Selama sua tahun, Kiara menjalin hubungan dengan Vino, hubungan mereka berjalan dengan sangat baik, bahkan sampai bertunangan. Namun tiga bulan terakhir semua perhatian Vino beralih kepada wanita bernama Shela. Wanita yang katanya adalah keponakan Vino yang baru datang. Kiara meredam cemburu, menelan kekecewaan, dan terus percaya bahwa cinta bisa mengalahkan segalanya.
Namun, pengorbanan ada batasnya. Kebohongan yang terus dikemas rapi akhirnya terkuak saat Kiara menemukan fakta bahwa kedekatan Vino dan Sheila melampaui ikatan keluarga yang selama ini digembar-gemborkan. Di titik itulah Kiaramenyadari, dia bukan sekadar dikhianati, melainkan tak pernah benar-benar dijadikan yang utama.
Tanpa amarah yang meledak-ledak, Kiara memilih meletakkan kembali seluruh perasaannya. Dia mengembalikan semua kenangan dan melangkah pergi. Saat Vino akhirnya tersadar dan mencoba mengejar, Kiara hanya menyisakan satu kenyataan dingin. Masa berlaku cintanya telah habis, dan tidak ada kesempatan kedua
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kiara 19
Keesokan harinya, matahari terbit dengan langit yang sedikit mendung. Kiara menatap pantulan dirinya di cermin kamar. Tidak ada riasan tebal, tidak ada raut penderitaan. Wajahnya tenang, memancarkan kepasrahan yang telah menjadi kekuatan utamanya. Hari ini adalah hari terakhirnya sebelum berangkat ke luar kota besok, dan Kiara memilih untuk menghabiskan waktu luangnya bersama Rania, adik perempuan Vino yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri.
Di sebuah kafe berkonsep glasshouse di sudut kota, Rania tampak begitu bersemangat. Gadis muda itu memesan beberapa kue manis dan dua cangkir kopi, sibuk menceritakan hal-hal kecil sambil tertawa.
"Mbak Kiara, pokoknya hari ini aku yang treat! Kan jarang-jarang Mbak Kiara ada waktu luang gini pas lagi sibuk-sibuknya," ujar Rania ceria, memotong cheesecake di piringnya.
Kiara tersenyum manis. Ada rasa hangat sekaligus guratan sedih di hatinya. Rania sama sekali belum tahu apa yang terjadi, dan Kiara tidak bermaksud merusak momen terakhir ini dengannya.
"Makasih ya, Ran. Mbak seneng banget bisa jalan-jalan sama kamu hari ini," sahut Kiara lembut, mengusap punggung tangan Rania.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama. Dari arah pintu masuk kafe, sosok pria jangkung melangkah masuk dengan tergesa-gesa. Matanya yang sembab dan menyiratkan kelelahan hebat menyapu seisi ruangan, sebelum akhirnya tertuju ke meja mereka.
Vino.
Pria itu rupanya diam-diam melacak keberadaan Rania atau menelepon adiknya untuk mengetahui lokasi Kiara. Saat melihat Kiara duduk anggun di sana, dada Vino bergemuruh hebat. Tanpa membuang waktu, ia melangkah lebar mendekati meja mereka.
"Ra... Kiara..." panggil Vino dengan suara parau. Rania tersentak kaget mendongak melihat kakaknya.
"Loh? Mas Vin? Kok Mas ada di sini? Mukanya kusam banget kayak orang nggak tidur tiga hari!"
Vino tidak mengindahkan pertanyaan adiknya. Matanya terkunci rapat pada Kiara, menatap wanita itu dengan binar keputusasaan.
"Ra, tolong... Mas mohon, biarkan Mas ikut kalian hari ini. Mas mau sama kamu, Ra," pinta Vino memelas, mengabaikan gengsi di depan adiknya sendiri. Ia menggeser kursi di sebelah Kiara, bermaksud duduk.
"Mas Vin, apaan sih? Ini kan girls' day out aku sama Mbak Kiara!" protes Rania, dahinya berkerut bingung.
