"Semua orang bilang dia dingin, kejam, dan tak tersentuh. Tapi hanya aku yang tahu — di balik tatapan dingin itu, tersembunyi hati yang paling lembut dan paling setia."
Su Yi, gadis sederhana yang tiba-tiba dijodohkan dengan pria paling ditakuti, paling kaya, dan paling dingin di kota — Mo Han, CEO Grup Mo yang kekuasaannya merentang ke seluruh negeri. Semua orang kasihan padanya, mengira dia hanya akan menjadi istri piala yang dibuang kapan saja. Namun tak ada yang tahu... Mo Han sudah menunggunya selama sepuluh tahun.
Di balik perjodohan yang dipaksakan itu, tersembunyi cinta yang tak pernah terucap, rahasia masa lalu, dan bahaya yang perlahan mendekat. Saat Su Yi perlahan melihat sisi lain pria itu, hatinya mulai bergetar. Tapi saat dia mulai jatuh cinta... rahasia besar itu mulai terungkap.
Apakah perjodohan ini akan menjadi neraka selamanya? Atau justru menjadi awal dari cinta yang paling indah dan paling abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arman A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 — Tamu Tak Diundang
Bel pintu itu masih berdenting, suaranya tajam dan berulang, memecah keheningan pagi yang damai di kediaman itu. Su Yi tersentak, tangannya yang memegang sendok berhenti di udara, menatap pintu depan dengan rasa cemas yang tiba-tiba menyergap dadanya. Ia menoleh kembali ke arah Mo Han, dan saat itu, ia melihat perubahan yang luar biasa — tatapan lembut yang tadi sempat ia lihat di mata pria itu lenyap seketika, digantikan oleh tatapan yang dingin, tajam, dan penuh kewaspadaan yang begitu kuat hingga membuat udara di ruangan itu terasa menurun drastis suhunya.
Mo Han berdiri perlahan, tanpa suara, namun setiap gerakannya memancarkan kekuatan dan kekuasaan yang tak tertandingi. Ia menatap ke arah pintu depan sebentar, lalu menoleh kembali ke Su Yi, suaranya rendah namun tegas, penuh peringatan yang tak bisa ditawar.
"Tetap di sini. Jangan ke mana-mana. Jangan membuka pintu untuk siapa pun, bahkan jika mereka menyebut nama keluarga kita. Tunggu aku kembali."
Tanpa menunggu jawaban, ia berbalik dan berjalan menuju pintu depan dengan langkah yang tenang namun cepat, seakan ia sudah siap menghadapi apa pun yang menantinya di luar sana. Su Yi duduk diam di kursinya, jantungnya berdebar kencang tanpa alasan yang jelas. Ia ingin berdiri dan mengikutinya, namun kata-kata Mo Han tadi membuatnya terpaku di tempat — ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuatnya tahu bahwa ia harus menuruti permintaan itu.
Dari tempat duduknya, ia bisa melihat pintu depan terbuka perlahan, dan sosok Mo Han berdiri di ambang pintu, menutupi sebagian cahaya matahari pagi yang terang. Di luar sana, berdiri dua orang pria berpakaian rapi namun wajah mereka tampak sombong dan penuh kesombongan, berdiri dengan sikap seakan mereka adalah pemilik tempat itu. Di belakang mereka, terlihat mobil mewah berwarna hitam yang sama persis dengan mobil keluarga Mo, namun plat nomornya berbeda — plat nomor yang menunjukkan kedudukan tinggi di kota itu.
"Kakak laki-laki dan Istrinya." Su Yi membisikkan pelan, menyadari siapa yang datang. Ia pernah mendengar tentang mereka — Mo Chen, kakak laki-laki Mo Han yang selalu iri padanya, dan istrinya, Wan Ling, wanita yang dikenal karena sifatnya yang angkuh dan selalu merasa lebih tinggi dari orang lain. Mereka tidak pernah menyukai Mo Han, dan kedatangan mereka tanpa pemberitahuan di pagi hari ini jelas bukan hal yang baik.
"Kau terlambat membuka pintu, Adikku." Suara Mo Chen terdengar keras dan penuh sindiran, bahkan sebelum ia melangkah masuk. "Apakah kau sedang sibuk dengan urusan pribadimu sehingga melupakan tugasmu sebagai anggota keluarga?"
Mo Han tidak menjawab. Ia hanya berdiri diam di ambang pintu, tatapannya dingin dan datar, menatap kakaknya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa hormat maupun takut. "Kalian datang tanpa diundang. Apa tujuan kalian di pagi hari ini?"
