NovelToon NovelToon
Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Atas Trauma Kakakku, Aku Hancurkan Kau Lewat Pamanmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:957
Nilai: 5
Nama Author: Hello Ketty.

Bertahun-tahun Sarah disiksa suaminya hingga trauma berat dan akhirnya memilih untuk pergi. Adik kembarnya, Sera, datang untuk membalas dendam. Mengetahui suami kakaknya licik dan telah merampas seluruh harta kakaknya, Sera berjanji akan mengambil kembali semua hak milik kakaknya—meski harus merangkak naik ke atas ranjang Sean, paman dari suami kakaknya yang berkuasa.

Berhasilkah rencana Sera? Bisakah ia mengambil kembali segala hak milik kakaknya? Atau penyamarannya akan terbongkar, menjatuhkannya ke dalam bahaya yang jauh lebih mengerikan di tangan keluarga yang kejam dan penuh kelicikan itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hello Ketty., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Setelah lebih dari seminggu dirawat, akhirnya kondisi fisik Sarah sudah pulih cukup baik.

Meski demikian, beberapa bekas luka— memar, sisa siraman air panas, dan luka bakar—tidak akan pernah hilang, melainkan akan menjadi tanda yang melekat seumur hidup.

Sebenarnya masih ada jalan untuk melakukan operasi kecantikan guna memperbaiki tampilan kulitnya, namun Sarah menolak tegas.

Berkata tidak membutuhkannya; biarkan saja bekas luka itu menjadi pengingat berharga bagi dirinya ke depannya. Begitulah jawabannya saat Sera menyarankan tindakan perawatan itu.

Saat ini Sarah juga berada di rumah pribadi milik Sera, yang ia beli sepenuhnya dari hasil kerja kerasnya selama berkarier.

Di sana, Sera telah menyediakan sepasang suami istri untuk mengurus kebutuhan harian: sang istri mengurusi pekerjaan rumah tangga, sedangkan suaminya merawat halaman dan keamanan.

Tidak hanya itu, Sera juga menyewa seorang psikiater untuk memulihkan kondisi mental kakaknya yang sempat terpuruk parah.

Sera sendiri telah mengambil keputusan: ia akan berhenti sementara dari tugasnya di rumah sakit.

Gadis itu terlihat sudah berdiri tegak di depan pintu ruangan Direktur yang terletak di lantai paling atas.

Tok... tok... tok...

Ia mengetuk pintu perlahan.

"Masuk," suara Direktur Raka terdengar dari balik pintu.

Sera mendorong pintu pelan lalu melangkah masuk. Ia menghampiri meja kerja di mana Raka duduk.

"Sera... tumben sekali kau datang ke ruanganku. Ada perlu apa?" tanya Raka, tatapannya lembut dan penuh perhatian. Jelas terlihat pria itu memiliki perasaan lebih dari sekadar atasan kepada dokter andalannya—terlebih lagi, Raka masih berstatus lajang di usianya yang menginjak 35 tahun.

Sera meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu mendorongnya perlahan ke arah pria itu.

"Pak Raka... Saya memohon izin untuk berhenti sementara waktu dari rumah sakit ini,"

Senyum di bibir Raka seketika pudar saat melihat isi amplop itu.

"Berhenti? Kenapa begitu, Sera?" wajahnya berubah cemas. "Ada apa? Apa ada yang mengganggumu di sini? Atau kau merasa tidak nyaman? Katakan saja, aku akan mengatur semuanya. Kau bisa bekerja di bagian mana pun yang kau mau..."

Sera tersenyum tipis, penuh rasa hormat namun teguh pada pendiriannya.

"Ini bukan soal kenyamanan atau ada pihak yang mengganggu, Pak. Ada masalah pribadi yang sangat serius harus saya selesaikan segera. Jika saya hanya minta cuti, saya khawatir waktu yang saya butuhkan akan sangat lama. Itulah sebabnya saya mengambil keputusan ini."

