Enam tahun menjadi Nyonya Bramantyo, Kirana belajar satu hal: dicintai diam-diam tak sama dengan dilihat.
Ia menikahi Rendra Bramantyo, presiden direktur yang dingin dan selalu memegang janji pada almarhum kakaknya. Di rumah besar itu Kirana hanya perabot yang rapi. Tidur di kamar terpisah, makan malam yang tak pernah ditemani, dan di mana-mana ada Laras, janda sang kakak, yang selalu lebih dulu dipilih.
Sampai pada satu malam ketika sebuah telepon dini hari mematahkan sisa kesabaran Kirana.
Ia tak lagi menunggu. Ia menyimpan, merapikan, lalu pergi, membawa putrinya Nindy, ilmunya sebagai ahli farmakologi, dan harga dirinya. Di luar rumah itu menunggu hidup yang tak pernah ia kira: perusahaan yang membutuhkan otaknya, tiga lelaki yang mulai memperhatikannya, dan dunia yang ternyata tak sedingin rumah yang ia tinggalkan.
Sementara itu, Rendra mulai menyadari apa yang ia punya, setelah semuanya terlambat. Tapi siapa yang masih mau menunggu seseorang yang baru belajar mencintai?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Autora Gabriela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
POV: Kirana
Aku tidur tiga jam dan terbangun sebelum alarm berbunyi. Nindy ada di sampingku. Ia pindah ke ranjangku tengah malam, seperti biasa kalau ia merasa udara di rumah berat. Hal pertama yang kulakukan, sebelum apa pun, adalah memasang jam pemantau di pergelangannya dan memeriksa detaknya: angka hijau yang stabil di layar kecil itu. Baru setelah itu aku membuat kopi.
Dalam perjalanan ke sekolah ia memandang ke luar jendela.
"Hari ini aku mau Papa yang antar," katanya.
"Papa lagi mengurus urusan Om Raditya, Sayang."
Tepat saat itu ponselku berdering, nama Rendra tertera di layar. Refleks, kuangkat dengan pengeras suara. Yang bicara di seberang bukan dia, melainkan suara batuk kecil, suara perempuan.
"Rendra, aku lemas sekali," suara Laras, tipis dan lelah. "Kamu bisa..."
Sambungan terputus, kalau memang putus sendiri. Nindy tak mengalihkan pandangan dari jendela, tapi tangannya mencengkeram tali tas sekolah. Anak kecil mendengar segalanya.
Kuantar ia sampai lobi sekolah, kutunggu sampai ia lenyap di balik pintu kaca, lalu aku berangkat ke kantor.
Aku bekerja di Vitalis Farma, perusahaan farmasi yang menjadi jantung Grup Bramantyo. Aku satu-satunya murid yang diterima Prof. Sulistyowati dalam dua puluh tahun, dan Prof. Sulistyowati adalah ahli farmakologi terbesar di negeri ini yang masih hidup. Dari Nenek Sumirah aku mewarisi kecintaan pada tanaman, dari Prof. Sulis, metodenya.
Pagi hari aku menangani pasien di klinik fitoterapi. Sore hari aku berada di laboratorium, di lini turunan polisakarida yang sudah tiga tahun kukembangkan. Aku bukan istri pajangan yang suka dipamerkan keluarga di jamuan makan malam. Kubiarkan mereka berpikir begitu karena itu lebih mudah.
Di koridor lantai empat aku berpapasan dengan Laras. Tak ada lagi sisa "lemas" dini hari tadi. Ia memakai sepatu hak tinggi, rambutnya ditata licin, dikelilingi orang-orang dari timnya. Di tangannya ada sebuah termos.
Termosku. Termos tempat aku menyeduh teh penurun tekanan darah Rendra setiap pagi, bertahun-tahun. Perak sikat, dengan goresan di tutupnya yang kuhafal di luar kepala.
"Eh, Kirana," ia tersenyum, mengangkat termos itu sedikit, cukup agar semua orang melihat. "Lihat deh hadiahku. Dari Rendra. Katanya bagus buat orang yang kurang tidur." Suaranya merendah jadi ucapan terima kasih yang lembut. "Dan makasih banget ya, atas dukunganmu untuk proyekku. Entah aku bagaimana tanpa keluarga kalian di saat seperti ini."
Seluruh tim menoleh padaku, menunggu reaksi. Seorang menantu yang kehilangan kendali di depan orang lain akan jadi bahan obrolan koridor sampai jam makan siang.
