ia tidak ingin bersikap kasar kepada seseorang yang pernah menjadi bagian dari kehidupannya. Akan tetapi, ia juga tidak ingin memberikan kesan bahwa hubungan mereka bisa kembali seperti dahulu.

Setelah berpikir sejenak, Adrian mengetik balasan.

Adrian: Aku baik-baik saja. Terima kasih sudah menghubungi. Aku sedang sibuk dengan pekerjaan dan ada banyak hal yang harus kuurus.

Ia berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

Adrian: Semoga kamu juga baik-baik saja.

Adrian membaca pesan itu sekali lagi, kemudian mengirimkannya.

Tidak ada kalimat yang berlebihan. Tidak ada pertanyaan tentang kehidupan Clarissa. Ia hanya membalas dengan sopan, sebagaimana ia akan menanggapi kenalan lama lainnya.

Setelah itu, Adrian meletakkan ponsel ke dalam saku dan meninggalkan kamar.

Ketika sampai di ruang makan, ia melihat Alisha Amanda sudah duduk di sana. Perempuan itu mengenakan pakaian kerja sederhana sambil memeriksa sesuatu di ponselnya.

Di samping piringnya terdapat sebuah buku catatan kecil yang beberapa halamannya dipenuhi tulisan.

“Selamat pagi,” sapa Alisha ketika menyadari kehadirannya.

Adrian menarik kursi.

“Pagi.”

Alisha kembali memeriksa ponselnya, kemudian meletakkannya di samping buku catatan.

“Kamu berangkat sekarang?” tanyanya.

“Sebentar lagi.”

“Aku juga. Hari ini ada beberapa pesanan yang harus disiapkan di toko.”

Adrian mengangguk sambil mengambil segelas air putih.

Mereka mulai sarapan tanpa banyak percakapan. Suasananya tenang, hanya sesekali terdengar suara peralatan makan.

Setelah beberapa menit, Adrian memperhatikan buku catatan di dekat tangan Alisha.

“Itu catatan pekerjaan?”

Alisha mengikuti arah pandangannya.

“Bukan semuanya. Aku mencatat pengeluaran untuk kebutuhan Ibu dan jadwal kunjungan rumah sakit. Aku juga menulis jadwal kerjaku supaya tidak bentrok.”

Adrian mengangguk pelan.

“Kamu mengatur semuanya sendiri?”

“Iya. Selama masih bisa kuatur, aku lebih suka mencatatnya supaya tidak lupa.”

“Kalau jadwal rumah sakit berubah, kamu bisa memberi tahu kepala toko lebih awal.”

“Aku sudah membicarakannya dengan Mira dan Rani. Mereka bilang bisa membantu kalau aku perlu bertukar jadwal.”

Adrian kembali mengangguk.

“Bagus.”

Alisha menghabiskan sarapannya, kemudian memasukkan buku catatan ke dalam tas.

Sebelum beranjak, ia menoleh kepada Adrian.

“Oh, tentang Clarissa yang kemarin datang ke rumah…”

Adrian mengangkat wajah.

“Ada apa?”

“Aku hanya ingin memberi tahu bahwa dia sempat mengatakan mungkin akan mencoba menghubungimu lagi. Kalau dia datang ketika aku tidak ada di rumah, sebaiknya kamu juga mengetahui hal itu.”

Adrian meletakkan gelasnya.

“Baik. Terima kasih sudah memberi tahu.”

Alisha mengangguk.

“Kalau begitu, aku berangkat dulu.”

Ia mengambil tas dan berjalan menuju pintu.

Adrian memperhatikannya sebentar sebelum kembali menyelesaikan sarapannya.

Percakapan tadi sangat sederhana. Alisha tidak menanyakan apakah ia sudah membalas pesan Clarissa. Ia juga tidak berusaha mencari tahu apa yang akan mereka bicarakan jika bertemu.

Perempuan itu hanya menyampaikan informasi yang dianggapnya perlu.

Adrian tidak mengerti mengapa hal sesederhana itu kembali membuatnya berpikir.

Namun, ia segera mengalihkan perhatiannya. Ada rapat penting yang harus dipimpinnya pagi ini, dan ia tidak ingin datang terlambat hanya karena memikirkan hal-hal yang tidak perlu.

---

Di Sweet Morning Bakery, Alisha langsung bergabung dengan Mira dan Rani yang sedang memeriksa pesanan untuk hari itu.

“Alisha, tolong periksa daftar pesanan ini, ya. Aku takut ada yang terlewat,” kata Mira sambil menyerahkan selembar kertas.

