NovelToon NovelToon
Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Salah Pilih Pengawal Tiga Nona Muda Tak Tahu Siapa Jarot Sebenarnya

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Mafia / Penyelamat
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Jarot, sang penguasa dunia bawah tanah yang sedang menyamar untuk menikmati masa pensiun santainya, tanpa sengaja terseret ke dalam masalah saat ia menyelamatkan seorang pengusaha wanita bernama Nisa dari kepungan preman. Terkesima oleh kemampuan bertarung Jarot, Nisa langsung menyewanya dengan bayaran fantastis untuk menjadi pengawal pribadi tiga putri angkatnya—Lyly, Tata, dan Melly—gadis-gadis keras kepala yang selalu sukses mengusir pengawal mana pun dalam hitungan jam. Di balik kemewahan rumah tersebut, sebuah permainan rahasia yang konyol namun mematikan dimulai; ketiga nona muda itu berusaha menggunakan kemampuan rahasia mereka sebagai ratu Wall Street, master bela diri, dan peretas dewa untuk mengerjai Jarot, tanpa sadar bahwa pria santai yang sedang mereka hadapi adalah monster paling ditakuti di dunia bawah. Kini, sambil meladeni tingkah laku mereka, Jarot harus menggunakan insting pembunuhnya untuk membantai ancaman nyata dari rival bisnis Nisa yang mulai mendekat dari balik

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Kringgg.

Jam alarm di kamar Tata kembali berbunyi tepat pukul lima pagi.

Namun kali ini Tata tidak perlu repot-repot menggedor pintu kamar kakak dan adiknya lagi.

Gadis berambut pendek itu langsung melangkah turun menuju halaman belakang dengan pakaian olahraga lengkap.

Jarot sudah berdiri menunggunya di tengah hamparan rumput sintetis dengan tangan terlipat di dada.

"Pagi, Guru," sapa Tata sambil membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat yang tulus.

"Jangan panggil aku guru, panggil Jarot saja seperti biasa. Kita mulai pemanasan sekarang," balas Jarot dengan wajah datar.

Latihan pertama yang diberikan Jarot ternyata jauh dari bayangan Tata tentang teknik bela diri yang keren.

Jarot hanya menyuruhnya berdiri dengan satu kaki di atas sebuah batu bata bata merah sambil merentangkan kedua tangan.

"Pertahankan posisi itu selama satu jam. Kalau kamu jatuh, kita ulang dari menit pertama," perintah Jarot tanpa ampun.

Tata mengernyitkan dahi tapi tetap patuh naik ke atas batu bata tersebut dengan satu kaki.

Lima belas menit pertama, Tata masih bisa menjaga keseimbangannya dengan sangat mudah dan stabil.

Namun saat memasuki menit ketiga puluh, otot betis dan pahanya mulai terasa kaku dan bergetar hebat menahan berat tubuhnya.

"Fokuskan pandanganmu ke satu titik di depan dan atur nafasmu lewat perut, jangan lewat dada," instruksi Jarot dari pinggir lapangan rumput.

Keringat dingin mulai bercucuran membasahi wajah Tata yang mati-matian menahan rasa pegal yang luar biasa menyiksa itu.

Bruk.

Pada menit ke empat puluh lima, pertahanan otot Tata akhirnya runtuh dan ia jatuh terduduk ke atas rumput.

Nafas gadis itu terengah-engah hebat bagaikan baru saja berlari maraton sejauh belasan kilometer jauhnya.

"Gagal. Ulangi lagi dari awal sekarang," perintah Jarot tanpa nada belas kasihan sedikit pun.

"T-Tunggu sebentar... beri aku waktu dua menit untuk istirahat, kakiku kram," pinta Tata memijat betisnya yang berkedut nyeri.

"Musuhmu di jalanan tidak akan memberimu waktu istirahat saat kamu terjatuh, Mbak Tata," ucap Jarot menyindir halus budaya pertandingan resmi.

Mendengar sindiran tajam tersebut, ego kompetitif Tata langsung bangkit kembali mengalahkan rasa sakit di kakinya.

Ia berdiri perlahan dan kembali menaiki batu bata merah itu dengan kaki yang masih bergetar.

Jarot tersenyum tipis melihat semangat pantang menyerah yang dimiliki oleh nona muda keras kepala di depannya ini.

Tiga jam kemudian, latihan neraka itu akhirnya selesai tepat pada pukul delapan pagi.

Tata berjalan terseret-seret menuju ruang makan dengan kedua kaki yang rasanya seperti terbuat dari jeli.

Di ruang makan, Lyly dan Melly sedang menikmati sarapan roti panggang dan susu cokelat hangat mereka.

"Kamu kelihatan seperti orang yang habis disiksa di penjara bawah tanah, Ta," komentar Melly melihat keadaan kakaknya yang memprihatinkan.

"Rasanya memang mirip seperti itu, Mel," keluh Tata lalu duduk menjatuhkan dirinya ke kursi dengan kasar.

Jarot berjalan masuk menyusul dari arah dapur sambil membawa sepiring nasi goreng porsi besar.

"Mbak Lyly, tolong nanti sore belikan obat gosok memar dari apotek ya," pesan Jarot sambil mulai menyendok makanannya.

"Obat memar buat siapa? Tata kan cuma berdiri tadi," tanya Lyly heran.

"Buat Mbak Tata, karena mulai besok pagi aku akan memukulnya secara langsung dalam latihan tanding," jawab Jarot santai yang langsung membuat Tata menelan ludah.

Melly terkikik pelan melihat raut wajah kakaknya yang tiba-tiba berubah pucat ketakutan mendengar rencana latihan besok.

