Di malam ia ingin mengabarkan kehamilannya, Amelia justru menyaksikan suaminya memamerkan kekasih yang sedang hamil, dengan kembang api yang dulu dijanjikan untuknya.
Arga Wiratama sang miliarder teknologi tak sekadar mengkhianati. Rekening Amelia diblokir, kariernya dihapus diam-diam, dan rumah mewah mereka dipasangi kamera di setiap sudut. Maka Amelia kabur membawa satu tas kecil, satu rahasia di dalam perutnya, dan nama yang masih ia punya.
Di Surabaya, pintu yang selama tiga tahun terkunci tiba-tiba terbuka. Di baliknya berdiri Fariz Mahardika, mantan aktor, pewaris keluarga berpengaruh, lelaki tenang yang selalu memutar tasbih di jarinya dan seolah mengenal Amelia jauh sebelum mereka bertemu. Ia menolong tanpa menagih. Tapi dunia di sekelilingnya tidak sebersih senyumnya.
Arga tak mau melepaskan. Ibunya punya rencana lain. Dan ada kebenaran tentang siapa Amelia sebenarnya, yang mulai merembes dari rumah-rumah bersalin tua dan foto-foto yang wajahnya begitu mirip dengannya.
Bisakah seorang perempuan yang pernah dikurung merebut kembali hidupnya, melindungi anak yang ia sembunyikan, dan memilih siapa yang pantas dicintai, tanpa lagi menjadi sandera siapa pun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
POV: Amelia
Aku baru keluar dari hotel untuk membeli makanan ketika dia muncul di hadapanku di trotoar.
"Kukira bakal lebih sulit menemukanmu," kata Arga.
Aku berhenti melangkah. Jantungku berpacu, tapi wajahku tak kubiarkan menunjukkannya. Sudah lama aku belajar menyembunyikan takut di depannya.
"Bagaimana kamu tahu aku di sini?"
"Kamu memakai namamu untuk tanda tangan kontrak kemarin, Lia. Namamu masih ada di semua yang kumiliki." Dia melangkah maju. "Pulanglah bersamaku. Kita selesaikan ini sebagai orang dewasa."
"Kita sudah tidak punya rumah, Arga. Dan aku tidak akan ke mana pun bersamamu."
Sebuah mobil hitam terparkir di seberang jalan. Di dalamnya tampak Dimas, dan dua pria lain yang tak kukenal. Dia terbang jauh hanya untuk menjemputku, seperti orang menjemput paket yang kabur dari pengiriman. Lelaki yang menyeberangi negeri demi perempuan yang minta dijauhi tidak melakukannya karena cinta; dia melakukannya karena rasa memiliki. Butuh tiga tahun bagiku untuk belajar bedanya, dan di trotoar itu, bedanya jernih seperti air.
"Pasti dia, kan?" kata Arga, dan suaranya berubah, mengeras. "Mahardika itu. Dia yang mengurus kontrakmu. Dia yang membawamu ke sini."
"Tidak ada yang membawaku. Aku datang sendiri. Naik kereta, dengan uang hasil jual anting. Sendirian, Arga. Satu-satunya yang tak bisa kamu pahami adalah bahwa aku mampu berjalan tanpamu."
"Jangan bohong padaku."
"Berbohong itu keahlianmu." Kulipat tangan di atas tas, tempat alat tes dan kontrak tersimpan. "Aku mau cerai, Arga. Kali ini dengan suara keras, di jalan, supaya kamu tak bisa pura-pura tak dengar. Cerai."
Lama dia menatapku. Lalu dia tertawa, tawa yang sama sekali tak lucu, jenis yang lebih menyakitkan daripada teriakan.
"Kamu pikir semudah itu? Tanda tangan secarik kertas lalu bebas?"
"Itu hukumnya."
"Hukum." Dia melangkah lagi, dan kini cukup dekat sampai aku mencium parfumnya, parfum yang dulu paling kusukai di dunia dan kini membuatku mual, mual yang separuh karena dia dan separuh karena kehamilan, tapi dia tak tahu itu. "Biar kujelaskan bagaimana hukum bekerja bagi orang berduit, Lia. Kita menikah dengan harta bersama. Semua yang kita bangun tiga tahun ini, separuhnya akan jadi milikmu. Maka akan kubuat ini neraka. Gugatan yang berlarut. Pembagian harta akan kuseret bertahun-tahun. Kusembunyikan aset atas nama orang yang tak kamu tahu ada. Kusewa tiga kantor hukum terbaik di Jakarta untuk mengulurmu sampai kamu menyerah karena capek."