Alisha menerimanya.

“Baik. Pesanan untuk acara kantor yang kemarin sudah diambil semua?”

“Sudah. Tinggal pesanan pelanggan yang akan datang siang nanti.”

Rani muncul dari ruang belakang sambil membawa beberapa kotak kemasan.

“Alisha, nanti kalau sudah selesai memeriksa daftar, bantu aku menyiapkan labelnya, ya.”

“Iya.”

Alisha meletakkan tasnya di tempat penyimpanan, mengenakan celemek, lalu mulai bekerja.

Pekerjaan di toko roti cukup menyita perhatian. Ia harus memastikan jumlah pesanan sesuai, memeriksa nama pelanggan, dan membantu menyiapkan kemasan agar tidak ada kesalahan ketika pesanan diambil.

Menjelang pukul sepuluh, toko mulai ramai.

Seorang pelanggan datang untuk mengambil pesanan kue ulang tahun. Mira melayani pelanggan tersebut, sementara Alisha memeriksa kembali nama yang tercantum pada daftar.

“Maaf, Mbak, pesanan atas nama Ibu Lestari sudah selesai?” tanya pelanggan lain.

Alisha memeriksa catatannya.

“Sebentar, Bu. Saya periksa dulu, ya.”

Ia mencocokkan nomor pesanan, lalu meminta bantuan Rani untuk memastikan kotak yang tepat.

“Ini pesanannya, Bu. Silakan diperiksa terlebih dahulu.”

Pelanggan tersebut membuka kotak dan tersenyum puas.

“Sudah benar. Terima kasih.”

“Sama-sama, Bu.”

Setelah pelanggan pergi, Mira menghampiri Alisha.

“Kamu sekarang makin teliti, ya. Dulu waktu pertama kali bekerja di sini, kamu masih sering memeriksa catatan berkali-kali.”

Alisha tertawa kecil.

“Sekarang juga masih. Aku cuma tidak mau salah memberikan pesanan.”

“Memang harus begitu. Apalagi kalau pesanan untuk acara besar.”

Mereka kembali bekerja.

Di tengah kesibukan itu, ponsel Alisha yang disimpan di loker bergetar beberapa kali. Namun, ia tidak mengetahuinya karena sedang membantu menata beberapa kotak roti.

Baru ketika waktu istirahat tiba, ia membuka ponselnya.

Ada satu pesan dari rumah sakit yang mengingatkannya mengenai jadwal pemeriksaan ibunya pada akhir minggu.

Alisha segera mencatat tanggal tersebut di buku kecilnya.

Ia kemudian membuka percakapan dengan Adrian dan mengirim pesan singkat.

Alisha: Adrian, akhir minggu ini Ibu ada jadwal pemeriksaan. Aku mungkin perlu pulang sedikit lebih awal dari toko hari itu.

Balasan Adrian datang beberapa menit kemudian.

Adrian: Baik. Atur jadwalmu supaya kamu bisa mengantar ibumu. Kalau ada kendala, beri tahu aku.

Alisha membaca pesan itu dan membalas dengan ucapan terima kasih.

Setelahnya, ia kembali menyimpan ponsel.

Tidak ada alasan baginya untuk membicarakan hal lain dengan Adrian. Mereka sudah sepakat untuk menjalani kehidupan rumah tangga dengan saling menghormati, dan sejauh ini semuanya berjalan cukup baik.

Alisha tidak berharap lebih dari itu.

Baginya, selama ia bisa bekerja dengan tenang dan memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi, ia sudah merasa cukup.

---

Sementara itu, di sebuah apartemen yang disewanya sejak kembali ke Jakarta, Clarissa sedang duduk di dekat jendela ketika ponselnya berbunyi.

Ia segera mengambil perangkat tersebut.

Balasan dari Adrian akhirnya masuk.

Clarissa membaca pesan itu dengan saksama. Senyumnya sempat muncul ketika mengetahui Adrian masih bersedia membalas pesannya.

Namun, senyum tersebut perlahan memudar ketika ia menyadari betapa singkat dan formal jawaban laki-laki itu.

Adrian tidak menanyakan di mana ia tinggal sekarang. Ia juga tidak bertanya tentang pekerjaannya, keluarganya, atau bagaimana kehidupannya selama berada di luar negeri.

Laki-laki itu hanya membalas sapaan, lalu menyampaikan bahwa dirinya sibuk.

Clarissa meletakkan ponsel di pangkuannya.

Ia tahu Adrian memang selalu mengutamakan pekerjaan. Namun, dahulu mereka masih bisa berbicara lebih lama, bahkan ketika Adrian sedang sibuk.

