Aku Laila, santriwati hafizah yang dianggap calon ustadzah. Malam itu, tangan yang biasa memegang tasbih merobek kerudungku di ruang khusus pondok. Aku lapor, aku malah diusir dan dibilang fitnah kyai.
Aku kabur ke Seruyan, melepas hijabku, dan menyamar jadi cewek nakal demi satu tujuan: membongkar topeng Kyai Rahman, sugar daddy berkedok agama yang sudah menghancurkan banyak santriwati.
"Tuhan, izinkan aku berdosa sekali saja, untuk membuka dosa orang suci."
Dengan HP jadul dan nyali yang tersisa, ia masuk ke dalam lingkarannya. Ia merekam, mengumpulkan bukti transfer, chat mesum berkedok dalil, dan daftar korban lain yang jumlahnya belasan.
Tujuannya cuma satu: naik ke panggung pengajian akbar yang dihadiri ribuan orang, dan memutar semua kebusukan itu di depan mata sang kyai.
Mampukah seorang santriwati yang sudah dilepas hijabnya mengalahkan seorang kyai yang dianggap wali?
Atau justru Laila yang akan hancur untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ulva k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
episode 12: DUA JUTA YANG TIDAK JADI DITERIMA
Amplop coklat itu masih di tangan Kyai Abdullah.
2 juta. Di dalamnya ada 20 lembar merah. Aku bisa lihat dari luar karena amplopnya tipis dan sobek sedikit di ujung.
Tangan Bapak ku masih setengah terulur mau ambil. Tangan orang miskin yang butuh uang tahlilan.
Tapi tangan Mami Asih lebih cepat. Mami tahan pergelangan tangan Bapak ku.
"Pak jangan," bisik Mami pelan, tapi semua ibu-ibu di tikar pandan bisa dengar karena ruang tamu rumah papan itu sempit.
Semua mata sekarang lihat amplop coklat itu. Tidak lihat jenazah ibu ku lagi. Semua lihat 2 juta itu.
Kyai Abdullah nafasnya berat. Keringat di pelipisnya netes kena sorban putihnya. Peci putihnya yang tadi miring kena kusen pintu, sekarang dia benerin pakai tangan kiri. Tangan kanannya masih pegang amplop coklat, gemetar.
"Laila... ini... ini bantuan tulus dari pondok... jangan salah paham... Ibumu itu jamaah kami juga..." Kyai Abdullah coba senyum. Senyum yang biasa dia pakai waktu ceramah di panggung, senyum yang bikin ibu-ibu nangis terharu.
Tapi hari ini senyum itu tidak bekerja. Karena di depan dia, aku pakai gamis putih setrikaan ibu. Bukan santriwati kecil yang dulu bisa dia bentak "kamu gila, tukang fitnah!" di ruang khusus pondok.
Aku lihat amplop coklat itu. Aku lihat Bapak ku. Aku lihat jenazah ibu ku yang ditutup kain batik hijau.
Terus aku lihat Mami Asih. Mami kedipin mata satu kali. Itu kode kami dari kos pink pudar. Kode kalau ada tamu hidung belang di Hotel Melati yang mulai kurang ajar. Satu kedipan artinya: jangan ambil, biarin dia yang malu sendiri.
Aku tarik nafas. Suara Yasin dari ibu-ibu sudah berhenti total. Tidak ada yang berani lanjut ngaji. Semua nunggu aku ngomong.
"Kyai," suara ku masih pelan, serak. Aku sengaja pelan biar CCTV kancing di kerah gamis putih ku bisa rekam jelas. Lampu merah kecilnya masih kedip tiap 5 detik. "Terima kasih. Pondok sudah bantu banyak. pondok juga bantu bilang ke bapak saya jangan terima saya pulang. Sekarang ibu saya meninggal nungguin saya, pondok bantu lagi 2 juta."
Ibu-ibu langsung saling lihat. Bu Siti yang dari tadi di samping ku, mulutnya kebuka.
Kyai Abdullah mukanya dari merah jadi pucat. Kayak H. Suryadi di kamar 303.
"Laila! Jaga mulut kamu di depan jenazah ibu kamu!" Kyai Abdullah agak teriak, tapi teriaknya ditahan, karena dia ingat ini rumah duka, banyak warga.
Bapak ku kaget. Bapak tarik tangannya yang tadi mau ambil amplop. Bapak lihat aku, lihat Kyai Abdullah.
