NovelToon NovelToon
Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Cari Aku Di Rasa Sesalmu

Status: tamat
Genre:CEO / Balas Dendam / Penyesalan Suami / Tamat
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Zikri Cahyandi

Tiga tahun Alyssa Kirana Sastro duduk di meja makan keluarga Narendra, dan tiga tahun pula ia dituduh jadi penyebab lumpuhnya Nadine. Suaminya, Devan, tak pernah mau mendengarnya.

Malam ini Alyssa meletakkan surat gugatan cerai dan cincin nikahnya di meja kerja Devan, lalu pergi tanpa membawa apa pun. Dua jam kemudian, mobilnya ditemukan hancur di dasar jurang. Jasadnya tidak ada.

Devan masih ingin percaya itu hanya drama. Namun di rumahnya tertinggal selembar catatan.

Ke mana Alyssa pergi, dan apa yang akan Devan lakukan saat sadar apa yang sudah ia buang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zikri Cahyandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Panggung Senayan

Gerimis di pemakaman Bogor makin lebat, menghantam dedaunan kamboja tua di atas nisan pualam Broto Narendra. Devan berdiri di rumput basah, memandang punggung Henry Wijaya yang menjauh bersama dua pengawalnya. Ketukan tongkat berukir naga itu perlahan tenggelam di antara deru angin.

Ia tahu itu bukan gertakan. Sepuluh persen saham yang tidak pernah terdaftar. Pasal empat puluh dua yang mensyaratkan tujuh puluh lima persen suara. Alyssa hanya akan mencapai enam puluh lima, dan Henry bisa menahan semuanya.

Ponselnya sudah di tangan sebelum pikirannya selesai. Aris menjawab pada dering kedua.

"Henry Wijaya baru menemuiku di makam Kakek," kata Devan. Suaranya rendah dan mendesak. "Dia pegang kuasa atas sepuluh persen saham pendiri di Zurich. Dia akan memakai pasal empat puluh dua lusa."

Hening dua detik. "Porsi itu tidak ada di arsip bursa mana pun, Tuan."

"Karena Kakek menyembunyikannya. Kumpulkan tim hukum malam ini. Aku menuju Mahendra Tower."

Ia menginjak pedal gas. Jalan tol Jagorawi menyempit di balik hujan, lampu-lampu jalan memantul di kaca depan. Tiga tahun lalu, orang yang berani mengancamnya seperti Henry akan ia hancurkan lewat pengacara dan peretas perusahaan.

Malam ini ia tidak menginginkan cara itu.

"Aku tidak akan membiarkan siapa pun merebut hakmu, Alyssa," bisiknya pada kabin yang kosong.

***

Satu jam kemudian, lantai tiga puluh Mahendra Tower.

Lampu kristal menyorot meja rapat panjang berdinding kaca. Alyssa duduk di kepala meja dengan blazer hitam dan rambut tertata rapi. Lima pengacara senior A-K Capital menggeser dokumen perbankan di depannya.

Devan masuk dengan jas yang masih setengah basah. Jejak sepatunya tertinggal di atas karpet.

"Aris sudah menjelaskan soal saham Zurich," kata Alyssa tanpa mengangkat suara.

"Henry memegang kuasanya. Dia akan memakai hak tahan di pasal empat puluh dua untuk menggagalkan peralihan kendali."

Seorang pengacara menutup laptopnya. "Pasal itu mengikat, Tuan. Tidak bisa dibatalkan Pengadilan Niaga Jakarta sebelum ada arbitrase di Singapura."

"Arbitrase butuh minimal enam bulan," Aris menambahkan. "Opsi obligasi jatuh tempo dua minggu lagi."

Ruangan itu hening. Alyssa menatap lembaran Anggaran Dasar 2006 di mejanya. Ujung jarinya mengetuk kayu jati satu kali.

"Kakek Broto tidak pernah membuat keputusan tanpa alasan tertulis." Ia menoleh pada Devan. "Kamu ingat kotak jati yang kamu kembalikan sepuluh hari lalu?"

Devan mengangguk.

"Saya membuka amplopnya tiga hari lalu. Setelah selesai membaca surat penawaran saham dari Henry yang masuk lewat Aris." Alyssa membuka laci dan mengeluarkan kotak kecil itu, lalu meletakkannya di meja. "Kamu tidak membukanya. Itu satu-satunya alasan isinya masih utuh."

