NovelToon NovelToon
Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Pedagang Antar Dimensi: Dari Pecundang Jadi Penguasa

Status: sedang berlangsung
Genre:TimeTravel / Bepergian untuk menjadi kaya / Hari Kiamat
Popularitas:40
Nilai: 5
Nama Author: Putra

Setiap malam, Arka terbangun di dunia yang penuh zombie.

Setiap pagi, ia kembali ke dunia nyata dengan emas dan kristal yang bisa dijual miliaran.

Mantan pacarnya membuangnya karena ia "gila dan miskin."

Sekarang? Ia memiliki 128 properti, tubuh sempurna, dan kekuatan yang membuat jenderal berlutut.

Tapi ini baru permulaan. Karena dunia di luar Bumi jauh lebih berbahaya — dan Arka baru saja menjadi target nomor satu seluruh alam semesta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 8

Dalam hati, rencana sudah terbentuk.

Pagi di Planet Biru tidak membawa kehangatan. Cahaya pucat masuk lewat celah ruko, menyentuh wajah-wajah lelah yang tidur bergantian di lantai beton. Arka duduk dekat dinding, mata setengah terpejam, tetapi pikirannya tetap bekerja.

Jagal mengira semalam ia membuat orang baru tunduk.

Arka membiarkannya berpikir begitu.

Kotak Kristal di belakang kursi Jagal berisi tidak lebih dari belasan butir. Makanan mereka cukup untuk dua hari jika dibagi adil, tetapi bisa habis dalam setengah hari jika Jagal terus mengambil porsi terbesar. Kelompok ini tidak akan mati karena zombi lebih dulu.

Mereka akan mati karena cara Jagal memimpin.

"Bangun!" Jagal menghantam lantai dengan Gada Berduri. "Kita bergerak. Area utara belum dibersihkan."

Merah mengusap wajah sambil menggerutu, "Baru juga napas."

"Kau mau makan?" bentak Jagal. "Cari Kristal."

Shadow sudah berdiri tanpa suara. Elang memeriksa senapan rakitannya, menghitung peluru yang tersisa dengan mata sempit. Arka memperhatikan semua itu sambil memasukkan ransel ke bahu.

Ia membawa sedikit makanan terlihat.

Sisanya tetap terkunci di ruang Dimensi.

Kelompok Jagal bergerak menyusuri deretan toko rusak. Perburuannya kasar, tetapi cukup menunjukkan susunan kekuatan mereka: Jagal memimpin dengan tekanan, Merah menjaga depan, Shadow bergerak cepat, dan Elang mengawasi dari atas.

Arka sengaja mengambil posisi tengah.

Cukup dekat untuk melihat.

Cukup jauh untuk tidak menjadi pusat perhatian.

Dalam dua jam pertama, mereka mendapatkan empat Kristal tingkat satu. Jagal mengambil semuanya. Ia bahkan tidak pura-pura menghitung kontribusi.

"Bos," kata Merah, menahan nada, "yang terakhir itu Shadow yang jatuhkan. Minimal kasih dia satu."

Jagal menoleh pelan. "Kau yang jadi pemimpin sekarang?"

Merah menutup mulutnya.

Shadow hanya menggeleng kecil, seolah berkata tidak perlu.

Arka mencatat lagi.

Merah punya hati, tapi belum punya arah.

Shadow punya kesabaran, tapi belum punya alasan.

Elang melihat semuanya dan menyimpan pendapatnya seperti peluru terakhir.

Menjelang siang, mereka tiba di sebuah pusat belanja kecil yang pintu utamanya tertutup es tipis. Suhunya turun beberapa derajat. Napas semua orang menjadi lebih putih.

Elang mengangkat tangan.

"Ada yang salah. Terlalu sunyi."

Jagal mendengus. "Semua tempat di dunia ini sunyi."

"Maksud saya, aneh," kata Elang. "Biasanya zombi kecil berkumpul dekat pintu. Sekarang depan kosong."

Shadow memandang ke dalam bangunan. "Aku juga tidak suka."

Jagal memutar Gada Berduri di tangannya. "Kalian terlalu banyak takut. Arka. Kau ikut depan. Tunjukkan tingkat dua-mu berguna atau tidak."

Beberapa mata menoleh pada Arka.

Ini ujian.

Atau umpan.

Arka berjalan maju tanpa protes. Ia tidak ingin memperlihatkan ketakutan, tetapi juga tidak memperlihatkan keberanian berlebihan. Pintu kaca didorong pelan. Bunyi retak tipis menyebar di lantai.

Di dalam, udara dingin menempel seperti kain basah.

Rak-rak toko berbaris kosong. Ada lapisan es di pegangan eskalator. Di tengah atrium, seorang anggota Jagal yang terlalu bersemangat melihat kotak makanan di balik meja kafe dan langsung berlari.

"Jangan!" Elang memperingatkan.

Terlambat.

Udara di depan meja kafe berkilat putih.

Tubuh anggota itu kaku seketika, jatuh terduduk dengan lengan tertutup es sampai siku. Ia masih hidup, tetapi wajahnya pucat karena panik.

Dari balik tiang atrium, sesuatu bergerak.

Zombi itu berbeda dari yang lain. Udara di sekitarnya turun tajam, dan lantai atrium mulai memutih oleh es tipis.

Tingkat tiga.

Kekuatan Es.