"Apa maksud kamu, Laila? Pondok bilang jangan terima kamu pulang?" Bapak nanya ke aku, bukan ke Kyai. Pertama kalinya dalam 2 tahun Bapak nanya ke aku, bukan percaya omongan Kyai.
Aku tidak jawab langsung. Aku jongkok pelan di samping jenazah ibu. Aku pegang tangan ibu yang dingin, yang masih pakai mukena putih robek yang ada di mimpi ku tadi malam jam 4 subuh.
"Bu..." aku bisik ke jenazah ibu, tapi sengaja agak keras biar satu ruangan dengar. "Ibu denger ya, Bu... Kyai Abdullah datang... bawa uang 2 juta,
Air mata ku jatuh lagi ke kain batik hijau penutup jenazah ibu.
Bu Siti langsung nyaut, suara ibu-ibu paling keras di gang surau kayu:
"Iya! Betul! Ibunya Laila cerita ke saya! Seminggu yang lalu Kyai Abdullah telepon ibunya laila, bilang Laila bikin ulah di pondok, stres, halusinasi, jangan dulu diterima pulang! Bu Lastri sampai tidak tidur 3 hari mikirin Laila!"
Satu ruangan langsung rame. Ibu-ibu bisik-bisik keras.
Kyai Abdullah mundur lagi selangkah. Punggungnya sudah mentok dinding triplek rumah papan ku. Tidak ada jalan kabur lagi. Avanza hitamnya di luar masih nyala, tapi sopirnya tidak bisa masuk ke dalam rumah.
Amplop coklat 2 juta itu sekarang tidak ada yang mau ambil. Bapak ku sudah tarik tangannya jauh. Mami Asih lipat tangannya di dada.
Kyai Abdullah lihat sekeliling. Semua mata lihat dia. Bukan lihat dia sebagai kyai lagi. Tapi lihat dia sebagai orang yang ditanya.
Dengan tangan gemetar, dia masukin amplop coklat itu ke saku gamis putihnya sendiri. Tidak jadi dikasih.
"Baik kalau begitu Kyai pamit dulu, Kyai ada pengajian di pondok." kata Kyai Abdullah pelan, terus dia balik badan cepat, mau keluar dari ruang tengah.
Tapi sebelum dia keluar pintu, Mami Asih ngomong satu kalimat, pelan, tapi jelas, pas di belakang Kyai Abdullah:
"Kyai... voice note 9 detik semalam... sama video kamar 303... masih kesimpen ya di HP Laila... mau Kyai dengerin lagi di sini, di depan jenazah ibunya laila? Atau nanti di balai desa saja pas tahlilan malam ketiga?"
Kyai Abdullah berhenti di pintu. Tidak balik badan. Pundaknya naik turun, nafas berat.
Tanpa ngomong apa-apa lagi, dia jalan cepat keluar rumah papan. Sandalnya yang tadi bersih tidak ada lumpur, sekarang kepleset becek gang. Hampir jatuh. 2 santri yang bawa karung beras dan dus mie instan, ikut lari di belakangnya.
Avanza hitam langsung tancap gas, nyipratin air becek ke sandal jepit warga yang di halaman.
Di dalam rumah, hening lagi.
Bapak ku duduk lemas di lantai. Tasbih kayu ibu yang putus talinya jatuh dari tangannya.
"Laila jadi, jadi bener kamu tidak gila?" Bapak nanya, suara hampir tidak kedengar.
Aku tidak jawab. Aku cuma peluk jenazah ibu ku yang pakai mukena putih robek.
Di saku gamis putih ku, flashdisk merah masih dingin. Belum keluar. Karena hari ini tidak perlu flashdisk.
Hari ini cukup gamis putih setrikaan ibu yang masih anget, dan amplop coklat 2 juta yang tidak jadi diterima, yang sekarang dibawa kabur lagi sama Avanza hitam ke pondok.
Jam 08.45 pagi. Di dinding kos pink pudar yang jauh di Sampit, 4 nama pakai lipstik merah masih nunggu.
Tapi di sini, di rumah papan Kuala Pembuang, ada satu nama yang baru saja ketar-ketir di depan jenazah.
Nama nomor 4: Kyai Abdullah.
Dan malam ini tahlilan hari pertama ibu. Semua kyai di Kuala Pembuang akan datang. Termasuk Kyai Rahman, pimpinan pondok yang fotonya ada 23 di flashdisk merah ku.
Mami Asih bisik di telinga ku lagi:
"Laila, malam ini jangan nangis terus. Malam ini pakai lagi seragam putih abu-abu mu. Kita tunggu di surau kayu. CCTV kancing kita masih nyala."