Setelah kejadian Raka menyelamatkan warga desa Ciherang dari para korporat di kota, Raka Ardian mencoba peruntungan ke kota mencari kerjaan sambil menyelidiki perusahaan yang mengambil tanah warga Ciherang.
Berbagai kejadian suka dan duka dia hadapi.
Mampukan Raka bertahan di kota yang sering kali mengabaikan rasa kemanusiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Djafar S, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 BUKIT KERAMAT
Matahari baru saja sepenggalah naik ketika kepulan debu hitam akibat mobil jip utusan korporasi di balai desa berangsur-angsur lenyap, meninggalkan keheningan yang menyesakkan dada warga.
Hari itu, angin lembah terasa jauh lebih dingin dari biasanya. Jip mewah milik perusahaan swasta itu telah pergi, meninggalkan ancaman nyata yang menggantung di udara seperti awan badai sebelum hujan lebat.
Namun, bagi Raka Ardian, masalah terbesar yang harus ia hadapi bukanlah selembar kertas peringatan atau ancaman penggusuran administratif dari orang-orang kota, melainkan apa yang ia temukan malam itu di dalam buku harian mendiang kakeknya.
Setelah perdebatan sengit dan penuh emosi di balai desa mereda, Raka menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya yang temaram, hanya ditemani oleh cahaya lampu minyak teplok yang berkelip gelisah. Dengan jemari yang sedikit gemetar, ia membuka kembali lembar demi lembar buku harian bersampul kulit rusa milik Kakek Wirya.
Di halaman-halaman terakhir yang sebelumnya terkunci rapat oleh lipatan kertas tebal dan lem yang mulai menguning dimakan usia, terselip sebuah catatan tangan dengan tinta hitam yang mulai memudar.
Catatan rahasia itu membahas tentang sebuah tempat tersembunyi di ujung utara Desa Ciherang—sebuah wilayah hutan lebat yang diselimuti kabut abadi dan pantang diinjak oleh sembarang orang:
Hutan Larangan Mandala Giri
Dalam catatan mendetail tersebut, Kakek Wirya menuliskan sebuah rahasia besar yang selama ini dijaga mati-matian oleh para leluhur turun-temurun. Di jantung hutan terlarang itu, tersembunyi sebuah petilasan kuno yang menyimpan Welingan Sejati—sebuah pusaka leluhur berupa naskah kuno, intisari ilmu pengobatan tradisional tingkat tinggi, serta rahasia tenaga dalam dan ketahanan fisik yang diwariskan oleh para pendiri desa.
Kakek menulis dengan tinta yang menyiratkan keputusasaan sekaligus harapan: bahwa jika suatu saat nanti Desa Ciherang menghadapi ancaman kehancuran dari pihak luar yang berniat merusak tatanan alam, hanya kekuatan dan kebijaksanaan dari Mandala Giri yang sanggup membuka mata batin, memperkuat mental, dan membentengi warga, bukan sekadar perlawanan fisik yang membabi buta dan berujung kesia-siaan.
"Kau tidak boleh pergi ke sana, Raka," sebuah suara serak yang sarat akan kecemasan mendadak mengagetkannya malam itu. Siti, sang ibu, berdiri di ambang pintu kamar sambil membawa semangkuk air hangat dan sehelai kain basah. Wajah ibunya tampak pucat pasi saat melihat peta tua dan catatan-catatan berbahasa kawi yang berserakan di atas meja kayu kecil itu.
"Ayahmu dulu... kakekmu... mereka semua melarang siapa pun dari keluarga kita mendekati bukit keramat itu. Tempat itu terkutuk, Raka. Banyak orang sakti di masa lalu masuk ke sana dengan ambisi besar, dan tidak seorang pun dari mereka yang pernah kembali dengan selamat."
Raka menatap ibunya dengan tatapan penuh keyakinan, meskipun hatinya sendiri diliputi rasa gentar. "Tapi ini satu-satunya jalan yang kita miliki, Bu," jawab Raka dengan suara tenang namun bernada tegas yang tidak bisa dibantah.
"Kalau kita hanya duduk diam dan hanya mengandalkan protes di balai desa, perusahaan itu akan meratakan tanah kita, rumah kita, dan makam kakek dalam hitungan minggu. Kita butuh sesuatu yang lebih kuat untuk mempertahankan tanah ini dari cengkeraman mereka."
Ibu terdiam seribu bahasa. Air mata hangat menetes perlahan membasahi pipinya yang keriput. Sebagai seorang ibu, ia sangat mengenal watak keras kepala putranya; Raka mewarisi darah pengembara sang kakek yang tidak kenal takut pada rintangan. Tanpa memberikan restu secara terbuka, namun dengan kebisuan pasrah seorang ibu yang menyerahkan takdir anaknya pada Sang Pencipta, Siti akhirnya membiarkan Raka merangsek menyiapkan segala sesuatunya sendiri menjelang tengah malam.
Keesokan paginya, jauh sebelum fajar sepenuhnya menyingsing dan ayam hutan pertama berkokok, Raka melangkah keluar dari rumah panggungnya. Ia mengenakan pakaian lapangan berwarna gelap, membawa sebuah ransel kain usang milik kakek, sebilah golok kecil bergagang tanduk milik ayahnya, sebuah kompas tua berkarat, serta bekal air minum secukupnya dan sekepal nasi ketan bakar.
