NovelToon NovelToon
Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Menjerat Hati Sang Ceo Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Perjodohan / Romansa
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Scrpn

Alexander "Alex" Ar-Rasyid (30 Tahun)

Seorang CEO muda yang dingin, perfeksionis, dan workaholic. Ia memegang kendali penuh atas Ar-Rasyid Group, sebuah konglomerat raksasa di bidang properti dan investasi. Baginya, pernikahan adalah bentuk kerja sama bisnis yang tidak penting, hingga sebuah perjodohan keluarga memaksa hidupnya jungkir balik.

Keisha Azalea Pramesti (25 Tahun)

Seorang fashion designer berbakat, mandiri, dan memiliki idealisme tinggi. Ia pemilik butik haute couture Azalea Label. Di balik senyum lembutnya, Keisha adalah wanita tangguh yang menolak dipandang sebelah mata dan sangat mencintai dunianya—sketsa, kain, dan jarum jahit.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scrpn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Tiga bulan berlalu sejak hari bersejarah di auditorium utama Ar-Rasyid Tower. Badai intrik, pengkhianatan, dan ancaman dari faksi masa lalu kini telah sepenuhnya mereda menjadi debu, menyisakan fondasi kekuasaan yang jauh lebih kokoh dan tak tergoyahkan bagi keluarga Ar-Rasyid. Di bawah kepemimpinan Alexander yang kini didukung secara mutlak oleh dewan direksi dan para investor global—termasuk Vance Global Holdings—imperium bisnis tersebut melesat pesat, memperluas sayap operasinya dari pusat keuangan Asia hingga ke daratan Eropa.

Pagi itu, sinar matahari keemasan menembus tirai kaca tebal di lantai lima puluh penthouse utama. Suasana di dalam ruangan terasa begitu tenang, diisi oleh kehangatan domestik yang dulu tidak pernah dibayangkan oleh Alexander akan menghiasi kehidupannya yang kaku dan penuh perhitungan.

Keisha Azalea Pramesti berdiri di depan meja rias bergaya antik di kamar tidur utamanya. Ia mengenakan gaun midi berbahan sutra ringan berwarna rose gold yang membalut tubuhnya dengan sempurna, memperlihatkan keanggunan seorang desainer kelas internasional sekaligus wanita yang tengah berada di puncak kebahagiaan hidupnya. Rambut cokelatnya tergerai indah dengan gelombang lembut di ujungnya.

Di atas meja rias, sebuah undangan cetak berlapis emas dengan stempel lambang resmi Ar-Rasyid Group dan Azalea Label tergeletak rapi. Hari ini adalah hari peresmian galeri pameran gabungan terbesar di Asia Tenggara—sebuah proyek monumental yang menggabungkan pusat haute couture mewah dan galeri seni digital modern di jantung kawasan bisnis utama Jakarta.

Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari balik pintu kamar mandi utama. Alexander melangkah keluar mengenakan kemeja katun putih lengan panjang yang digulung rapi hingga siku, memperlihatkan otot lengannya yang kokoh. Aroma khas cedarwood dan sabun segar langsung menguar di sekitarnya.

Alex berjalan tanpa suara, lalu melingkarkan kedua lengannya dari belakang, memeluk pinggang Keisha dengan erat. Dagunya bersandar nyaman di atas bahu kanan istrinya, sementara matanya menatap pantulan wajah Keisha di cermin besar di hadapan mereka.

"Kau melamun, Nyonya Ar-Rasyid," bisik Alex parau, suaranya yang rendah terdengar begitu membuai di pendengaran Keisha. "Padahal hari ini adalah hari besar pembukaan galeri impianmu. Apakah ratu kebanggaanku ini merasa gugup?"

Keisha menyandarkan punggungnya ke dada bidang Alex, menikmati kehangatan tubuh suaminya yang selalu berhasil meluluhkan seluruh sisa ketegangan di dalam dirinya. Jemari lentiknya meraba tangan Alex yang melingkar di pinggangnya, merasakan cincin pernikahan polos yang melingkar di jari manis pria itu.

"Aku tidak gugup sama sekali, Alexander," jawab Keisha lembut, bibirnya mengukir senyuman tipis yang manis. "Aku hanya merenungkan seberapa jauh perjalanan yang sudah kita lalui. Mengingat kembali saat pertama kali kita berdiri di ruangan ini dengan status sebagai orang asing yang terikat kontrak di atas kertas... rasanya seperti berada di dimensi kehidupan yang berbeda."