Dia menyadari ada atmosfer yang sangat aneh di antara kakaknya dan calon kakak iparnya. Rania menatap wajah Vino yang pucat pasi, lalu beralih menatap Kiara yang sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut ataupun marah. Kiara hanya diam, meminum kopinya perlahan tanpa menatap balik ke arah Vino.
"Mas... kalian lagi berantem ya?" tanya Rania pelan, kecurigaan mulai merayapi pikirannya.
"Kok Mas Vino panik banget begini? Mbak Kiara juga diam aja. Ada apa sebenarnya?" Vino menelan ludah kasar, tenggorokannya terasa kering seketika.
"Enggak, Ran... Mas cuma... Mas cuma kangen sama Mbak Kiara kamu. Mas cuma mau nemenin kalian."
"Jangan bilang kalau Mas Vino melakukan kesalahan lagi sama Mbak Kiara gara-gara wanita gatal itu!" Vino terdiam mendengar tuduhan adiknya yang 100% benar.
"Mas Vino," potong Kiara akhirnya. Suaranya datar, jernih, namun penuh penekanan yang tak terlihat. Ia menatap Vino untuk pertama kalinya hari itu.
"Rania ngajak aku keluar untuk refreshing. Kalau Mas mau bergabung hanya untuk memunculkan suasana canggung, lebih baik Mas pulang dan persiapkan diri untuk makan malam nanti."
Vino menggeleng cepat, matanya memerah menahan air mata yang hampir menetes di depan Rania.
"Enggak, Ra. Mas nggak akan ganggu. Mas cuma mau duduk di sini, melihat kamu. Mas mohon, jangan usir Mas..."
Rania yang menyaksikan keputusasaan kakaknya yang tak biasa itu makin merasa ada hal besar yang disembunyikan. Mas Vino yang biasanya tenang dan dominan kini terlihat begitu kerdil dan ketakutan.
"Jawab pertanyaan aku Mas Vino!"
"Nggak ada apa-apa kok, Ran," potong Kiara tenang, memotong kalimat Rania dengan senyum tipis yang begitu alami.
"Mas Vino cuma lagi capek aja kayaknya, banyak pikiran soal pekerjaan. Apalagi Mas Vino akhir-akhir ini mengurus Berkas Urusan yang sangat penting, Iya kan, Mas?"
Rania menatap Kiara, lalu beralih menatap kakaknya dengan dahi berkerut. Meski belum sepenuhnya percaya, jawaban Kiara yang begitu halus membuat Rania menahan rasa ingin tahunya lebih jauh.
Vino, yang masih mematung di samping meja, menarik kursi dan duduk dengan gerakan kaku. Matanya tak pernah lepas dari sosok wanita di hadapannya. Kiara kembali mengatakan hal itu.
"Kiara... Mas juga mau menjelaskan hal itu padamu,"
"Nggak usah Mas. Itu adalah urusan pribadi pekerjaan kamu kan? Nggak usah ceritain ke aku ngak masalah kok..."
Jantung Vino serasa berhenti berdetak seketika.
Jari manis Kiara... kosong.
Cincin pertunangan dengan permata kecil yang biasanya melingkar indah di sana, cincin yang Vino pilihkan dengan penuh kebanggaan beberapa bulan lalu kini menghilang tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah bekas samar di kulit jarinya.
Darah di tubuh Vino serasa mengalir surut. Napasnya tertahan di tenggorokan, dan tangannya bergetar hebat di bawah meja. Ketakutan paling mengerikan dalam hidupnya kini terpampang nyata di depan mata. Kiara benar-benar telah melucuti ikatan itu, bahkan sebelum makan malam nanti dimulai.
"Kiaraa..." bisik Vino dengan suara yang hampir tak terdengar, tenggorokannya tercekat oleh rasa panik yang tak tertahankan. Tangannya terulur di atas meja, hendak menyentuh jemari Kiara yang kosong itu.
"Ra, cincin kamu..."
Namun, Kiara dengan sangat halus dan sigap menarik tangannya ke pangkuan, menolak secara tidak langsung sentuhan Vino. Ia bahkan tidak menatap mata Vino sama sekali. Wajahnya tetap tenang, seolah kalimat dan gestur frustrasi Vino hanyalah angin lalu yang tidak penting.
