Novel ini mengisahkan Ahmad Zaki, seorang pemuda berusia 20 tahun yang merupakan anak dari pedagang kain. Ia berniat untuk belajar dan memperdalam ilmu di pondok pesantren yang berada di pedesaan.
Baru beberapa hari di pondok pesantren, ia telah menanam benih-benih cinta. Cinta yang tulus kepada seorang santriwati berusia 18 tahun, Nafisah Zahra.
Namun, cinta keduanya terhalang oleh perjodohan dan agresi militer.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MF015, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Wajah di Ujung Dapur
Puisi tentang hujan itu Zaki baca sebelas kali sebelum akhirnya berhenti menghitung.
Ia tidak paham apa maksud sebenarnya. Hujan yang jatuh dengan sabar, tanah yang tidak pernah ditanya. Bisa jadi itu cuma puisi biasa, ditulis oleh seorang santriwati yang suka menulis, lalu terselip di kitab orang lain karena kebetulan. Tapi kalau memang kebetulan, kenapa terselip tepat di halaman tujuh belas, halaman yang sudah ditunjuk lebih dulu oleh pensil kecil itu?
Kalau itu kebetulan, kebetulan itu rapi sekali.
"Kamu senyum-senyum sendiri lagi," kata Darto sambil mengunyah singkong rebus. Mereka duduk di tangga asrama, menikmati jeda antara mengaji subuh dan piket pagi. "Kemarin di kelas, hari ini di tangga. Besok di mana? Di sumur?"
"Saya tidak senyum."
"Bibirmu tertarik ke kiri."
"Itu kebiasaan."
"Kebiasaan baru. Tiga hari yang lalu belum ada." Darto menepuk lututnya. "Sudah, jangan dipikirkan terus. Hari ini kita sibuk."
"Sibuk kenapa?"
"Tamu Kiai datang nanti sore dari Kediri. Dapur umum masak besar, dan semua santri diperintah bantu-bantu." Darto tersenyum lebar, mata berbinar seperti orang yang baru dapat kabar baik. "Termasuk kita."
Zaki mengerjap. "Termasuk... di dapur?"
"Di dapur umum. Angkut kayu bakar, kupas kelapa, bawa dandang. Yang berat-berat, lah. Yang halus-halus dikerjakan santriwati di seberang."
Dada Zaki melompat sekali.
"Tapi ingat," lanjut Darto, mengacungkan singkong seperti tongkat komando, "aturannya tetap sama. Kita di sisi kita, mereka di sisi mereka. Yang boleh cuma yang boleh."
"Saya tahu."
"Bagus. Kalau kamu lupa, saya yang lupa dulu supaya kamu tidak sendirian."
"Itu bukan aturan."
"Itu solidaritas."
Dapur umum sore itu bukan sekadar sibuk. Tempat itu seperti pasar yang tiba-tiba dipindah ke dalam sebuah bangunan panjang. Asap dari tiga tungku mengepul dan menyatu di langit-langit. Aroma santan, bawang goreng, dan daun salam bercampur jadi satu. Para santri putra lalu-lalang membawa karung, ember, dan bongkahan kayu, sementara suara sendok, panci, dan teriakan "awas panas!" datang bergantian dari segala arah.
Zaki mendapat tugas memotong kayu bakar di halaman belakang. Sudah hampir sejam ia mengayunkan kapak, dan lengannya mulai memprotes. Tapi ia tidak mengeluh. Sesekali ia melirik ke arah dinding pemisah dapur, ke lubang pemberian yang separuh tertutup anyaman bambu itu.
Ia bilang pada dirinya sendiri bahwa ia hanya melirik karena penasaran pada kegiatan dapur. Ia berbohong, dan ia tahu itu.
"Kang Zaki!" panggil seorang santri dari dalam. "Kayunya masukkan lewat pintu samping, ya. Yang dekat tungku kedua."
"Siap."
Zaki memanggul seikat kayu dan berjalan ke pintu samping. Ambang pintunya rendah, jadi ia menunduk saat masuk. Ruangan itu jauh lebih panas dari luar. Keringat langsung membasahi tengkuknya. Ia menaruh kayu di pojok, menyeka dahi dengan lengan baju, dan saat itulah ia mendengar suara pintu kayu berderit.
Bukan pintu di sisinya. Pintu di sisi seberang.
Pintu belakang dapur, yang khusus untuk santriwati, terbuka sedikit. Seorang perempuan muncul sambil memikul dandang besar berisi air panas. Gerakannya cekatan tapi hati-hati, dan langkahnya tenang meski kuahnya nyaris menyentuh bibir dandang. Ia mengenakan kerudung putih sederhana dan gamis biru tua yang ujungnya sedikit basah. Ia menunduk pada dandang, jadi wajahnya baru terlihat sebagian.
Lalu ia mengangkat kepala.
Hanya sepersekian detik. Mata itu bening dan agak sipit di ujung, dengan alis lurus yang terlihat tegas meski wajahnya lembut. Di pipi kirinya ada bekas arang tipis, mungkin tersapu tangan tanpa sadar. Ia terlihat seperti orang yang sedang berpikir sesuatu yang serius, dan mata itu menyapu ruangan dengan cepat, memeriksa apakah semua sudah pada tempatnya.
Dan matanya bertemu dengan mata Zaki.
Waktu tidak berhenti. Itu ungkapan yang berlebihan, dan Zaki tahu itu. Tapi ada satu jeda kecil, sangat kecil, ketika keduanya sama-sama tidak bergerak, dan seluruh bunyi dapur seolah menyusut jadi dengung samar di ujung telinga.