Wan Ling tertawa pelan, suara tawanya terdengar tajam dan penuh ejekan. "Kakak ipar, kau bicara seakan ini bukan rumah keluargamu sendiri. Padahal rumah ini... seharusnya milik suamiku, bukan milikmu. Tapi sudahlah, kami tidak datang untuk berdebat. Kami datang untuk melihat siapa wanita yang berani menikah denganmu tanpa persetujuan keluarga."
Mereka berdua melangkah masuk tanpa diundang, berjalan melewati Mo Han seakan ia tidak ada di sana, dan matanya langsung menyapu seluruh ruangan hingga akhirnya jatuh pada Su Yi yang masih duduk di meja makan. Tatapan mereka berdua penuh dengan penghakiman, rasa tidak suka, dan merendahkan — tatapan yang membuat Su Yi merasa kecil dan tidak berharga dalam sekejap mata.
"Jadi ini dia wanita yang kau pilih?" Wan Ling berkata dengan nada kecewa sekaligus menghina, berjalan mendekati meja makan dan berdiri di hadapan Su Yi tanpa menyapanya sedikit pun. "Biasa saja. Bahkan kurang dari biasa. Apa yang istimewa darinya sehingga kau berani menikah tanpa persetujuan keluarga? Keluarga kami membutuhkan pernikahan yang menguntungkan, bukan gadis tidak jelas seperti dia."
Su Yi merasa panas di wajahnya, rasa malu dan marah bercampur menjadi satu di dadanya. Ia ingin berdiri dan membela dirinya, namun ia tahu posisinya — ia memang berasal dari keluarga biasa, dan ia tidak bisa menyangkal hal itu. Namun sebelum ia sempat berkata apa pun, sebuah tangan hangat diletakkan di bahunya dengan lembut namun tegas, dan sosok Mo Han berdiri di sampingnya, menghadapi kedua tamu itu dengan tatapan yang begitu dingin dan mengerikan hingga membuat Mo Chen dan Wan Ling mundur selangkah tanpa sadar.
"Hati-hati dengan kata-kata kalian." Suara Mo Han rendah namun penuh ancaman yang nyata, setiap kata diucapkan dengan tegas dan berat. "Dia adalah istriku. Dan dia adalah nyonya rumah ini. Siapa pun yang berani menghinanya... berarti menghinaku. Dan aku tidak akan memaafkan itu, bahkan jika kalian adalah keluargaku sendiri."
Wajah Mo Chen memerah karena marah. Ia menunjuk ke arah Mo Han dengan jari gemetar. "Kau berani bicara seperti itu padaku? Aku kakak laki-lakimu! Dan aku mewakili keluarga besar Mo! Pernikahan ini tidak sah! Kau tidak boleh menikah tanpa persetujuan dewan keluarga! Dan gadis ini... dia tidak pantas menjadi bagian dari keluarga kita!"
"Pernikahan ini sudah sah menurut hukum." Mo Han menjawab tanpa bergeming, tangannya tetap berada di bahu Su Yi, seakan memberinya kekuatan dan perlindungan. "Dan keputusan ada di tanganku, bukan di tangan kalian. Aku yang menjadi kepala keluarga sekarang, bukan kalian. Jika kalian datang hanya untuk menghina istriku... silakan keluar sekarang juga. Rumah ini tidak menerima tamu yang tidak sopan."
Wan Ling tertawa sinis, matanya melirik ke arah Su Yi dengan tatapan penuh kebencian. "Lihatlah, sudah mulai membela istrinya. Tapi jangan terlalu percaya diri, Adikku. Dewan keluarga tidak akan membiarkan ini terjadi. Mereka akan menuntut pembatalan pernikahan ini. Dan saat itu terjadi... gadis ini akan dibuang seperti sampah. Lebih baik kau pergi sendiri sekarang sebelum kami membuatnya malu lebih dari ini."
Su Yi merasakan genggaman tangan Mo Han di bahunya mengerat sedikit, menunjukkan betapa marahnya pria itu, namun suaranya tetap tenang dan terkendali. "Kalian boleh pergi sekarang. Dan sampaikan pada dewan keluarga — keputusanku sudah bulat. Su Yi adalah istriku, dan tidak ada yang bisa memisahkan kami, bahkan seluruh keluarga Mo sekalipun. Jika kalian ingin mencoba... silakan. Tapi ingatlah — konsekuensinya akan menjadi tanggung jawab kalian sendiri."