Sekarang, percakapan mereka terasa seperti percakapan antara dua orang yang sudah lama kehilangan kedekatan.

Clarissa mencoba mengabaikan perasaan tidak nyaman itu.

Setidaknya Adrian masih membalas.

Mungkin laki-laki itu hanya membutuhkan waktu untuk terbiasa berbicara dengannya lagi.

Ia kemudian membuka ruang percakapan mereka dan mulai mengetik.

Clarissa: Terima kasih sudah membalas. Aku senang mengetahui kamu baik-baik saja. Kalau suatu saat kamu punya waktu, aku ingin mengobrol sebentar.

Clarissa menatap kalimat itu sebelum mengirimkannya.

Kali ini, ia tidak langsung meletakkan ponsel.

Ia menunggu.

Beberapa menit berlalu, tetapi tidak ada balasan.

Clarissa akhirnya mengunci layar dan bangkit dari sofa.

Ia berjalan menuju dapur kecil untuk mengambil air minum. Sambil berdiri di sana, ia mencoba memikirkan hal lain yang bisa dilakukannya selama berada di Jakarta.

Ia belum memutuskan apakah akan kembali bekerja di bidang yang sama seperti sebelumnya atau mencari kesempatan baru.

Namun, tanpa disadarinya, sebagian besar pikirannya justru masih tertuju kepada Adrian.

Bukan semata-mata karena ia ingin kembali menjalin hubungan dengan laki-laki itu.

Setidaknya, itulah yang berusaha ia yakini.

Ia hanya ingin mengetahui apakah Adrian benar-benar bahagia dengan kehidupannya sekarang.

Akan tetapi, pertanyaan itu membuatnya teringat pada Alisha.

Perempuan yang ditemuinya di rumah Adrian tersebut sama sekali tidak menunjukkan rasa penasaran yang berlebihan tentang hubungan mereka pada masa lalu.

Clarissa masih mengingat bagaimana Alisha menjawab setiap pertanyaannya dengan tenang.

Tidak ada sindiran.

Tidak ada tuntutan untuk menjelaskan sesuatu.

Bahkan, ketika Clarissa menceritakan kenangan yang cukup pribadi, Alisha hanya mendengarkan tanpa terlihat terganggu.

Sikap itu membuat Clarissa sulit memahami hubungan mereka.

Apakah Alisha memang sangat percaya kepada Adrian?

Atau justru karena ia tidak terlalu memikirkan hubungan tersebut?

Clarissa tidak mengetahui jawabannya.

Ia hanya tahu bahwa Alisha berbeda dari bayangannya.

Dan semakin ia memikirkan hal itu, semakin besar keinginannya untuk memahami kehidupan Adrian sekarang.

---

Menjelang sore, Adrian menyelesaikan rapat terakhirnya.

Ia kembali ke ruang kerja, melepas jas, kemudian duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa laporan yang belum selesai.

Daniel mengetuk pintu sebelum masuk membawa dokumen tambahan.

“Pak, laporan dari divisi pemasaran sudah diperbarui.”

“Letakkan di meja.”

Daniel meletakkan dokumen tersebut, tetapi sebelum pergi, ia sempat bertanya, “Apakah ada hal lain yang perlu saya siapkan untuk minggu ini?”

Adrian membuka laporan itu.

“Untuk sekarang tidak ada. Kalau ada perubahan jadwal rapat, beri tahu saya.”

“Baik, Pak.”

Daniel hendak keluar ketika Adrian memanggilnya kembali.

“Daniel.”

Daniel berbalik.

“Ya, Pak?”

“Kalau ada seseorang yang menghubungi saya untuk urusan pribadi, cukup sampaikan pesannya. Tidak perlu membuat janji pertemuan sebelum saya menyetujuinya.”

Daniel mengangguk.

“Baik. Apakah ada orang tertentu yang Anda maksud?”

Adrian menatap dokumen di tangannya.

“Tidak perlu dibahas sekarang. Saya hanya ingin memastikan jadwal saya tidak berubah tanpa persetujuan.”

“Baik, Pak.”

Daniel memahami bahwa atasannya tidak ingin memperpanjang pembicaraan tersebut.

Setelah Daniel pergi, Adrian kembali membaca laporan.

Ia tidak bermaksud menghindari Clarissa selamanya. Namun, ia juga tidak ingin perempuan itu menganggap bahwa satu balasan pesan berarti ia siap kembali dekat dengannya.

Masa lalu mereka sudah selesai.

