NovelToon NovelToon
Pembalasan CEO Gemuk

Pembalasan CEO Gemuk

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Time Travel
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: NinLugas

Alya mengira kehidupannya sempurna—menjadi CEO sukses dengan suami penyayang di sisinya. Namun, semua itu hancur dalam semalam ketika suaminya sendiri menghabisi nyawanya secara sadis. Tragisnya, sebelum nafas terakhir berhembus, Alya harus menyaksikan kenyataan pahit, pria yang paling ia cintai berselingkuh dengan sahabat terdekatnya sendiri.

Namun, takdir belum selesai.
Bukannya terbangun di alam baka, Alya justru terbangun lima tahun lalu—sebelum ia diangkat menjadi CEO, dan sebelum kata 'sah' terucap di pelaminan. Berbekal ingatan masa depan dan rasa sakit yang membakar, Alya bersumpah tidak akan menjadi korban untuk kedua kalinya.

Permainan baru saja dimulai, dan kali ini... Alya yang memegang kendali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NinLugas, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Pancingan di Atas Papan Catur

Kehancuran harga diri di koridor VIP kemarin malam ternyata tidak membuat api obsesi di dalam dada Siska padam begitu saja. Wanita itu sudah berada di ambang keputusasaan. Dengan ancaman kehancuran karier Rendy dan jeratan hukum yang kian melilit, Siska makin liar mencari celah. Ia terus mencoba mendekati Kai—mulai dari mengirimkan pesan berkedok konsultasi dokumen operasional melalui nomor baru, mencari tahu jadwal kunjungan Kai ke kantor pusat, hingga sengaja menunggu di area parkir VIP hanya demi mencuri perhatian sang pengusaha muda.

Namun, Alya bukanlah wanita bodoh yang hanya diam menyaksikan musuhnya bergerilya.

Malam itu, di kediaman mewah keluarga Alya. Suasana ruang tamu yang luas terasa hangat dengan pendar lampu gantung kristal. Bau harum teh melati membumbung dari cangkir porselen di atas meja kayu jati.

Kai duduk anggun di sofa utama, mengenakan kemeja kasual berwarna abu-abu gelap. Di sampingnya, Alya duduk bersandar lembut seraya memegang cangkir teh.

"Siska makin gila, Kai," ujar Alya tenang, matanya menatap pendar cairan teh di dalam cangkirnya. "Dia pikir kalau dia terus mengejar dan memamerkan kelemahannya, kamu akan luluh. Dia terlalu terbiasa memanipulasi pria seperti Rendy."

Kai meraih jemari Alya, menggenggamnya hangat seraya tersenyum tipis. "Pesan-pesan dari nomor barunya langsung diproses oleh tim siber saya untuk diblokir. Tapi kalau kamu merasa terganggu, Alya, saya bisa memastikan dia tidak akan bisa menginjakkan kaki lagi di lingkungan kantor besok pagi."

"Jangan dulu," potong Alya cepat, matanya berbinar tajam oleh rencana yang sudah tersusun rapi di kepalanya. Alya menatap langsung ke dalam mata Kai. "Justru obsesi gila Siska itu adalah kunci terakhir untuk mengunci Rendy dan Siska dalam satu perangkap yang sama."

Kai menaikkan sebelah alisnya, tertarik. "Apa maksudmu, Sayang?"

"Siska itu tipe wanita yang hanya menginginkan apa yang saya miliki," tutur Alya dengan suara yang halus namun sarat perhitungan tajam. "Dulu dia mendekati Rendy karena Rendy adalah milikku dan memegang uang perusahaanku. Sekarang dia mengincarmu karena kamu adalah pria paling sempurna di matanya yang sedang mendampingiku."

Alya meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu memajukan tubuhnya mendekati Kai.

"Rendy sedang berusaha keras menunjukkan 'ketulusan' dan perubahan sikapnya padaku," sambung Alya. "Di sisi lain, Siska panik karena takut kehilangan Rendy sekaligus ambisius ingin merebutmu. Kalau kita biarkan situasi ini berjalan biasa, Siska akan terus menjadi benalu yang mengganggu kita, dan Rendy akan terus berakting menjadi pria teraniaya yang bertobat."

"Lalu, rencana apa yang ada di kepala cantikanmu ini?" tanya Kai seraya mengusap lembut punggung tangan Alya.

Alya menyunggingkan senyum paling memesona—senyuman seorang dalang yang siap menggerakkan pion-pionnya.

