NovelToon NovelToon
Crimson Vows

Crimson Vows

Status: tamat
Genre:Balas Dendam / Roman-Angst Mafia / Mafia / Tamat
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: yao na

Tujuh belas tahun Yao Conti hidup dalam penyamaran, bernapas hanya untuk satu tujuan: menuntut balas atas pembantaian keluarganya di Milan. Langkahnya membawanya menembus jantung kekuasaan keluarga Moretti, tempat ia bertemu Gerald Moretti—Don muda yang dingin, tajam, dan tidak pernah membiarkan siapa pun mendekatinya.
Bagi Yao, Gerald adalah kunci menuju pembunuh ayahnya. Bagi Gerald, Yao adalah teka-teki berbahaya yang memikat sekaligus mengancam wilayahnya. Di tengah benturan intrik politik lima keluarga mafia Italia hingga ancaman persekutuan gelap yang membentang ke Hong Kong, batas antara taktik dan perasaan perlahan mengabur.
Saat rahasia paling kelam tentang malam pembantaian itu akhirnya terkuak, mereka dipaksa memilih: menuntaskan dendam yang diwariskan oleh orang tua mereka, atau menyelamatkan cinta yang terlahir di atas tanah bersimbah darah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yao na, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 — Nama yang Kubawa Bukan Milikku

"Yao," katanya akhirnya, setelah Gerald menuangkan segelas wine untuknya. "Yao Lindqvist."

"Lindqvist," ulang Gerald, mencicipi nama itu seperti mencicipi anggur yang belum ia kenal. "Swedia?"

"Ibu saya," Yao menjawab, memilih kebohongan yang paling dekat dengan kebenaran — teknik yang diajarkan Sofia padanya sejak lama. Semakin dekat kebohongan dengan kebenaran, semakin kecil kemungkinan ketahuan. "Ayah saya orang Italia. Mereka sudah lama meninggal."

Sesuatu berkelebat di mata Gerald — bukan simpati, karena pria seperti dia tidak dibesarkan untuk berbagi simpati dengan mudah, tapi semacam pengenalan. "Orang tua yang meninggal punya cerita panjang di dunia ini," katanya pelan. "Saya turut prihatin, meski saya menduga Anda sudah lelah mendengar kalimat itu."

"Anda benar," Yao menjawab jujur untuk pertama kalinya malam itu.

Mereka mengobrol selama satu jam berikutnya, dan Yao terkejut mendapati dirinya menikmati percakapan itu lebih dari yang seharusnya ia izinkan. Gerald cerdas dengan cara yang berbahaya — ia mendengarkan lebih dari berbicara, dan setiap pertanyaan yang ia ajukan terasa seperti sedang menguliti lapisan-lapisan kebohongan Yao satu per satu.

"Apa yang membuat seorang wanita seperti Anda tertarik pada dunia malam Milan?" tanyanya, matanya tidak pernah lepas dari wajah Yao, seolah sedang mempelajari peta yang rumit. "Kebanyakan orang yang duduk di sofa ini menginginkan sesuatu — uang, perlindungan, informasi, atau sekadar sensasi berbahaya. Yang mana dari itu Anda cari, Miss Lindqvist?"

"Mungkin saya hanya menikmati percakapan yang menarik," jawab Yao, mengalihkan pertanyaan dengan kelihaian yang telah ia asah selama bertahun-tahun berpindah dari satu kebohongan ke kebohongan lain. "Apakah itu begitu sulit dipercaya?"

"Di dunia saya," jawab Gerald, "segala sesuatu yang terlihat sederhana biasanya menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih rumit." Ia menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit penuh perhitungan yang menggelikan sekaligus menggetarkan. "Tapi saya akan membiarkan Anda menyimpan misteri Anda untuk malam ini. Setiap wanita cantik pantas memiliki setidaknya satu rahasia yang tidak terungkap terlalu cepat."

Musik jazz yang mengalun di latar belakang berganti menjadi nomor yang lebih lambat dan melankolis, suara saksofon yang menggantung di udara seperti asap cerutu yang mengepul perlahan menuju langit-langit ruangan. Yao merasakan dirinya semakin rileks meski setiap insting yang diajarkan Sofia berteriak memperingatkan bahaya dari kenyamanan semacam ini.

"Kau tidak datang ke sini secara kebetulan," katanya akhirnya, matanya menatap tajam ke mata Yao, tidak berkedip. "Tidak ada yang mengenakan gaun seperti itu ke Ombra tanpa alasan. Jadi katakan padaku, Nona Lindqvist — apa yang sebenarnya kau inginkan?"

Jantung Yao berdegup kencang, tapi wajahnya tetap tenang seperti permukaan danau yang beku. "Saya seorang jurnalis lepas," katanya, kebohongan kedua malam itu. "Saya sedang menulis tentang budaya malam Milan yang tersembunyi."

Gerald menatapnya lama, cukup lama untuk membuat Yao yakin bahwa ia sudah ketahuan. Lalu, tiba-tiba, ia tertawa — tawa yang lebih dalam dari sebelumnya.