"Kalau begitu aku sewa satu yang tidak takut padamu."
"Di Jakarta?" Dia tersenyum lagi, penuh percaya diri. "Tak ada kantor hukum terhormat di Jakarta yang mau menerima perkara melawan Wiratama Tech. Aku klien mereka semua. Atau klien berikutnya yang mereka inginkan. Selamat mengetuk pintu, Sayang."
Itu menyakitkan, karena aku tahu itu benar. Selama tiga tahun terakhir aku melihat jangkauannya tanpa paham apa yang kulihat. Setiap pintu yang tertutup, setiap telepon yang tak dibalas. Kini aku mengerti. Dia tak butuh senjata. Dia punya buku cek.
"Kamu menyedihkan," kataku pelan, dan itu bukan untuk melukai, itu kesimpulan. "Kamu punya segalanya. Uang, perusahaan, kekasih hamil yang kamu pamerkan di layar. Tapi kamu masih terbang mengejar perempuan yang hanya ingin menjauh darimu. Itu bukan cinta, Arga. Itu penyakit. Dan aku tak akan ikut sakit lagi."
Wajahnya mengeras. Sesaat kulihat sesuatu melintas di balik matanya, dan itu bukan amarah. Itu takut, takut seseorang yang tahu mobilnya akan menabrak tapi tak mengangkat kaki dari gas.
"Masuk ke mobil," katanya, dan tangannya terulur ke lenganku.
Aku menghindar sebelum dia menyentuh.
"Jangan sentuh aku." Suaraku keluar lebih mantap dari yang kuduga, cukup keras sampai orang-orang di trotoar menoleh. "Kamu tak punya hak lagi atas aku. Bukan di Jakarta, bukan di sini, bukan di mana pun. Tidak akan pernah lagi."
"Kamu tak akan sanggup sendirian, Lia." Dia mencoba nada terakhirnya, nada kasihan. "Kamu tak pernah sanggup. Aku yang menghidupimu selama ini."
"Kamu tidak menghidupiku, Arga. Kamu mengurungku dan menamai itu nafkah." Kuangkat daguku. "Aku pernah tinggal di rumah dua kamar dan bahagia. Aku tahu cara hidup dengan sedikit. Yang kulupakan adalah cara hidup tanpa takut, dan itu yang kamu berikan. Sekarang aku ingat lagi rasanya bebas. Dan tidak ada uangmu yang bisa membuatku lupa."
Kupesan taksi lewat aplikasi, dan taksinya datang cepat, terlalu cepat untuk kebetulan, begitu pas waktunya sampai bulu kudukku berdiri, walau aku tak bisa menjelaskan kenapa. Aku masuk dan membanting pintu. Dari jendela, kulihat Arga berdiri di trotoar, Dimas turun dari mobil hitam menghampirinya, dua pria lain mengamati, bingung harus bagaimana pada bos yang baru saja kalah.
"Ini belum selesai, Lia!" teriaknya, dan lebih banyak orang di jalan menoleh. "Tak ada kantor hukum di Jakarta yang akan melayanimu! Kamu akan kembali merangkak!"
Taksi melaju.
Tanganku gemetar sampai ponsel nyaris jatuh waktu kuraih. Kupegang kuat-kuat, kutarik napas dalam, dan kucari satu-satunya nomor di Surabaya yang mungkin benar-benar bisa menolongku, satu-satunya yang tak berutang apa pun pada Arga, satu-satunya yang pernah menatap mataku dan berkata "aku berutang ini padamu".
Kusentuh namanya di layar dan kudekatkan ponsel ke telinga.
Berdering sekali, dua kali, tiga kali, dan setiap dering membuat dadaku makin sesak, karena kalau dia tak mengangkat aku tak tahu harus ke siapa lagi, ancaman Arga nyata, dan aku sendirian di kota yang bukan kotaku.
Pada dering keempat, seseorang menjawab.
"Amelia." Suara Fariz, rendah, tenang, seperti sudah menunggu teleponku. Seolah dia berada di dekat sini sepanjang waktu. "Apa yang terjadi?"