NovelToon NovelToon
Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Dear My Destiny (Kepada Takdirku, Bersamamu)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Romansa / Bad Boy
Popularitas:286
Nilai: 5
Nama Author: Bella Kristy Cecilia

Emily adalah seorang remaja cantik yang pintar dan dikenal sebagai juara di SMA Harapan Bangsa. Ia bertemu dengan Sean, seorang pria kaya raya yang hidupnya berantakan.

Mereka mulai saling mengenal dan akhirnya memutuskan menjadi sepasang kekasih. Namun, banyak sekali masalah yang harus mereka hadapi seperti restu keluarga, perbedaan visi dan misi, kepribadian dan pemikiran yang jauh berbeda, dan masih banyak lagi.

Apakah mereka berhasil bersama sampai akhir? Atau mereka memilih menyerah? Ikuti terus kisahnya!

IG = @bellakristyc_
Email = bellakristyc@gmail.com

Note : Author terinspirasi untuk menulis novel ini dari kisah nyata yang digabungkan dengan imajinasi. Apabila ada kesamaan nama tokoh, tempat, dan yang lainnya tidak ada yang disengaja.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Sang Ibu di Kuala Lumpur

Amplop cokelat berstempel lambang Polis Diraja Malaysia (PDRM) di genggaman Emily terasa teramat dingin. Di koridor lantai tujuh apartemen studio kawasan SS15 malam itu, uap dingin pendingin ruangan berembus pelan, menimpa wajah Emily yang membeku.

"Biar aku yang bakar surat ini, Mil," suara Sean terdengar berat dan sarat amarah. Tangan cowok itu terulur hendak menyambar surat panggilan tersebut. Matanya menyala dingin, tak terima gadis yang dicintainya kembali diusik oleh orang tua yang pernah membuangnya.

Namun Emily menggeleng pelan. Ia menahan pergelangan tangan Sean, membetulkan posisi kacamata tipisnya dengan jemari yang sangat tenang.

"Jangan, Sean," bisik Emily jernih. "Kalau kita mengabaikannya, Mama bakal terus pakai jalur hukum KBRI buat bikin kekacauan di kampus. Aku nggak mau nama Sunway atau reputasi akademisku tercemar cuma gara-gara drama keluarga ini."

"Tapi mereka mau memeras kamu, Mil! Ibumu melaporkan kamu atas dugaan penelantaran orang tua dan kepemilikan aset ilegal!" bentak Sean frustrasi, tak tega membayangkan Emily harus bertatap muka lagi dengan wanita yang selalu melukainya.

Emily menatap Sean dari balik kacamatanya, mengukir senyum tipis yang hangat. Ia mengelus lembut pipi Sean, menenangkan amarah cowok itu. "Empat tahun lalu aku cuma anak 17 tahun yang cuma bisa menangis saat dituduh anak pembawa sial. Tapi sekarang aku mahasiswi hukum keuangan. Aku tahu persis cara menghadapi orang tua yang serakah secara sah dan bermartabat."

Sean mendesah panjang, memejamkan mata sejenak menikmati sentuhan lembut Emily di pipinya, sebelum akhirnya mengangguk pasrah. "Baiklah. Tapi besok pagi, aku ikut ke kantor polisi."

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Keesokan harinya, pukul 07.30 pagi. Sinar matahari tropis membiaskan pendaran hangat di sepanjang canopy walk Kampus Sunway.

Di tengah badai panggilan polisi yang menunggunya nanti siang, Emily tidak melepaskan tanggung jawabnya sebagai mahasiswi baru. Ia berjalan menyusuri koridor kampus mengenakan kaus rajut putih longgar, celana jins kehitaman, dan kacamata tipisnya. Di dalam tas kain kusamnya, tersimpan lembar jawaban kuis ekonometrika yang sudah ia pelajari setengah mati.

"Emily! Sini!" panggil Mei Ling heboh dari bangku kayu dekat kantin gedung F.

Emily melangkah mendekati sahabatnya itu, menyunggingkan senyum hangat. "Pagi, Mei."

"Ini kopi ais sama kue tart matcha dari siapa lagi coba?" goda Mei Ling seraya menunjuk dua bungkus makanan di atas meja. "Cowok ganteng berbaju hitam kemarin itu ya? Gila ya, kamu diantar jemput terus, dikasih makanan terus. Aku iri banget!"

Emily terkekeh pelan, duduk di samping Mei Ling dan membuka buku catatannya. "Dia cuma mau memastikan aku makan sarapan, Mei. Yuk, review materi ekonometrika dulu sepuluh menit sebelum dosen masuk."

