Untuk keluar dari penjara keluarga, Charoen Torrer harus menerima pinangan dari seorang mafia ternama. Walau hanya jadi istri sementara, tetapi demi kebebasannya. Char menerima tawaran itu tanpa berpikir dua kali.
Tanpa ia tahu ke depannya, hidupnya jauh lebih rumit di banding rumah yang rasanya seperti penjara itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 5
Satu jam berlalu, ruangan yang penuh tekanan itu kini telah sunyi.
Alexander menatap jendela besar yang menyorot pagar tinggi beton kastilnya. Baru satu jam lewat sepuluh menit yang lalu, sebuah mobil Rolls-Royce tua milik Torrer keluar dari kediamannya.
Rahang tegas itu mengeras ketika mengingat perkataan terakhir gadis kurus tadi.
"Aku bukan pria idamannya?" desisnya bergumam.
Otak monarkinya membayangkan pertemuan yang dramatis. Ia telah membayangkan wajah seorang gadis lugu, ringkih dan pasrah menatapnya penuh permohonan, bersujud, mencium sepatu kulit mahal yang ia kenakan hari ini.
"Dia seperti kelinci yang terlihat pasrah. Tetapi, ketika pemangsanya bergerak. Kelinci itu dapat berkelit dan mampu lepas dari perangkap ...."
Analogi Alexander membuat dirinya sendiri meradang marah. Tak ada satupun manusia bahkan hewan terpintar pun bisa lolos dari jebakannya.
"Well ... Kita lihat. Sampai kapan kau bertahan Miss Torrer," gumamnya sambil tersenyum tipis begitu tipisnya sampai hanya terlihat garis melengkung kecil di bibirnya, senyuman penuh rencana.
"Tuan Muda ... Kakek anda Tuan Besar Rudolph Romanov menelepon," suara kepala maid terdengar.
"Katakan, aku akan datang bersama calonku dua hari lagi!" jawab Alexander tanpa menoleh sama sekali pada maid bertubuh kurus berkacamata itu.
Kepala maid membungkuk hormat. "Baik Tuan Muda!"
Lalu tubuh kurus berseragam khas pelayan pergi menuju ruangan lain untuk melaksanakan apa yang dikatakan tuan mudanya.
Sementara di mobil, suasana lebih tenang dan tidak tegang seperti awal berangkat. Gorgio, Lotta dan Char duduk di dalamnya dengan beban yang berbeda.
"Char ...," panggil sang ibu. Lotta menatap putrinya dari kaca spion tengah mobil.
"Ya," sahut Char tanpa minat, matanya masih menyusuri jalanan dan gedung-gedung yang sebagian gelap dan dan diterangi bulan dan lampu jalanan.
"Ibu hampir mati ketika kau menjawab asal-asalan tadi!" sahut Lotta tampak protes dengan kalimat terakhir Char.
"Bu ... sudah, cukup!" sela Gorgio memotong.
"Ayah harap tidak ada pembicaraan soal pertemuan tadi di rumah!" lanjutnya memberi tekanan terlebih pada istrinya.
"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Lotta tak suka.
"Terkadang mulutmu itu suka berlebihan jika memberi informasi!" sudut Gorgio pada istrinya.
"Aku tidak ...."
"Aku bilang cukup!" sentak Gorgio lagi.
"Jika mereka bertanya, bilang saja hanya makan malam dan rencana pernikahan. Itu saja!" tekannya melanjutkan.
Lotta diam, terlebih Char yang tidak berminat untuk membicarakan soal pertemuan penuh tekanan tadi.
"Apa kau mengerti sayang?!" seru Gorgio kembali menekan istrinya.
"Iya ...," jawab Lotta lemah.
"Lagi pula apa yang harus aku pamerkan. Semua kompensasi itu bisa saja hilang jika putri kita terlalu bodoh untuk jatuh cinta pada Tuan Muda Romanov!"
Char menyipitkan matanya, hendak menyela dan membantah semua perkataan ibunya. Tetapi sekali lagi, ia menutup mulutnya lagi ketika sempat terbuka.
"Sudah diam, jangan banyak bicara. Kita sudah sampai!" putus Gorgio mengakhiri percakapan.
Ketika tepat sampai di pintu gerbang. Char hendak turun ingin membukanya, tetapi tubuh ayahnya lebih dulu bergerak turun dan membuka pintu pagar. Ia dengan cepat berlari masuk kembali ke mobil, memasukkannya dan turun lagi menutup pintu serta menggemboknya lalu naik lagi untuk menjalankan mobil hingga tepat teras rumah besar.
Char masih tertegun cukup lama, bahkan ketika ayah dan ibunya sudah turun. Char masih terduduk diam di dalam mobil.
"Char! Apa kau mau tidur di situ!!" seru Gorgio mengagetkannya.