Mo Chen menatapnya dengan tatapan penuh ancaman. "Kau akan menyesalinya, Mo Han. Kau akan menyesal telah memilih wanita ini daripada keluargamu. Dan saat kau jatuh... jangan harap kami akan menolongmu."
Dengan kata-kata itu, Mo Chen berbalik dan berjalan keluar dengan langkah berat, diikuti oleh Wan Ling yang sebelum pergi sempat menatap Su Yi dengan tatapan penuh ancaman dan kebencian yang mendalam. Pintu depan tertutup keras di belakang mereka, dan keheningan kembali menyelimuti ruangan itu — namun kali ini keheningan yang penuh dengan ketegangan yang baru saja berlalu.
Su Yi menghela napas panjang, merasakan bahunya yang masih terasa hangat karena sentuhan tangan Mo Han. Ia mendongak perlahan menatap pria di sampingnya, dan melihat wajah pria itu yang tampak lelah namun tetap teguh dan kuat.
"Maafkan aku." Su Yi berkata pelan, air mata hampir jatuh dari matanya. "Karena aku... kau bertengkar dengan keluargamu. Dan karena aku... keluargamu tidak menyukaimu. Mungkin... mungkin mereka benar. Mungkin aku memang bukan orang yang tepat untukmu."
Mo Han berlutut perlahan di hadapannya, sehingga wajah mereka berada pada ketinggian yang sama. Ia memegang kedua tangan Su Yi dengan lembut, menatapnya dengan tatapan yang begitu lembut dan tulus, jauh berbeda dengan tatapan dingin yang tadi ia tunjukkan kepada kakaknya.
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi, Yi. Jangan pernah berpikir bahwa kau penyebab masalahku. Justru sebaliknya — kehadiranmu di sini adalah hal terbaik yang pernah terjadi dalam hidupku. Pertengkaran dengan mereka... itu bukan karena kau. Itu sudah terjadi sejak lama, jauh sebelum kita bertemu kembali. Mereka hanya mencari alasan, dan pernikahan kita... hanya alasan yang mereka butuhkan."
Ia mengusap punggung tangan Su Yi dengan lembut, suaranya penuh dengan keyakinan yang tak tergoyahkan. "Dan satu hal lagi — kau bukan beban bagiku. Kau adalah rumahku. Tempat di mana aku pulang. Dan tidak ada siapa pun, tidak ada keluarga, tidak ada kekuasaan, yang lebih penting darimu. Tidak ada yang bisa menggantikan posisimu di sisiku."
Su Yi menatapnya, air mata yang tadi hampir jatuh kini berhenti di pelupuk matanya, digantikan oleh rasa hangat yang memenuhi dadanya. Kata-kata itu begitu sederhana namun begitu kuat, begitu tulus, hingga membuatnya merasa bahwa ia bisa menghadapi apa pun selama ia berada di samping pria ini.
"Tapi mereka tidak akan berhenti." Su Yi berkata pelan, menyadari bahaya yang sedang mendekat. "Mereka akan kembali, dan kali ini mungkin dengan cara yang lebih buruk. Aku tidak ingin kau terluka karena aku."
Mo Han tersenyum tipis — senyum yang pertama kalinya dilihat Su Yi, senyum yang begitu hangat dan menenangkan, seakan matahari pagi baru saja bersinar di dalam ruangan itu. "Biarkan mereka datang. Selama aku bernapas... tidak ada yang boleh menyakitimu. Dan jika mereka berani menyentuhmu... mereka akan menghadapiku. Aku telah menunggu sepuluh tahun untuk bisa melindungimu, Yi. Aku tidak akan membiarkan siapa pun merusaknya dalam sekejap mata."
Ia berdiri perlahan, lalu menarik Su Yi berdiri bersamanya, menatapnya dengan lembut. "Makanlah dulu. Sarapanmu sudah dingin. Setelah itu... aku akan mengantarmu ke satu tempat. Tempat yang mungkin bisa membantumu mengingat sesuatu. Tempat di mana semuanya bermula."
Su Yi menatapnya dengan mata yang melebar penuh harapan dan kerinduan. "Tempat di mana semuanya bermula?"
Mo Han mengangguk pelan, tatapannya dalam dan penuh makna. "Ya. Ke desa kakekku. Ke kebun bunga matahari itu. Ke tempat di mana kita pertama kali bertemu sepuluh tahun yang lalu."
salam interaksi thor😉