Suasana sarapan yang dulu penuh dengan perdebatan sinis dan jebakan kini telah berubah menjadi obrolan hangat layaknya keluarga normal.

Perubahan sikap yang sangat drastis ini benar-benar membuat suasana rumah mewah itu terasa jauh lebih nyaman.

Sementara itu, di sebuah gedung perkantoran tua yang jauh dari keramaian kota, suasana kelam menyelimuti ruangan rapat gelap tersebut.

Tiga orang pria paruh baya berpakaian rapi sedang duduk mengelilingi meja bundar dengan raut wajah sangat serius.

Pria yang duduk di tengah adalah Direktur Utama dari perusahaan rival bisnis Nisa yang bernama Tuan Surya.

Dua orang lainnya di sisi kanan dan kiri adalah anggota sisa petinggi dari Sindikat Tengkorak Hitam yang bersembunyi.

"Gudang pelabuhan kita dihancurkan semalam, dan Bos Naga pingsan dengan rahang retak parah," lapor Tuan Surya dengan suara bergetar menahan marah sekaligus takut.

"Apakah ini perbuatan polisi atau tentara?" tanya salah satu anggota sindikat yang memakai kacamata hitam di dalam ruangan.

"Bukan, saksi mata dari anak buah yang sadar duluan bilang kalau mereka cuma diserang oleh satu orang pria berpakaian biasa," jawab Tuan Surya membeberkan fakta memalukan itu.

Pria berkacamata hitam itu langsung menggebrak meja dengan sangat keras hingga asbak di atasnya melompat.

Brak.

"Satu orang menghancurkan lima puluh orang bersenjata dan lima penembak jitu?! Kamu kira ini film aksi layar lebar?!" teriak pria itu tidak percaya.

"Sumpah! Itu yang diceritakan oleh mereka semua secara bersamaan saat diinterogasi tadi pagi," bela Tuan Surya ketakutan.

Anggota sindikat kedua yang memiliki luka codet di pipinya mengangkat tangan meminta mereka berdua tenang.

"Satu orang dengan kemampuan bertarung di luar nalar dan efisiensi membunuh yang sangat tinggi," gumam pria bercodet itu menganalisis informasi mentah tersebut.

"Hanya ada satu orang di kota ini yang punya rekam jejak gila seperti itu di ingatan kita," lanjutnya dengan suara pelan yang terdengar sangat berhati-hati.

Pria berkacamata hitam langsung membelalakkan matanya dan tubuhnya mendadak kaku menyadari arah pembicaraan temannya.

"Maksudmu... Sang Penguasa? Tapi bukankah dia dikabarkan sudah mati atau hilang tiga bulan lalu?!" seru pria berkacamata itu panik.

"Tidak ada mayat berarti dia belum mati. Dan ciri-ciri pria yang menghancurkan Bos Naga semalam sangat mirip dengan gaya bertarungnya," yakin pria bercodet itu.

Suasana ruangan rapat itu mendadak menjadi hening dan sangat mencekam bagi ketiga pria jahat tersebut.

Nama Sang Penguasa adalah legenda hidup yang paling ditakuti oleh seluruh anggota sindikat kejahatan di negara ini.

Orang itu adalah monster yang bisa meratakan sebuah markas mafia sendirian hanya dalam waktu satu malam tanpa terluka sedikit pun.

"Kalau memang benar dia yang berada di balik perlindungan keluarga Nisa, kita tidak punya kesempatan untuk menang secara langsung," simpul pria bercodet dengan sangat realistis.

"Lalu kita harus bagaimana? Proyek pengambilalihan perusahaan Nisa ini sangat penting untuk pendanaan kebangkitan sindikat kita," tanya Tuan Surya putus asa.

Pria bercodet itu tersenyum licik dan menyalakan sebatang cerutu beraroma tajam.

"Kelemahan terbesar seorang pelindung adalah saat target yang harus dia lindungi terpecah menjadi banyak bagian," ucap pria itu menghembuskan asap cerutunya ke udara.

"Kita akan menyewa kelompok pembunuh bayaran asing yang tidak kenal takut pada nama Sang Penguasa," lanjutnya merencanakan strategi baru.

"Dan kita tidak akan menyerang rumah itu lagi, tapi kita akan memancing ketiga gadis bodoh itu keluar dari sarang perlindungan mereka," tutup pria bercodet membeberkan rencana liciknya.

Tuan Surya dan pria berkacamata mengangguk setuju dengan ide serangan yang jauh lebih terencana dan tidak frontal tersebut.

1
Eko🍤
cerdik 👍😀
Eko🍤
hehehehe...aroma pembantaian nih
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii kasih paham mereka🤣🤣👍
Eko🍤
bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hehehehe... bantaaaaaaaiiiiii
Eko🍤
hahahahaha🤣🤣
Eko🍤
🤣🤣🤣👍
Eko🍤
hehehehe...baru datang udh pemanasan 👍🤣🤣
Eko🍤
bermain petak umpet semua nya😀🤣👍
Eko🍤
alur ceritanya bagus
Eko🍤: insya Allah suka Thor ..lanjut terus semangat 👍👍
total 2 replies
Hendra Saja
semangat thor
kiyoe: Terimakasih kak Hendra Saja atas dukungan 🥰
total 1 replies
Inez Putri
critanya lama² membosankan thour. maaf seblmnya🙏🙏 dr awal kanyak nya menarik. tp smpe sni mlh kurang menarik.
kiyoe: sekali lagi othor ucapkan terimakasih banyak kak dan semoga kaka selalu 🥰
total 3 replies
lili Permatasari
♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️♥️
kiyoe: wah terimakasih kaka atas Bintang Lima nya semoga sehat selalu yaa kak 🙏
total 1 replies
Hendra Saja
gazzzzzz 🔥🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!