Charoen tersentak pelan dari lamunannya. Suara bentakan ayahnya memotong kekosongan yang sempat menyelimuti pikirannya. Ia membuang napas perlahan, lalu membuka pintu mobil dan melangkah keluar, menyusul kedua orang tuanya yang sudah menantikan momen ini untuk berpura-pura di depan anggota keluarga lainnya.
Di dalam rumah, Robert, Gina, Grace, Tania, dan Don sudah berkumpul di ruang tengah dengan raut wajah penuh rasa ingin tahu yang membara. Begitu pintu depan terbuka, Grace menjadi orang pertama yang melompat berdiri, matanya memicing menatap gaun hijau zamrud yang masih melekat di tubuh Char.
"Bagaimana?" desak Robert tanpa basa-basi, melangkah maju menghampiri Gorgio. "Apa kalian bertemu dengan Alexander Romanov langsung? Apa yang dia katakan soal keluarga kita?"
Gorgio memasang wajah datar, persis seperti yang direncanakannya di dalam mobil. "Hanya makan malam biasa dan membicarakan rencana pernikahan. Tidak ada hal aneh. Pihak Romanov hanya ingin memastikan Char siap."
"Cuma begitu?" cibir Grace dengan nada tidak percaya. "Lalu kenapa gaun yang kuikhlaskan untuknya itu kelihatan kusut sekali? Jangan-jangan kau membuat malu di sana, Char!"
"Cukup!" potong Gorgio menghentikan seluruh pertanyaan.
"Kami lelah, kami ingin istirahat. Oh ya, Grace ...," Gorgio berhenti dan menatap keponakannya serius.
"Y-ya ... Paman?' jawab Grace gugup.
"Mulai besok dan seterusnya. Kamu tidak lagi menempati kamar itu!" ujar Gorgio bagai petir di siang bolong.
"Kakak!" Gina lebih dulu yang protes sementara Grace seperti patung menatap pamannya tak percaya.
"Itu sudah keputusanku!" seru Gorgio tegas.
"Tapi ... nanti bisa-bisa Char makin menjadi-jadi, Paman. Dia terlalu arogan untuk jadi Nona besar ...."
"Dia memang nona besar sebenarnya, Grace ... Aku cukup tahu bagaimana selama ini kalian memanipulasi Charoen, putriku!"
Bukan hanya Grace, Tania atau Don saja yang terkejut mendengar perkataan paman mereka, Gorgio. Char juga sangat-sangat terkejut mendengar tiba-tiba dirinya dibela ... setelah sekian lama.
Bukankah ini terlalu terlambat? Pikir Char.
"Aku juga mau kalian tidak tinggal lagi di sini ...."
"Kak, kau mengusir kami!" teriak Robert marah.
"Kalian sudah punya rumah yang sama besar di blok lain kan!" sahut Gorgio menatap adik iparnya tajam.
Gina dan Robert terdiam, mereka memang ada rumah warisan yang diberikan keluarga Torrer, pada Gina tentu saja. Tapi ada yang tidak Gorgio tahu selama ini tentang rumah itu.
"Kenapa kami harus pindah?" tanya Tania.
"Paman, kami sudah besar di rumah ini. Kami tidak bisa semerta-merta meninggalkan semua kenangan kami di sini!" lanjutnya dengan nada menghiba.
"Iya Paman!" seru Grace memutar otak.
"Jika Tuan Romanov melihat betapa akurnya Paman dan Mommy hidup di satu rumah. Tuan Romanov pasti tersentuh. Siapa tahu ia malah menambah logistik untuk perusahaan kita!" lanjutnya menghasut.
Char hanya diam saja. Hasutan Grace pada ayahnya sangatlah masuk akal. Ia sendiri tak bisa membantah perkataan sepupunya itu.
"Lalu melihat kamar Char yang di atas loteng dan melihat betapa menyedihkan dia di rumah ini?" pertanyaan Gorgio membuat Grace diam.
"Aku bisa pinjamkan ...."
"Itu memang kamar Char, Grace. Dia lah yang terlalu lama meminjamkannya padamu!" potong Gorgio membuat Grace langsung berlari dan menangis di pelukan ibunya.
"Mommy lihat ... Hiks! Hiks! Char belumlah jadi istri dari Tuan besar Romanov. Tetapi dia sudah menindasku ...."
"Kakak ... Apa kakak tega?' tatapan Gina memohon pada Gorgio.
"Itu memang kamar Char! Besok, tukang akan membereskan semua pakaian Grace!" putus Gorgio tak mau dibantah.
"Sekarang kalian masih boleh tidur di rumah ini. Tetapi ... Mulai besok. Aku tak mau diributkan oleh mulut-mulut kalian yang memerintah putriku!" lanjutnya tegas.
Bersambung.
Wah ... Mulai dimanja karna aset Char seratus persen saham perusahaan.
Next?
begitu doang,sebut juga dunk si Grace itu biang dari semua fitnahan tersebut
semakin seru nh,gak sabar nunggu reaksi keluar char terutama ayahnya n si grace
si Grace carmuk.banget
gengsi Segede gunung