Devan menatap kotak itu. Dadanya terasa hangat dan sakit sekaligus.

Alyssa mengeluarkan dua lembar dari amplop. Yang pertama surat tulisan tangan Kakek Broto. Yang kedua perkamen tebal bersegel timah dan stempel emas kuno.

"Surat ini menyatakan," ia membaca pelan, "bahwa saham sepuluh persen itu bukan milik Kakek. Itu titipan Rendra Mahendra, sahabatnya, yang dititipkan sebelum banjir bandang di Lembah Anai. Kakek menyimpan sertifikat fisiknya dan hanya menyerahkan kuasa kepada Henry sebagai penjaga administratif. Haknya tetap pada pemilik asli, dan pemilik asli itu kemudian ditetapkan Kakek sebagai satu orang saja: anak Rendra yang hilang." Suaranya turun sedikit. "Saya."

Aris membaca sertifikat itu dari balik bahu Alyssa. "Ini otentik, Nona. Stempel timahnya utuh. Tanpa sertifikat ini, kuasa Henry tidak berlaku sah."

"Henry tahu itu," kata Alyssa. "Itu sebabnya dia datang dengan tongkat dan bukan dengan sertifikat."

Devan menatap perkamen berstempel emas di tangannya. Nama pemiliknya tercetak jelas: Karen Alyssa Mahendra.

Putri Rendra Mahendra. Pikiran itu akhirnya menyatu di kepalanya, setelah berhari-hari mengendap. Tidak ada yang mengatakannya secara langsung padanya. Ia hanya sampai pada kesimpulan itu sendiri, malam ini.

"Kamu tahu sejak awal," katanya pelan.

"Saya tahu setelah dibawa ke Singapura." Alyssa melipat suratnya. "Tapi saya baru benar-benar membacanya setelah kamu mengembalikan kotak ini."

Hening. Untuk sesaat, tidak ada pengacara atau berkas di ruangan itu.

"Terima kasih," kata Alyssa. Suaranya sangat pelan, hampir tak terdengar. Kemudian ia menegakkan punggung dan menoleh pada Aris. "Siapkan sertifikat untuk dibawa pagi nanti. Saya sendiri yang memegangnya."

***

Hari yang ditentukan tiba.

Pukul delapan pagi, ballroom utama Hotel Grand Senayan dipenuhi cahaya putih dari ratusan lampu sorot. Panggung ditutup beludru biru tua. Di balik panggung, layar LED sepuluh meter menampilkan tulisan tebal: Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Narendra Group Tbk.

Ratusan investor, perwakilan bursa, analis, dan wartawan memenuhi bangku. Bisik-bisik dan denting kamera memenuhi udara.

Di barisan depan VIP, Henry Wijaya duduk tenang dengan tongkat di pangkuan. Empat pengacara asing bersetelan mahal membuka dokumen di sampingnya.

Di pelataran luar, Hendri menunggu dengan map agenda. Ia merapikan kerah jas Devan yang sedikit miring, dengan mata berkaca.

"Berkas pemungutan suara sudah masuk sistem bursa, Tuan. Investor publik mendukung langkah A-K Capital."

"Terima kasih, Hendri." Devan menepuk bahunya. "Tetap di samping Aris selama rapat."

Ia menarik napas dan mendorong pintu ballroom.

Devan melangkah masuk dengan setelan hitam polos, tanpa tanda jabatan. Ruangan membisu. Ratusan pasang mata mengikuti seorang CEO yang akan menyerahkan jabatannya hari ini.

Ia naik ke panggung, berdiri di mimbar ketua rapat, dan mengangkat mikrofon.

"Selamat pagi, para pemegang saham dan tamu undangan. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa PT Narendra Group Tbk resmi saya buka."

Palu kayu mengetuk meja sekali.

"Agenda tunggalnya adalah pemungutan suara atas peralihan pengendalian perseroan kepada A-K Capital, dan penggantian Direktur Utama."

Henry mengangkat tangan kanannya dengan senyum dingin. Pengacara asing bertubuh tinggi berdiri dengan mikrofon nirkabel.