"Jurnalis," ulangnya, geli, tidak sedikit pun berusaha menyembunyikan ketidakpercayaannya. Ia bersandar, tangannya perlahan menyentuh pinggiran gelas whiskey-nya, membiarkan keheningan berbicara lebih banyak daripada tuduhan langsung akan pernah bisa. "Baiklah. Mari kita anggap begitu — untuk malam ini."

Yao tersenyum, meski dadanya berdegup kencang karena ketakutan yang bercampur dengan sesuatu yang lebih rumit — sensasi ditemukan yang seharusnya membuatnya panik, tapi entah kenapa terasa seperti tantangan yang menggairahkan. Ia memilih untuk tidak membantah lebih jauh; membantah hanya akan membuatnya terlihat semakin bersalah.

Gerald mengangkat gelasnya, mengetuknya pelan ke gelas Yao, matanya masih tidak lepas dari wajahnya. "Untuk kebohongan yang menarik," katanya, tidak menjelaskan lebih jauh, "dan kebenaran yang mereka sembunyikan."

Mereka minum bersama, tawa kecil sesekali terselip di antara sindiran-sindiran tajam yang mereka lemparkan satu sama lain seperti permainan catur verbal yang tidak seorang pun ingin kalah, namun keduanya diam-diam menikmati setiap langkahnya. Yao menemukan dirinya lupa sejenak — hanya sejenak — bahwa pria di hadapannya adalah bagian dari keluarga yang seharusnya ia hancurkan, bahwa senyum yang mulai terasa tulus itu berasal dari darah yang sama dengan darah yang memerintahkan pembantaian keluarganya.

Ia membenci dirinya sendiri sedikit karena kenyataan bahwa ia harus memaksa diri untuk mengingat hal itu — dan lebih membenci lagi betapa mudahnya ia hampir lupa. Sofia pernah memperingatkannya tentang ini, bertahun-tahun lalu, di sebuah apartemen dingin di Jenewa: Musuh yang paling berbahaya bukanlah yang mengancam nyawamu, Yao. Musuh yang paling berbahaya adalah yang membuatmu lupa kenapa kau harus membencinya. Malam itu, Yao mengangguk tanpa benar-benar memahami maknanya. Sekarang, duduk di sofa ini, tertawa pada lelucon seorang Moretti, ia akhirnya mengerti — dan pemahaman itu terasa seperti pisau yang berbalik ke arahnya sendiri.

Dan di sudut ruangan, Enzo Bastiani akhirnya memutuskan untuk mendekat.

"Gerald," katanya, suaranya halus tapi penuh peringatan tersembunyi. "Boleh saya bicara sebentar? Urusan bisnis."

Gerald mendesah, jelas kesal karena diganggu. "Ini lebih baik penting, Enzo."

"Selalu penting," jawab Enzo, matanya sekilas melirik ke arah Yao — sebuah tatapan yang bertahan terlalu lama untuk sekadar basa-basi.

Yao merasakan bulu kuduknya berdiri saat mata pria tua itu bertemu dengannya. Ada sesuatu yang familiar dalam wajah itu, sesuatu yang membuat dadanya sesak tanpa alasan yang jelas — hingga ia menyadarinya.

Bekas luka melintang di rahang.

Ia telah menemukan pembunuh ayahnya, dan pria itu berdiri tepat di sarang serigala yang sama dengan pria yang baru saja mencuri sedikit perhatiannya.

Selama beberapa detik, dunia di sekeliling Yao terasa berputar lambat, suara musik dan tawa para tamu meredup menjadi dengungan jauh di latar belakang kesadarannya. Ia memaksa dirinya untuk bernapas dengan tenang, mengingat kembali setiap latihan yang diajarkan Sofia — cara menyembunyikan detak jantung yang berpacu di balik wajah yang tenang, cara membiarkan tangan tetap rileks meski setiap otot dalam tubuhnya ingin meraih pisau lipat yang tersembunyi di tasnya.

Bukan sekarang,* katanya pada dirinya sendiri. *Bukan di sini, di depan puluhan saksi, dikelilingi pengawal bersenjata. Bersabarlah, Yao. Tujuh belas tahun sudah cukup lama menunggu — beberapa minggu lagi tidak akan membunuhmu.

"Saya akan segera kembali," kata Gerald pada Yao, tanpa menyadari badai yang sedang berkecamuk di balik senyum tenangnya. "Jangan pergi ke mana-mana."

"Saya tidak akan ke mana-mana," jawab Yao, dan untuk pertama kalinya, kalimat itu adalah kebenaran mutlak.

Karena sekarang, misinya bukan lagi sekadar mendekati keluarga Moretti.

Sekarang, ia harus mencari cara untuk berada sedekat mungkin dengan Enzo Bastiani — dan Gerald Moretti, tanpa ia sadari, baru saja menjadi jembatan sempurna menuju dendam yang sudah ia rencanakan selama tujuh belas tahun.

1
yao na
kerenn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!