"Kita harus memberi mereka umpan yang sangat besar," jawab Alya mantap. "Kita buat seolah-olah hubungan kita retak. Kita pura-pura putus, Kai."

Kai mendadak membeku. Genggaman tangannya di jemari Alya mengetat seketika, raut wajah tampannya berubah tegang. "Pura-pura putus? Alya, saya paling tidak suka bercanda soal hubungan kita, bahkan walau itu cuma sandiwara."

Alya terkekeh pelan, tersentuh oleh keprotektifan Kai. Ia mengulurkan kedua tangannya, memegang lembut kedua pipi Kai agar pria itu menatapnya.

"Dengar dulu, Kai," bisik Alya sangat lembut. "Ini cuma akting di depan umum. Hanya beberapa hari. Begitu berita kita 'putus' menyebar, aku akan berpura-pura membuka hati kembali pada Rendy. Aku akan membuat Rendy percaya bahwa keinginannya untuk berubah telah berhasil meluluhkan hatiku."

Kai mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras. "Melihat pria bajingan itu mendekatimu lagi saja sudah membuat darah saya mendidih, Alya."

"Aku tahu," hibur Alya, menepuk pelan dada tegap Kai. "Tapi berpikirlah dari sudut pandang Siska. Saat Siska melihat Rendy berhasil merebutku kembali, dan melihat kamu 'bebas' tanpa diriku... Siska akan terdesak oleh dua pilihan yang membakar nafsunya. Di satu sisi, dia akan makin gila mengejarmu karena mengira kamu sedang patah hati. Di sisi lain, melihat Rendy kembali padaku dan mengabaikan anak di kandungannya akan membuat Siska meledak dan memaksakan dirinya untuk mengikat Rendy secara mutlak."

Alya tersenyum dingin. "Siska tidak akan membiarkan Rendy lepas ke tanganku lagi. Begitu Siska merasa Rendy akan meninggalkannya demi aku, Siska akan menggunakan kartu AS perselingkuhan dan kehamilannya untuk mengancam Rendy di depan publik dan Bu Endang. Kita akan membuat Rendy dan Siska saling mengunci dan menghancurkan satu sama lain. Mereka harus bersatu dalam kemiskinan dan kehancuran yang mereka buat sendiri."

Kai menatap Alya dengan takjub. Ketajaman pikiran wanita di hadapannya ini sungguh luar biasa. Dendam Alya bukan sekadar kemarahan tanpa arah, melainkan eksekusi catur yang sangat elegan.

"Berapa lama sandiwara ini harus berjalan?" tanya Kai, suaranya melunak walau masih ada nada berat di dalamnya.

"Cukup tiga hari," jawab Alya yakin. "Satu pertengkaran publik di kantor besok, berita putus menyebar, dan biarkan musuh-musuh kita masuk ke dalam lubang yang sudah kita gali."

Kai menghela napas panjang, lalu mengecup kening Alya dengan sangat dalam dan hangat. "Baik. Saya ikuti skenario dari sang Ratu. Tapi ingat janjimu... ini cuma sandiwara. Di balik layar, kamu tetap milik saya sepenuhnya."

"Selamanya milikmu, Kai," bisik Alya penuh kehangatan.

Keesokan harinya, pukul dua siang di area lobi utama kantor pusat Nusantara Industri Utama.

Suasana lobi yang ramai oleh lalu lalang karyawan mendadak mencekam ketika suara perdebatan sengit terdengar dari dekat pintu kaca utama.

"Cukup, Pak Kai!" teriak Alya dengan suara yang sengaja ditinggikan, wajahnya tampak merah padam oleh amarah yang dipaksakan dengan sangat sempurna. "Saya pikir Anda pria yang berbeda! Tapi ternyata Anda sama saja! Anda terlalu mengekang dan mencampuri urusan internal keluarga saya!"

Kai berdiri di hadapan Alya dengan wajah yang sengaja dibuat dingin dan kaku—akting eksekutif berkelas yang sedang murka.

"Saya melakukan ini demi kebaikan perusahaan dan keamananmu, Alya!" balas Kai dengan suara berat yang menggelegar, menarik perhatian puluhan pasang mata staf dan direksi di lobi. "Kalau kamu tidak bisa menerima keputusan bisnis dan perlindungan saya, berarti kita memang tidak searah!"