Kiara kembali memalingkan wajahnya ke arah Rania, melanjutkan obrolan mereka tentang hal-hal ringan seakan Vino tidak pernah ada di antara mereka.
"Ran, kue yang kamu pesan tadi enak banget," ujar Kiara lembut, tersenyum tulus menatap adik perempuan calon mantan tunangannya itu.
"Nanti sebelum pulang, kita bungkus satu porsi lagi ya buat di rumah. Kedua orang tua kita pasti suka,"
"Boleh banget, Mbak!" Rania tertawa, meski sesekali matanya melirik curiga pada Vino yang duduk mematung dengan wajah pucat pasi bak mayat hidup.
"Tapi Mbak Kiara beneran nggak papa kan? Mas Vin dari tadi kayak orang mau pingsan gitu, tatapannya aneh banget."
"Masmu cuma butuh minum air putih, Ran. Nanti juga biasa lagi. Mungkin masih memikirkan urusan pekerjaan pentingnya dari beberapa hari kemarin," jawab Kiara santai tanpa beban, menyedot minumannya pelan.
Sepanjang siang hingga sore itu, Vino seperti sosok hantu yang mengontori kebersamaan mereka. Setiap kali Vino mencoba menyelipkan kata maaf, menanyakan soal cincin, atau sekadar memanggil namanya, Kiara sama sekali tidak menanggapi. Kiara bersikap sangat profesional, dia mendengarkan Rania, tertawa bersamanya, membelikan Rania beberapa hadiah kecil, dan menikmati setiap detik momen terakhirnya bersama gadis yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri.
Di abaikan total dari Kiara justru menjadi siksaan paling kejam bagi Vino. Pria itu menyadari betapa Kiara telah membangun benteng yang teramat tinggi. Kiara tidak membencinya dengan amarah yang meledak-ledak, Kiara melepaskannya dengan ketenangan yang mematikan. Dan Kiara sudah tahu semuanya, kebohongan yang terulang kembali. Demi orang yang sama. Padahal dia sudah berjanji.
Ketika jam menunjukkan pukul lima sore, langit mulai meredup dengan warna keemasan yang syahdu. Kiara melihat jam di tangannya lalu menatap Rania.
"Yuk, Ran, kita siap-siap. Kita harus pulang sekarang supaya kamu punya waktu dandan sebelum makan malam nanti," ucap Kiara anggun seraya berdiri dan merapikan tasnya.
Rania mengangguk patuh meski rasa penasaran masih mengganjal di dadanya.
"Iya, Mbak. Lagian Papa sama Mama tadi udah pesan suruh langsung ke rumah Mbak Kiara habis ini."
Vino ikut berdiri dengan tergesa-gesa, melangkah mendekati Kiara.
"Ra, Mas antar kamu ya? Biar mobil kamu Mas yang setir..."
"Aku bawa mobil Ayah, Mas," potong Kiara datar, tatapannya lurus menembus manik mata Vino yang memerah.
"Kamu pulanglah dulu bersama Rania. Jemput orang tuamu, lalu datanglah ke rumahku tepat waktu jam tujuh malam."
Kalimat itu diucapkan tanpa intonasi tinggi, namun memiliki penekanan mutlak yang tak bisa dibantah. Kiara mengusap lengan Rania hangat.
"Mbak duluan ya, Ran. Sampai ketemu di rumah nanti malam."
Tanpa menunggu balasan dari Vino, Kiara melangkah anggun keluar dari kafe, meninggalkan gerak-gerik gontai Vino yang mengepal jarinya kuat-kuat. Di dalam genggamannya yang bergetar, Vino meremas sisa keberaniannya yang makin menipis. Pria itu tahu, jam terus berputar menuju pukul tujuh malam, waktu di mana tabir kebohongannya akan terbongkar sepenuhnya di hadapan kedua keluarga.
atasan dan rekan kerja well come dengan kedatangan kamu, Kiara.Semoga kesuksesan kamu ada di sini dan menemukan jodoh yang setia.
lingkungan baru n suasana baru, org² baru
nanti km ketularan rabies ,,