NovelToon NovelToon
DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

DITALAK ISTRI KARENA MISKIN, AKU PULANG SEBAGAI CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Cerai / Identitas Tersembunyi / Kaya Raya / CEO
Popularitas:852
Nilai: 5
Nama Author: BayouDarda Novelis

“Laki-laki kok nganggur di rumah! Makan di belakang saja. Jangan duduk semeja sama tamu.” Selama tiga tahun, Arkana Pramudya—Arkan—dianggap pengangguran dan beban oleh keluarga istrinya, Laras Wijaya. Pada hari jadi pernikahan mereka, Laras menjatuhkan talak karena malu memiliki suami yang dianggap miskin. Ia tak tahu Arkan adalah pewaris tunggal Grup Pramudya sekaligus pemegang saham pengendali PT Nusa Karya, tempatnya bekerja. Setelah perceraian resmi, Arkan mengambil tanggung jawab sebagai CEO. Namun, kebangkitan Arkan bukan sekadar pamer kekayaan: pelanggaran anggaran harus dibuktikan, konflik warisan mengancam perusahaan, dan Reno—orang yang memanfaatkan ambisi Laras—kembali membawa fitnah. Saat penyesalan datang terlambat dan Laras meminta kesempatan kedua, Arkan harus memilih hidup yang dibangun atas rasa hormat, bukan rasa bersalah. Bersama Nadine Prasetya, teman lama sekaligus CEO yang setara dengannya, Arkan belajar bahwa memaafkan tak berarti harus kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BayouDarda Novelis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 — Hampir Mengaku (2)

Pagi itu, aku kembali menemukan kardus-kardus berisi barangku di sudut ruang tengah.

Beberapa kemeja masih terlipat di dalam kardus, laptopku berada di tas hitam, sementara dokumen pribadi kusimpan terpisah agar tidak tercampur dengan barang rumah tangga. Aku sudah memutuskan untuk tidak memperpanjang pertengkaran. Sepuluh hari yang kuminta kepada Laras akan kugunakan untuk menyelesaikan urusan yang memang harus diselesaikan.

Bukan untuk memaksanya berubah pikiran.

Dari arah dapur, terdengar suara Ibu Retno sedang berbicara melalui telepon. Nadanya ceria, berbeda jauh dari cara ia memperlakukanku beberapa jam sebelumnya.

“Kalau urusan kantor, Reno memang lebih paham. Anak itu punya masa depan. Bukan seperti orang yang kerjanya seharian menatap laptop.”

Aku meletakkan gelas di meja.

Ibu Retno menoleh. Tatapannya langsung jatuh pada kardus di samping sofa.

“Barang-barangmu belum dipindahkan?”

“Sebagian sudah saya rapikan.”

“Rapikan untuk apa? Mau dibawa ke mana?”

“Sedang saya urus.”

Jawaban itu rupanya tidak memuaskannya. Ia meletakkan ponsel di atas meja makan.

“Arkan, kamu ini sudah berapa lama hidup di rumah orang? Seharusnya kamu tahu diri. Laras bekerja keras, membangun karier, sementara kamu hanya mengandalkan uang yang entah datang dari mana.”

Aku menatapnya sebentar.

Uang yang entah datang dari mana.

Kalimat itu hampir membuatku tersenyum. Selama tiga tahun, aku membiarkan orang-orang di rumah ini menyusun kesimpulan tanpa pernah merasa perlu memeriksa kenyataan.

Aku bisa saja menjelaskan sumber penghasilanku. Bisa juga menunjukkan dokumen yang kusimpan. Namun, aku tahu percakapan seperti ini tidak akan selesai hanya dengan memperlihatkan angka.

Bagi Ibu Retno, persoalannya bukan bukti. Persoalannya adalah siapa yang ia anggap pantas dihormati.

“Aku tidak pernah meminta Laras menanggung semua kebutuhan saya,” jawabku.

“Tidak meminta?” Ia mengangkat alis. “Lalu selama ini kamu melakukan apa? Mengurus laptop? Duduk di rumah? Kalau itu pekerjaan, semua orang juga bisa melakukannya.”

Aku tidak membalas.

Ponselku bergetar di saku. Pesan dari Pak Surya muncul di layar, tetapi aku tidak langsung membukanya. Ada urusan keluarga yang harus kuselesaikan tanpa mengubah ruang tengah menjadi ruang rapat perusahaan.

Ibu Retno justru mengira diamku sebagai tanda menyerah.

“Jangan diam saja kalau dinasihati. Kamu itu laki-laki. Seharusnya bisa memberi kepastian kepada istri, bukan malah membuatnya menanggung malu.”

Aku menarik napas pendek.

“Saya mendengar Ibu.”

