Bara Pratama hanyalah seorang pemulung yang dihina dan dibuang oleh kekasihnya demi pria kaya. Namun, nasibnya berbalik total saat darah dari luka pukulannya tanpa sengaja mengaktifkan sebuah tungku berkarat yang terhubung dengan Sistem Daur Ulang Multiverse. Melalui sistem ini, Bara bisa memproses rongsokan tidak berharga menjadi pil kultivasi, material langka, dan barang pusaka bernilai tinggi dari dimensi Sekte Harmoni. Berbekal kekuatan dan kekayaan baru yang terus mengalir dari tumpukan sampah, Bara siap menghancurkan kesombongan orang-orang yang dulu menginjaknya dan memulai hidup baru sebagai sosok yang tidak bisa diremehkan oleh siapa pun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14
Nadhira harus segera kembali ke gedung kantornya untuk mengurus kekacauan akibat ulah preman tadi, sementara Bara memiliki urusan besar yang tidak bisa ditunda lagi.
Setelah keluar dari kedai kopi elit itu, Bara langsung memanggil sebuah taksi untuk mengantarnya ke Galeri Seni dan Balai Lelang Permata.
Gedung balai lelang itu terlihat sangat megah dari kejauhan dengan pilar-pilar batu marmer putih yang menjulang tinggi menyerupai sebuah istana Eropa klasik.
Bara membayar taksinya dengan uang tunai dan melangkah keluar dengan gaya yang sangat santai sambil merapikan sedikit kerah jaket kulitnya.
Dua orang petugas keamanan bertubuh sangat kekar yang berjaga di depan pintu kaca otomatis langsung menatap tajam ke arah Bara.
Meskipun pakaian Bara sekarang sudah terlihat seperti orang kaya, namun wajah asingnya sama sekali tidak dikenali sebagai pelanggan VIP tetap di tempat lelang eksklusif ini.
"Maaf Tuan, apakah Anda memiliki kartu keanggotaan atau jadwal pertemuan dengan pihak manajemen kami hari ini?" tanya salah satu petugas keamanan itu dengan nada yang sopan namun sarat akan kecurigaan.
"Aku tidak punya kartu undangan apa pun, aku datang ke sini untuk menjual sebuah barang antik pusaka kepada ahli penilai utama kalian," jawab Bara dengan suara yang sangat tegas dan berwibawa.
Kedua petugas keamanan itu saling pandang sejenak sebelum akhirnya salah satu dari mereka membukakan pintu kaca tersebut untuk Bara.
"Silakan Anda langsung masuk ke ruang lobi penerimaan barang di sebelah kiri lorong utama, Tuan, nanti petugas penilai kami yang akan melayani Anda di sana," arah petugas itu sambil menunjuk ke dalam gedung.
Bara melangkah masuk dengan tenang dan langsung merasakan hawa kemewahan yang luar biasa pekat dari desain interior gedung balai lelang tersebut.
Lantai marmernya digosok sangat mengkilat hingga bisa digunakan untuk berkaca, dan dindingnya dipenuhi oleh puluhan lukisan abstrak yang dibingkai dengan emas murni.
Bara berjalan lurus menuju meja resepsionis di ruang penerimaan barang yang kebetulan sedang dijaga oleh seorang wanita muda berseragam sangat rapi.
"Selamat pagi menjelang siang Tuan, ada yang bisa saya bantu untuk keperluan Anda hari ini?" sapa wanita resepsionis itu dengan senyum ramah yang sangat profesional.
"Aku ingin bertemu dengan ahli penilai barang antik paling senior di tempat ini sekarang juga tanpa harus mengantre," ucap Bara tanpa basa-basi sedikit pun.
"Aku membawa sebuah barang pusaka peninggalan zaman kekaisaran kuno yang nilainya pasti akan membuat balai lelang ini mendapatkan keuntungan sangat besar."
Wanita resepsionis itu tampak sedikit ragu mendengar ucapan percaya diri Bara, namun dia tetap mengangkat gagang telepon di mejanya untuk menghubungi seseorang di ruangan dalam.
Sekitar lima menit kemudian, seorang pria paruh baya berkemeja rapi dengan kumis tebal keluar dari sebuah ruangan khusus yang tertutup rapat.
Pria paruh baya itu mengenakan sarung tangan putih bersih dan sebuah kaca pembesar kecil berantai emas yang menggantung di lehernya.
"Saya adalah Pak Herman, kepala ahli penilai barang antik sekaligus kurator utama di balai lelang ini," ucap pria berkumis itu memperkenalkan dirinya dengan nada yang sedikit angkuh.
"Resepsionis tadi mengabarkan bahwa Anda membawa barang pusaka kekaisaran yang sangat berharga ke tempat ini?"
"Tolong tunjukkan barang tersebut di atas meja ini sekarang juga, waktu saya sangat berharga dan saya sangat tidak suka melayani penjual barang tiruan murah."
Sikap Pak Herman ini sangat khas seperti kebanyakan orang di kalangan atas yang selalu memandang rendah orang asing yang baru pertama kali datang membawa barang jualan.
