Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 20
Bab 20: Kehangatan di Domain Sunyi, Rahasia Sang Nona Suci, dan Badai Perang di Kerajaan
Di atas hamparan ruang dimensi yang terisolasi dari garisan takdir dunia mortal, berdiri sebuah istana pualam putih yang dikelilingi oleh padang rumput perak dan pepohonan es murni. Domain Suci Tersembunyi yang diciptakan khusus oleh Anastasia (Anya) memancarkan aura ketenangan yang abadi. Di sini, tidak ada bisik-bisik intrik politik bangsawan, tidak ada ancaman dari para Dewa, dan tidak ada riak pertempuran yang sanggup menyentuh ketenangan sang Nona Suci Elf.
Anya duduk anggun di atas kursi rotan berhiaskan bantalan sutra halus di balkon istana. Pakaian gaun putih longgar yang dikenakannya melambai pelan diterpa angin buatan yang sejuk. Jemari lentiknya yang hangat melingkar lembut di atas perutnya yang kini telah tampak membuncit indah—memasuki usia kandungan empat bulan.
Di sampingnya, Elina, pelayan setia ras Elf yang telah menemaninya sejak ratusan tahun lalu, dengan penuh kehati-hatian meletakkan sepinggan buah kristal es yang dipetik dari sudut dimensi.
"Nona Suci..." panggil Elina dengan suara penuh kehangatan seraya menuangkan teh herbal penghangat rahim ke dalam cangkir pualam. "Suhu udara hari ini sengaja hamba sesuaikan agar tidak terlalu dingin untuk kesehatan janin kembar Anda. Bagaimana perasaan Anda pagi ini?"
Anya menyunggingkan senyuman paling hangat dan lembut yang pernah ada di paras cantiknya. Sepasang mata perak-kebiruannya berbinar penuh kasih sayang saat ia mengelus perutnya yang membuncit.
"Aku merasa sangat baik, Elina..." bisik Anya dengan nada suara yang begitu anggun. "Dua si kecil di dalam sini... mereka sangat aktif pagi ini. Aku bisa merasakan pendar sihir suci dan energi keperakan mereka yang saling melengkapi dengan begitu harmonis."
Anya menyesap teh herbalnya perlahan, lalu menatap hamparan padang perak di hadapannya. Kerinduan yang mendalam kembali merayap di dalam dadanya. Ia merindukan sosok pemuda berambut perak yang kini tengah berjalan jauh di benua asing di balik samudra.
"Elina..." panggil Anya pelan.
"Iya, Nona?"
Anya memejamkan matanya sejenak, mengulurkan tangan kanannya ke udara terbuka. "Tolong berikan aku ruang sebentar... Aku ingin 'bertemu' dengannya."
Elina tersenyum memahami, lalu membungkuk hormat dengan penuh khidmat. "Baik, Nona Suci. Hamba akan berada di dapur dimensi untuk menyiap kan hidangan selanjutnya."
Setelah Elina melangkah mundur dan meninggalkan balkon, Anya memusatkan aliran sihir jiwa dan memori murni dari Inti Suci miliknya.
FLASH-SPARKLE...
Partikel-partikel cahaya perak bercampur pendar es murni berkumpul di hadapan Anya, membentuk sebuah siluet tubuh tegap manusia. Dalam hitungan detik, cahaya itu memadat sempurna, menampilkan wujud proyeksi sihir Ilusi Jiwa dari Wiliam Pendragon!
Proyeksi Wiliam itu tampak sangat nyata—dengan rambut perak sebatas pundaknya, mata kelabu absolut yang memancarkan kehangatan, serta guratan emas di bawah matanya. Proyeksi ilusi itu melangkah mendekat, berlutut di hadapan kursi Anya, lalu perlahan-lahan meletakkan telapak tangannya di atas tangan Anya yang memeluk perut.
Meskipun Wiliam ini hanyalah manifestasi dari memori dan sihir ilusi buatan Anya sendiri, sentuhan dan pendar energinya terasa begitu nyata bagi sanubari sang Nona Suci.
"Wiliam..." bisik Anya dengan air mata kerinduan yang menggenang di sudut matanya. Ia menundukkan kepalanya, menempelkan dahinya pada dahi proyeksi ilusi tersebut.