“Kalau mendengar, buktikan. Jangan cuma pandai bicara.”

Laras keluar dari kamar tidak lama kemudian. Ia mengenakan pakaian kerja, dengan tas tergantung di bahu. Wajahnya tampak kurang tidur, tetapi langkahnya tetap teratur. Ia berhenti ketika melihat kami.

“Ada apa lagi, Bu?”

“Ibu cuma menasihati suamimu. Dia masih merasa dirinya bisa hidup seperti orang penting, padahal untuk kebutuhan sendiri saja belum jelas.”

Laras melirik kardus di samping sofa. Tatapannya bertahan di sana beberapa detik sebelum berpindah kepadaku.

“Aku harus berangkat,” katanya sambil memeriksa ponsel.

Ibu Retno mengambil kesempatan ketika melihat Laras tidak membantahku.

“Laras, kamu terlalu sabar. Kalau terus begini, sampai kapan kamu harus mengurus orang yang tidak punya tujuan?”

Laras mengatupkan bibir. Ada jeda kecil sebelum ia menjawab.

“Sudahlah, Bu. Aku harus berangkat.”

“Justru karena kamu harus berangkat, Ibu ingin kamu memikirkan masa depanmu. Jangan sampai hidupmu habis hanya untuk orang yang tidak bisa memberimu apa-apa.”

Kali ini Laras tertawa kecil.

Bukan tawa lepas seperti ketika ia membicarakan bonus atau keberhasilan pekerjaannya. Tawa itu canggung, seolah ia ingin mengakhiri percakapan tanpa harus memilih pihak.

“Arkan memang begitu, Bu. Dari dulu juga susah diajak bicara soal masa depan.”

Aku memandangnya.

Kalimat itu tidak keras. Tidak pula disertai makian. Namun, karena disampaikan begitu ringan, aku bisa melihat betapa mudahnya ia menjadikan tiga tahun pernikahan kami sebagai sesuatu yang tidak perlu dipertanggungjawabkan.

Aku tidak pernah menganggap apa yang kulakukan untuk Laras sebagai utang yang harus dibayar. Sekarang, rupanya semua itu tidak cukup berarti untuk disebut sebagai usaha.

“Kalau menurutmu begitu, aku tidak akan memaksamu melihatnya dengan cara lain,” kataku.

Laras mengernyit. “Maksudmu?”

“Tidak ada.”

Aku mengambil tas laptop dari atas meja dan memeriksa resletingnya. Pembicaraan ini tidak akan mengubah keputusan siapa pun. Yang bisa kulakukan hanya menjaga agar langkah berikutnya tidak menimbulkan persoalan baru.

Ibu Retno menggeleng melihatku.

“Lihat, Laras? Begini terus. Ditanya baik-baik, jawabnya pendek. Seolah-olah dia punya urusan besar yang tidak boleh diketahui siapa pun.”

Ia tertawa, lalu menatapku dengan senyum meremehkan.

“Memangnya kamu punya hubungan dengan siapa? Jangan-jangan kamu merasa dirimu bagian dari Grup Pramudya.”

Tanganku berhenti di atas tas.

Nama itu meluncur dari mulutnya dengan nada mengejek, seolah Grup Pramudya hanyalah panggung khayalan yang kupakai untuk menghibur diri. Laras ikut tersenyum, meskipun matanya tidak sepenuhnya mengikuti ekspresi ibunya.

Aku mengangkat wajah.

“Kenapa Ibu menyebut Grup Pramudya?”

“Karena kamu sering sekali menatap laptop seperti orang mengurus perusahaan besar.” Ibu Retno menyilangkan tangan. “Kalau memang punya hubungan dengan mereka, mana buktinya? Kamu bahkan tidak pernah menunjukkan pekerjaan yang jelas kepada keluarga sendiri.”

Aku tidak menjawab pertanyaan itu.

Bukan karena takut ketahuan. Aku hanya belum melihat alasan untuk membuka sesuatu yang selama ini sengaja kujaga tetap berada di luar persoalan rumah tangga.

Identitasku tidak pernah menjadi alat untuk membuat Laras bertahan. Aku tidak ingin ia memilihku karena nama keluarga, jabatan, atau angka yang tertera di rekening. Jika ia memang tidak lagi ingin hidup bersamaku, kenyataan tentang diriku tidak akan mengubah haknya untuk pergi.

Namun, diamku juga telah memberi ruang bagi orang lain untuk menafsirkan segala sesuatu sesuka hati.

“Sudah, Bu,” kata Laras sambil melihat jam tangannya. “Jangan dibahas lagi. Aku terlambat kalau terus di sini.”