Di dalam ruang kelas ber-AC dingin, Emily tenggelam dalam dunianya sebagai mahasiswi biasa. Ia mendengarkan penjelasan dosen, mencatat variabel ekonometrika dengan telaten, dan sesekali berbisik memberi tahu jawaban rumus pada Mei Ling yang meringis kebingungan. Kehidupan kampus yang jujur dan sederhana ini adalah terapi bagi jiwa Emily yang lelah. Di Sunway, ia dinilai dari kecerdasannya sendiri, bukan dari berapa banyak harta yang dimiliki keluarganya.

Begitu bel kelas berakhir pukul 11.00 siang, Emily merapikan bukunya. Mei Ling yang menyadari kerutan halus di dahi Emily memegang lengan sahabatnya itu penuh keprihatinan.

"Mil, kamu ada masalah ya?" tanya Mei Ling lembut. "Muka kamu keliatan cemas banget dari tadi pagi."

Emily menatap Mei Ling sejenak, merasakan hangatnya pertemanan yang tulus. "Aku ada urusan sebentar di luar kampus, Mei. Soal drama keluarga yang kemarin."

Mei Ling memeluk Emily erat-erat. "Semangat ya, Emily. Kamu cewek paling pinter dan paling baik yang aku kenal di Sunway. Jangan biarkan siapa pun menginjak-injak kamu."

Kata-kata sederhana dari sahabat barunya itu menjadi perisai emosional bagi Emily saat ia melangkah keluar dari gerbang kampus menuju sedan hitam tempat Sean sudah menunggu.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 13.00 siang. Ibu Pejabat Polis Kontinjen Kuala Lumpur (IPK KL) di Jalan Tun Razak.

Suasana di dalam ruang mediasi lantai dua terasa sangat tegang dan dingin. Aroma pembersih lantai berpadu dengan hembusan AC yang berbunyi pelan.

Di seberang meja kayu panjang, Ibu dan Ayah Emily duduk berdampingan. Ibunya mengenakan pakaian glamor yang tampak memposting kekayaan palsu, sementara Ayahnya memangku folder dokumen dari pengacara keluarga Wijaya. Di samping mereka, seorang pejabat perwakilan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) duduk dengan raut wajah serba salah.

Begitu pintu ruang mediasi terdorong terbuka, Emily melangkah masuk. Ia didampingi oleh Sean yang mengenakan kemeja kustom hitam tebal dan seorang pengacara hukum keluarga terkemuka di Malaysia yang disewa Sean pagi tadi.

Ibunya seketika berdiri dari kursi, menudingkan jari berhias cincin permatanya ke arah Emily.

"Tuan Polisi! Lihat itu anak durhaka!" seru Ibunya histeris dalam bahasa Indonesia, matanya melotot penuh kelaparan akan uang. "Dia hidup mewah di Malaysia, sekolah di kampus Sunway yang mahal, memegang aset jutaan dolar, tapi dia biarkan orang tua kandungnya menderita di Jakarta! Dia anak menelantarkan orang tua!"

Pegawai Polis Diraja Malaysia yang memimpin mediasi menepuk meja pelan, meminta ketenangan. "Puan Valencia, harap bertenang. Sila duduk."

Emily tidak menangis. Ia tidak menundukkan kepalanya sedikit pun. Dengan gerakan yang amat anggun dan dingin, Emily duduk di kursi mediasi.

Pengacara keluarga Emily menyerahkan dua map tebal ke hadapan pejabat polisi dan perwakilan KBRI.

"Tuan Pegawai dan Perwakilan KBRI yang terhormat," suara pengacara Emily mengalun tenang dan profesional. "Klien kami, Saudari Emily Valencia, sama sekali tidak menelantarkan siapa pun. Kami membawa seluruh salinan rekening bank privat, bukti beasiswa murni dari Gymnasium Zurich, serta dokumen emansipasi diri yang telah disahkan oleh Mahkamah Internasional saat Emily berusia 18 tahun."

Pengacara itu membalikkan halaman dokumen audit.

"Seluruh dana pendidikan dan tempat tinggal Emily di Malaysia murni berasal dari Beasiswa Prestasi dan hasil investasi mandirinya di bursa efek," lanjut sang pengacara tajam. "Sebaliknya, kami memiliki rekaman suara dan bukti pesan singkat yang menunjukkan bahwa Nyonya Valencia dan Tuan Valencia secara aktif melakukan tindakan kekerasan verbal, pengusiran dari rumah empat tahun lalu, serta upaya pemerasan yang dihasut oleh pihak ketiga demi membayar utang pribadi mereka."

Wajah Ibu dan Ayah Emily seketika berubah kaku bagaikan mayat.

"Itu... itu bohong!" jerit Ibunya, suaranya gemetar oleh kepanikan. "Dia anak saya! Apa pun yang dia punya, itu hak orang tuanya!"

Emily membetulkan posisi kacamatanya. Ia menatap lurus ke dalam iris mata Ibunya—wanita yang selama 17 tahun hidupnya tak pernah sekali pun memeluknya dengan tulus atau menanyakan apakah ia sudah makan.