"Jaga baik-baik," kataku, dan balas tersenyum. "Termos itu rapat. Panasnya tahan berjam-jam."
Aku berjalan terus. Di belakangku, sunyi orang-orang yang menunggu pertengkaran dan tidak kebagian.
Sorenya, ketika aku menjemput Nindy, mobil Rendra sudah berhenti di depan lobi sekolah. Dan Laras duduk di kursi sebelahnya.
Rendra turun, berjongkok di depan Nindy, mengeluarkan sebutir permen merah menyala dari saku, lalu mengulurkannya.
"Jangan, Rendra," kataku. "Pewarna buatan. Dokter jantungnya minta dihindari. Daftarnya sudah kukirim."
Permen itu menggantung di udara setengah detik. Ia menyimpannya. Bahkan dia tidak ingat daftar yang kukirim setiap bulan. Ponselnya berdering. Ia menjawab, mendengarkan, dan wajahnya berubah.
"Laras sakit lagi," katanya sambil bangkit. "Aku antar dia ke dokter. Makan malam tanpa aku saja." Ia mencium puncak kepala Nindy lalu masuk ke mobil.
Laras melambai pada kami dari jendela, anggun, sebelum kacanya naik.
Aku makan malam berdua dengan putriku, spageti kesukaannya, sampai larut. Piringnya bersih ia kerok, lalu ia mengaduk-aduk garpu di sisa saus.
"Sayang," kataku, memilih kata dengan pelan, "kalau suatu hari Papa dan Mama tinggal di rumah yang berbeda, kamu mau ikut siapa?"
Ia menatapku dengan kesungguhan anak empat tahun yang tak mengerti separuhnya tapi merasakan semuanya.
"Kita nggak akan pernah pisah," katanya. "Kita kan keluarga."
Kusimpan kata-kata itu di dalam dada dan tak kubantah. Kumandikan dia, kubacakan dongeng, kutunggu sampai ia tertidur.
Berbaring di kegelapan, aku memikirkan Laras. Doktor biokimia dari luar negeri, formulasi tertarget, riwayat hidup yang membuat direksi terpana. Sedangkan aku, ahli botani yang bicara dengan pasien dan sibuk dengan tanaman. Di atas kertas, ia lebih bersinar. Tapi ada satu hal yang kuketahui dan tak tertulis di riwayat hidup itu: data proyeknya tidak cocok. Dan seumur hidup aku belajar membaca kapan sebuah angka sedang berbohong.
Aku bangun, menyalakan laptop, dan membuka folder proyeknya di jaringan perusahaan, proyek formulasi tertarget yang ingin dipercepat direksi. Kugulir grafik-grafiknya. Kurva stabilitasnya terlalu bersih dan terlalu bulat untuk jadi nyata. Seseorang telah menghaluskan angka-angkanya.
Kubandingkan dengan arsip sampel awalku, yang kukumpulkan sendiri ketika proyek itu masih milikku. Tidak cocok. Kusimpan semuanya di folder pribadiku, bertanggal, lalu kututup laptop. Besok ada rapat. Aku akan datang.
Kuraih ponsel. Sudah lewat pukul dua dini hari. Aku tak begitu tahu apa yang kuinginkan: mendengar suaranya, meyakinkan diri bahwa pintu di rumah duka kemarin hanya salah paham, atau mengumpulkan satu bukti lagi. Aku menelepon Rendra.
Tiga kali berdering. Seseorang mengangkat.
"Halo?" Suara itu lembut, rendah, berat oleh kantuk dengan cara akrab yang takkan pernah bisa kukeliru. "Rendra lagi tidur. Ada apa, Kirana?"
Laras. Pukul dua lewat dini hari, mengangkat ponsel suamiku dan berkata "Rendra lagi tidur" seolah kamar itu miliknya.
Kututup tanpa menjawab.
Aku duduk di tepi ranjang, ponsel yang telah gelap di tangan, dan untuk pertama kalinya dalam enam tahun hatiku tidak terasa pecah. Hatiku mengeras.
Bukan benar-benar amarah, melainkan keputusan yang dingin dan sunyi: berhenti menunggu penjelasan dari lelaki yang sudah menjawab segalanya tanpa mengucapkan sepatah kata. Aku duduk di sana sampai napasku kembali normal, dan ketika napas itu kembali, yang bernapas sudah orang lain.
Besok pagi aku akan menelepon Bu Cantika.