NovelToon NovelToon
Begin Again

Begin Again

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mantan / Cintapertama
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lunes_

📍Update 🚥 16 : 16 WIB


Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?


❣️ I write what I want to write. ❣️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

5 - Think of You

Pagi itu, seperti biasa, aku berangkat kerja menggunakan ojek online.

Sejak bangun tidur, rasanya aku tidak punya semangat untuk bekerja. Kejadian kemarin masih terlalu membekas di pikiranku. Apalagi setelah Ibu mendesakku untuk segera menikah.

Tapi hari ini aku harus mengesampingkan semua itu.

Aku harus meeting dengan tim dari divisi lain untuk membahas proyek baru dari Adinata Food.

Dan yang membuatku semakin tidak nyaman, klien kami adalah Liam.

Aku masih tidak menyangka bahwa setelah bertahun-tahun, aku justru harus berhadapan dengannya dalam urusan pekerjaan.

Beberapa saat kemudian, aku sampai di gedung kantorku. Setelah melepas helm dan

membayar ongkos, aku langsung masuk ke dalam gedung.

Di depan lift lobby sudah cukup banyak orang. Untungnya, aku tidak melihat Aldi di sana.

Aku langsung berdiri di antara orang-orang yang sedang menunggu lift.

Tak lama kemudian, pintu lift terbuka. Kami pun masuk.

Lift bergerak naik.

Beberapa saat kemudian, pintu lift terbuka di lantai kantorku. Aku langsung keluar dan berjalan menuju meja resepsionis.

“Pagi, Elle,” sapa Risa.

“Pagi, Risa,” jawabku lirih.

Risa memperhatikanku.

“Kamu kenapa, Elle? Sakit?”

“Nggak, kok.” Aku mencoba tersenyum. “Aku baik-baik aja.”

Aku kemudian berbelok menuju divisi.

“Pagi...” sapaku begitu masuk.

“Pagi...” jawab beberapa orang hampir bersamaan.

Kulihat Mona, Bintang, Rendi, dan Nino sudah berada di meja masing-masing.

Bintang menatapku.

“Kamu kenapa, Elle? Kayak lemes banget.”

“Iya, nih. Kayak nggak ada semangat hidup,” timpal Rendi.

“Nggak apa-apa,” jawabku singkat.

Aku langsung duduk di kursiku.

Tak lama kemudian, Mona menghampiriku.

“Kamu sakit, Elle?”

Dia bahkan sempat menempelkan telapak tangannya ke keningku.

“Nggak panas, kok.”

“Aku baik-baik aja, Mon.”

“Terus kenapa kamu kayak gini?”

“Nggak apa-apa. Udah, kamu balik ke meja kamu aja.”

Mona masih terlihat tidak yakin, tetapi akhirnya kembali ke tempatnya.

Tak lama kemudian, Doni dan Aldi datang.

“Pagi, semuanya,” sapa Doni.

“Pagi, Mas,” jawab kami hampir bersamaan.

Doni kemudian menatap ke arahku.

“Elle, siapkan semuanya untuk meeting nanti. Satu jam lagi kita meeting dengan divisi lain.”

“Baik, Mas.”

Aku pun mulai menyiapkan semua yang diperlukan untuk meeting.

Satu jam kemudian, aku dan Doni sudah berada di ruang meeting.

Beberapa orang dari divisi lain sudah lebih dulu berada di ruang meeting. Aku dan Doni kemudian duduk bersebelahan.

Doni membuka meeting.

“Baik, semuanya. Kita mendapatkan proyek baru dari Adinata Food. Elle, coba jelaskan brief dari klien.”

Aku mengangguk lalu membuka catatan di tabletku.

“Baik. Produk yang akan kita iklankan bernama Ginsera. Ini minuman yang mengandung ginseng Korea.”

“Target market-nya?” tanya Arman, Creative Director.

“Awalnya Pak William menyebut pecinta Korea. Tapi setelah kami diskusikan, targetnya diperluas menjadi semua orang.”

“Semua orang terlalu luas,” ujar Sinta, Copywriter.

“Memang. Tapi beliau ingin minuman ini bisa diterima oleh berbagai kalangan.”

“Ada batasan usia?” tanya Arman.

“Tidak untuk anak-anak. Beliau ingin talent-nya juga beragam. Ada anak muda sampai orang tua.”

“Berarti visualnya harus menunjukkan kalau Ginsera bukan minuman yang hanya ditujukan untuk anak muda,” ujar Raka, Art Director.

“Betul,” sahut Doni.

