NovelToon NovelToon
L.S. Underworld

L.S. Underworld

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Bad Boy / Mafia
Popularitas:303
Nilai: 5
Nama Author: ANDIKA,312

Andika pria miskin asal Makassar yg mencoba mengadu nasib di negara Amerika,tepatnya di los Santos,dia berharap menjadi kaya raya dan dapat hidup dengan layak setelah merantau di sana,akan tetapi dia justru terjerumus ke dalam dunia gelap los Santos

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANDIKA,312, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

episode 1,perkenalan

Suara deburan ombak Selat Makassar dan aroma coto hangat masih melekat jelas di ingatan Andika. Namun, sore itu ia justru berdiri terpaku di tengah teriknya sengatan matahari Pacific Bluffs, Los Santos. Bermodalkan koper tua, tabungan seadanya, dan ambisi membara untuk menjadi kaya raya di negeri orang, Andika melangkah menapakkan kaki di kota yang penuh dengan mimpi dan bahaya ini.

Realita ternyata tidak sejindah lamunan di atas pesawat. Tanpa koneksi dan kemampuan bahasa Inggris yang masih terbata-bata, mencari pekerjaan yang layak terbukti sangat sulit. Berhari-hari menelusuri trotoar Vinewood hingga Del Perro, Andika akhirnya hanya diterima bekerja di sebuah restoran kecil yang kumuh di pinggiran Little Seoul.

Pekerjaannya berat: menumpuk piring-piring kotor hingga punggungnya pegal dan mengepel lantai greasy hingga larut malam. Gaji yang diterima Andika sangat kecil, jauh dari kata cukup.

Sistem keuangan Andika berada di ambang batas. Karena belum punya tempat tinggal tetap, ia terpaksa menyewa sebuah kamar kos sempit bernuansa kusam di daerah Davis. Sebagian besar amplop gajinya tiap minggu habis melayang hanya untuk membayar uang sewa tempat bernaung yang bahkan tidak memiliki pendingin ruangan itu. Sisa uangnya hanya cukup untuk membeli mi instan atau hot dog murah di pinggir jalan.

Malam itu, hujan gerimis menyiram kawasan Davis. Andika baru saja pulang dari restoran dengan seragam yang masih berbau sabun cuci dan sisa makanan. Ia duduk melamun di atas tangga depan kontrakan kecilnya, menatap nanar jalanan yang sepi sambil mempertanyakan keputusan nekatnya merantau sejauh ini.

"Yo, homie! Kenapa muka kau dilipat begitu seperti baju belum disetrika?"

Sebuah suara nyaring berlogat khas dan berat memecah lamunan Andika. Seorang pria tinggi berkaus hijau melangkah menghampirinya dengan gaya jalan yang santai namun percaya diri. Pria itu menyandarkan badannya di pagar besi tepat di samping Andika, lalu menyodorkan sebuah rokok.

"Nama saya Lamar. Lamar Davis—eh, maksudku, Lamar Clinton," ucap pria itu sambil tersenyum lebar, memperlihatkan deretan giginya. "Saya perhatikan kau selalu bolak-balik dari tempat ini pakai baju kerja kusam itu tiap malam. Kau kelihatan seperti orang yang butuh keajaiban, atau minimal... uang tunai yang jauh lebih banyak."

Andika mendongak, memandang pria asing di hadapannya itu. Di tengah keputusasaan dan himpitan ekonomi kota Los Santos, pertemuan tak terduga dengan Lamar malam itu menjadi titik balik pertama dalam perjalanan hidup Andika.

Andika menyandarkan punggungnya ke dinding tembok yang dingin, menatap Lamar dengan raut campur aduk antara curiga dan penasaran. Dengan bahasa Inggris seadanya yang dicampur gestur tangan, Andika mulai bercerita.

"Saya Andika... dari Makassar, Indonesia," katanya lirih. "Saya datang ke Los Santos mau sukses, mau kaya raya. Tapi sekarang... cuma jadi tukang cuci piring. Gaji habis cuma buat bayar sewa rumah kecil ini. Makan saja susah, bro."

Lamar tertawa tertahan, menyemburkan asap rokoknya ke udara malam. "Makassar? Wah, saya tidak tahu itu di belahan bumi mana, homie. Tapi satu hal yang saya tahu: kota ini akan mengunyah dan membuang orang-orang jujur seperti kau ke tempat sampah! Kau tidak akan pernah jadi kaya cuma dari memegang kain pel dan sabun cuci piring di restoran reot itu."

Lamar menepuk bahu Andika dengan keras hingga Andika sedikit tersentak. Mata Lamar berkilat penuh ambisi.