Langkah kakinya mantap menuruni halaman rumah, lalu mulai mendaki lereng utara, berjalan menjauhi permukiman warga yang masih tertidur pulas, menuju batas terluar Hutan Mandala Giri yang angker.
Semakin ia berjalan mendekati kawasan hutan tersebut, suasana alam mendadak berubah secara drastis. Suhu udara terasa semakin dingin dan menusuk hingga ke sumsum tulang belakang.
Pepohonan purba berukuran raksasa dengan akar serabut yang menjulur kusut tumbuh sangat rapat, seolah saling mencengkeram erat untuk menghalangi hampir seluruh cahaya matahari menembus tanah.
Akibatnya, suasana di dalam hutan tampak kelam kehijauan, remang-remang, dan dipenuhi oleh keheningan yang mencekam. Tidak ada suara kicauan burung atau dengungan serangga; yang terdengar hanyalah deru angin gunung yang bergesekan dengan dedaunan tua, menciptakan suara gemerisik panjang yang terdengar menyerupai bisikan-bisikan gaib manusia.
Tepat di garis batas antara perkebunan warga dan permulaan hutan, sebuah batu besar berwarna hitam legam berukir aksara kuno berdiri tegak sebagai tanda peringatan terakhir bagi siapa pun yang berniat melangkah lebih jauh. Raka berhenti sejenak di depan batu tersebut. Ia menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata untuk memantapkan niat suci di dalam hatinya—bahwa ia datang bukan untuk merusak atau mencari kesaktian demi kesombongan, melainkan demi melindungi tanah kelahiran dan orang-orang yang dicintainya.
Setelah merasa siap secara lahir dan batin, ia melangkahkan kaki kanannya melewati garis batas batu keramat itu.
Begitu ia melangkah masuk, kabut tebal berwarna putih keabu-abuan mendadak turun dengan cepat, menutup rapat jalan setapak di belakangnya seolah-olah ditarik oleh tirai tak kasat mata. Dunia luar yang bising dengan segala ancamannya seketika lenyap dalam sekejap, menyisakan dirinya seorang diri di alam yang sunyi senyap. Raka menyadari sepenuhnya bahwa ia kini telah memasuki dimensi yang berbeda—sebuah ujian terberat menyangkut keteguhan mental, kejernihan hati, dan ketahanan fisik yang akan mengubah jalan hidupnya untuk selamanya.
Langkah demi langkah ia ayunkan menembus lebatnya semak belukar yang belum pernah dijamah manusia selama puluhan tahun. Di hadapannya, jalan setapak perlahan-lahan menghilang, tertutup oleh lumut tebal dan jalinan akar yang menyerupai labirin raksasa.
Raka tahu, perjalanan ini baru saja dimulai, dan hutan Mandala Giri sedang menguji setiap jengkal keberanian di dalam dadanya.
Semakin jauh ia menyusuri belantara, vegetasi hutan semakin rapat dan menutupi pandangan. Udara di dalam hutan terasa semakin tipis, membuat napasnya mulai memburu dan keringat dingin bercucuran di pelipisnya. Di beberapa titik, ia harus merangkak di bawah jalinan akar pohon beringin purba yang merentang luas di atas tanah.
Kompas tua di tangan Raka mulai berputar tak tentu arah, jarum penunjuknya bergetar liar menolak menunjuk ke utara, seolah medan magnet di tempat ini dikendalikan oleh kekuatan tersembunyi yang ingin menyesatkannya.
"Fokus, Raka. Jangan biarkan rasa takut menguasai pikiranmu," gumam Raka pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan debar jantungnya yang bergemuruh kencang. Ia mengingat pesan kakeknya dalam buku harian: 'Hutan Mandala Giri bukanlah tempat yang menolak manusia karena benci, melainkan tempat yang menyaring siapa pun yang datang berdasarkan ketulusan niat di dadanya.'
Menjelang tengah hari, ketika langit di atas tertutup rapat oleh tajuk daun yang lebat hingga tidak ada celah bagi sinar matahari untuk menyentuh tanah, Raka tiba di sebuah area terbuka yang dikelilingi oleh tebing batu berlumut hitam. Di tengah-tengah pelataran batu tersebut, berdiri tegak sisa-sisa reruntuhan bangunan candi kecil yang separuhnya telah tertimbun oleh tanah dan akar gantung. Tempat itu memancarkan aura ketenangan yang sakral, bercampur dengan keheningan yang begitu pekat hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar begitu jelas di telinganya.
Raka melangkah mendekati reruntuhan candi itu dengan penuh takzim. Di atas sebuah altar batu yang terletak di pusat reruntuhan, tergeletak sebuah kotak kayu berukir yang permukaannya telah diselimuti oleh lumut tebal. Raka berlutut, menaruh tas ranselnya di samping altar, lalu merentangkan kedua tangannya. Ia tahu, di sinilah ujian sesungguhnya dimulai—ujian yang akan menentukan apakah ia layak membawa pulang warisan leluhur untuk menyelamatkan Desa Ciherang, atau ia harus tertelan selamanya dalam bayangan gelap Hutan Mandala Giri.