"Aku sangat merindukanmu, Sayang..." kata Anya dengan suara gemetaran. "Lihatlah... anak-anak kita semakin membesar di dalam sini. Setiap kali mereka bergerak, aku selalu membayangkan betapa bahagianya dirimu jika kau berdiri di sisiku saat ini, memelukku dan mengusap perutku dengan tangan hangatmu."
Proyeksi Wiliam mengulas senyuman lembut—sesuai dengan memori terindah yang disimpan Anya di dalam hatinya. "Aku selalu berada di sisimu, Anya... Di dalam setiap helai napasmu dan di dalam darah yang mengalir pada buah hati kita."
Anya tertawa kecil di tengah derai air mata bahagianya. Ia merengkuh leher proyeksi ilusi itu, menyandarkan kepalanya di dada keperakan ilusi Wiliam, menikmati ilusi kehangatan yang menyembuhkan dahaga rindunya.
Sementara Anya menikmati masa-masa kehamilannya dalam kedamaian domain tersembunyi, di luar sana—di dalam struktur kepemimpinan Ras Elf di Hutan Abadi—kekacauan diplomasi sedang terjadi.
Nona Suci Anastasia yang merupakan pelindung tertinggi ras Elf mendadak menghilang tanpa jejak dari kuil utama. Dewan Tetua Elf berkali-kali mengirim utusan ke seluruh penjuru benua, mempertanyakan ke mana perginya sang Nona Suci. Namun, tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya.
Kehamilan dan pengasingan Anya benar-benar dijaga sebagai rahasia mutlak. Hanya ada lima entitas di seluruh dunia yang mengetahui rahasia besar ini: Anya sendiri, Elina sang pelayan setia, serta Tiga Pilar Terkuat—Alistair, Trigger, dan Solaria.
Anya bahkan secara tegas memutuskan untuk merahasiakan kehamilannya dari Keluarga Pendragon. Bagi Anya, jika Keluarga Pendragon mengetahui bahwa Wiliam meninggalkan keturunan kembar sebelum "kematiannya", hal itu dapat memicu kecurigaan faksi musuh dan membahayakan keselamatan bayi mereka yang belum lahir dari intrik Kerajaan.
SWOOSH! SWOOSH! SWOOSH!
Mendadak, tiga riak gelombang dimensi terbuka lebar di ruang tengah istana pualam Anya. Tiga sosok penguasa benua melangkah keluar dari retakan sihir tersebut untuk menjenguk sang Nona Suci.
Alistair melangkah paling depan seraya memegang tongkat astrologinya, disusul oleh Trigger yang membawa sebuah peti kayu berukir emas, dan Solaria yang tampil anggun dengan gaun merah keemasannya.
"Oho... Selamat pagi, Nona Suci yang sedang mengandung~" sapa Solaria dengan nada godaan khasnya seraya melangkah mendekati balkon.
Proyeksi ilusi Wiliam seketika memudar menjadi partikel cahaya begitu Alistair dan yang lainnya hadir. Anya menyeka air matanya, tersenyum menyambut ketiga rekannya.
"Selamat datang, Tuan Alistair, Tuan Trigger, Nona Solaria..." ucap Anya seraya perlahan berdiri menopang punggung bawahnya.
"Jangan terlalu banyak bergerak, Nona Anastasia," cegah Alistair dengan raut wajah penuh kearifan seraya mengibaskan tangannya, memicu bantalan sihir angin untuk menopang tubuh Anya agar kembali duduk rileks. "Bagaimana kondisi perkembangan janin kembar di dalam rahimmu?"
Anya tersenyum hangat, mengelus perutnya. "Mereka sangat sehat, Tuan Alistair. Terima kasih atas perhatian kalian."
Trigger meletakkan peti kayu berukir emas di atas meja, lalu membukanya. Di dalamnya terhampar belasan buah Darah Naga Purba dan Kristal Jiwa Bintang yang memancarkan pendar energi murni.