"Dengar, Andika. Kau punya tatapan mata orang yang lapar—bukan cuma lapar makanan, tapi lapar kesuksesan. Saya suka itu. Di kota ini, kalau kau mau uang cepat, kau harus berani ambil risiko. Saya punya bisnis... ya, katakanlah 'bisnis sampingan' yang butuh orang tangguh dan bisa dipercaya."

"Bisnis apa?" tanya Andika, alisnya bertaut.

"Koleksi mobil, pengiriman barang 'khusus', sedikit urusan jalanan. Pekerjaan nyata buat pria sejati, bukan cuma mengelap lantai," jawab Lamar sambil terkekeh pelan. "Besok malam, lepas shift mu di restoran, temui saya di bengkel daerah Strawberry. Saya kasih kau kesempatan pertama. Kalau kau kerja bagus, uang sewa rumahmu bulan ini bisa beres dalam semalam."

Lamar melemparkan sebungkus kartu nama lusuh ke pangkuan Andika, lalu berjalan pergi sambil melambaikan tangan tanpa menoleh lagi, menghilang di balik remang lampu jalanan Davis.

Andika memandangi kartu nama itu. Di dalam dadanya, ada rasa cemas yang berkecamuk, namun membakar kembali semangatnya yang sempat padam. Prinsip Siri' na Pacce yang ia bawa dari tanah Daeng berbisik keras: dia tidak boleh pulang ke Makassar sebagai pecundang.

Besok malam, perjalanan Andika yang sebenarnya di dunia bawah tanah Los Santos baru saja akan dimulai.

Andika menyipitkan mata, menatap kartu nama di tangannya, lalu kembali memandang Lamar yang mulai melangkah menjauh.

"Tunggu, Lamar!" panggil Andika dengan nada tegas.

Lamar menghentikan langkahnya, menoleh sambil mengangkat satu alisnya. "Ada apa lagi, homie? Kau mendadak takut?"

"Tidak," jawab Andika mantap. "Tapi sebelum saya ikut urusanmu, kita harus jelas dari awal. Berapa yang bisa saya dapatkan? Di tempat cuci piring itu, saya cuma dapat gaji kecil dan hampir semuanya habis cuma buat bayar kontrakan sempit ini."

Lamar terkekeh pelan, berjalan mendekati Andika lalu menepuk-nepuk kap mobil tua yang terparkir di pinggir jalan Davis.

"Dengar, Andika. Di restoran itu kau cuma dapat gaji butut, mungkin cuma pas-pasan sekitar Rp3.000.000 seminggu. Sewa rumah kecilmu ini saja sudah memakan Rp2.200.000. Sisa uangmu cuma buat makan mi instan dan beli sabun, benar kan?" Lamar merentangkan tangannya lebar-lebar. "Tapi kalau kau kerja sama saya, satu pekerjaan pengiriman barang malam ini bisa menghasilkan minimal Rp15.000.000 sampai Rp30.000.000 bersih!"

Mata Andika berbinar. Angka itu jauh melebihi apa yang bisa ia bayangkan dari sekadar memegang kain pel.

"Tapi ingat," lanjut Lamar, suaranya merendah dan menjadi lebih serius. "Di dunia saya, makin besar hasilnya, makin besar risikonya. Kau tidak cuma berurusan dengan barang bawaan, tapi juga polisi Los Santos dan geng-geng wilayah Davis. Jadi, kau masih mau ikut atau tetap mau jadi tukang cuci piring?"

Andika mengepalkan tangannya erat-erat. Ia teringat niat awalnya menyeberangi samudra dari Makassar ke Los Santos: ia datang bukan untuk menjadi pecundang yang meratapi nasib di kamar kos sempit. Prinsip Siri' na Pacce membakar dadanya—kehormatan dan kerja keras harus dibuktikan.

"Saya ikut," tegas Andika tanpa ragu. "Kasih tahu saya di mana dan jam berapa besok malam."

Lamar tersenyum lebar, menyenggol bahu Andika dengan gaya khas jalanan. "Nah, itu baru pria dari Makassar! Lepas shift restoranmu jam sembilan malam, langsung datang ke bengkel di daerah Strawberry. Jangan terlambat, dan jangan bawa kain pelmu itu!"

Lamar lalu berjalan pergi menembus gerimis malam Los Santos, meninggalkan Andika yang berdiri di depan rumah sewanya dengan tekad baru. Malam itu, untuk pertama kalinya sejak tiba di Amerika, Andika tidur dengan senyuman dan rencana besar di kepalanya

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!