NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Pernikahan Kontrak Sang Raja Mafia

Status: tamat
Genre:Romantis / Mafia / Penikahan Kontrak / Cinta setelah menikah / Selingkuh / Obsesi / Dijodohkan Orang Tua / Enemy to Lovers / Tamat
Popularitas:11.7k
Nilai: 5
Nama Author: Marines bacadare

Matteo Leone Messina—calon capo di tutti capi, raja dari kerajaan Cosa Nostra. Dingin, kejam, dan tak lagi percaya pada cinta sejak dikhianati wanita yang dulu dipujanya. Baginya, pernikahan ini hanya secarik kontrak: dua tahun, tanpa hati, tanpa aturan yang mengikatnya.

Angelina Rizzuto—putri satu-satunya pemimpin Camorra. Manis, sopan, berkacamata, dan pernah ditinggalkan di altar dalam gaun pengantinnya. Dunia mengenalnya sebagai gadis polos yang patah hati. Matteo mengira ia menikahi seorang perawan suci yang lemah dan penurut, yang bisa ia abaikan sesuka hati.

Ia salah besar.

Di balik senyum lembut dan busana sopan itu tersembunyi rahasia yang bahkan tak berani ia bayangkan—seorang wanita yang jauh lebih berbahaya, lebih tajam, dan lebih berkuasa daripada dirinya. Perjanjian yang ia buat untuk mempermainkan sang istri perlahan berbalik menjadi jerat bagi hatinya sendiri.

Dua keluarga mafia. Satu pernikahan paksa. Sederet dendam lama yang menunggu ditagih. Dan cinta yang tumbuh di antara dua orang yang bersumpah tak akan pernah jatuh cinta lagi.

Ketika singa bertemu bayangannya sendiri, siapa yang akan memangsa siapa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marines bacadare, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kalau dia menginginkanku, dia akan mendapatkanku

Keesokan paginya, tiga pria terbangun dengan leher pegal sambil menyaksikan pengurus rumah sang CEO mengantarkan sarapan untuk pasangan itu, sementara mereka bertiga dilayani di ruang makan.

Ketiganya merasa heran. Mereka pikir mungkin keadaan Angelina begitu buruk sampai tak bisa turun untuk makan.

"Ana, tolong sampaikan pada Matteo supaya segera turun," ujar Luca sambil duduk untuk sarapan bersama yang lain setelah mandi.

Nana masuk ke kamar sambil membawa makanan. Begitu masuk, dia melihat gadis muda itu meringkuk dalam pelukan suaminya bagai anak kecil. Pemandangan itu sungguh menyentuh. Sang tuan memeluk istrinya dan menatapnya seperti yang belum pernah dia lakukan pada siapa pun, bahkan pada mantan tunangannya sekalipun. Nana tahu betul, sebab dialah yang dulu bekerja untuk keluarga itu dan boleh dibilang yang membesarkan Matteo. Dia sangat menyayangi bocah itu, dan dia menyaksikan bagaimana hati Matteo perlahan menggelap. Namun hari ini, tampaknya hati itu kembali bersinar.

"Selamat pagi, Nak. Permisi, aku bawakan sarapan kalian," ujar Nana sambil mendekatkan nampan ke tepi ranjang pasangan itu.

"Nak, maaf mengganggu, tapi Luca, Donato, dan Andrés menunggumu di ruang makan. Mereka sedang sarapan," lanjutnya agak sungkan.

"Mereka di sini sepagi ini? Ada apa gerangan?" tanya sang pria bingung.

"Tidak, Nak. Mereka tidur di sofa, bahkan tak masuk ke kamar tamu," Nana memberitahu. Sang capo mengambil sepotong buah dan menyuapkannya ke mulut istrinya, lalu turun untuk melihat apa yang terjadi.

Matteo menuruni tangga dengan celana piama dan kaus putih. Begitu tiba di ruang makan, para pria yang baru saja selesai makan menghampiri sahabat mereka.

"Ada apa? Kenapa kalian tidur di sofa dan bukan di kamar? Terjadi sesuatu?" tanya sang capo sambil menatap sahabat-sahabatnya dengan kening berkerut.

"Bagaimana keadaan Angelina?" tanya Luca.

"Apa yang kaulakukan padanya, Matteo?" tanya Andrés.