Ia menatap lurus ke manik mata Raka.

"Saya tidak ingin mengganggu jalannya pelayanan di rumah sakit ini. Namun jika Bapak berkenan, kelak setelah masalah saya selesai sepenuhnya, saya ingin sekali kembali melamar dan bekerja di sini lagi."

Raka diam terpaku. Ia tahu Sera bukan orang yang bertindak gegabah; keputusan ini pasti lahir dari keadaan yang sangat mendesak. Pasti ada masalah besar yang sudah terjadi di kehidupan gadis itu.

Raka sang direktur sekaligus pemilik sah Rumah Sakit 'Pelita Harapan' Hanya bisa pasrah karena tidak mungkin dia memaksa gadis itu tetap tinggal, sementara Sera sudah menjelaskan kalau dia punya urusan mendesak.

Raka tampak sangat berat hati melepaskan Sera. Baginya, Sera bukan sekadar staf biasa—ia adalah Dokter Bedah Senior yang paling andal dan berprestasi di rumah sakit.

Selama bertugas, Sera sudah menangani banyak kasus operasi rumit yang sering kali dianggap sulit oleh dokter lain.

Dia adalah sosok yang menjadi sandaran rekan-rekan sejawat, tempat bertanya bagi dokter muda, serta nama yang sudah dikenal luas oleh pasien karena keahlian dan ketelitiannya.

Di usianya yang masih muda, ia sudah memegang posisi setara konsultan senior—salah satu pilar utama yang menjaga nama baik rumah sakit.

Itulah sebabnya keputusan Sera untuk pergi, seperti kehilangan bagi Raka maupun seluruh tim medis di sana.

"Baiklah... aku terima keputusanmu. Aku yakin kau melakukan ini karena alasan yang sangat kuat. Dan, pintu rumah sakit ini akan selalu terbuka lebar untukmu, Sera. Kapan pun kau ingin kembali melamar, kau akan tetap diterima di sini," ujar Raka dengan nada sedih dan kecewa berat harus berpisah dengan dokter terbaik sekaligus wanita yang dalam hatinya lebih dari sekadar rekan kerja.

Sera tersenyum tipis penuh rasa terima kasih. "Terima kasih banyak, Pak Raka... terima kasih karena sudah memahami keadaan saya "

Raka menghela napas panjang lalu mengangguk pelan.

Setelah menyerahkan surat pengunduran diri, Sera pun berpamitan dan melangkah keluar dari ruangan itu.

_____

Baru saja ia berdiri di lobi rumah sakit, terdengar suara langkah kaki berlari menyusulnya.

"Sera!"

Sera menoleh dan tersenyum melihat Dion yang menghampirinya tergesa-gesa.

"Sera... kau benar-benar sudah mengundurkan diri?" tanya Dion tak percaya, nada bicaranya penuh kesedihan.

Sera mengangguk pelan. "Iya, aku sudah melakukannya."

"Aku kira kau hanya bercanda... Tidak kusangka kau benar-benar mengambil keputusan itu."

"Dion... aku sudah bilang sebelumnya. Aku tidak akan pernah bisa tenang selagi hak kami yang dirampas belum aku ambil kembali."

Dion meletakkan kedua tangannya di bahu sahabatnya. "Jika kau butuh bantuan apa pun, hubungi aku kapan saja. Aku akan selalu ada mendukungmu. Tapi ingatlah satu hal: kau harus sangat berhati-hati. Keluarga itu sangat licik dan kejam. Jangan sampai ada apa-apa yang menimpamu."

Sera tersenyum tenang. "Kau tenang saja. Oh ya... ada satu hal lagi yang aku minta tolong. Nanti setelah aku masuk ke dalam lingkaran keluarga Vergantara, mungkin aku akan sangat jarang bisa keluar atau bertemu orang lain—seperti yang mereka lakukan pada Kakak dulu. Jadi tolong... sering-sering kau menjenguk Kak Sarah. Dia sangat berarti bagiku, dia adalah separuh nyawaku. Aku titipkan kakakku padamu."