Bara hanya mendengus geli di dalam hatinya, dia sudah terlalu kebal dengan tatapan meremehkan seperti ini sejak dia masih menjadi pemulung rongsokan di jalanan.
Bara perlahan merogoh saku bagian dalam jaket kulitnya dan mengeluarkan bungkusan sapu tangan putih yang tampak sedikit menggembung di tangannya.
Dia lalu meletakkan bungkusan berharga itu tepat di atas meja berlapis kain beludru merah tebal yang ada di depan Pak Herman.
Trak!
"Silakan Anda periksa sendiri keaslian benda ini dengan mata kepala Anda yang sangat ahli itu, Pak Herman," ucap Bara sambil membuka lipatan sapu tangan putih tersebut secara perlahan dan dramatis.
Sebuah bongkahan batu giok berbentuk kotak padat dengan ukiran naga melingkar langsung menampakkan wujud aslinya di bawah sorotan lampu ruangan yang terang.
Warna hijau pekatnya yang sangat murni seolah-olah memancarkan cahaya magis misterius yang langsung menyilaukan mata siapa pun yang melihatnya.
Pak Herman yang awalnya memasang wajah malas dan angkuh seketika langsung mematung kaku seperti patung batu saat matanya menangkap kilauan giok tersebut.
Nafas pria paruh baya itu tiba-tiba terdengar sangat berat dan tersengal-sengal, seolah-olah dia tiba-tiba lupa bagaimana caranya bernapas dengan normal.
"Ini... ini sangat tidak masuk akal dan sama sekali tidak mungkin nyata..." gumam Pak Herman dengan suara yang bergetar sangat parah.
Dia buru-buru mengambil kaca pembesar dari lehernya dan mendekatkan wajahnya sejauh lima sentimeter dari permukaan stempel giok tersebut.
Tangan Pak Herman yang terbalut sarung tangan putih itu bahkan sampai gemetar hebat saat jari-jarinya mencoba menyentuh ukiran sisik naga di atas stempel itu.
"Tingkat kejernihan warna hijau ini luar biasa sempurna... ini adalah Giok Murni Kelas Surgawi yang sudah punah dari peredaran sejak ratusan tahun yang lalu!" seru Pak Herman histeris tanpa mempedulikan citra profesionalnya lagi di depan umum.
"Dan coba lihatlah ukiran naga berkuku lima ini, ini benar-benar stempel resmi milik Kaisar Dinasti Ming yang tercatat hilang dalam sejarah peperangan kuno berabad-abad lalu!"
Suara teriakan heboh Pak Herman yang melengking kencang itu membuat beberapa karyawan balai lelang lainnya langsung menoleh ke arah meja penerimaan barang dengan wajah kebingungan tingkat tinggi.
Bara hanya berdiri sangat santai dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, sangat menikmati reaksi berlebihan dari sang ahli penilai sombong di depannya ini.
"Jadi bagaimana menurut penilaian ahli Anda Pak Herman, apakah barang yang aku bawa ini termasuk barang tiruan murahan yang membuang waktu berharga Anda?" sindir Bara dengan senyum miring yang sangat tajam dan menohok.
Pak Herman langsung menelan ludahnya dengan susah payah dan menatap wajah Bara dengan pandangan yang kini dipenuhi oleh rasa hormat dan ketakutan yang mendalam.
"Maafkan kelancangan mulut saya dan kesombongan saya yang bodoh tadi, Tuan!" ucap Pak Herman panik sambil menundukkan badannya dalam-dalam hingga membentuk sudut sembilan puluh derajat.
"Mata buta saya ini hampir saja menyinggung seorang kolektor besar yang membawa harta karun bersejarah yang sangat tak ternilai harganya."
"Mohon Tuan berkenan ikut saya menuju ke ruang VIP pribadi di lantai atas sekarang juga, direktur utama kami pasti akan langsung turun tangan sendiri untuk menyambut kehadiran Anda."
Pak Herman langsung membungkus kembali stempel giok itu dengan gerakan yang luar biasa hati-hati seperti sedang memegang bayi yang baru lahir, lalu mempersilakan Bara berjalan lebih dulu layaknya seorang raja lalim.
Bara menganggukkan kepalanya pelan tanpa mengucapkan sepatah kata pun dan melangkah tegap mengikuti arahan Pak Herman menuju lift khusus untuk tamu VIP.
Kacamata Identifikasi milik sistem benar-benar telah mengubah nasibnya seratus delapan puluh derajat, dari seorang pemulung miskin menjadi tamu kehormatan yang ditunduki oleh para petinggi hanya dalam waktu semalam.
Uang miliaran rupiah kini sudah berada tepat di depan pelupuk matanya dan siap untuk dieksekusi menjadi senjata pembalasan dendam yang paling mematikan bagi musuh-musuhnya.
Dela dan Aris sama sekali tidak tahu badai sebesar dan semengerikan apa yang akan segera menghantam kehidupan nyaman mereka dalam waktu dekat ini.