"Kau memang sahabat kami, tapi kami takkan membiarkanmu menyakitinya," ujar Donato serius. Wajah Matteo dipenuhi kebingungan. Dia tak paham apa yang sedang terjadi.

"Aku tak mengerti kalian. Apa maksud kalian?" ujar Matteo dengan suara sedikit meninggi.

"Kami tinggal untuk memastikan keadaan Angelina, dan kami takkan pergi sebelum melihatnya. Kalau kau menyakitinya, aku bersumpah akan membawanya pergi," ujar Donato menantang Matteo.

Sang CEO mengepalkan tinjunya dan mendekati Donato dengan sikap mengancam. Namun saat itu juga, muncullah Angelina yang begitu cantik dengan gaun berwarna merah muda pastel bertali, pendek dan longgar, yang memamerkan kaki jenjangnya yang indah. Dia memeluk suaminya dari belakang lalu berbicara.

"Halo, teman-teman, selamat pagi. Ada apa ini…" sapa gadis cantik itu, menunjukkan pada ketiga pria bahwa dia baik-baik saja.

"Angelina, selamat pagi, maaf. Kami cuma ingin tahu keadaanmu," ujar Luca dengan senyum tulus.

"Selamat pagi, Ángel, apa kabar?" sapa Donato, disusul Andrés.

"Baik-baik saja, teman-teman. Terima kasih sudah khawatir, tapi aku sungguh baik-baik saja. Aku rasa Matteo tak mungkin tega menyakitiku… Dia tahu itu takkan menguntungkannya," ujarnya berkelakar, lalu mengecup bibir suaminya. Dia berbalik menghadap para pria dan berkata.

"Nah, karena sudah jelas aku baik-baik saja, aku ingin memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta bantuan kalian semua menuntaskan pesanan Rocco," dia berdiri di depan suaminya dan meraih kedua tangan pria itu agar memeluknya, membuat ketiga pria itu terkejut.

"Ada bocoran, sudah jelas. Artinya ada pengkhianat di antara kita. Aku akan memeriksa komputer setiap karyawan dan orang dekat, tapi itu butuh waktu yang tak kita punya," mereka menyimak sang gadis pirang dengan saksama.

"Kita akan pasang umpan. Kalian yang membawa truk itu, sementara aku dan timku yang melakukan penyerahan barang, tapi kita akan mengubah lokasinya tanpa sepengetahuan siapa pun," tambah gadis muda itu, lalu berbalik menghadap suaminya.

"Sayang, aku butuh dukungan kalian untuk itu. Kita lakukan dengan cepat, tapi harus besok, karena setelahnya aku ada urusan lain, dan lebih baik kita bahas dulu," ujar sang gadis pirang sambil mengecup sudut bibir Matteo. Namun pria itu mengernyit dan berkata sambil menatapnya lekat-lekat.

"Timmu tak bisa menanganinya tanpa kau turun tangan. Kau kan pemimpinnya," ujar sang CEO menatapnya.

"Tidak, sayang. Misi itu kukerjakan bersama timku sendiri, itu sebabnya semuanya selalu berhasil. Aku melakukannya tanpa perantara. Makin sedikit orang, makin kecil peluang pengkhianatan," ujar Angelina, dan saat itu telepon genggamnya berdering.

"Sebentar, sayang," gadis itu mengangkat panggilan.

"Halo, Ángel, kita ada masalah," terdengar suara di seberang.

"Halo, Mile, ada apa? Tenang dulu," tanya gadis muda itu cemas mendengar sahabatnya panik.

"Ángel, dini hari tadi kami menjalankan misi. Para gadis muda itu muncul, tapi kami ketahuan, dan Ceci menyerahkan diri supaya kami bisa kabur. Baru sekarang aku bisa dapat telepon," Milena mengakhiri kalimatnya, dan Angelina panik.

"Sialan, kenapa kalian tak minta aku ikut? Kalian tahu tim ini terdiri dari empat orang. Siapa keparat yang menahan Ceci?" teriak sang gadis pirang murka. Wajahnya berubah dari malaikat menjadi berang, dan keempat pria itu langsung waspada.