“Bukan Ibu yang memulai. Ibu cuma ingin kamu sadar. Jangan sampai suatu hari kamu menyesal karena membuang waktu dengan orang yang salah.”

Laras tidak menjawab.

Ia berjalan menuju pintu, kemudian berhenti sejenak saat melihatku masih berdiri di dekat sofa.

“Kamu tidak berangkat?”

“Ada beberapa hal yang harus kuselesaikan.”

“Urusan laptop lagi?”

“Sebagian.”

Ia menatapku dengan wajah yang sulit kubaca.

“Kalau memang kamu punya pekerjaan, seharusnya dari dulu kamu bisa menjelaskannya.”

Aku mengangguk kecil.

“Mungkin.”

Jawaban itu membuat Laras kehilangan kata-kata selama beberapa detik. Ia tampak ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih membuka pintu.

“Aku berangkat.”

“Hati-hati.”

Ia keluar tanpa menoleh lagi.

Pintu tertutup. Suara langkahnya menjauh, disusul bunyi pagar yang bergerak. Aku masih berdiri di tempat yang sama sampai Ibu Retno kembali mengomel tentang barang-barang di ruang tengah.

“Jangan lupa dipindahkan. Rumah ini bukan tempat penyimpanan barangmu.”

“Baik, Bu.”

Ibu Retno kembali ke dapur, puas dengan kesimpulannya sendiri.

Aku menaruh kardus di dekat dinding. Ada beberapa benda kecil di dalamnya, termasuk foto lama yang belum sempat kupisahkan. Aku tidak membukanya. Pagi itu bukan waktu yang tepat untuk kembali memeriksa kenangan yang sudah tidak mengubah keputusan siapa pun.

Ponselku kembali bergetar.

Kali ini aku menjawab panggilan Pak Surya.

“Selamat pagi, Pak,” katanya. “Maaf mengganggu. Saya sudah menerima pembaruan dari bagian sekretariat.”

“Ada perubahan jadwal rapat?”

“Tidak, Pak. Rapat tetap berjalan sesuai agenda. Namun, ada perkembangan terkait Hendra.”

Aku berjalan menuju teras agar percakapan kami tidak terdengar dari dalam rumah.

“Jelaskan.”

“Pak Hendra mengajukan permintaan dokumen warisan keluarga. Permintaan itu disampaikan melalui jalur resmi, tetapi cakupannya cukup luas. Ada beberapa berkas lama yang berkaitan dengan kepemilikan saham dan dasar kewenangan pengendali.”

Aku memandang halaman depan. Embun masih tersisa di beberapa daun, sementara udara pagi mulai menghangat.

“Siapa yang menerima permintaan itu?”

“Sekretariat hukum. Mereka meneruskannya kepada saya karena sebagian dokumen berada dalam arsip yang pengelolaannya membutuhkan verifikasi tambahan.”

“Apakah permintaannya sudah diperiksa dari sisi kewenangan?”

“Sedang diperiksa. Kami belum memberikan akses ke dokumen apa pun sebelum dasar permintaan, ruang lingkup, dan hak pemohon dipastikan.”

“Bagus. Jangan mengirimkan salinan hanya karena nama yang bersangkutan tercantum dalam keluarga.”

“Siap, Pak.”

Aku mengusap pangkal hidung. Hendra tidak bergerak tanpa perhitungan. Permintaan dokumen warisan bisa saja merupakan langkah administratif yang sah. Namun, waktunya membuatku perlu berhati-hati, terutama ketika ia sedang mengumpulkan dukungan dari sejumlah anggota dewan.

Aku tidak boleh langsung menyimpulkan bahwa ada niat buruk hanya karena tindakannya terasa mencurigakan.

“Pak Surya, pastikan tim memisahkan dokumen kepemilikan, surat keputusan, dan arsip yang masih memerlukan pengesahan. Periksa angka, kewenangan, dan dokumen hukumnya. Jangan ada berkas yang dianggap sah hanya karena pernah digunakan dalam rapat.”

“Baik, Pak. Kami akan cocokkan dengan catatan sebelumnya.”

“Pastikan semuanya mengikuti prosedur. Kalau ada kekurangan, minta dilengkapi secara tertulis.”

“Dimengerti.”

Aku berhenti sebentar sebelum melanjutkan.

“Dan jangan hubungkan persoalan ini dengan urusan pribadi saya. Proses perceraian saya tidak boleh memengaruhi pemeriksaan perusahaan.”

Pak Surya terdiam sesaat.

“Saya memahami, Pak. Tim akan tetap bekerja berdasarkan mandat dan bukti.”

“Bagus. Kirimkan ringkasan awal setelah pemeriksaan selesai. Saya tidak membutuhkan dugaan yang disusun menjadi kesimpulan.”