“Selain itu, unsur Korea harus tetap ditonjolkan. Pak William ingin orang langsung tahu kalau Ginsera mengandung ginseng Korea,” jelasku.

“Kalau begitu, kita harus hati-hati. Jangan sampai orang mengira Ginsera adalah minuman dari Korea,” ujar Sinta.

“Setuju. Kita bisa menggunakan unsur visual Korea tanpa membuat keseluruhan iklannya kayak iklan produk Korea,” kata Raka.

“Ada arahan lain?” tanya Arman.

“Beliau ingin menyampaikan bahwa banyak orang sekarang sibuk bekerja dan kelelahan. Setelah minum Ginsera, mereka diharapkan merasa staminanya kembali.”

“Berarti kita bisa mengambil situasi sehari-hari,” ujar Sinta. “Orang-orang dengan aktivitas berbeda, tapi semuanya mengalami kelelahan.”

“Kalau talent-nya banyak, biaya produksinya juga harus diperhitungkan,” ujar Fajar, Produser Produksi.

“Makanya kita belum perlu menentukan jumlah talent sekarang. Cari konsep besarnya dulu,” kata Doni.

“Bagaimana kalau kita buat beberapa karakter dengan aktivitas berbeda?” usul Arman. “Karyawan kantor, mahasiswa, ibu rumah tangga, mungkin juga orang yang bekerja secara fisik.”

“Lalu semuanya punya satu kesamaan. Mereka sama-sama kelelahan,” sambung Raka.

“Setelah minum Ginsera, transisinya bisa dibuat lebih energik,” ujar Sinta.

“Tapi jangan lupa unsur Koreanya,” kataku.

“Bisa. Misalnya elemen visual Korea masuk saat produk ditampilkan,” ujar Arman.

“Atau kita bisa mengambil inspirasi dari warna dan elemen tradisional Korea, tapi tetap dibuat modern,” tambah Raka.

“Kalau terlalu banyak unsur Korea, nanti malah kayak iklan pariwisata,” kata Sinta.

“Dan kalau terlalu sedikit, klien bisa bilang kita nggak mengikuti brief,” timpal Fajar.

“Nah, itu yang harus kita cari. Titik tengahnya,” ujar Doni.

Arman mengangguk.

“Oke. Jadi kita punya tiga poin utama: Ginsera mengandung ginseng Korea, bisa dikonsumsi berbagai kalangan dewasa, dan memberikan kesan mengembalikan energi setelah beraktivitas.”

“Iya. Itu semua arahan dari klien,” jawabku.

“Baik. Tim kreatif akan mencoba mengembangkan beberapa konsep berdasarkan brief ini,” ujar Arman.

“Jangan langsung dibuat terlalu jauh. Kita buat beberapa alternatif dulu. Nanti pilih yang paling kuat sebelum kita bawa kembali ke klien,” kata Doni.

“Baik.”

“Elle, kalau nanti kita punya konsep awal, kamu bisa tanyakan lagi ke klien soal beberapa detail?” tanya Sinta.

“Bisa. Kirim aja pertanyaannya sama aku.”

“Oke. Kita mulai dari konsep besarnya dulu,” ujar Arman.

Aku mengangguk.

Siang harinya, aku dan rekan-rekanku makan siang di kantin.

Aku, Mona, dan Bintang duduk di satu meja.

Aku makan dengan malas. Rasanya aku masih belum memiliki semangat.

“Kamu kenapa sih, Elle?” tanya Bintang.

“Iya, Elle. Kalau ada apa-apa cerita, dong,” ujar Mona.

Aku menghela napas.

“Ibuku... nyuruh aku nikah.”

Mona dan Bintang saling pandang.

“Ya udah, tinggal nikah,” kata Bintang santai.

“Nikah sama siapa? Pacar aja nggak punya.”

Bintang melirik ke arah lain, lalu menunjuk Aldi dengan tatapannya.

“Itu...”

“Aku nggak suka sama dia.”

“Kenapa kamu nggak suka sama dia? Dia baik, lho,” ujar Bintang.

Aku tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya. Aku tidak ingin membuka kembali cerita masa lalu yang selama ini sudah berusaha kukubur.

“Ya nggak suka aja. Hatiku nggak ke dia.”

“Sebenernya cowok yang kamu mau itu kayak apa, sih?” tanya Bintang.

Mona ikut menatapku. Sepertinya dia juga penasaran.

“Yang bisa buat aku nyaman dan bisa dipercaya.”

“Aldi nggak gitu?”

Aku menggeleng.

“Emang susah cari cowok yang kayak gitu,” kata Bintang. “Makanya aku belum punya pacar lagi sejak terakhir putus. Aku nggak mau gagal lagi.”

