Bagi Monica dan kelompoknya, ini bukan sekadar tugas biasa—ini adalah perjuangan untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi.
Di tengah kepungan musuh dan bayang-bayang naga hitam, mereka terus melangkah maju. Tetapi tidak semua orang bisa pulang. Ketika tabir misteri akhirnya terkuak, darah dan air mata telah tercurah, meninggalkan hanya dua orang yang berdiri di antara puing-puing pengorbanan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bintang star_nrl22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hangatnya Kedamaian dan Gelak Tawa di Alun-Alun
Sinar matahari pagi yang hangat menembus celah-celah daun pohon jarum emas di pelataran Akademi Sihir Grandoria. Angin berembus lembut membawa aroma tanah basah dan wangi bunga lavender sihir yang baru mekar di taman tengah. Tidak ada lagi bau sengatan belerang yang menyesakkan, tidak ada lagi erangan kabut Miasma hitam, dan tidak ada lagi bayangan seram Gerhana Bulan Merah yang membayangi langit ibu kota.
Kehidupan di akademi telah resmi kembali ke jalurnya. Para profesor dan murid tingkat akhir bekerja sama menyelesaikan tahap akhir pemugaran Menara Utama. Pilar-pilar batu obsidian yang sempat retak kini berdiri kokoh kembali, dilapisi ukiran runa pelindung baru bertinta perak murni. Di alun-alun utama, suara bentrokan senjata sihir kini bukan lagi pertempuran hidup dan mati, melainkan gelak tawa para murid kelas bawah yang sedang mengikuti sesi latihan tanding pagi di bawah pengawasan Profesor Gareth.
Di dalam Kantin Agung akademi—sebuah ruangan luas beratap lengkung kristal dengan puluhan meja kayu panjang—suasana terasa sangat hidup. Denting sendok, piring keramik, dan obrolan hangat mengisi setiap sudut ruangan.
Di meja panjang dekat jendela besar yang mengarah ke taman, kelima anggota Tim Vanguard duduk melingkar. Tidak ada zirah besi tebal, busur tempur raksasa, atau belati terhunus. Hari ini mereka semua mengenakan seragam harian akademi berupa jubah biru muda bersulam benang perak dengan pin lambang tim yang tersemat rapi di dada sebelah kiri.
Reno, yang kini sudah sepenuhnya sembuh dari luka sisa pertempuran gurun, tampak sedang melahap roti panggang isi daging dengan antusiasme yang luar biasa. Tumpukan piring di depannya sudah menggunung tinggi, dibarengi dengan dua mangkuk sup jagung hangat yang masih berasap.
"Ahhh! Ini baru namanya surga dunia!" seru Reno seraya mengunyah roti panggangnya dengan pipi menggembung penuh. "Bertarung melawan Sand-Golem dan Miasma Titan memang membuat nama kita terkenal di seluruh kerajaan, tapi tidak ada satu pun hal di dunia ini yang bisa mengalahkan nikmatnya sup jagung resep rahasia Koki Hans!"
Elena yang duduk tepat di sampingnya menggeser cangkir teh kamomilnya sedikit ke tengah agar tidak tersenggol sikut Reno yang bergerak heboh. Ia menyunggingkan senyum tipis seraya menggeleng-gelengkan kepala.
"Makanlah lebih pelan, Reno," tegur Elena lembut namun terselip nada geli di suaranya. "Tidak ada prajurit Ordo Umbra yang akan merebut roti panggang dari piringmu.
Kau ini makan seperti orang yang tidak menyentuh makanan selama satu bulan penuh."
"Tapi kan memang benar, Elena!" sahut Reno seraya menelan makanannya seraya menepuk dadanya sendiri. "Kemarin sewaktu kita menyeberangi Gurun Tengkorak Merah, kita cuma makan biskuit darurat sihir yang rasanya seperti serbuk kayu keras! Perutku ini butuh kompensasi atas perjuangan mempertaruhkan nyawa!"
Celotehan Reno yang spontan itu membuat Kazuma yang sedang membaca buku tebal berjudul Sejarah Runa dan Aliran Mana Benua di sebelah mereka tertawa kecil. Kazuma merapikan posisi kacamatanya seraya menutup buku tersebut secara perlahan.
"Meskipun begitu, energi yang kau keluarkan kemarin memang tidak sedikit, Reno," ujar Kazuma seraya menyesap tehnya. "Dinding pertahanan Absolute Fortress milikmu saat melawan Malakor kemarin memakan koordinasi mana yang sangat besar.
wajar saja kalau metabolisme tubuhmu menuntut asupan energi ganda."
"Dengar itu, Elena! Kazuma saja mendukungku!" seru Reno penuh kemenangan seraya mengambil roti panggang berikutnya.