"Keberatan!" Bahasa Indonesianya kaku. "Saya mewakili Tuan Henry Wijaya, pemegang kuasa atas sepuluh persen saham pendiri Zurich. Sesuai pasal empat puluh dua, klien kami menggunakan hak menahan peralihan ini!"

Ballroom meledak dalam gumam dan kilatan lampu. Ratusan lensa berputar ke arah Henry.

Devan menatapnya dari mimbar. "Tuan Henry. Apakah Anda membawa sertifikat fisik asli saham tersebut ke ruangan ini?"

Henry berdiri pelan, bertumpu pada tongkatnya.

"Surat kuasa dari Bank Sentral Zurich punya kekuatan hukum mutlak! Sepuluh persen suaraku menahan semuanya!"

Tepat saat itu, pintu utama ballroom terhempas terbuka.

Bunyi hak sepatu tinggi memotong seluruh keriuhan. Setiap kepala menoleh.

Alyssa melangkah masuk. Blazer putih gadingnya jatuh sempurna. Rambut hitamnya disanggul rapi dengan satu pin perak minimalis. Di pergelangan kirinya, gelang perak berukir daun berkilau di bawah lampu.

Aris dan sepuluh pengawal berjas hitam mengapitnya.

Ia berjalan sepanjang karpet merah tengah, membelah barisan tamu yang tercengang, lalu berhenti tepat di samping bangku Henry. Mata cokelat terangnya menatap pria tua itu dari ketinggian yang tidak ia gunakan.

Ia membuka tas kulitnya dan mengangkat perkamen tebal bersegel timah itu di depan kamera.

"Surat kuasa Anda tidak berlaku, Tuan Henry. Sertifikat fisik sepuluh persen ini tidak pernah ada di Zurich. Ia tersimpan sendiri oleh almarhum Kakek Broto, dan dititipkan untuk pemilik aslinya."

Ia mengangkat perkamen itu lebih tinggi.

"Nama saya Karen Alyssa Mahendra, putri tunggal Rendra Mahendra. Sertifikat ini milik saya."

Ruangan itu seperti kehilangan udara.

Lalu gempar. Wartawan berebut maju, lampu kilat bertubi-tubi menyambar wajah Alyssa. Seseorang di bangku belakang berdiri dan berseru: "Putri Rendra Mahendra? Putri yang hilang itu?"

Henry membeku. Wajahnya memucat sampai bibirnya pun kelihatan putih.

"Tidak... itu tidak mungkin..."

"Dengan sertifikat ini," Alyssa melanjutkan, melangkah mendekati panggung, "suara A-K Capital, saham yang diserahkan Tuan Devan, dan sepuluh persen milik saya sendiri mencapai tujuh puluh enam persen. Melebihi syarat pasal empat puluh dua." Ia menoleh pada Devan di mimbar. "Tuan Ketua Rapat, saya menuntut pemungutan suara dilaksanakan sekarang juga."

Devan menatapnya dari atas panggung. Ada sesuatu di dadanya yang tidak punya nama. Ia mengangkat palu kayu.

Ia hampir mengetuknya.

Tawa keras memotong di tengah ruangan.

Henry Wijaya tertawa, terbahak, sampai bahunya berguncang. Tawa yang licik dan basah, yang membuat bulu kuduk berdiri.

"Kalian terlalu cepat bersorak, Karen Alyssa Mahendra!"

Ia merogoh saku jasnya dan menarik keluar ponsel, lalu mengangkatnya ke arah semua kamera. Layar menampilkan panggilan yang sedang tersambung, tanpa suara.

"Satu panggilan ke Zurich," katanya. Mikrofon pengacaranya menangkap setiap suku katanya. "Begitu palu itu mengetuk, klausul pengalihan kendali di kontrak derivatif konsorsium kami otomatis aktif. Seluruh aset minyak Sumatra Mahendra Corp dibekukan dalam status gagal bayar internasional. Dua puluh tahun."

Wajah Alyssa tidak berubah. Tapi ibu jarinya berhenti di gelang perak itu.

"Ketuk, dan kalian membekukan Sumatra," ujar Henry pelan, hampir lembut. "Jangan ketuk, dan RUPS ini gagal. Bagi orang yang membayarku, dua-duanya sama saja."

Palu kayu itu masih terangkat di tangan Devan.

.....

.....

Bersambung.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!