Shevi (20 tahun) adalah pemuda miskin di Jakarta yang menyambung hidup sebagai buruh cuci motor panggilan. Sudahlah dihina dan dicampakkan oleh pacarnya karena dianggap tidak punya masa depan, emaknya pun terancam diusir dari kontrakan petak karena menunggak tiga bulan.
Di titik terendah hidupnya, sebuah mukjizat datang lewat "Sistem Poin Keberkahan".
Setiap kali Shevi bersabar dari hinaan, bekerja jujur, dan ikhlas menolong sesama di kerasnya ibu kota, dia akan mendapatkan Poin Keberkahan yang bisa ditukar dengan uang tunai atau kemampuan ajaib. Berbekal jalur langit ini, Shevi merangkak naik membalikkan takdir dari buruh jalanan menjadi miliarder nomor satu di Jakarta!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyy Sky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik Nadir
Tuntutan permintaan maaf yang keluar dari mulut Shevi membuat suasana di depan kontrakan petak nomor tiga seketika hening. Bu Ratmi melotot tak percaya, mukanya memerah menahan malu dan amarah. Bagi wanita setamak dirinya, meminta maaf kepada keluarga miskin yang selama ini dia anggap benalu adalah sebuah kehinaan besar di depan para tetangga.
"L-lu... lu berani nyuruh gua minta maaf?!" bentak Bu Ratmi dengan suara gemetar, mencoba menutupi kegugupannya. Dia menoleh ke dua preman di belakangnya. "Lihat nih! Orang miskin lagaknya udah kayak raja! Woi, usir dia dari sini!"
Kedua preman itu saling pandang, lalu melangkah maju hendak mencengkeram bahu Shevi. Namun sebelum tangan kasar mereka menyentuh pakaian Shevi, sebuah batuk berat yang berwibawa memotong dari ujung gang.
"Ada apa ini malam-malam ribut begini? Bu Ratmi, bawa-bawa preman segala ke lingkungan saya?"
Seorang pria paruh baya mengenakan peci hitam dan sarung melangkah mendekat. Dialah Pak RT Hambali, sosok yang disegani di kawasan Tambora karena keadilannya. Warga yang sejak tadi mengintip dari balik jendela langsung berbisik-bisik lega melihat kehadiran Pak RT.
"Eh, Pak RT..." wajah beringas Bu Ratmi mendadak menciut. "Ini Pak, si Shevi malam-malam bawa duit tiga juta cash! Saya curiga ini duit haram hasil nyopet atau nyuri! Mana mungkin buruh cuci keliling punya duit segini banyak dalam waktu setengah jam?!"
Pak RT Hambali memiringkan kepala, lalu menatap Shevi dengan tenang. "Benar begitu, Shev?"
Shevi tidak panik. Dia merogoh dompetnya, lalu menunjukkan kartu nama tebal milik Pak Teguh serta lembaran uang kertas merah di tangannya kepada Pak RT Hambali.
"Pak RT, uang tiga juta rupiah ini adalah pembayaran resmi atas jasa perbaikan sistem rem mobil di jalan raya yang saya kerjakan malam ini untuk pemilik jaringan bengkel otomotif," jelas Shevi dengan nada suara yang mantap. "Ada bukti kartu nama dan identitas resminya. Kalau Bu Ratmi masih ragu, kita bisa ke kantor polsek untuk membuktikannya. Tapi tadi sebelum saya pergi, Bu Ratmi berjanji di depan Emak dan warga, kalau saya bisa bayar tiga juta tunai dalam waktu tiga puluh menit, beliau harus minta maaf karena sudah membentak dan mengancam mengusir Emak saya."
Pak RT Hambali memperhatikan kartu nama emas tersebut, lalu menatap Bu Ratmi lurus-lurus. "Kartu nama ini resmi, Bu Ratmi. Sebagai pemilik kontrakan, Ibu berhak menerima uang sewa, tapi tidak berhak memfitnah warga saya tanpa bukti. Apalagi Ibu sudah berjanji sendiri."
Warga sekitar yang menonton mulai berseru lirih menyudutkan Bu Ratmi. "Iya tuh, Bu Ratmi! Kalau janji ya harus ditepati!", "Jangan milih-milih orang kalau mau sopan!".
Muka Bu Ratmi makin merah padam. Terjepit oleh bukti, ketegasan Pak RT, dan sorot mata belasan tetangga, egonya akhirnya hancur berkeping-keping. Dengan bibir gemetar dan mata yang enggan menatap Shevi, Bu Ratmi mendesis pelan ke arah Emak Aminah.
"Y-ya udah... gua minta maaf kalau tadi teriak-teriak. Uang sewanya gua terima," ucap Bu Ratmi cepat-cepat, lalu berbalik dan berlari pergi membawa uang tiga jutanya tanpa berani menoleh lagi. Kedua premannya pun buru-buru menyusul pergi meninggalkan lokasi.
Pak RT Hambali menepuk bahu Shevi dengan bangga. "Kamu pemuda yang sabar dan punya pendirian teguh, Shev. Jaga Emakmu baik-baik."
"Terima kasih banyak, Pak RT," sahut Shevi penuh hormat.
Keesokan paginya, langit Jakarta kembali membiru cerah setelah semalaman diguyur hujan deras. Udara di sepanjang Gang Tambora masih menyisakan aroma tanah basah, tetapi bagi Shevi, hari ini terasa begitu berbeda. Untuk pertama kalinya dalam setahun terakhir, dia terbangun tanpa perlu mendengar suara batuk emaknya yang menyayat hati.