"Si keparat Dereck… Dia menginginkanmu sebagai ganti Ceci. Katanya kau harus menunggu teleponnya," Milena bercerita dengan suara gemetar. Gadis pirang itu mengepalkan tinju, memejamkan mata kuat-kuat, dan menghela napas sebelum menjawab.

"Bajingan keparat, akan kubunuh dia," teriak sang gadis pirang, dan suaminya mendekat.

"Aku bersumpah akan membunuh Dereck Blake. Kalau keparat itu menginginkanku, dia akan mendapatkanku, tapi aku takkan menunggu teleponnya. Siapkan semuanya dan datanglah ke kediaman ini bersama Dani," perintah Angelina, lalu memutus panggilan. Suaranya lebih tegas dan seolah menjelma orang lain. Wanita itu murka dan tak lagi menguasai diri.

Matteo berbalik menghadap istrinya. Mata gadis itu berkilat penuh kebencian, kecemasan jelas tersirat di sana. Matteo menangkup kedua pipinya dan bertanya.

"Ada apa, sayang? Untuk siapa kau mau menyerahkan diri? Bicaralah, tanpa dusta, ingat itu," ujarnya, dan Angelina mengangguk.

"Akan kuceritakan, tapi setelah itu aku harus bersiap," ujarnya sambil hendak menuju kamar, tapi Matteo menahannya.

"Tidak, sayang, bicaralah atau kau takkan keluar. Apa yang terjadi?" desak sang CEO cemas.

"Ada seorang keparat yang terobsesi padaku sejak dia gagal… Ah, pokoknya, dia menginginkanku dan menculik sahabatku Cecilia untuk ditukar denganku," ujarnya, dan wajah iblis pun kalah menyeramkan dibanding wajah sang CEO saat itu.

Luca melompat mendekat bagai per dan berkata pada Angelina.

"Apa-apaan ini, aku mau nama lengkap keparat itu dan segala informasi yang bisa kita pakai untuk melacaknya," seketika Angelina berbalik dan memusatkan perhatian padanya.

"Aku tahu cara sampai ke Ceci, karena itu aku akan pergi dan membunuh keparat itu sebelum dia menyakitinya," jawabnya.

"Kau takkan menemui orang gila mana pun, Angelina," ujar Matteo.

"Maaf, Matteo, tapi Dereck itu keparat yang sakit jiwa. Percayalah, kalau aku tak bergegas, sekalipun kita berhasil menyelamatkan Ceci, dia akan lebih memilih mati," ujar sang gadis pirang tegas pada suaminya.

"Bajingan itu takkan menyentuh Ceci. Aku takkan mengizinkannya, Angelina," Angelina tak menjawab. Dia hanya menatap Matteo lalu melanjutkan langkah ke kamar, dan Matteo mengikutinya dari belakang.

Sang gadis pirang masuk ke kamar, disusul suaminya tak lama kemudian. Dia mengambil celana jins hitam dan kemeja senada, lalu cepat-cepat berpakaian. Suaminya masuk dan berusaha berbicara dengannya, tapi gadis muda itu tak punya waktu. Dia mengenakan sepasang bot pendek, sementara Matteo terus mencoba mengajaknya bicara sambil menunggu para gadis datang.

"Sayang, tenanglah, kau takkan pergi sendiri. Aku takkan membiarkanmu pergi tanpaku. Ceritakan apa yang terjadi," gadis itu menggeleng dan menatapnya lekat-lekat.

"Matteo, ini penting bagiku. Para gadis itu keluargaku, dan mereka ada saat aku membutuhkan mereka. Aku takkan meninggalkan mereka," ujar gadis muda itu.

"Baiklah, tapi kau istriku, dan tak seorang pun boleh mengusikmu," Matteo mengeluarkan teleponnya dan menelepon seseorang.

"Malcom, aku butuh kau memakai satelit dan melacak si keparat Dereck Blake untukku. Aku butuh lokasinya sekarang," dia memutus panggilan dan menatap istrinya.

"Sekarang ceritakan padaku sambil menunggu teman-temanmu datang," ujar sang pria Italia. Gadis pirang itu menghela napas seolah mengumpulkan keberanian, lalu berkata.

"Dereck Blake pernah menculikku, dan sebagian dari alasan aku menjadi monster ini kuutang padanya…"

1
Netnetri
ok
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!