Li Zie seorang dokter dari abad 21 justru mengalami kecelakaan, dan jiwanya justru berteransmigrasi ke tubuh seorang wanita lemah di jaman kuno.
Li Zie pun berniat membalas penderitaan wanita yang namanya juga sama, Li Zie. Ia pun menjadi tabib di sana dan fokusnya hanya mengumpulkan harta, ia juga memiliki ruang dimensi, Li Zie menyembunyikan identitasnya dengan sangat rapi.
Tapi bagai mana jadinya jika ketenangan itu hanya sesaat, karena pria yang berkuasa di dinasti Xuan. Yaitu Kaisar Xuan Long justru mengetahui identitas aslinya.
Seperti apa kelanjutannya? yuk mampir!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queen Fitria, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Li Zie melangkah masuk sendirian dengan jubah hitamnya yang berkibar. Setiap langkah yang ia ambil meninggalkan jejak uap panas di lantai kayu yang membeku. Di dalam ruangan, ia melihat beberapa tabib tua tergeletak pingsan di sudut ruangan, tubuh mereka hampir membeku karena mencoba mengobati sang pria.
"Ck, amatir. Mereka mencoba melawan racun ini dengan obat herbal biasa, itu sama saja menyiram api dengan minyak," batin Li Zie meremehkan.
Li Zie mendekat ke ranjang giok. Pria di sana yang ia duga sebagai pangeran atau bahkan lebih tampak seperti patung es yang sempurna. Meski nampak sekarat, ketampanan pria itu justru terlihat kian mistis di bawah cahaya remang-remang.
Rambut hitamnya tersebar di bantal, kontras dengan kulitnya yang seputih porselen. Yan yang tampan ternyata tidak ada apa-apa di banding pria yang hampir membeku itu.
Li Zie mendekatkan wajahnya, Mata Dewanya berputar perlahan, menembus lapisan kulit sang pria hingga ke sumsum tulangnya.
"Kau beruntung aku sedang butuh emas hari ini, Pangeran Tampan...." bisik Li Zie dengan suara aslinya yang lembut sesaat, sebelum kembali ke suara serak kakek-kakeknya. "Karena jika bukan aku, besok pagi kau hanya akan jadi bongkahan es penghias taman."
Li Zie mengangkat tangannya, dan tiba-tiba suhu di sekitar telapak tangan Li Zie memanas hingga udara di sekitarnya mendistorsi.
Li Zie segera membuang jauh-jauh rasa kagumnya. Di depan pasien, ia bukan lagi gadis pemburu emas, melainkan seorang dokter profesional. Ia menarik napas dalam, membiarkan energi qi panas mengalir ke ujung jari-jarinya.
"Yan, bawa semua tabib pingsan itu keluar. Jangan biarkan siapa pun masuk, atau nyawa tuanmu akan melayang karena gangguan energi!" perintah Li Zie tanpa menoleh. Yan hanya bisa mengangguk patuh dan segera menyeret para tabib yang sudah tak sadarkan diri keluar.
Kini hanya ada Li Zie dan pria misterius itu.
Li Zie menggerakkan tangannya ke udara kosong, dan dalam sekejap, sebuah gulungan kain berisi deretan jarum perak muncul dari ruang dimensinya. Jarum-jarum ini bukan jarum biasa masing-masing telah ditempa dengan energi spiritual.
Zat! Zat! Zat!
Tangannya bergerak secepat kilat. Ia menusukkan jarum ke titik Hegu dan Neiguan untuk menstabilkan detak jantung yang hampir berhenti. Mata Dewanya terus bekerja, memantau pergerakan kristal es di dalam pembuluh darah sang Pangeran.
"Kau harus bertahan, Pangeran," bisik Li Zie serius.
Li Zie mengambil jarum terpanjang, mengaliri jarum itu dengan energi api murni hingga ujungnya membara kemerahan. Dengan presisi seorang ahli bedah, ia menusukkannya tepat di titik Tiantu di bawah tenggorokan. Begitu jarum masuk, terdengar suara desis halus, uap dingin yang membeku mulai mencair dan keluar dalam bentuk kabut hitam dari pori-pori kulit sang pria.
Dahi Li Zie bersimbah keringat. Mengendalikan suhu ekstrem ini menguras banyak energinya. Ia segera mengeluarkan botol kecil berisi air spiritual murni. Ia tidak meminumkannya, melainkan meneteskannya pada pangkal jarum-jarum yang tertancap. Air itu meresap masuk, mengikuti jalur jarum dan mulai menghancurkan racun es dari dalam.
Pria di atas ranjang itu mendadak tersentak. Dadanya naik turun dengan kasar. Matanya yang semula terpejam rapat, perlahan terbuka.
Mata pria itu berwarna gelap, dalam, dan tajam, meskipun saat ini nampak berkabut karena rasa sakit. Hal pertama yang ia lihat adalah sosok kakek tua dengan wajah cemong yang sedang menatapnya dengan sangat intens.
"Kau..." suara pria itu terdengar parau, seperti gesekan logam.
Li Zie segera menarik kembali semua jarumnya dengan satu gerakan sapuan yang bersih. Ia kembali memasang wajah dingin dan berwibawa.
"Jangan banyak bicara. Nyawamu baru saja ditarik kembali dari Gerbang Neraka," ujar Li Zie sambil merapikan janggut palsunya yang hampir lepas karena uap panas. "Racun Es Seribu Tahun di tubuhmu sudah berakar. Apa yang kulakukan barusan hanyalah mencairkan permukaannya saja."
Pria itu mencoba duduk, namun Li Zie menahan pundaknya dengan satu tangan yang sangat kuat kekuatan seorang ahli karate dan berkata, "Diam di situ jika kau tidak ingin jantungmu membeku lagi dalam lima menit."
Begitu Li Zie merapikan peralatannya, Yan masuk dengan terburu-buru, wajahnya penuh kecemasan yang langsung berubah jadi rasa syukur saat melihat Tuannya sudah bisa membuka mata.
Li Zie berdiri, menepuk-nepuk Hanfu hitamnya yang kebesaran dengan gaya angkuh. Li Zie menatap Yan dengan tatapan tajam yang membuat pengawal kaisar itu menunduk.
"Racunnya baru mencair sedikit. Jangan biarkan dia terkena angin malam," ujar Li Zie tegas, dengan suara kakek tua petapa yang berwibawa.