Perempuan itu menunduk cepat. Kerudungnya bergetar sedikit. Ia melanjutkan langkahnya, membawa dandang ke tungku di sisinya, dan tidak menoleh lagi.
Zaki sendiri masih berdiri di tempat yang sama, dengan kayu di tangan yang lupa ia taruh.
"Nis!" seru sebuah suara dari sisi seberang, ceria dan nyaring. "Airnya taruh di sini. Awas licin!"
Nis.
Zaki mengenali suara itu. Rukmini. Dan kalau Rukmini memanggil seseorang dengan sebutan itu...
"Kang Zaki?" tegur seorang santri putra dari tungku. "Kayunya. Kayunya!"
"Oh. Iya, maaf." Zaki buru-buru menaruh kayu di pojok dan berbalik. Ia berpura-pura sibuk merapikan tumpukan, meski kepalanya kosong melompong. Ia hanya ingat satu hal: bekas arang di pipi itu. Dan alis yang tegas. Dan mata yang menunduk terlalu cepat.
"Kang Zaki, wajahmu merah," kata Darto pelan, muncul di sampingnya dengan sekarung kelapa. "Kepanasan?"
"Iya. Panas."
"Hm. Panas di dapur, atau panas di dada?"
"Darto."
"Diam. Saya hanya bertanya."
Zaki tidak menjawab. Ia mengambil kelapa dari tangan Darto dan mulai mengupasnya dengan intensitas orang yang hendak menyelesaikan perang.
Tamu Kiai datang menjelang magrib, rombongan tiga orang berjubah dan berpeci, diantar dokar dari stasiun kecil. Mereka disambut di serambi masjid, dijamu dengan kopi, singkong, dan gulai kambing dari dapur umum yang tadi sore dikerjakan seluruh pondok.
Zaki tidak ikut menemani. Para santri baru cuma disuruh menyaksikan dari jauh, sambil menjaga sandal para tamu supaya tidak tertukar. Ia duduk di undakan pinggir halaman, menatap lampu-lampu minyak di serambi yang mulai dinyalakan satu per satu.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan sepasang mata itu.
Namanya Nafisah. Nafisah Zahra, kata Darto kemarin. Santriwati yang paling pintar nahwu di seluruh Al-Hikmah, yang pernah membuat Ustaz Malik kehilangan kacamata. Yang puisinya terdengar dari balik tembok, yang pensilnya mengoreksi i'rab-nya, dan yang barusan berdiri di ujung dapur dengan bekas arang di pipi, membawa dandang seperti membawa dunia yang perlu dijaga.
Ia membayangkan perempuan itu sedang menulis puisi lain malam ini. Atau, lebih mungkin, sedang tidur nyenyak tanpa memikirkan santri baru yang tolol berdiri di ambang pintu dapur dengan kayu bakar di tangan.
"Kang Zaki."
Zaki menoleh. Darto duduk di sebelahnya, wajahnya mendadak serius. Itu jarang terjadi, jadi Zaki ikut waspada.
"Kenapa?"
"Barusan saya dengar dari Kang Ridwan. Katanya ada kabar." Darto menurunkan suara. "Gus Hanif pulang besok."
"Gus Hanif?"
"Putra Kiai. Anak sulung." Darto menatap serambi masjid, tempat Kiai Wahid sedang tertawa bersama tamu-tamunya. "Beliau sudah setengah tahun ikut latihan laskar di luar daerah. Kabarnya besok pulang karena ada urusan penting."
"Oh. Baguslah."
"Ya. Bagus." Darto berhenti sejenak, seperti hendak menambahkan sesuatu, lalu menggeleng dan tersenyum tipis. "Sudahlah. Nanti kamu juga tahu sendiri."
"Tahu apa?"
"Tidak ada. Ayo, sandal para tamu perlu dijaga."
Zaki menatap punggung Darto yang berdiri dan berjalan pergi. Ada sesuatu di nada bicaranya yang tertinggal di udara, sesuatu yang terasa belum selesai. Tapi malam itu ia terlalu penuh oleh hal lain untuk memikirkannya.
Ia menengadah ke langit. Bulan setengah, bintang bertebaran, dan angin membawa bau santan yang masih tertinggal dari dapur. Di antara semua itu, ia masih bisa merasakan satu detik yang terlalu singkat namun tidak mau pergi, satu detik di mana dua pasang mata bertemu di sela asap dan dandang.
Ia tidak tahu bahwa di sisi seberang tembok, di sebuah kamar kecil beralas tikar pandan, seorang santriwati sedang duduk menatap selembar kertas kosong. Pensil di tangannya bergerak sekali, dua kali, lalu berhenti. Ia mencoret sesuatu yang baru ia tulis, meremasnya dengan gemas, dan bergumam pelan pada dirinya sendiri:
"Kenapa aku menunduk secepat itu?"
Di sebelahnya, Rukmini yang sedang melipat mukena menoleh dengan ekspresi paling polos di dunia.
"Menunduk kenapa, Nis?"
"Tidak apa-apa."
"Oh." Rukmini melipat mukenanya sekali lagi, sangat pelan. "Tadi di dapur juga kamu bilang tidak apa-apa. Dan wajahmu semerah kepiting rebus."
"Rukmini!"
"Saya cuma mengingatkan."
Nafisah melempar bantal kecil ke arah sahabatnya. Rukmini menangkapnya sambil tertawa. Tawa mereka berdua terdengar sampai ke luar, tapi tidak cukup jauh untuk melewati tembok tinggi itu.