• Alesya Violetta Monica
atau yang lebih akrab dipanggil (Eca) sebenarnya gadis yang cerdas, manis, dan punya kepribadian yang asyik. Namun, karena trauma menjadi korban perundungan (bullying) akibat penampilannya yang terlalu mencolok di sekolah lamanya, ia pindah ke SMA Taruna Bangsa dengan misi baru: menjadi gadis cupu yang tidak kasat mata agar bisa lulus sekolah dengan damai.
• Angkasa Argantara Mahendra (ANGKASA)
Sesuai namanya, Angkasa adalah penguasa tertinggi di hierarki SMA Taruna Bangsa. Selain karena wajahnya yang tampan di atas rata-rata, keluarganya adalah donatur terbesar sekaligus pemilik yayasan sekolah. Di balik sifatnya yang ketus, dingin, dan tidak tersentuh, Angkasa adalah tipe cowok yang sangat perfeksionis dan benci jika rutinitasnya diusik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nalana lalasya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Perlindungan Sang Iblis
Koridor bawah tangga kembali sunyi senyap setelah kepergian geng Fanya. Hanya tersisa suara sisa-sisa isakan kecil dari mulut Eca yang masih betah terduduk di lantai keramik. Eca melirik dari balik kacamata tebalnya, memastikan situasi benar-benar aman. Begitu punggung Fanya dan teman-temannya hilang di belokan koridor, Eca langsung menghentikan tangisnya secara instan. Dia mengusap air mata di pipinya dengan kasar menggunakan punggung tangan, lalu mengembuskan napas panjang.
"Akting yang luar biasa, Alesya," suara berat Angkasa memecah keheningan, terdengar begitu dekat.
Eca mendongak cepat dan mendapati Angkasa ternyata belum pergi. Cowok itu masih berdiri menjulang di depannya, melipat kedua tangan di depan dada dengan satu alis terangkat, memandang Eca dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara gemas, takjub, dan kilatan posesif yang enggan hilang.
Eca mendengus, berusaha bangkit berdiri sendiri sambil merapikan rok abu-abunya yang sedikit kotor terkena debu lantai. "Kalau gue nggak akting kayak gitu, mereka bakal terus nyari gara-gara sama gue. Lagian, lo sendiri yang bilang kalau harga diri gue di sekolah ini ada di tangan lo, kan?" sahut Eca ketus, kembali ke format suara ketus aslinya yang berani.
Namun, sebelum Eca berhasil menegakkan tubuhnya dengan sempurna, keseimbangannya mendadak goyah karena kakinya yang sedikit kram akibat posisi duduk yang salah tadi. Tubuhnya refleks limbung ke depan.
Grep!
Sepasang lengan kekar dengan sigap menangkap pinggang kecil Eca, menarik tubuh cewek itu hingga menempel sempurna pada dada bidang Angkasa. Eca tersentak, kedua telapak tangannya otomatis bertumpu pada pundak tegap Angkasa yang dilapisi kemeja seragam putih tebal. Aroma wangi maskulin bercampur wangi mint yang sangat khas dari tubuh Angkasa langsung menyerbu indra penciuman Eca, membuat otaknya kembali mengalami macet total untuk yang kesekian kalinya hari ini.
"Lo... lo ngapain sih?! Lepasin!" protes Eca dengan wajah yang mendadak kembali memerah padam seperti kepiting rebus. Debar jantungnya di dalam rongga dada langsung berdentum brutal secara konstan, bahkan dia bisa merasakan detak jantung Angkasa yang ikut berdegup kencang di balik dada bidangnya.
Angkasa tidak melepaskannya. Cengkeraman tangannya di pinggang Eca justru semakin mengerat, mengunci pergerakan cewek itu sepenuhnya dalam dekapan intimnya di bawah bayangan tangga. Angkasa menundukkan wajah tampannya, mendekatkan bibirnya ke telinga Eca yang sudah memerah sempurna.
"Gue udah bilang kan, Alesya? Ke mana pun kaki lo melangkah di sekolah ini, semuanya harus lewat persetujuan gue," bisik Angkasa dengan suara serak yang begitu seksi, membuat bulu kuduk Eca merinding kaku. "Tadi di ruang rapat, lo udah milih buat jadi tameng gue di depan Reno. Dan barusan, lo pakai nama gue buat ngehancurin Fanya. Itu artinya... lo udah resmi masuk ke dalam lingkaran perlindungan gue."
Eca menelan ludah dengan susah payah, mencoba menjauhkan wajahnya yang terlalu dekat dengan leher Angkasa. "Gue terpaksa karena lo ancem soal beasiswa gue, Angkasa! Jangan geer lo!"
Angkasa terkekeh pelan, sebuah suara tawa rendah yang bergetar di dadanya dan terasa begitu intim di pendengaran Eca. Dia melepaskan satu tangannya dari pinggang Eca, lalu jemarinya bergerak naik, menyentuh helai rambut kuncir dua Eca dengan sangat lembut, seolah cewek di dekapannya ini adalah barang berharga yang sangat rapuh.
"Gue nggak peduli apa alasan lo. Yang jelas, mulai detik ini, nggak ada satu pun orang di sekolah ini yang boleh nyentuh atau bikin asisten pribadi gue nangis—bahkan nangis bohongan sekalipun—selain gue sendiri. Paham?" ujar Angkasa pelan namun penuh dengan penekanan posesif yang mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.
Mata elang Angkasa menatap lurus ke dalam manik mata Eca di balik lensa kacamata tebalnya, mengunci seluruh kesadaran cewek itu hingga Eca hanya bisa mengangguk kaku secara pasrah, otaknya benar-benar sudah lumpuh total tidak bisa memikirkan kalimat bantahan apa pun saking salting brutal diperlakukan se-intim itu oleh sang penguasa sekolah.
Setelah memastikan asisten pribadinya menurut, Angkasa perlahan melonggarkan dekapannya, memberikan ruang bagi Eca untuk meraup oksigen banyak-banyak dengan napas terengah-engah menahan debar gila di dadanya. Angkasa menyambar tas ransel hitam Eca yang tergeletak di lantai, lalu menyampirkannya di bahunya sendiri.
"Ayo pulang. Gue yang anter lo sore ini," ujar Angkasa tenang, kembali ke mode ketua OSIS-nya yang dingin dalam sekejap mata, seolah adegan pelukan intim yang membuat jantung mau copot beberapa detik lalu tidak pernah terjadi.
Eca hanya bisa berjalan mengekor di belakang punggung tegap cowok itu dengan langkah lemas mirip jeli, merutuki dirinya dalam hati karena menyadari bahwa hidupnya di SMA Taruna Bangsa kini benar-benar sudah terikat sepenuhnya dalam kendali pekat sang iblis berwujud Ketua OSIS.