“Baik. Saya akan menghubungi bagian hukum dan pengelola arsip.”

Panggilan berakhir.

Aku memasukkan ponsel ke saku, tetapi belum beranjak dari teras. Ada dua urusan yang berjalan beriringan dalam hidupku, dan aku harus memastikan keduanya tidak saling merusak. Perceraian tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan tanggung jawab perusahaan. Sebaliknya, jabatan dan kekuasaan juga tidak boleh kupakai untuk mengatur keputusan Laras.

Selama ini aku memilih diam agar kehidupan di rumah tidak berubah menjadi perdebatan tentang siapa diriku sebenarnya. Aku mengira kesabaran akan membuat keadaan lebih mudah. Kenyataannya, orang-orang justru terbiasa menganggap diam sebagai bukti bahwa aku tidak memiliki apa-apa.

Aku tidak perlu membuktikan kekayaanku kepada Ibu Retno pagi ini. Aku juga tidak perlu mengejar Laras untuk memaksanya mengakui bahwa penilaiannya selama ini keliru.

Tetapi urusan perusahaan berbeda.

Jika dokumen warisan dipersoalkan, aku harus memastikan setiap hak dan kewenangan berdiri di atas dasar yang benar. Jika Hendra memiliki alasan yang sah, permintaannya harus diproses. Jika ada ketidaksesuaian, hal itu harus ditemukan melalui pemeriksaan, bukan melalui kemarahan atau dugaan.

Aku kembali masuk ke rumah.

Ibu Retno sedang menyusun piring di meja makan. Ia melirikku, lalu melihat tas laptop yang masih kubawa.

“Mau pergi?”

“Ya.”

“Kalau Laras sudah mengambil keputusan, sebaiknya kamu tidak membuat masalah tambahan.”

Aku berhenti di dekat pintu.

“Saya tidak berniat membuat masalah, Bu.”

“Semoga saja. Ibu sudah lelah menghadapi keadaan seperti ini.”

Aku tidak membalas. Aku hanya mengambil kunci dan memastikan kardus-kardusku tetap berada di tempat yang tidak mengganggu jalan.

Sebelum keluar, aku sempat melihat meja makan yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari rutinitasku. Kursi yang biasa kududuki masih berada di ujung. Tidak ada yang istimewa pada benda itu, tetapi aku teringat bagaimana dulu aku memilih tidak mempermasalahkan tempat duduk, komentar, ataupun perlakuan yang merendahkan.

Aku pernah mengira mempertahankan ketenangan berarti mengalah dalam segala hal.

Sekarang aku tahu, keduanya tidak selalu sama.

Aku menutup pintu dan berjalan menuju mobil. Di dalam saku, ponselku kembali bergetar. Sebuah pesan masuk dari Pak Surya, berisi pemberitahuan bahwa bagian hukum telah mengonfirmasi penerimaan permintaan Hendra. Pemeriksaan awal akan dimulai setelah daftar dokumen dan dasar kewenangannya dicocokkan.

Aku membaca pesan itu sekali lagi.

Belum ada kesimpulan. Belum ada bukti pelanggaran. Hanya sebuah permintaan yang harus diperiksa dengan benar.

Aku membalas singkat, meminta agar seluruh komunikasi disimpan dalam arsip resmi.

Lalu aku menyalakan mesin.

Di rumah tadi, aku hampir mengatakan sesuatu yang bisa mengubah cara Ibu Retno memandangku. Aku bisa menyebut jabatan, perusahaan, bahkan kewenangan yang selama ini tidak pernah mereka bayangkan. Namun, pengakuan yang keluar hanya untuk memenangkan pertengkaran tidak akan menyelesaikan apa pun.

Suatu saat, kenyataan mungkin akan berbicara sendiri.

Untuk sekarang, aku akan membiarkan proses berjalan sebagaimana mestinya.

Aku belum tahu sejauh mana Hendra akan membawa persoalan itu. Aku juga belum tahu dokumen mana yang sebenarnya ia cari. Yang jelas, permintaannya telah tercatat, dan setiap langkah berikutnya harus bisa dipertanggungjawabkan.

Aku mengarahkan mobil keluar dari halaman. Untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, aku tidak merasa perlu menyiapkan jawaban bagi siapa pun di rumah.

Namun, ketika berhenti di persimpangan, aku membuka kembali pesan Pak Surya. Ada satu kalimat tambahan yang tadi luput dari perhatianku.

Hendra meminta dokumen yang berkaitan dengan keputusan almarhum ayahku.

1
BayouDarda Novelis
Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
Renjana
hadir kk
BayouDarda Novelis: Terimakasih atas kehadirannya kak, semoga sukses selalu.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!