"Kalau begitu tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!" bentak Alya tegas, matanya berkaca-kaca oleh emosi akting yang luar biasa luar biasa. "Hubungan profesional kita berlanjut sesuai kontrak, tapi untuk hubungan pribadi... kita selesai sampai di sini, Pak Kai!"

Alya berbalik dengan sentakan keras, melangkah cepat menuju lift khusus direksi tanpa menoleh lagi.

Kai berdiri membeku di tengah lobi, mengepalkan tangannya rapat-rapt sebelum akhirnya berbalik melangkah keluar gedung dengan raut wajah sangat gelap.

Di sudut lobi dekat pilar utama, dua orang berdiri menatap adegan drama itu dengan napas tertahan: Rendy dan Siska.

Mata Rendy membelalak lebar, dada pria itu bergemuruh oleh rasa gembira yang tak tertahankan. Alya dan Kai putus?! Ini kesempatanku! Alya akhirnya sadar kalau pria itu cuma mau mengekangnya! pikir Rendy riang luar biasa.

Sementara di sebelah Rendy, mata Siska berbinar terang oleh nafsu dan obsesi yang membara. Kai Aditya bebas... Mereka putus! Ini takdir! Kai sedang terluka dan patah hati, ini kesempatan emas bagiku untuk masuk dan menghiburnya!

Skenario bagian pertama berjalan dengan sangat mulus.

Sore harinya, Rendy tidak membuang waktu satu detik pun. Mengetahui Alya sedang 'patah hati' dan mengurung diri di ruang kerjanya, Rendy segera melancarkan aksinya. Pria itu datang membawa sebuket bunga mawar putih segar dan semangkuk sup hangat kesukaan Alya.

Rendy mengetuk pintu ruang kerja Alya dengan sangat lembut, lalu melangkah masuk.

"Alya..." panggil Rendy dengan suara yang diatur sedemikian rupa agar terdengar sangat empati dan penuh kehangatan.

Alya duduk di kursi kerjanya, menyandarkan kepala di tangan dengan raut wajah berpura-pura layu dan sedih. "Rendy? Mau apa kamu ke sini? Aku sedang tidak ingin diganggu."

Rendy melangkah mendekat, meletakkan bunga mawar putih dan sup hangat itu di meja Alya dengan gerakan yang sangat lembut.

"Aku tahu, Al... Aku lihat kejadian di lobi tadi siang," tutur Rendy pelan, duduk di kursi depan meja Alya seraya menatap Alya dengan raut pria paling tulus di dunia. "Aku cuma mau ada di sini buat kamu. Aku tahu rasa sakitnya dikhianati dan dikekang oleh pria yang kamu percaya."

Alya mendongak pelan, menatap Rendy dengan mata yang dibuat sayu. "Kai tidak seperti yang aku bayangkan, Rendy... Dia terlalu dominan. Dia mau mengontrol seluruh hidupku."

Rendy menyunggingkan senyum kemenangan di dalam hatinya, namun wajahnya tetap memasang raut prihatin. Ia mengulurkan tangannya di atas meja, mencoba menyentuh jemari Alya. Alya sengaja tidak menarik tangannya seketika, memberi umpan kenyamanan semu.

"Sudah aku bilang kan, Al?" bisik Rendy penuh kelembutan yang dibuat-buat. "Cuma aku yang betul-betul paham caramu berpikir. Cuma aku yang bisa mengerti kamu. Pria seperti Kai hanya silau oleh harta keluargamu. Tapi aku... aku sudah berubah, Al. Biarkan aku membuktikan bahwa tempat terbaikmu adalah di sisiku."

Alya menatap wajah Rendy sejenak, lalu menghembuskan napas panjang, berpura-pura luluh.

"Terima kasih ya, Rendy..." kata Alya dengan suara lirih. "Mungkin... mungkin aku memang harus memberi kesempatan lagi untuk hubungan kita. Aku butuh waktu untuk menata hatiku, tapi kehadiranmu sore ini sungguh membuatku merasa lebih tenang."

Mendengar kata-kata itu keluar dari mulut Alya, dada Rendy serasa mau meledak oleh kebahagiaan egoisnya. "Pasti, Al! Nanti malam aku antar kamu pulang ya? Kita makan malam santai di rumahmu."

"Iya, Rendy. Nanti malam jemput aku jam tujuh ya," jawab Alya dengan senyuman halus.