Adrian tidak melihat alasan untuk berpura-pura bahwa mereka masih memiliki hubungan seperti dahulu.

Ia telah menikah, dan meskipun pernikahannya dengan Alisha berawal dari kesepakatan, ia tetap memiliki tanggung jawab untuk menjaga batasan.

Bukan karena ia sedang jatuh cinta kepada Alisha.

Adrian bahkan belum pernah memikirkan hubungan mereka ke arah itu.

Baginya, menjaga batasan merupakan hal yang sewajarnya dilakukan oleh seseorang yang sudah menikah.

Ia kembali mengambil pena dan melanjutkan pekerjaannya.

---

Malam itu, Alisha tiba di rumah sedikit lebih lambat dari biasanya.

Ia meletakkan tas di kamar, mengganti pakaian, kemudian turun untuk mengambil air minum.

Adrian sudah berada di ruang keluarga, duduk di sofa sambil membaca beberapa dokumen.

“Kamu baru pulang?” tanyanya ketika melihat Alisha.

“Iya. Tadi ada beberapa pesanan tambahan yang harus disiapkan.”

“Sudah makan?”

“Belum. Aku mau makan sebentar lagi.”

Adrian mengangguk dan kembali melihat dokumennya.

Alisha berjalan menuju dapur. Tidak lama kemudian, ia kembali membawa segelas air dan duduk di kursi yang berjarak beberapa langkah dari sofa Adrian.

Ia berniat memeriksa jadwal kerja untuk besok sebelum makan malam.

Namun, Adrian tiba-tiba menutup dokumennya.

“Alisha.”

Alisha mengangkat wajah.

“Ya?”

“Kalau Clarissa menghubungimu lagi atau datang ke rumah ketika aku tidak ada, kamu tidak perlu merasa harus menemaninya.”

Alisha sedikit mengernyit.

“Aku tidak merasa terpaksa menemaninya.”

“Aku hanya ingin memastikan.”

Alisha meletakkan ponselnya di atas meja kecil.

“Dia datang sebagai tamu. Selama dia bersikap sopan, aku akan memperlakukannya dengan baik. Tapi aku juga tidak akan menjanjikan sesuatu yang tidak bisa kupenuhi.”

Adrian memperhatikan wajahnya.

“Maksudmu?”

“Kalau dia ingin bertemu denganmu, sebaiknya dia membuat janji denganmu secara langsung. Aku tidak tahu jadwalmu dan tidak bisa memastikan kapan kamu pulang.”

Adrian terdiam sejenak.

Jawaban itu terdengar sederhana, tetapi masuk akal.

Alisha tidak berusaha mengatur siapa yang boleh datang ke rumah mereka. Ia juga tidak mengambil tanggung jawab untuk mengurus hubungan Adrian dengan orang lain.

Ia hanya menetapkan batas yang wajar.

“Baik,” jawab Adrian akhirnya. “Kalau begitu, biarkan aku yang mengurusnya.”

Alisha mengangguk.

“Baik.”

Ia mengira percakapan mereka sudah selesai, tetapi Adrian masih duduk di tempatnya.

“Dan satu hal lagi,” kata Adrian.

Alisha kembali menoleh.

“Kalau ada sesuatu yang membuatmu tidak nyaman, kamu boleh mengatakannya.”

Alisha terdiam beberapa detik.

Ia tidak menyangka Adrian akan mengatakan hal itu.

Namun, setelah memikirkannya sebentar, ia menjawab, “Kalau memang ada sesuatu yang mengganggu, tentu aku akan mengatakannya.”

Adrian mengangguk.

“Bagus.”

Alisha berdiri sambil membawa gelasnya ke dapur.

“Aku makan dulu, ya. Perutku sudah lapar.”

Adrian hampir tersenyum mendengar kalimat itu, tetapi ekspresinya kembali biasa sebelum Alisha menoleh lagi.

“Silakan.”

Alisha pergi ke dapur tanpa memikirkan percakapan tersebut lebih jauh.

Adrian sendiri kembali membuka dokumennya.

Ia merasa sudah melakukan hal yang benar dengan menjelaskan batasan mengenai Clarissa. Namun, ada satu hal yang baru disadarinya dari percakapan itu.

Alisha tidak pernah menuntut dirinya untuk menjelaskan masa lalu.

Ia tidak meminta Adrian membuktikan apa pun.

Bahkan, ia tidak berusaha mencari tahu apakah Adrian masih memiliki perasaan kepada mantan kekasihnya.

Alisha hanya ingin menjalani kehidupan mereka dengan tenang.