Dion mengangguk mantap. "Tentu saja. Aku akan menjaganya sebaik mungkin. Dan kau tidak perlu khawatir, rumahku tidak jauh dari rumah mu, hanya berjarak jalan kaki saja," candanya sedikit sambil mengedipkan mata, berusaha menceriakan suasana.

Sera tersenyum tipis lalu meninju pelan bahu sahabatnya. "Aku berangkat dulu ya."

"Hati-hati di jalan."

Sera mengangguk, lalu berbalik melangkah meninggalkan rumah sakit itu.

Dion menatap punggung sahabatnya yang menjauh dengan perasaan berat melepaskan.

_____

Sarah menghampiri adiknya yang sedang merapikan barang-barang kecil ke dalam tas.

Sarah segera meraih tangan Sera.

"Dek... tolong, kumohon jangan ke sana! Kakak janji, jika kau minta aku bercerai dengan Mas Adrian, aku akan melakukannya. Asal kau tetap di sini bersamaku... Kakak takut, Dek..."

Sera menatap lembut lalu tersenyum tipis. "Kakak tidak perlu cemas. Aku pasti akan baik-baik saja."

"Tapi Dek..."

Sera perlahan meletakkan jari telunjuknya di bibir kakaknya, memintanya tenang.

"Kak, aku mau tanya... Kapan Paman suami Kakak itu biasanya datang ketempat tinggal suami Kakak?"

Sarah mengerutkan kening, sedikit bingung mengapa adiknya menanyakan hal itu.

"Maksud kamu, Paman Sean?"

Sera mengangguk.

"Kalau Paman, dia datangnya tidak tentu... kadang sebulan sekali, kadang dua atau tiga bulan sekali. Sangat jarang. Dan Mansion besar itu... sebenarnya bukan milik Mas Adrian, tapi punya Paman Sean."

Sera tiba-tiba menatap tajam Sarah. "Paman Sean itu pernah nyakitin Kakak?" Tanya Sera memancing Sarah.

Sarah menggeleng cepat. "Tidak! Tidak sama sekali! Meski dia orangnya dingin dan banyak rumor aneh tentangnya... tapi Paman Sean itu sangat baik padaku. Bahkan kalau dia ada di rumah, tidak ada satu pun yang berani menyentuhku atau menyiksaku. Aku merasa aman selama dia ada di sana."

Ucapannya keluar begitu saja tanpa sadar.

Saat menyadari apa yang baru saja ia katakan—bahwa ia disiksa saat pria itu tidak ada—wajah Sarah seketika pucat dan gugup.

"Maksudku... aku... aku..."

"Sudahlah, Kak," potong Sera tenang namun tegas. "Aku sudah tahu semuanya. Aku sudah menyelidiki, jadi tidak perlu ada yang berusaha Kakak tutupin lagi."

Sarah hanya bisa diam menunduk.

Meski Sera adik, tapi Sera lebih dewasa dan tangguh dibandingkan Sarah yang lemah dan mudah ditindas.

Ternyata benar... sasaran dan tujuanku sudah tepat. Sean Vergantara ternyata tidak seburuk anggota keluarga lainnya. Batin Sera semakin tidak sabar untuk berhadapan dengan keluarga suami kakaknya.

_____

Sera kini sudah berdiri tegak tepat di depan mansion yang sangat megah itu.

Sera mendongak menatap bangunan yang menjulang tinggi, tak menyangka kemewahan dan keluasan pekarangan mansion sungguh jauh melampaui bayangannya.

Keindahan yang terpampang di hadapannya sungguh luar biasa, namun sayang sekali—kemegahan seindah itu justru dihuni oleh orang-orang yang berhati busuk.

"Akhirnya aku tiba juga di sini..." gumam Sera pelan, wajahnya masih mendongak keatas.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!