"Ini hadiah dari kami bertiga," kata Trigger seraya terkekeh bangga, menepuk dada raksasanya. "Buah-buahan ini dipetik langsung dari puncak Pegunungan Naga oleh Solaria, dan kristal bintang ini dimurnikan oleh Alistair. Semuanya sangat bagus untuk memperkuat fondasi tulang dan jaringan mana kedua calon keponakan kami di dalam perutmu!"
Anya tertegun, matanya berkilat haru. "Tuan Trigger... Nona Solaria... ini terlalu berharga..."
"Hmph! Jangan sungkan, Anya," sahut Solaria seraya menyilangkan tangan di bawah dadanya yang membusung, lalu duduk di kursi sebelah Anya dan memandangi perut buncit sang Elf dengan binar ketertarikan. "Anak-anak di dalam perutmu itu adalah benih dari gabungan Demigod, Iblis, dan Elf Suci. Mereka adalah pusaka masa depan dunia ini. Aku bahkan tidak sabar ingin melihat betapa cantiknya dan kuatnya mereka saat lahir nanti!"
Solaria kemudian mendekatkan telinganya ke perut Anya, mendengarkan denyut kehidupan bayi kembar tersebut. "Apalagi jika mereka mewarisi wajah tampan ayahnya yang menyebalkan itu~"
Anya tertawa halus melihat kelakuan Ratu Naga tersebut. "Terima kasih banyak atas dukungan kalian bertiga. Tanpa bantuan kalian menciptakan penutup dimensi ini, aku tidak tahu bagaimana harus menyembunyikan kondisi ini dari Dewan Tetua Elf dan dunia luar."
Alistair mengelus janggut putihnya, menatap Anya dengan pandangan serius. "Dewan Tetua Elf terus mendesakku mencari keberadaanmu, namun aku telah memberi tahu mereka bahwa kau sedang berada dalam 'Meditasi Tertutup Penyucian Jiwa' selama beberapa tahun ke depan. Mereka tidak akan berani mengganggu pengasinganmu."
Namun, di tengah suasana kehangatan menjenguk sang calon ibu, momen unik mendadak terjadi.
GURUUUUU...
Suara perut keroncongan yang cukup nyaring mendadak terdengar dari perut Anastasia! Rona merah padam seketika membakar seluruh paras cantik Nona Suci Elf yang biasanya selalu tampil dingin dan anggun tersebut!
Solaria, Trigger, dan Alistair seketika terperanjat, lalu saling pandang sebelum akhirnya tawa membahana meletus dari mulut Trigger dan Solaria!
"HAHAHAHA! Nona Suci kita rupanya sedang lapar!" gelak Trigger terbahak-bahak.
Pada saat yang bersamaan, Elina sang pelayan setia berlari masuk dari arah dapur dengan wajah yang tampak sangat amat pasrah dan lelah. Rambut Elina berantakan, dan pakaian pelayannya sedikit bernoda tepung.
"N-Nona Suci...!" ratap Elina seraya mengusap dahi berkeratnya. "Hamba mohon... jangan bilang Anda menginginkan makanan yang aneh-aneh lagi pagi ini!"
Anya mempoutkan bibirnya dengan sangat imut, menunduk malu seraya memainkan jemarinya. "E-Elina... aku... aku mendadak sangat ingin memakan Daging Ikan Salju Abadi dipanggang dengan Saus Madu Bunga Api..."
Elina hampir saja jatuh pingsan mendengar permintaan tersebut! "Nona Suci! Ikan Salju Abadi hanya hidup di dasar Danau Beku Pegunungan Utara, sedangkan Bunga Api hanya mekar di kawah Gunung Berapi Selatan! Dua tempat itu berseberangan ribuan kilometer di luar dimensi ini! Hamba sudah tiga kali keluar-masuk dimensi minggu ini hanya untuk mencari buah-buahan aneh yang Anda idamkan!"
Solaria tertawa semakin kencang hingga memegang perutnya. "Oho! Rupanya bawaan mengidam bayi kembar Wiliam benar-benar membuat pelayanmu kewalahan!"
Trigger menepuk dadanya mantap. "Biar aku saja yang melesat mengambilkan Ikan Salju Abadi dan Bunga Api itu, Elina! Kasihan pelayan setia ini bisa pingsan karena kelelahan melayani rasa mengidam Nona Suci!"