Adrian seharusnya merasa lega karena tidak perlu menghadapi pertengkaran atau pertanyaan yang tidak diinginkannya.

Namun, entah mengapa, sikap perempuan itu justru membuatnya bertanya-tanya.

Apakah Alisha memang selalu sesederhana itu dalam memandang hubungan mereka?

Ataukah ia benar-benar menganggap Adrian tidak lebih dari seseorang yang kebetulan menjadi suaminya?

Adrian segera menghentikan pikirannya sendiri.

Pertanyaan itu tidak penting.

Mereka sudah mengetahui batasan masing-masing sejak awal. Tidak ada alasan baginya untuk mengharapkan sesuatu yang tidak pernah mereka sepakati.

Ia kembali membaca dokumen di hadapannya, berusaha mengalihkan perhatian dari hal-hal yang tidak perlu.

---

Di kamar, Clarissa kembali membuka ponselnya.

Pesan terakhir yang ia kirim kepada Adrian masih belum mendapatkan balasan.

Ia menghela napas pelan, lalu meletakkan ponsel di atas meja.

Mungkin Adrian memang tidak ingin berbicara dengannya sekarang.

Clarissa mulai menyadari bahwa kembali ke Jakarta tidak akan otomatis membawanya kembali ke kehidupan Adrian. Ada jarak yang tidak bisa dihilangkan hanya dengan mengirim pesan atau mengunjungi rumahnya.

Terlebih, kini ada Alisha.

Seorang perempuan yang telah menjadi istri Adrian dan memiliki kehidupannya sendiri.

Clarissa tidak tahu seperti apa sebenarnya hubungan mereka di balik pintu rumah itu. Ia juga tidak mengetahui kesepakatan yang mendasari pernikahan tersebut.

Yang ia ketahui hanyalah bahwa Adrian sudah menikah.

Dan kenyataan itu tidak bisa diubah hanya karena ia masih menyimpan pertanyaan tentang masa lalu.

Clarissa mengambil napas panjang.

Ia memutuskan untuk tidak mengirim pesan lagi malam itu.

Jika Adrian ingin berbicara dengannya, laki-laki itu bisa menghubunginya sendiri.

Setidaknya, untuk sementara, ia akan mencoba menjalani kehidupannya di Jakarta tanpa terus-menerus memikirkan Adrian.

Namun, keputusan itu belum tentu mudah ditepati.

Sebab ada pertanyaan yang masih mengganggu pikirannya: apakah Adrian benar-benar bahagia dalam pernikahannya?

---

Malam semakin larut.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Alisha menyiapkan pakaian untuk hari berikutnya. Ia kemudian memeriksa kembali jadwal pemeriksaan ibunya dan memastikan bahwa semua dokumen yang diperlukan sudah tersimpan di dalam tas.

Sebelum tidur, ia sempat teringat pada Clarissa.

Perempuan itu tampaknya memiliki banyak kenangan bersama Adrian. Namun, Alisha tidak merasa perlu membandingkan dirinya dengan seseorang yang sudah lama mengenal suaminya.

Ia dan Clarissa memiliki posisi yang berbeda dalam kehidupan Adrian.

Clarissa adalah bagian dari masa lalu.

Sedangkan Alisha adalah istri Adrian saat ini, meskipun pernikahan mereka tidak dibangun atas dasar cinta.

Alisha memahami perbedaan itu.

Ia tidak perlu memenangkan persaingan yang bahkan tidak pernah ia ikuti.

Selama Adrian menghormati kesepakatan mereka dan tidak mengganggu kehidupan yang sedang ia bangun, Alisha tidak berniat ikut campur dalam urusan pribadinya.

Ia mematikan lampu kamar, kemudian berbaring.

Di kamar sebelah, Adrian masih terjaga beberapa saat sebelum akhirnya meletakkan ponsel dan mematikan lampu.

Keduanya tidur di bawah atap yang sama, tetapi dengan pikiran yang berbeda.

Alisha memikirkan ibunya, pekerjaan, dan hari esok.

Adrian memikirkan tanggung jawabnya, batasan yang harus dijaga, serta seseorang dari masa lalu yang kembali hadir.

Mereka belum menyadari bahwa kehidupan yang semula hanya didasarkan pada sebuah kesepakatan perlahan mulai menghadirkan pertanyaan-pertanyaan kecil yang tidak mudah diabaikan.

Namun, untuk saat ini, tidak ada yang berubah.

Alisha tetap menjalani kehidupannya seperti biasa.

Adrian tetap menjadi CEO yang dingin dan sibuk.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!