Juliana membuka mata di kamar mewah yang tak dikenalnya dan merasa baru berumur delapan belas tahun. Di cermin, ada perempuan dua puluh empat tahun yang menatap balik. Di jarinya melingkar cincin. Di rumah itu ada anak kecil yang menatapnya penuh harap, tapi tak sepatah kata pun keluar dari mulut mungilnya.
Dan pria yang ada di sampingnya, ayah dari anak itu, adalah Samudra Adhitama Wiratama. Cowok es dari kampus yang dulu dia kejar-kejar. Suaminya.
Masalahnya, Samudra memandangnya seperti orang asing. Seluruh kota mengenalnya sebagai istri yang dingin, matre, dan kejam. Orang tuanya sendiri sudah enam tahun tak mau bicara dengannya. Sahabatnya menyimpan luka. Tak ada yang percaya padanya, dan sebagian besar dirinya pun tak tahu lagi siapa dia.
Enam tahun lenyap begitu saja. Siapa yang merampasnya, dan kenapa?
Sementara Ju berusaha memahami perempuan yang pernah dia jadi, Samudra mulai curiga bahwa kebenaran yang dia pegang selama ini hanyalah cerita yang ditanam orang lain. Ada foto yang terlalu rapi. Ada dokter yang terlalu tenang. Dan ada orang-orang yang diam-diam diuntungkan.
Cinta pertama yang tertunda enam tahun. Keluarga kaya raya yang saling menjerat. Seorang putri kecil yang berhenti bicara. Dan seorang istri yang bertekad merebut kembali namanya.
Kalau cinta bisa dihapus, apakah ia masih bisa ditemukan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Isabel Coração, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
POV: Ju
Namaku Juliana Rahardjo, tapi sejak kecil semua orang memanggilku Ju. Umurku delapan belas tahun, kuliah di UI, dan hampir di setiap foto yang pernah diambil orang, ada kamera tergantung di leherku. Mamaku dosen di sana. Papaku punya toko kecil perlengkapan fotografi di Jakarta Pusat. Aku tumbuh di antara cuci-cetak film dan makan siang hari Minggu yang riuh. Aku tipe orang yang bicara dulu baru berpikir, tertawa keras di bioskop, dan menangis gara-gara iklan bank. Teman-temanku bilang aku terlalu suka orang. Mungkin. Tapi aku lebih suka begitu.
Dan sampai semalam, aku hanya punya satu masalah besar dalam hidup: aku jatuh cinta habis-habisan pada Samudra Wiratama.
Samudra itu cowok kaya di kampus, yang datang pakai mobil impor dan tak pernah melirik siapa pun. Dua tahun aku mengumpulkan keberanian. Semalam, di beranda rumah Lala, dengan segelas anggur merah yang kami sembunyikan dari orang tuanya, akhirnya aku nekat dan menyatakan perasaanku. Dan dia, yang katanya tak pernah tersenyum, menggenggam tanganku dan bilang ingin mencoba bersamaku. Itu malam terbaik dalam hidupku.
Itu juga hal terakhir yang kuingat.
Aku terbangun karena cahaya putih yang menusuk kelopak mataku dan bunyi bip di sampingku, teratur, menyebalkan, elektronik. Mulutku kering. Ada sesuatu yang menekan dahiku. Kuangkat tangan ke sana dan kurasakan kasa, plester, bentuk perban yang besar. Di punggung tangan yang satunya, jarum infus terpasang dengan selotip. Kamarnya terlalu luas untuk ukuran rumah sakit umum, serba krem dan senyap, dengan vas bunga segar yang entah siapa mengirimnya.
Pintu terbuka, dan masuklah seorang perawat dengan senyum yang sudah terlatih.
"Selamat pagi, Ibu Wiratama. Tidurnya nyenyak?"
Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Mencari ibu yang dimaksud. Tak ada siapa-siapa di kamar itu selain aku dan kantong infus.
"Ibu bicara sama saya?" tanyaku, suaraku serak. "Sepertinya Ibu salah kamar. Saya Ju. Juliana. Saya bukan ibu siapa-siapa."
Perawat itu terdiam. Senyumnya goyah setengah detik sebelum kembali ke tempatnya. Ia mencatat sesuatu di papan klip, seolah reaksiku sudah diduga.
