Miskin seumur hidup, ia bahkan harus mengakhiri hidupnya karena penyakit yang tak mampu ia obati.
Namun, ketika membuka mata, ia justru mendapati dirinya telah masuk ke dalam novel sebagai seorang wanita yang baru saja melompat dari sebuah gedung demi melarikan diri dari pernikahan perjodohan.
Seharusnya ia ikut kabur.
Tapi setelah mengetahui bahwa pria yang akan menjadi suaminya adalah seorang pewaris kaya raya, pikirannya berubah.
“Melarikan diri? Untuk apa? Bukankah lebih baik aku menikah dan hidup nyaman?”
Kini, ia bertekad mempertahankan pernikahan yang bahkan tidak diinginkan oleh pemilik tubuh asli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Malam semakin larut, namun Elena tak kunjung bisa memejamkan mata. Ia berguling ke kanan, lalu ke kiri, namun pikirannya terus kembali pada percakapan sore tadi. Ada perjanjian. Ada sesuatu yang disembunyikan. Ia duduk di tepi ranjang, menatap lantai yang remang.
“Kalau begitu, apa sebenarnya alasan pernikahan ini?”
Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Dalam novel yang ia baca, hubungan Elena asli dan Sebastian tak pernah sedekat ini. Mereka hidup terpisah, dingin, dan tak saling peduli. Namun kenyataannya sekarang berbeda. Sebastian memberinya rumah, kebebasan, perhatian, bahkan selalu memastikan dirinya baik-baik saja.
Kalau dia hanya menikahiku karena perjanjian bisnis.. kenapa memperlakukanku seperti ini?
Elena menggeleng pelan, berusaha menenangkan diri. “Jangan terlalu banyak berpikir.” Bagaimanapun juga, ia sudah mendapatkan kehidupan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Yang penting… Sebastian tidak membencinya.
***
Di lantai bawah, cahaya ruang kerja masih menyala. Sebastian berdiri di depan rak buku, lalu menekan sebuah tombol tersembunyi yang membuka brankas di baliknya. Di sana, tersimpan sebuah map kulit tua yang sudah menunggu bertahun-tahun. Di sampulnya tertulis jelas: PERJANJIAN KELUARGA HALE & ARVIENNE.
Ia membukanya perlahan. Dokumen itu disusun jauh sebelum mereka lahir, namun ada satu klausul yang menjadi alasan utama mengapa pernikahan ini tak boleh gagal. Jika pernikahan antara pewaris keluarga Hale dan putri keluarga Arvienne dibatalkan sebelum satu tahun berlalu.. aset bernilai miliaran akan berpindah tangan. Bukan hanya itu, bahkan kepemilikan perusahaan terbesar keluarga Hale pun bisa terancam.
Namun ada satu syarat yang jauh lebih penting, yang membuat Sebastian menatapnya lama dalam diam. Pernikahan wajib dipertahankan selama satu tahun penuh. Jika mereka bercerai sebelum waktu itu seluruh kerugian akan jatuh sepenuhnya kepada keluarga Hale.
Sebastian menutup dokumen itu pelan-pelan, menyimpannya kembali seolah menyimpan rahasia terbesar. Namun ia tak tahu, di lantai atas, Elena sedang berdiri di depan pintu kamarnya, menatap lorong yang gelap dengan perasaan yang tiba-tiba menjadi gelisah.
Kalau memang ada perjanjian.. mungkin alasan Sebastian menikahinya memang bukan karena perasaan. Elena menggigit bibir, berusaha menahan rasa perih yang tiba-tiba muncul.
“Tidak masalah,” bisiknya pada diri sendiri. “Selama aku tetap menjadi istrinya, itu cukup.”
***
Pagi itu, Elena terbangun lebih awal dari biasanya, bukan karena alarm atau suara pelayan, melainkan karena satu kalimat yang terus berputar tanpa henti di kepalanya sejak semalam. Ada perjanjian antara keluarga Hale dan keluarga Arvienne. Ia menatap langit-langit kamar yang luas itu dengan tatapan kosong.
