NovelToon NovelToon
Kelas Tambahan Untuk CEO

Kelas Tambahan Untuk CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Dikelilingi wanita cantik / Tamat
Popularitas:410
Nilai: 5
Nama Author: Rizaidhan Luthfian

Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO

Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.

Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.

Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gemuruh Hujan dan Bayang-Bayang Kenyataan

Kian menghentakkan tangannya, menepis pegangan Hani dengan kasar hingga wanita itu tersentak kaget.

"Cukup, Hani! Jaga batasanmu!" bentak Kian dengan suara bergetar menahan amarah. Matanya menatap tajam ke arah Hani yang berpura-pura terkejut. "Tolong hormati orang-orang di sekitarku, dan jangan pernah bertindak seolah kamu punya hak atas hidupku hanya karena investasi ayahmu!"

Tanpa memedulikan panggil jeritan Hani yang memanggil namanya di tengah keramaian restoran mewah itu, Kian menerobos keluar menembus hujan deras. Air dingin langsung menyiram tubuhnya, namun rasa panas di dadanya jauh lebih menyiksa. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru jalanan yang basah, mencari sosok wanita dengan mantel sederhana dan tas kainnya. Namun, Maya sudah menghilang di telan kegelapan malam dan deru kendaraan.

Kian mengepalkan tangannya rapat-rapt, berdiri kaku di bawah guyuran hujan. Untuk pertama kalinya dalam hidup, status, kekayaan, dan jabatannya sebagai CEO terasa seperti penjara yang sangat menyengsarakan.

Sementara itu, di dalam sebuah taksi yang melaju pelan, Maya menyandarkan kepalanya pada kaca jendela yang berembun. Air matanya yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa henti. Setiap tetes air hujan yang memukul kaca seolah menyuarakan rasa sakit yang menghujam dadanya.

Penghinaan Hani memang menyakitkan, namun yang paling membakar hatinya adalah kesadaran akan jurang pemisah di antara dirinya dan Kian. Ia hanyalah seorang guru SMA biasa yang tinggal di rumah sewa sederhana, sedangkan Kian hidup di dunia di mana keputusan bisnis miliaran rupiah ditentukan hanya dalam satu jam makan malam.

'Kamu hanyalah gurunya, Maya... Jangan pernah berharap lebih dari itu,' bisik batinnya berulang kali, mencoba mengobati rasa kecewa yang terlanjur dalam.

Keesokan harinya, suasana di kantor pusat Pratama Group bergemuruh. Rosa, ibu Kian, berdiri di ruang kerja Kian dengan wajah merah padam. Di sampingnya, Hani duduk dengan raut wajah yang dibuat seloyo dan sesedih mungkin.

"Apa yang ada di dalam kepalamu, Kian?!" suara Rosa menggema di ruangan berdinding kaca itu. "Kamu mempermalukan Hani di tempat umum demi seorang wanita sembarangan? Kamu tahu kan kalau Pratama Group bisa menarik seluruh suntikan dana mereka kapan saja kalau kamu bersikap seperti ini?!"

Kian yang duduk di balik meja kerjanya menatap ibunya dengan tatapan lelah namun keras. "Maya bukan wanita sembarangan, Ibu. Dia guru saya. Dan Hani tidak punya hak untuk menghina orang lain hanya karena merasa keluarganya punya uang."

"Dia bukan sekadar 'orang lain', Kian!" potong Rosa tegas. "Hani adalah putri tunggal mitra terpenting perusahaan kita! Masa depan startup-mu bergantung pada hubungan baik kita dengan keluarganya. Ibu tidak mau tahu, nanti malam kamu harus datang ke rumah Hani untuk minta maaf!"

"Saya tidak akan minta maaf atas kesalahan yang tidak saya perbuat," jawab Kian dingin.

Hani berpura-pura mengusap air mata di pipinya dengan saputangan sutra. "Tante... sudah, jangan salahkan Kian. Hani sadar kok, mungkin Kian memang lebih nyaman sama wanita biasa itu... Walaupun Hani cuma mau bantu jaga reputasi Kian..."

"Lihat betapa dewasanya Hani!" seru Rosa sambil memegang bahu Hani, lalu menatap Kian tajam. "Dengar Kian, kalau sampai investasi minggu ini dibatalkan karena kelakuanmu, Ibu sendiri yang akan memastikan wanita bernama Maya itu tidak akan bisa mengajar di sekolah manapun di kota ini."

Ancaman itu menyengat Kian seperti listrik tegangan tinggi. Matanya membelalak. "Ibu jangan berani-berani menyentuh Maya!"

"Maka buktikan kalau kamu CEO yang bertanggung jawab, bukan pria bertindak impulsif!" bisik Rosa menohok sebelum melangkah keluar ruangan, diikuti Hani yang sempat menoleh ke arah Kian dengan senyum kemenangan yang amat tipis.

Kian terduduk lemas di kursinya. Pikirannya melayang pada senyum lembut Maya saat mengoreksi bahasa tubuhnya, pada tawa hangat wanita itu, dan pada tatapan matanya yang terluka semalam.

Ia tahu, kelas privat mereka bukan lagi sekadar formalitas perbaikan citra publik. Namun di saat hatinya baru saja menemukan tempat bersandar, dunia nyatanya justru siap menghancurkan segalanya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!