"Saya panggilkan dokter dulu," hanya itu katanya, lalu keluar.
Aku tertinggal, berusaha menyusun kepingan puzzle. Adegan terakhir di kepalaku: beranda rumah Lala, tangan Samudra di tanganku, rasa anggur murahan dan kemenangan. Setelah itu kosong. Bahkan bagaimana aku bisa sampai di rumah sakit mewah pun tak ada. Dengan susah payah aku duduk, kakiku lemas, dan saat itulah aku melihat cermin di dinding seberang.
Perempuan yang balas menatapku berambut cokelat bergelombang panjang, sesuatu yang tak pernah kumiliki, dengan wajah lebih tirus, lebih dewasa, dan kantong mata yang tidak cocok untuk usia delapan belas. Kuangkat tanganku pelan-pelan. Dia ikut mengangkat tangannya. Di jarinya melingkar cincin emas polos yang seumur hidup belum pernah kulihat.
Itu wajahku. Hanya saja dengan enam tahun tambahan yang tidak pernah kujalani.
Aku mundur begitu cepat sampai menabrak troli stainless dan menjatuhkan satu nampan penuh ke lantai. Bunyi gaduhnya mengundang dokter, pria tenang berjas putih dan berkacamata, yang memperkenalkan diri sebagai dr. Pranoto, spesialis saraf. Ia menarik kursi, duduk sejajar denganku, lalu bicara tanpa tergesa, seperti orang yang sudah berlatih menyusun kalimatnya supaya aku tidak kaget.
"Mbak Juliana, kamu mengalami kecelakaan mobil. Benturan keras di kepala. Hasil CT scan menunjukkan amnesia retrograde. Bahasa awamnya, kamu kehilangan sebagian ingatan terbaru. Dari obrolan kita tadi, kira-kira enam tahun."
"Enam tahun," ulangku. Kata itu tak muat di mulutku. "Umurku delapan belas. Pagi ini aku ada kuliah."
"Umurmu dua puluh empat," katanya lembut. "Dan setelah trauma seperti ini, ingatan biasanya pulih sendiri, sedikit demi sedikit. Jangan dipaksa. Jangan coba mengingat semuanya sekaligus."
Aku tertawa, tawa gugup yang keluar miring. Enam tahun. Lenyap. Seperti orang yang tak sengaja menghapus kartu memori lalu hanya bisa memandangi folder kosong.
Perawat tadi kembali untuk membereskan nampan dan, sambil memunguti pecahan, berucap seperti orang membahas cuaca:
"Suami Ibu sudah melunasi semuanya, ya, Bu Juliana. Ibu nggak perlu khawatir apa-apa." Ia menumpuk gelas-gelas. "Beliau nggak bisa datang, jadi sekretarisnya yang mengurus. Oh iya, pengacara perceraian tadi telepon lagi, mau konfirmasi beberapa dokumen. Saya bilang Ibu masih dirawat."
Suami. Perceraian. Dua kata itu menghantam tempat yang sama, bertumpuk satu di atas yang lain, dan aku tak sanggup menjawab satu pun. Mulutku ternganga seperti ikan. Suami? Aku, yang kemarin baru mendapat ciuman pertama sebagai pacar di beranda rumah sahabatku? Cerai dari siapa?
Secara naluri aku mencari ponselku. Tidak ada di meja kecil. Yang ada hanya sebuah bingkai foto yang menghadap ke dinding. Perawat itu, tanpa sadar akibatnya, membaliknya dan meletakkannya di tanganku.
"Ibu nggak mau lihat foto keluarga Ibu?"
Di foto itu ada seorang pria berjas, tampan dan dingin, matanya tidak ikut tersenyum ke kamera. Di sebelahnya, versi diriku yang tak kukenali, dengan riasan tebal dan senyum tajam, nyaris agresif. Dan di antara keduanya, setengah bersembunyi, seorang gadis kecil berumur sekitar dua tahun memeluk erat boneka kelinci lusuh yang warnanya pudar dan jahitannya miring. Mata besarnya terpaku ke lantai, jauh dari kamera, jauh dari semua orang.
Jari-jariku mendingin di bingkai itu. Gadis kecil dengan boneka kelinci itu, yang tampak takut bahkan untuk bernapas... anakku?