Saat Shevi melangkah keluar dari kamar, Emak Aminah sudah rapi mengenakan daster batik bersih. Wanita paruh baya itu sedang mengayunkan sapu lidi di atas lantai semen dengan gerakan yang lincah. Garis-garis lelah di wajahnya terangkat, senyumnya terkembang lebar.
"Eh, Shevi, sudah bangun, Le? Itu Emak sudah buatkan teh hangat sama rebus pisang buat sarapanmu," sapa Emak Aminah renyah.
Shevi mendekat, lalu mencium punggung tangan emaknya dengan penuh rasa syukur. "Iya, Mak. Terima kasih. Tapi Emak jangan terlalu memaksakan diri dulu, baru juga terasa agak mendingan."
"Aneh tapi nyata, Shev. Badan Emak rasanya jauh lebih segar," tutur emaknya gembira. "Enteng sekali, ngga ada rasa linu atau sesak lagi di dada."
Setelah menghabiskan sarapan, Shevi segera bersiap-siap. Dia mengambil ember hitamnya, merapikan botol racikan sabun cuci, lap kain bersih, serta sikat ban kusam. Meski saat ini dia masih memiliki sisa uang tunai dua juta rupiah simpanan dari pembayaran Pak Teguh, Shevi paham betul bahwa kemudahan tidak boleh membuatnya menjadi pemuda yang malas.
Keberkahan hadir dari ketulusan dan kerja keras.
Dia berjalan sekitar sepuluh menit menuju area pangkalan ojek di dekat gerbang Stasiun Kereta Api. Di sana, puluhan sepeda motor milik pekerja kantoran tampak berderet di parkiran terbuka, tertutup kerak lumpur cokelat kental sisa banjir semalam.
Shevi memasang papan kardus bekas bertuliskan: "Jasa Cuci Motor Keliling - Rp20.000" di dekat tiang listrik, lalu duduk menanti pelanggan pertama.
"Melangkah dengan kejujuran, berikan harga adil, dan jangan pernah memanfaatkan kesusahan orang lain," bisik Shevi dalam hati, memegang teguh niat mulianya.
Tidak butuh waktu lama, seorang pria paruh baya mengenakan kemeja kantoran turun dari motor matic-nya dengan raut wajah gusar. Pria itu mengelap keringat di lehernya sambil melihat jam tangan. Matanya tertambat pada papan milik Shevi.
"Mas! Kamu tukang cuci motor?" panggil pria itu. "Ini kotornya parah sekali gara-gara menerobos banjir semalam. Berapa tarifnya? Jangan main getok harga ya!"
Di tengah situasi darurat pasca-banjir seperti ini, penyedia jasa cuci lain pasti menaikkan harga menjadi tiga puluh hingga lima puluh ribu rupiah.
Namun Shevi menggeleng pelan. "Tetap dua puluh ribu rupiah saja, Pak. Sesuai yang tertulis di papan. Saya bersihkan luar dalam sampai sela-sela mesinnya," jawab Shevi tulus.
Pria kantoran itu tertegun. Sorot mata Shevi yang jujur membuat rasa curiga di dadanya menguap seketika. "Walah... ya sudah, Mas. Ini kunci motornya saya titip. Nanti sore jam lima saya balik. Ini uang lima puluh ribu, sekalian saya bayar di depan dan sisanya buat uang lelah Mas karena jujur."
Shevi segera bekerja. Dengan ketelitian luar biasa, dia menyiram bodi motor, menyikat sela-sela mesin yang tertutup kerak lumpur tanpa menggores cat. Keringatnya mengucur deras membahasi kaus lusuhnya, tetapi tangannya tak berhenti menggosok.
Sikap kerja Shevi yang rapi dan tidak asal-asalan menarik perhatian para pengemudi ojek online di sekitarnya. Satu per satu pelanggan mulai berdatangan memadati tempat Shevi. Tanpa terasa, dia berhasil menyelesaikan lima motor berturut-turut melalui kerja keras tangannya sendiri.
Ketika jarum jam menunjukkan pukul lima sore, pria kantoran pemilik motor pertama keluar dari pintu gerbang stasiun. Pria itu tidak berjalan sendirian. Di sampingnya, berjalan seorang wanita muda berambut pendek dengan pakaian kerja yang sangat modis dan elegan. Wanita itu menggenggam map dokumen tebal di dadanya, memiliki paras tegas dan berwibawa.
Saat pria kantoran itu melihat motor matic miliknya yang terparkir rapi dan mengilat seperti baru keluar dari dealer, matanya membelalak takjub. "Wah, luar biasa! Mas, ini benar-benar motor saya? Bersih sekali!" seru pria itu sangat puas.
"Sudah selesai sepenuhnya, Pak. Sesuai janji saya pagi tadi," jawab Shevi sopan sambil menyerahkan kunci kendaraan.
Wanita muda berambut pendek di sampingnya menghentikan langkah. Pandangannya yang tajam tidak tertuju pada motor yang mengilat itu, melainkan tertambat lurus pada sosok Shevi. Dia mengamati jemari Shevi yang pecah-pecah terkena sabun, pakaiannya yang basah, serta pembawaannya yang tetap tenang dan bermartabat meski bekerja sebagai buruh jalanan.
Ada kilatan ketertarikan profesional yang mendalam dari dalam matanya.
Pada saat yang sama, sebuah getaran hangat kembali berdenyut lembut di dalam dada Shevi, membisikkan sebuah pertanda baru: sebutir benih takdir baru telah tertanam sore ini.