Di sudut meja yang agak teduh oleh bayangan tirai jendela, Danis duduk tenang. Pemuda ahli bayangan yang biasa terlihat sangat tertutup dan waspada itu, hari ini tampak jauh lebih rileks. Ia memutar sebutir apel merah segar di jemarinya, lalu menggunakan pisau lipat kecil untuk memotongnya menjadi bagian-bagian rapi sebelum memakannya satu per satu.
"Lagipula," kata Danis dengan suara rendahnya yang khas, "jarang sekali kita bisa duduk santai seperti ini tanpa perlu memikirkan alarm bahaya dari Menara Utama. Nikmati saja."
Monica yang duduk di ujung meja mengaduk perlahan teh herbal hangatnya. Rambut hitamnya diikat kuncir kuda yang rapi, memantulkan pendaran cahaya pagi yang jernih. Sepasang mata birunya yang bening menatap satu per satu wajah sahabat-sahabatnya. Rasa hangat dan penuh syukur mengalir pelan di dalam dadanya.
"Rasanya menyenangkan sekali ya," tutur Monica lembut. Suaranya mengalun tenang, menarik perhatian keempat teman timnya.
"Melihat akademi dan kerajaan kita kembali damai, dan bisa berkumpul bersama seperti ini tanpa ada bayangan ancaman."
"Ini semua berkat keteguhan dan kepemimpinanmu di lapangan, Monica," balaskan Kazuma penuh rasa hormat. "Sihir Kontra-Segel milikmu adalah kunci utama yang memutus rantai sihir hitam Malakor."
"Benar sekali!" puji Elena seraya mengangguk setuju. "Kau berhasil membimbing kita melewati masa-masa paling sulit."
Monica tersenyum malu seraya menggelengkan kepala pelan. "Aku tidak akan bisa sampai di titik itu tanpa pertahanan Reno, tembakan presisi Elena, analisis cepat Kazuma, dan perlindungan bayangan dari Danis. Kita berhasil karena kita adalah Tim Vanguard."
"Setuju!" seru Reno mantap. "Dan karena ancaman musuh sudah selesai, sekarang kita bisa menikmati masa-masa sekolah yang normal!"
"Bicara soal masa sekolah yang normal..." potong Kazuma seraya menyunggingkan senyum misterius dan membuka kembali bukunya, "kau ingat kan, Reno? Minggu depan kita ada Ujian Teori Sihir Elemen dan Evaluasi Sirkulasi Mana Semester Akhir?"
Seketika, roti panggang yang sedang dipegang Reno terhenti tepat di depan mulutnya. Wajah pemuda tegap itu mendadak pucat pasi.
"U-ujian teori?!" jerit Reno panik seraya menepuk dahinya keras-keras. "Aduuh! Tolong jangan ingatkan aku soal rumus-rumus sihir rumit itu, Kazuma! Aku lebih memilih bertarung lawan sepuluh Gargoyle sekaligus daripada harus menghafal tabel elemen!"
Gelak tawa pecah serentak di meja mereka. Suasana penuh keceriaan itu mengalir hingga ke seluruh penjuru kantin, menciptakan momen kedamaian yang terasa begitu sempurna.
Sore harinya, kelima anggota Tim Vanguard menghabiskan waktu dengan berjalan-jalan melintasi kawasan Alun-Alun Pusat Ibu Kota Grandoria. Jalanan batu yang luas dipenuhi oleh para pedagang kota, pertunjukan atraksi sihir jalanan dari para murid akademi, dan wangi kue karamel hangat yang membumbung di udara.
Warga kota menyapa mereka dengan hangat dan penuh rasa terima kasih setiap kali mereka melintas. Monica membeli beberapa kantong kue karamel hangat untuk dibagikan bersama, sementara Reno dan Danis mencoba beberapa permainan ketangkasan di gerai kota. Kehangatan interaksi itu mengikis habis seluruh rasa lelah yang terkumpul dari pertempuran masa lalu.
Ketika malam tiba dan langit Grandoria berganti warna menjadi biru gelap bertaburkan ribuan bintang perak, Monica berdiri seorang diri di balkon kamarnya di Menara Utama. Angin malam yang sejuk memainkan kuncir kuda rambut hitamnya secara perlahan.
Ia memegang tongkat safirnya yang tersandar di dinding balkon. Permata biru di puncaknya berpendar tenang, memancarkan cahaya emas lembut. Senyum kedamaian terukir di bibir Monica saat ia menatap hamparan lampu-lampu kota yang menyala indah di bawah sana.
Semuanya terasa begitu sempurna, begitu tenang, dan begitu berdamai. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Monica merasa seperti ada tirai tipis misteri yang baru saja akan terbuka di masa depan... sebuah kedamaian indah sebelum langkah petualangan baru dimulai.