“Untungnya aku bisa dapetin cowok kayak gitu dengan mudah,” ujar Mona dengan bangga.

“Ya, kalian kan udah kenal sejak kuliah,” kataku.

Mona tersenyum.

“Eh, jadi kamu sama pacarmu udah pacaran sejak kuliah? Lama juga, ya. Tapi kenapa sampai sekarang belum nikah?” tanya Bintang.

“Masih pengen pacaran dan mau ngumpulin uang dulu buat beli rumah. Kami maunya setelah menikah, tinggal di rumah kami sendiri.”

“Lah, pacar kamu kan sekretaris CEO. Pasti gajinya besar.”

“Gajinya nggak besar banget lah. Lumayan aja. Tapi dia punya adik yang masih kuliah. Dia juga harus membiayai adiknya.”

“Oh...” Bintang mengangguk. "Ngomong-ngomong, kalau jadi sekretaris CEO pasti sibuk banget, ya? Kalian masih punya waktu buat berdua?”

“Paling kalau weekend. Kalau hari biasa, paling cuma chatting atau telepon.”

Bintang mengangguk lalu kembali menatapku.

“Elle, serius CEO Adinata Food biasa aja?”

Aku menghela napas.

“Iya, Bi. Berapa kali aku harus bilang?”

“Kamu bilang CEO-nya masih muda. Masa biasa aja, sih?”

“Menurutku biasa aja.”

“Berarti ada kemungkinan ganteng, dong. ‘Biasa aja’ kan cuma asumsi kamu.”

“Terus kenapa kalau dia ganteng? Kamu mau coba deketin dia, gitu?”

“Nggaklah. Aku cuma penasaran.” Bintang tertawa kecil. “Tapi kalau jodohku CEO, nggak apa-apa juga, sih.”

Aku menghela napas.

“Udah, udah. Makan aja. Jangan bahas cowok nyebelin itu.”

“Hah? Nyebelin? CEO Adinata Food nyebelin?” Bintang langsung menatapku.

Aku mengangguk.

“Bener, Mon?”

Mona mengangkat bahu.

“Pacarku sih nggak pernah terang-terangan bilang bosnya nyebelin. Kadang cuma banyak maunya aja katanya."

“Nah, itu dia. Banyak maunya. Nyebelin, kan?”

“Tapi dia juga baik, lho,” kata Mona. “Kadang Kak Davin niatnya cuma mau minjem uang, tapi sama bosnya malah dikasih cuma-cuma. Dia juga sering menyumbang ke panti asuhan.”

“Li...” Aku langsung menghentikan ucapanku. “Maksudku, CEO Adinata Food... kayak gitu? Sebaik itu?”

Mona mengangguk.

“Iya.”

Aku terdiam.

“Ya ampun... dia baik banget,” kata Bintang.

Aku tidak menjawab.

Liam memang masih seperti dulu.

Dia masih peduli kepada orang lain.

Dulu, dia juga selalu seperti itu.

Aku menggelengkan kepala, berusaha menyingkirkan pikiran itu.

“Kamu kenapa, Elle? Geleng-geleng kepala,” tanya Bintang.

“Ah, nggak apa-apa.” Aku kembali menyuapkan makanan. “Udah, makan aja. Jangan bahas dia.”

“Kamu kenapa sih, Elle? Gitu banget sama CEO Adinata Food.”

“Tadi kan udah aku bilang. Dia nyebelin.”

Bintang menyipitkan matanya.

“Kok aku lihat nyebelinnya kamu ke CEO Adinata Food beda, ya?”

Aku terdiam.

“Kayak kalian musuhan,” lanjutnya. “Kayak kalian pernah kenal sebelumnya.”

Deg!

“Nggak... nggak.” Aku buru-buru menggeleng. “Kami nggak pernah kenal sebelumnya. Kenal di mana coba? Dia CEO, sementara aku cuma karyawan biasa.”

“Iya juga, sih...” Bintang akhirnya mengangguk.

“Udah, makan aja.”

Kami pun kembali melanjutkan makan tanpa banyak bicara.

Aku berusaha menikmati makan siangku, tetapi pikiranku kembali pada perkataan Mona.

Liam ternyata masih seperti dulu.

Dan entah kenapa, mengetahui hal itu justru membuatku semakin tidak tenang.

![](contribute/fiction/13025190/markdown/56803801/17893498924.png)

1
Srie Wahyuni
nezt thor , like this 👍
사기타
Tidak akan? 😄 lihat aja nanti gimana. 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!