"Terima kasih banyak, Tuan Trigger..." desah Elina penuh rasa syukur seraya membungkuk dalam-dalam.
Sementara Anastasia menikmati kedamaian dan kehangatan kehamilannya di dalam domain tersembunyi, dunia di luar sana—khususnya di Kerajaan Manusia—sedang dilanda oleh badai gejolak darah dan pertempuran yang hebat.
Pasca pengumuman gugurnya Wiliam Pendragon, Sekte Pemuja Iblis menganggap bahwa ancaman terbesar mereka di Kerajaan telah musnah. Faksi-faksi kegelapan yang tadinya bersembunyi di balik bayang-bayang kini mulai secara terang-terangan melancarkan serangan gerilya dan invasi teror di berbagai kota distrik Kerajaan!
Kota-kota perbatasan dibakar, benteng-benteng pertahanan diserang oleh gelombang monster buas yang dikendalikan oleh sihir hitam, dan rakyat hidup di dalam ketakutan akan teror iblis.
Melihat krisis keamanan Kerajaan yang semakin memburuk, Raja Kerajaan mengambil tindakan tegas dan radikal dalam dewan militer tertinggi.
Di dalam Ruang Takhta Keagungan Istana Kerajaan...
Raja berdiri dari takhtanya, memegang Pedang Komando Kerajaan, menatap lurus ke arah sosok pria paruh baya bertubuh tegap yang berdiri berlutut di tengah aula.
Julius Pendragon—ayah kandung Wiliam—kini mengenakan zirah besi hitam berukir naga perak. Penyesalan atas kematian anak bungsunya telah bertransformasi menjadi tekad keadilan yang membara di dalam jiwa dan raga Julius.
"Julius Pendragon!" seru Raja dengan suara menggelegar. "Atas nama tatanan Kerajaan dan jasa besar keluargamu, dengan ini aku mengangkatmu secara resmi menjadi Panglima Tempur Kerajaan (Grand Marshal of the Realm)!"
Raja menyerahkan Tongkat Komando Tertinggi kepada Julius. "Aku menugaskan Keluarga Pendragon sebagai Keluarga Utama Penanggung Jawab Keamanan dan Pertahanan Kerajaan! Bantai setiap anggota Sekte Pemuja Iblis yang berani menumpahkan darah rakyat kita!"
Julius menerima Tongkat Komando tersebut, mengepalkan tangannya di dada dengan mata berkilat tekad baja. "Hamba menerima tugas suci ini, Yang Mulia! Selama darah Pendragon masih mengalir di dalam dada kami, tidak akan ada satu pun iblis atau pengkhianat yang sanggup meruntuhkan Kerajaan ini!"
Di bawah kepemimpinan baru Julius Pendragon sebagai Panglima Tempur, struktur militer Kerajaan mengalami reformasi total. Keluarga Pendragon diangkat menjadi faksi keamanan utama, memimpin barisan ksatria terdepan untuk menggempur markas-markas Sekte Pemuja Iblis.
Di medan pertempuran garis depan—di Lembah Tengkorak Berdarah...
BOOM! BOOM! CRASH!
Suara ledakan sihir dan dentangan pedang memecah keheningan lembah. Ratusan anggota Sekte Pemuja Iblis berpakaian jubah hitam berdarah mengamuk, melancarkan gelombang petir hitam dan mayat hidup ke arah barisan Ksatria Kerajaan.
"Bantai para Ksatria Kerajaan itu! Persembahkan darah mereka untuk Dewa Iblis!" teriak seorang Uskup Iblis bertangan empat.
Namun, dari arah bukit, sesosok pemuda bersirah besi perak melesat turun bagaikan meteor jatuh!
SWOOSH-BANG!
Hector Pendragon—kakak kedua Wiliam yang kini telah berada di kelas akhir dan menjadi komandan pasukan elit—mendarat keras di tengah-tengah barisan iblis, menciptakan kawah ledakan tanah sejauh lima puluh meter!
Hawa aura tempur yang sangat dahsyat meletus dari tubuh Hector! Di tangannya, ia menggenggam dua pedang besar berukir runik petir emas.