Alex mengecup lembut sisi leher Keisha, memberikan rasa aman yang selalu ia janjikan sejak hari-hari berat mereka terlewati. "Kontrak itu hanyalah cara takdir mempertemukan kita, Keisha. Dan aku bersyukur pada Tuhan setiap hari karena Kakek memaksamu menandatangani kertas itu waktu itu. Tanpa kontrak konyol itu, aku mungkin akan menjadi pria dingin yang mati rasa hingga akhir hayatku."

Keisha berbalik secara perlahan di dalam dekapan suaminya, lalu melingkarkan kedua tangannya ke leher Alex. Manik mata cokelatnya menatap lurus ke dalam manik mata hitam pria yang kini menjadi seluruh dunianya.

"Dan sekarang, kau bukan lagi pria dingin, Tuan Ar-Rasyid," goda Keisha dengan binar mata penuh jenaka. "Kau adalah suami yang manja, CEO yang posesif, dan... mitra bisnis yang terkadang terlalu keras kepala."

Alex terkekeh kecil—suara bariton rendah yang sangat merdu. Ia mengeratkan pelukannya, mengangkat tubuh Keisha sedikit hingga ujung kaki wanita itu hampir melayang dari lantai, membuat Keisha mengeluarkan pekikan tertahan yang disusul oleh tawa lepas.

"Keras kepala? Itu bukan keras kepala, Keisha. Itu adalah bentuk dedikasi mutlak untuk melindungi apa yang paling berharga di dunia ini," balas Alex dengan tatapan intens yang langsung membuat jantung Keisha berdegup kencang. "Dan kau adalah satu-satunya harta karun yang tidak akan pernah kubiarkan lepas dari sisiku."

Mereka berdua menyatukan bibir dalam sebuah ciuman pagi yang manis, hangat, dan penuh rasa syukur atas segala badai yang berhasil mereka taklukkan bersama.

Pukul sebelas siang, konvoi kendaraan hitam mewah milik keluarga Ar-Rasyid tiba di depan kawasan gedung galeri baru di kawasan Menteng. Begitu pintu mobil terbuka, kilat cahaya blitz dari puluhan kamera wartawan langsung menyambut kedatangan mereka. Para jurnalis media nasional dan internasional berdesakan di belakang barikade pengamanan, melontarkan berbagai pertanyaan antusias mengenai kolaborasi megah antara industri fesyen dan korporasi finansial tersebut.

Keisha melangkah keluar terlebih dahulu dengan anggun. Blazer panjang berwarna putih gading berpotongan klasik modern yang dipadukan dengan gaun rose gold di dalamnya memancarkan aura wibawa dan kreativitas yang luar biasa tinggi. Di sampingnya, Alexander berjalan tegap dalam balutan setelan jas hitam bespoke tanpa cela, tangannya dengan sigap dan penuh perlindungan merangkul pinggang istrinya dari kerumunan massa.

Di tangga utama gedung galeri, jajaran direksi Ar-Rasyid Group, para mitra bisnis internasional, serta Tuan Theodore Vance telah menunggu menyambut kedatangan mereka.

Theodore melangkah maju dengan senyuman lebar, mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Alexander, lalu beralih kepada Keisha.

"Selamat atas peresmian galeri mahakarya ini, Tuan dan Nyonya Ar-Rasyid," ucap Theodore dengan nada penuh kekaguman. "Saya harus akui, keputusan saya untuk berinvestasi di perusahaan kalian adalah keputusan terbaik dalam seluruh sejarah karier bisnis saya di Asia."

"Terima kasih atas kepercayaan dan dukungan Anda, Tuan Vance," jawab Keisha ramah namun tetap profesional. "Kami pastikan kerja sama ini akan membawa standar baru bagi industri kreatif global."

Setelah melalui sesi pemotretan resmi bersama para mitra strategis dan tamu kehormatan, Alexander dan Keisha memotong pita peresmian merah di pintu utama galeri, diiringi oleh tepuk tangan meriah dari seluruh tamu undangan yang memadati aula pameran utama.

Di dalam gedung galeri berlantai empat itu, para tamu disuguhkan oleh pemandangan yang menakjubkan. Lantai pertama menampilkan arsip sejarah perkembangan Azalea Label, mulai dari sketsa butik kecil di sudut kota hingga gaun-gaun haute couture pemenang penghargaan internasional. Lantai kedua dan ketiga menampilkan ruang galeri seni interaktif digital, sementara lantai paling atas adalah tempat perjamuan privat eksklusif dengan pemandangan cakrawala kota Jakarta yang membentang luas.