Wajah Jagal berubah untuk pertama kalinya. Genggamannya pada Gada Berduri mengeras.

"Mundur!" teriak Elang. "Itu bukan tingkat dua!"

Zombi tingkat tiga mengangkat tangan. Dingin menyapu atrium dan memaksa Jagal mundur dua langkah.

Merah melempar bola api kecil. Api itu menyentuh kabut putih dan padam sebelum mencapai target.

"Sialan," gumam Merah. Kali ini suaranya tidak keras.

Shadow sudah menarik anggota yang lengannya membeku ke belakang. Gerakannya cepat, tapi zombi itu menoleh padanya. Kabut dingin kedua mulai terbentuk.

Jika kabut itu mengenai Shadow dari jarak dekat, kelompok ini kehilangan orang tercepatnya.

Arka tidak punya banyak pilihan.

Ia bisa tetap menyembunyikan diri dan membiarkan Shadow terluka.

Atau ia bisa membuka satu kartu kecil.

Satu bilah saja cukup.

Sesuatu di dalam ruang kesadarannya bergerak. Kekuatan Dimensi yang selama ini hanya ia pakai untuk menyimpan benda tiba-tiba menajam. Rasanya berbeda dari membuka ruang simpan. Kali ini, ia menarik satu garis tipis di udara.

Arka mengangkat tangan.

Ia hanya menunjuk.

Bilah Dimensi.

Udara di depan zombi tingkat tiga terbelah tanpa suara.

Kabut dingin yang baru terbentuk putus di tengah. Satu garis tak terlihat melintas melewati tubuh makhluk itu dan berakhir di tiang beton belakangnya. Tiang itu meninggalkan bekas potong rapi sepanjang telapak tangan.

Zombi tingkat tiga berhenti.

Lalu jatuh.

Semuanya selesai dalam satu detik yang terlalu sunyi.

Semua orang membeku di tempat.

Merah menatap Arka dengan mulut setengah terbuka. "Apa... itu tadi?"

Shadow masih memegang anggota yang terluka, tetapi matanya kini tertuju penuh pada Arka. Untuk pertama kalinya, wajah tenangnya menunjukkan sesuatu yang mendekati keyakinan.

Elang menurunkan senapannya perlahan.

"Serangan tanpa lintasan," katanya pelan. "Aku tidak melihat peluru, api, atau suara tembakan."

Jagal berjalan mendekat ke tubuh zombi tingkat tiga. Di sana, sebuah Kristal yang lebih besar dan lebih jernih tergeletak di antara serpihan es. Matanya menyala.

Kristal tingkat tiga.

Barang seperti itu bisa membuat satu Evolvor tingkat dua melompat jauh, bahkan membuka jalan ke tingkat tiga.

Jagal mengambil Kristal itu sebelum siapa pun bicara.

"Bagus," katanya. Suaranya lebih berat. "Ternyata kau menyimpan kemampuan."

Arka menurunkan tangan. Kepalanya sedikit sakit, seolah ada jarum menekan dari dalam. Di balik rasa sakit itu, ia merasakan batas lama di tubuhnya pecah. Evolvor tingkat tiga. Bilah Dimensi baru lahir, jaraknya belum lebih dari sepuluh meter, dan hanya bisa ia lepaskan satu garis. Tetapi satu garis itu cukup untuk mengubah cara semua orang melihatnya.

"Aku juga baru tahu," jawab Arka.

Itu hampir benar.

Jagal menatapnya lama. "Mulai sekarang, kau berdiri di dekatku saat berburu. Kalau ada monster seperti itu lagi, kau yang maju."

Itu perintah yang dibungkus suara berat.

Merah mengerutkan kening. Shadow tidak bicara. Elang menatap Kristal di tangan Jagal, lalu menatap anggota yang lengannya masih harus dihangatkan pelan agar tidak rusak permanen.

Arka melihat semuanya.

Ketakutan Jagal naik menjadi kewaspadaan.

Ia takut kehilangan posisi.

Dan orang yang takut kehilangan posisi biasanya akan melakukan hal bodoh lebih cepat dari yang direncanakan.

Mereka kembali ke markas menjelang gelap. Kristal tingkat tiga tetap berada di kantong Jagal. Sepanjang perjalanan, suasana kelompok berubah. Anggota lain menjaga jarak dari Arka. Mereka tidak tahu harus berdiri di sisi mana.

Shadow berjalan sejajar dengannya sebentar.

"Tadi kau bisa kabur," kata Shadow pelan.

"Bisa."

"Tapi kau menolong."

"Kalau orang cepat mati, kelompok jadi lambat."

Shadow menatapnya, lalu mengangguk kecil. "Jawaban yang cukup."

Merah menyusul dari belakang. "Kalau itu kemampuan barumu, namanya apa?"

"Bilah Dimensi."

Merah bersiul pendek. "Nama bagus. Menakutkan, tapi bagus."

Di depan, Jagal mendengar percakapan itu. Bahunya menegang.

Arka pura-pura tidak melihat.

Malam turun di atas markas ruko. Jagal duduk di kursinya, Gada Berduri bersandar di samping, Kristal tingkat tiga di tangan. Ia memutar benda itu perlahan, matanya beberapa kali melirik Arka.

Sorot itu terlalu keras untuk disebut kagum. Jagal mulai takut, dan orang yang takut sering bergerak lebih berbahaya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!