"Kenapa setelah menikah, hidup justru semakin rumit?" gumamnya pelan. Bukankah seharusnya hidupnya kini sederhana saja? Bangun, sarapan, berbelanja, menikmati kemewahan, lalu tidur tenang.
Namun kenyataannya, ada keluarga Arvienne, dokumen yang tak jelas kebenarannya, penelepon misterius, dan kini perjanjian rahasia kedua keluarga. Elena menghela napas panjang, lalu menyingkap selimut.
Matanya jatuh pada gelang berlian yang diberikan Sebastian kemarin. Permata itu berkilau di bawah cahaya pagi. Elena mengangkat tangannya, menatapnya sekilas.
Setidaknya suamiku memang kaya. Pikiran itu sempat membuat hatinya sedikit lebih ringan, namun tak berlangsung lama.
***
Di lantai bawah, Sebastian sudah duduk di meja makan. Pria itu mengenakan setelan hitam sederhana, rambutnya tertata rapi seperti biasa, dengan tablet elektronik di samping piring sarapannya. Saat mendengar langkah kaki Elena, ia langsung mengangkat wajah.
"Pagi."
Elena berhenti sejenak. Ada sesuatu yang berubah. Sejak menikah, Sebastian semakin sering menyapanya lebih dulu. "Pagi," jawabnya pelan, lalu duduk di hadapannya.
Pelayan meletakkan sarapan di meja. Telur mata sapi, roti panggang, buah-buahan segar, dan secangkir kopi yang aromanya menggugah selera. Elena menatap makanan itu, lalu beralih menatap Sebastian.
"Kenapa menatapku?" tanya Sebastian sambil mengangkat alis.
"Aku hanya sedang memastikan kau benar-benar manusia," jawab Elena santai.
Sudut bibir Sebastian terangkat tipis. "Baru sekarang kau menyadarinya?"
Elena hampir tersedak. Percaya diri sekali. Ia buru-buru meminum jus jeruknya. Sebastian memperhatikannya dengan tatapan yang lembut namun tajam.
"Kau sedang memikirkan sesuatu."
Elena berhenti mengunyah. "Tidak."
"Bohong. Ekspresimu mudah dibaca."
Elena menyentuh pipinya. "Benarkah? Berarti aku harus belajar poker."
Sebastian tertawa kecil membuat jantung Elena berdetak sedikit lebih cepat. Ia segera menunduk, berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Jangan mulai, Elena. Itu bukan sesuatu yang istimewa. Namun tanpa disadari, bibirnya ikut tersenyum.
"Kalau ada sesuatu yang ingin kau tanyakan, tanyakan saja," ujar Sebastian tiba-tiba.
Elena mengangkat wajah. Ada kesempatan. Sekarang. Ia bisa menanyakan perjanjian itu lagi. Namun entah mengapa, ia ragu.
"Sebastian..."
"Hm?"
"Kalau... suatu hari nanti, kau menemukan alasan untuk membatalkan pernikahan kita..."
Tatapan Sebastian seketika berubah serius. "Kenapa kau berpikir begitu?"
Elena memainkan sendoknya pelan. "Karena ada terlalu banyak hal yang tidak kuketahui. Aku tahu ada perjanjian antara keluarga kita. Aku tahu ada orang yang berusaha meyakinkanku bahwa pernikahan ini akan berakhir. Dan sekarang aku merasa mungkin ada sesuatu yang jauh lebih besar yang kau sembunyikan dariku."
Sebastian meletakkan cangkir kopinya perlahan di atas meja. "Aku tidak berniat menceraikanmu."
"Tapi bagaimana kalau perjanjian itu memaksamu?"
"Tidak." Jawabannya begitu cepat, begitu tegas.
Elena terdiam. Sebastian menatap lurus ke matanya.
"Tidak ada perjanjian apa pun yang akan memaksaku meninggalkanmu."
Kalimat itu membuat Elena kehilangan kata-kata. Ia menunduk pelan. "Baiklah."
Sebastian mengulurkan tangan, menyentuh punggung tangannya dengan lembut. "Percayalah padaku."
...tp trus lanjuuut💪💪😘😘