Mengisahkan seorang gadis cantik yang berprofesi menjadi model, namun memiliki kita kelam semenjak ibunya meninggal dan ayahnya menikah lagi dengan seorang wanita licik dan memiliki seorang anak yang bernama Lalita. Isyana selalu di bully di hina dan di perlakuan seperti anak pelayan. Hingga pada suatu hari Isyana di jodohkan oleh ibu tirinya dengan seorang CEO dingin dan kejam bernama Brayen Lucian Alkantara...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurelia Sadewa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ratu Di Pantai Pribadi
Siang di Maladewa itu teriknya cantik, bukan menyengat. Setelah floating breakfast yang bikin Isyana malu-malu terus, Brayen sudah menyiapkan kejutan lagi.
Tim fotografer pribadi Alkantara ternyata sudah stand by di vila sebelah sejak kemarin. Mereka tidak boleh mengganggu malam pertama, jadi baru siang ini datang.
"Mas, aku masih pakai kemeja Mas ini lho, belum mandi beneran," protes Isyana sambil rambutnya masih agak basah.
Brayen hanya tersenyum. Ia menuntun Isyana ke walk-in closet. Dan Isyana langsung membeku.
Di sana tergantung sebuah dress.
Bukan dress biasa. Dress haute couture putih tulang, bahannya silk satin yang jatuh sempurna, belahan paha tinggi tapi elegan, punggung terbuka dengan tali silang tipis seperti balerina. Simple, tapi... mahal. Sangat mahal.
Dan di atas meja kaca, ada kotak hitam besar dengan logo *ALKANTARA DIAMONDS*.
"Mas?" Isyana menatap Brayen.
Brayen membuka kotak itu pelan.
Isinya... ya Tuhan.
Kalung Diamonds Alkantara seri terbaru - _The Ocean's Queen_. Berlian-berlian putih besar bertabur seperti tetesan air laut, dengan satu berlian biru muda di tengah sebesar kelereng. Antingnya menjuntai panjang sampai leher. Dan tiara tipis! Tiara berlian yang tidak norak, tapi anggun seperti mahkota putri kerajaan.
"Kemarin kalung bulan sabit 1,2 Miliar itu untuk malam pertama," bisik Brayen di belakangnya, mengangkat rambut Isyana. "Siang ini, Mas mau seluruh dunia liat kalau Berlian Mas ini adalah ratu."
Ia memakaikan kalung itu. Dinginnya berlian menyentuh kulit Isyana yang masih hangat habis berenang. Begitu kalung itu terpasang, Isyana yang bercermin... bukan lagi Isyana yang dulu insecure.
Dia... bersinar.
Lehernya jenjang, kulitnya glowing, dress putih itu memeluk tubuh mungilnya dengan sempurna. Dengan tiara dan anting berlian yang menjuntai, dia terlihat seperti dewi pantai.
Brayen yang di belakangnya sampai menahan napas.
"Mas?" Isyana malu, menoleh.
Brayen tidak menjawab. Matanya... terpesona. Benar-benar terpesona sampai rahangnya mengeras.
"Jangan lihat Mas seperti itu kalau kamu tidak mau photoshoot ini Mas batalkan dan Mas bawa kamu masuk kamar lagi, Berlian."
Isyana memukul pelan dada Brayen. "Mas Brayen!"
Mereka turun ke pantai pribadi. Pasirnya putih sehalus bedak. Laut biru toska. Fotografer sudah siap, tapi Brayen memberi satu aturan: "Jangan sentuh istri saya. Arahkan dari jauh. Dekatnya hanya saya yang boleh."
Photoshoot dimulai.
Isyana awalnya kaku, tapi Brayen ada di sampingnya terus. Sesekali Brayen dari belakang membetulkan tiara Isyana. Sesekali berbisik, "Lihat ke Mas saja, jangan ke kamera. Secantik itu kamu kalau lihat Mas."
Dan hasilnya... luar biasa.
Di foto itu, Isyana sedang berjalan di tepi ombak, dress putihnya tertiup angin, kalung Diamonds Alkantara berkilauan kena matahari, tatapannya lembut tapi elegan. Seperti model Vogue versi bangsawan.
Brayen? Di setiap foto, dia tidak bisa melepaskan pandangannya dari Isyana. Di foto candid, tangannya selalu melindungi pinggang Isyana.
Selesai sesi, fotografernya sampai bilang, "Mr. Alkantara, Mrs. Alkantara is the most elegant muse I've ever photographed. That necklace was made for her."
Brayen langsung merangkul Isyana, bangga setengah mati. "Of course. She is my Diamond."
Mereka duduk di bean bag pantai, masih dengan dress dan berlian itu, kaki mereka bermain pasir. Isyana bersandar di dada Brayen yang sudah ganti kemeja linen putih.
Lalu HP Brayen berdering. Video Call.
Kakek.
Brayen angkat, dan di layar muncul wajah Kakek Alkantara dengan mata berkaca-kaca.
"Isyana? Brayen? Kalian di mana? Kakek kangen!"
Isyana yang masih dengan mahkota berliannya langsung mendekat ke kamera, "Kek! Kami di Maladewa!"
Kakek terdiam beberapa detik melihat Isyana.
Lalu... Kakek nangis.
"Ya Allah... cantiknya cucu mantu Kakek... seperti ratu... seperti mendiang nenek dulu waktu muda pakai berlian Alkantara..."
Isyana juga ikut berkaca-kaca.
Kakek melanjutkan sambil terisak bahagia, "Kakek sudah lihat foto kalian tadi dikirim fotografer. Kakek bahagia sekali. Akhirnya berlian Alkantara menemukan ratunya yang sebenarnya. Kalian... kapan Kakek gendong cicit?"
Isyana langsung merah padam sampai ke telinga! Kalung berliannya naik turun karena napasnya yang deg-degan.
Brayen tertawa kencang, memeluk Isyana makin erat dari belakang dan menjawab lantang ke kamera, "Secepatnya, Kek. Doain malam pertama kami berhasil."
"Kak Brayen!!!" Isyana hampir pingsan malunya di depan Kakek!
Dan di pantai Maladewa siang itu, dengan berlian yang berkilau dan tawa bahagia, Isyana merasa... dia memang sudah menjadi perempuan paling elegan dan paling dicintai di dunia.
---Bersambung---