Keisha berjalan menyusuri koridor pameran sambil menjelaskan beberapa konsep desain gaun utamanya kepada beberapa kritikus fesyen asal Paris yang datang khusus untuk acara tersebut. Sementara itu, Alex berdiri di dekat jendela kaca besar lantai tiga, mengawasi setiap sudut ruangan dengan tatapan tajam namun tenang, memastikan semuanya berjalan sempurna.

Namun, di tengah kesibukan acara dan gelak tawa para tamu yang menikmati jamuan, mata Alex menangkap sesosok figur yang berdiri di dekat balkon luar ruangan pameran. Sosok itu mengenakan setelan jas abu-abu tua yang rapi, dengan rambut beruban dipotong pendek.

Itu adalah Raden Ar-Rasyid—kakek Alexander.

Pria sepuh yang selama ini dikenal sebagai sosok diktator keluarga yang keras, dingin, dan tidak pernah memuji siapa pun, kini berdiri dengan tongkat kayunya, menatap ke arah cucunya dan Keisha dengan senyuman tipis yang sangat jarang terlihat di wajahnya.

Alex berjalan perlahan mendekati kakeknya, meninggalkan kerumunan tamu sejenak. Ia berdiri di samping sang kakek, ikut menatap ke arah ruangan di bawah sana, di mana Keisha tengah tersenyum ramah berbincang dengan para investor asing.

"Kakek," sapa Alex pelan dengan nada hormat. "Kakek bilang tidak akan datang karena kondisi kesehatanmu di rumah peristirahatan."

Kakek Raden mendengus pelan, meskipun ada kilatan kebanggaan di balik manik mata tua yang mulai berkerut itu. "Bagaimana mungkin aku melewatkan hari di mana cucu kesayanganku dan cucu menantu yang paling keras kepala berhasil menaklukkan seluruh imperium keluarga tanpa menjatuhkan satu tetes darah pun?"

Alex tersenyum tipis, menatap lurus ke depan. "Semua ini berkat pelajaran dan ujian yang Kakek berikan di masa lalu. Termasuk kontrak pernikahan konyol itu."

Kakek Raden menoleh, menepuk pelan lengan cucunya dengan kepala tongkatnya. "Aku tahu apa yang aku lakukan sejak hari pertama, Alex. Aku melihat potensi yang tidak dimiliki oleh siapapun pada diri Keisha. Darah kepemimpinan dan integritas tidak selalu diwariskan lewat garis keturunan; ia dibentuk melalui badai."

Sang kakek menghela napas lega, lalu menepuk pundak Alex sekali lagi sebelum berbalik perlahan untuk meninggalkan balkon. "Pertahankan dia, Alex. Wanita seperti Keisha hanya lahir sekali dalam satu abad. Jika kau sampai membuatnya menangis lagi, aku sendiri yang akan mencopot jabatanmu sebagai CEO."

Alex hanya tersenyum kecil melihat kepergian kakeknya. Ia tahu betul bahwa di balik ancaman tua itu, Kakek Raden telah sepenuhnya menerima Keisha sebagai ratu sejati di dalam garis keturunan keluarga Ar-Rasyid.

Beberapa saat kemudian, Keisha berjalan menghampiri suaminya setelah selesai melayani wawancara singkat dengan awak media nasional. Ia sedikit merapikan kerah jas Alex dengan jemarinya, lalu mendongak menatap manik mata suaminya dengan ekspresi penasaran.

"Siapa yang baru saja berbicara denganmu? Kakek?" tanya Keisha.

Alex mengangguk, lalu merangkul pinggang istrinya dan menariknya mendekat ke sisinya, menikmati pemandangan sore hari kota Jakarta yang mulai menyalakan lampu-lampu kotanya dari ketinggian galeri. "Ya. Beliau baru saja memberikan restu mutlak... dan sedikit ancaman agar aku tidak membuatmu menangis."

Keisha tertawa kecil—suara renyah yang sangat disukai oleh Alex. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, meresapi setiap detik kebahagiaan yang kini sepenuhnya menjadi milik mereka.

"Kau tidak perlu khawatir, Tuan Ar-Rasyid," bisik Keisha lembut, manik matanya memantulkan kilau ribuan lampu kota di bawah sana. "Karena aku tidak berencana pergi ke mana pun. Dunia kita baru saja dimulai di sini."

Alex mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan dan rasa memiliki yang utuh. Di bawah kubah langit sore ibu kota yang tenang, badai masa lalu telah sepenuhnya musnah, digantikan oleh fajar abadi dari sebuah kisah cinta sejati yang dibangun di atas reruntuhan intrik, ketulusan, dan kemenangan yang diraih bersama-sama.

1
Exo L
kakk tulisannya, fashion gak sih?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!