"Mama..." suara Emily mengalun sangat jernih, datar, dan tajam menyayat ruang mediasi yang hening. "Empat tahun lalu, saat Mama mengusir aku di malam hujan dan menuduhku sebagai anak sial pembawa kehancuran... Mama sendiri yang memutuskan ikatan darah itu."

Napas Ibunya tercekat.

"Aku berjuang sendirian menahan mimisan di perpustakaan Zurich saat belajar bahasa Jerman," lanjut Emily, matanya memancarkan keteguhan yang membuat orang tuanya tertunduk malu. "Aku menahan lapar di kamar studio Subang Jaya demi menghemat uang beasiswaku. Di mana Mama saat aku kelelahan? Mama cuma datang saat melihat namaku ada di majalah bisnis, lalu menuntut uang untuk membayar gaya hidup kalian."

Emily menyodorkan selembar surat pernyataan penolakan tuntutan yang sudah disiapkan pengacaranya.

"Aku bukan mesin ATM kalian," tegas Emily, setiap kata yang keluar dari bibirnya memutus secara permanen jerat kejahatan emosional masa lalunya. "Tuntutan penelantaran ini resmi batal secara hukum bursa dan internasional. Jika kalian berani menampakkan diri di Kampus Sunway atau apartemenku satu kali lagi... pengacaraku akan mengajukan perintah penahanan atas tuduhan stalking dan pemerasan internasional."

Pejabat PDRM dan perwakilan KBRI menggelengkan kepala iba menatap orang tua Emily, lalu mengesahkan surat penolakan tuntutan tersebut dengan stempel resmi.

"Laporan pengaduan ini resmi ditutup dan dianggap batal demi hukum," tegas pejabat PDRM seraya mengetuk palu kecilnya.

Ibunya terkulai lemas di kursinya, menyadari bahwa ia telah kehilangan seluruh akses dan kekuasaannya atas anak tengah yang selama ini ia sepelekan.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Pukul 16.30 sore. Langkah kaki Emily dan Sean membelah keheningan pelataran gedung IPK KL. Hujan gerimis tipis menyapu kota Kuala Lumpur, meninggalkan aroma tanah basah yang menenangkan.

Emily menghentikan langkahnya di bawah naungan payung hitam yang dipegang oleh Sean.

Perasaan hampa yang selama empat tahun ini mengganjal di dadanya seketika menguap, berganti menjadi sebuah rasa lega yang teramat sangat. Ia akhirnya benar-benar bebas dari bayang-bayang keluarganya.

Sean merapatkan tubuhnya, memeluk bahu Emily erat-erat dari samping. "Kamu hebat banget tadi, Mil. Aku bangga luar biasa sama kamu."

Emily mendongak, menatap Sean dari balik kacamata tipisnya, lalu tersenyum manis—sebuah senyuman lepas tanpa beban yang memancarkan kecantikannya secara sempurna.

"Ayo balik ke Sunway, Sean," ajak Emily riang, menggandeng erat lengan kemeja Sean. "Aku lapar banget. Kita makan Maggi Goreng telur mata sama minum Teh Tarik di kedai mamak SS15."

Sean terkekeh hangat, mengecup pelipis Emily dengan penuh kelembutan. "Siap, Princess. Apapun buat kamu."

Mereka berdua melangkah menyusuri trotoar Subang Jaya yang mulai diterangi lampu-lampu jalanan. Di antara riuh rendah suara klakson kendaraan, tawa mahasiswa yang melintas, dan aroma kuah kari yang membumbung di udara, Emily dan Sean menikmati momen paling manusiawi dalam hidup mereka.

Mereka adalah dua insan yang saling mencintai, saling melindungi, dan akhirnya menemukan rumah sejati di tengah kesederhanaan masa muda mereka.

Namun, tepat saat mereka tiba di depan gerbang apartemen SS15, sebuah sedan sport berwarna silver yang sangat berkilau terparkir di bahu jalan.

Seorang pria muda berparas tampan dengan gaya pakaian kasual mewah ala bangsawan Eropa turun dari mobil tersebut. Pria itu melepaskan kacamata hitamnya, mengukir senyum menawan yang sangat familier saat menatap Emily.

"Hallo, Emily," sapa pria asing itu dalam bahasa Inggris berlogat Swiss yang amat kental. "Lama tidak berjumpa sejak Gymnasium Zurich."

Mata Emily membelalak kaget. "Julian...?"

Di samping Emily, raut wajah Sean seketika mengeras dingin saat melihat kemunculan pria asing yang tampak sangat dekat dengan masa lalu Emily di Swiss tersebut.

Bersambung......

1
Alia Chans
Hadir atuuu/Smile//Smile/
Bella: haloo kakk, makasihh yaa 🥰 enjoy ceritanyaa 💖
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!