Tekanan mana di sekeliling Hector berguncang hebat—menandakan bahwa tingkat kekuatannya kini telah menembus Level 13 Puncak (Grandmaster Rank)!
"Iblis-iblis bajingan!" teriak Hector dengan suara menggelegar, matanya memancarkan pendar pembantaian yang mirip dengan aura Wiliam di masa lalu. "Kalian yang telah menyebabkan penderitaan di dunia ini... Aku akan memusnahkan kalian sampai ke akar-akarnya!"
SLASH! SLASH! SLASH!
Hector bergerak bagaikan badai petir yang mengamuk! Dua pedang besarnya menebas udara dengan kecepatan dahsyat, memotong tubuh belasan penyihir iblis dan monster raksasa menjadi potongan daging dalam hitungan detik!
Seorang Uskup Iblis Level 12 melompat maju, mengayunkan tongkat tengkoraknya untuk menembakkan gelombang api hitam ke dada Hector. "Mati kau, Bocah Pendragon!"
Hector tidak menghindar sedikit pun. Dengan ketahanan fisik hasil latihan matinya, Hector menahan hantaman api hitam tersebut dengan zirah dan aura petirnya, lalu melesat menembus kobaran api dan mencengkeram leher Uskup Iblis itu kencang-kencang!
CRUSH!
"Guaaakh!" Uskup Iblis itu tercekik lemas, matanya membelalak ketakutan melihat raut wajah Hector yang begitu dingin dan tanpa ampun.
"Sampaikan pada raja iblis kalian di neraka..." bisik Hector dengan suara berat mendesis di telinga Uskup tersebut, "...bahwa Hector Pendragon adalah pedang yang akan menghancurkan setiap dari kalian demi menggantikan adikku!"
CRACK!
Dengan satu remasan tangan yang dipenuhi sihir petir, Hector mematahkan leher Uskup Iblis tersebut dan melemparkan mayatnya ke tanah!
Para Ksatria Kerajaan bersorak sorai melihat kehebatan Komandan Hector. Di bawah tempaan duka akan gugurnya Wiliam, Hector telah menjelma menjadi salah satu pahlawan perang paling ditakuti oleh Sekte Pemuja Iblis di garis depan!
Sementara Hector mengamuk di garis depan medan pertempuran Kerajaan, anak tertua Keluarga Pendragon—Julius Jr.—melanjutkan perjalanannya di tempat lain.
Mengenakan jubah penjelajah kelam dan membawa tombak angin purba di punggungnya, Julius Jr. menyeberangi pegunungan, lembah, dan kota-kota terasing di seluruh benua manusia. Di setiap kota dan desa yang disinggahinya, Julius Jr. membantu rakyat yang tertindas, membasmi sarang monster, dan secara konsisten menyebarkan kisah keagungan Wiliam Pendragon.
Di sebuah kedai kota perbatasan yang bising...
Julius Jr. duduk di tepi meja kayu, meminum cangkir tehnya seraya mendengarkan para petualang membicarakan kisah Hantu Bertopeng.
"Kalian tahu?" ucap Julius Jr. seraya berdiri, menatap para petualang di kedai dengan mata tegas. "Pemuda yang kalian sebut iblis dan mati disambar petir itu... Wiliam Pendragon... Dialah yang bertarung sendirian di dalam kegelapan agar kota-kota kalian tidak dihancurkan oleh Sekte Pemuja Iblis! Dia adalah pahlawan sejati benua ini!"
Suara Julius Jr. yang menggema di berbagai pelosok benua perlahan-lahan mengubah persepsi masyarakat, mengabadikan nama Wiliam sebagai legenda keadilan yang tak terhapuskan.
Di Akademi Sihir Kerajaan, perkembangan pesat juga terjadi pada dua sahabat terbaik Wiliam—Leo dan Reno.
Rasa sakit dan kehilangan atas meninggalnya Wiliam telah membakar semangat berlatih kedua pemuda tersebut hingga ke batas maksimal. Mereka tidak lagi membuang waktu untuk bersantai atau bersenang-senang. Hari-hari mereka diisi oleh latihan pertarungan hidup dan mati di dalam ruang simulasi sihir Akademi.