"Siap, Al! Aku janji bakal buat kamu bahagia lagi!" seru Rendy antusias sebelum akhirnya pamit keluar ruangan dengan langkah gagah bagaikan pemenang perang.

Namun, Rendy tidak tahu bahwa di luar pintu ruang kerja Alya, Siska telah mendengarkan seluruh percakapan itu dari balik celah pintu yang sedikit terbuka.

Tangan Siska gemetaran tegang, matanya membelalak penuh kemurkaan yang tak tertandingi.

"Dasar bajingan!" maki Siska dalam bisikan beracun di koridor yang sepi. "Rendy benar-benar mau membuangku dan anak ini demi kembali pada Alya! Dia pikir dia bisa melenggang santai menjadi suami kaya Alya lagi?!"

Rasa cemburu dan ancaman dibuang membuat pikiran Siska makin kalap. Di satu sisi, ia sangat murka pada Rendy. Di sisi lain, berita putusnya Kai Aditya dan Alya menjadi bensin yang membakar obsesinya.

Siska berjalan cepat menuju toilet wanita, mengunci pintu dari dalam, lalu mengambil telepon genggamnya. Dengan jemari gemetaran, ia menekan nomor ponsel sekretaris Kai yang berhasil ia dapatkan dari staf administrasi.

"Halo! Sambungkan saya ke Pak Kai Aditya sekarang juga!" seru Siska tanpa basa-basi begitu telepon diangkat. "Ini Siska! Bilang pada Pak Kai, saya tahu rahasia besar soal rencana Rendy menguras dana perusahaan Alya malam ini! Saya mau bertemu Pak Kai di Cafe Lounge Hotel Mulia jam delapan malam ini! Hanya kita berdua!"

Siska mematikan telepon itu seraya tertawa sinis.

Ia merasa rencananya sangat sempurna. Malam ini, jam tujuh Rendy akan menjemput Alya demi menjalin kembali hubungan mereka. Siska akan membiarkan Rendy pergi, sementara dirinya sendiri jam delapan malam akan bertemu dengan Kai Aditya—memanfaatkan momen 'patah hati' Kai untuk membocorkan kebusukan Rendy sekaligus menyerahkan dirinya pada sang pengusaha kaya.

Siska tidak menyadari bahwa di dalam ruang kerja VIP-nya, Kai Aditya sedang mendengarkan rekaman telepon Siska yang baru saja diteruskan oleh sekretarisnya.

Kai menyunggingkan senyum paling dingin seraya menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya. Ia memutar telepon ke nomor pribadi Alya.

"Skenario berjalan sempurna, Ratu," ujar Kai dengan nada penuh kepuasan begitu Alya mengangkat telepon. "Siska baru saja menggigit umpan. Dia mengajak saya bertemu malam ini jam delapan di Hotel Mulia dengan dalih mau membocorkan kebusukan Rendy."

Di seberang telepon, Alya terkekeh renyah—sebuah tawa anggun penuh kemenangan.

"Bagus sekali, Kai," sahut Alya. "Rendy baru saja berjanji menjemputku jam tujuh malam untuk makan malam romantis di rumahku. Beritahu ibunya Rendy—Bu Endang—bahwa malam ini anaknya akan melamar putri orang kaya secara resmi di Hotel Mulia jam delapan malam."

"Maksudmu?" tanya Kai seraya menaikkan alisnya.

"Kita ganti lokasi makan malamku dan Rendy ke restoran Hotel Mulia," senyum Alya makin beracun. "Kita kumpulkan semua pemeran utama di sana. Bu Endang yang serakah, Rendy yang sok tulus, Siska yang obsesif, dan kamu sebagai saksinya. Saat Siska mencoba menggodamu, dia akan terkejut melihat Rendy berada di sana bersama ibunya. Dan saat Rendy berpura-pura mengejarku, Siska akan meledakkan semua rahasia perselingkuhan dan kehamilannya di depan muka Bu Endang."

Kai tertawa pelan, kagum luar biasa atas kecerdasan wanita tercintanya.

"Papan catur sudah tertata sempurna, Alya," tutur Kai mantap. "Sampai jumpa di Hotel Mulia malam ini."

"Sampai jumpa, Kai. Mari kita tutup sandiwara ini dengan kehancuran mereka," balas Alya dingin.

1
Ayu Ara12
next
Ayu Ara12
next dong kak cerita
NinLugas: ok kk d tnggu
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!