Di lapangan pertempuran utama Akademi Sihir...
CRASH! BOOM!
Leo—yang kini bertubuh lebih tegap dengan zirah pelindung tanah—mengayunkan kapak raksasanya, memicu dinding gumpalan batu purba yang meruntuhkan formasi seratus boneka penyihir simulasi!
Di sampingnya, Reno melesat bagaikan bayangan, mengayunkan dua belati angin murninya dengan kecepatan luar biasa, memotong inti simulasi musuh satu per satu secara presisi!
Pendar aura mana meletus dari tubuh Leo dan Reno secara bersamaan—memancarkan tekanan Level 9 Puncak (Master Rank)!
"Luar biasa...!" seru para siswa akademi tingkat bawah yang menonton dari tribun dengan tatapan penuh kekaguman.
"Leo dan Reno dari angkatan khusus... mereka berdua benar-benar telah mencapai Level 9!"
"Mereka adalah murid berprestasi nomor satu dan dua di seluruh angkatan Akademi saat ini!"
Leo mendaratkan kapak raksasanya ke tanah, menyapu keringat di dahinya seraya mendongak menatap langit sore yang kemerahan.
Reno melangkah ke samping Leo, menyarungkan dua belatinya. "Kita makin kuat, Leo... Kita sudah mencapai Level 9."
Leo tersenyum pahit, menatap kepalan tangannya yang kasar. "Ya... tapi rasanya masih sangat jauh jika dibandingkan dengan si bodoh Wiliam itu. Saat dia seusia kita, dia sudah bertarung melawan monster level tinggi..."
Reno merangkul bahu Leo, tersenyum dengan tekad bulat. "Sebab itulah kita tidak boleh berhenti di sini, Sahabat. Pendaftaran pasukan keamanan Kerajaan di bawah kepemimpinan Panglima Julius Pendragon sudah dibuka untuk lulusan Akademi. Setelah kelulusan bulan depan... kita akan bergabung ke garis depan untuk bertarung bersama Keluarga Pendragon!"
"Tentu saja!" seru Leo seraya meninju udara. "Kita akan membuktikan pada Wiliam di surga... bahwa dua sahabatnya ini tidak pernah menjadi beban!"
Malam harinya, kembali ke Domain Suci Tersembunyi...
Anastasia duduk bersandar di pembaringan indahnya. Ruangan peraduan dipenuhi oleh keharuman bunga es dan kehangatan lilin sihir.
Elina merapikan selimut sutra di atas tubuh Anya, lalu mengelus lembut perut membuncit sang Nona Suci. "Selamat tidur, Nona Anastasia. Tuan Trigger sudah membawakan Ikan Salju Abadi dan Bunga Api yang Anda idamkan tadi, dan bahan-bahannya sudah hamba simpan dengan baik untuk esok hari."
Anya tertawa pelan, mengangguk anggun. "Terima kasih banyak, Elina... Maafkan aku yang selalu merepotkanmu dan Tuan Trigger."
"Itu adalah kehormatan bagi hamba, Nona," jawab Elina seraya tersenyum hangat, membungkuk hormat lalu melangkah keluar kamar dan memadamkan lilin sihir utama.
Di dalam kegelapan kamar yang tenang, dipayungi pendar lembut bintang-bintang dimensi di luar jendela, Anya meletakkan kedua telapak tangannya di atas perutnya.
Ia memejamkan matanya, merasakan dua denyut kehidupan kecil yang saling menyatu hangat di dalam rahimnya.
"Selamat malam, anak-anakku..." bisik Anya dengan kehangatan cinta seorang ibu yang membuncah di dalam dadanya.
"Di luar sana, ayah kalian sedang menembus lautan dan dunia baru... Paman Hector, Kakek Julius, dan sahabat-sahabat ayah kalian sedang bertarung mempertahankan kedamaian dunia... Dan di sini, ibu akan selalu menjaga kalian berdua..."
Anya tersenyum manis dalam tidurnya, memeluk perutnya erat-erat, menantikan ketibaannya hari di mana keluarga kecil mereka dapat berkumpul kembali di bawah naungan takdir yang utuh.