Aria Evander, seorang mahasiswi kedokteran brilian di dunia modern, terbangun di dalam tubuh putri Baron yang bangkrut dalam novel fantasi yang pernah ia baca. Mengetahui nasibnya adalah kematian tragis sebagai pion politik, ia menolak tunduk pada naskah 'takdir'. Dengan bantuan Lumi, roh pena takdir yang memberinya kemampuan memanipulasi narasi realitas, Aria memulai permainan catur politik di Kekaisaran Sihir Elgarth. Ia harus menyeimbangkan antara bertahan hidup, memperbaiki kondisi keluarganya yang terpuruk, dan menjinakkan hati para penguasa yang memegang kunci kelangsungan dunianya, sambil menyadari bahwa setiap perubahan yang ia buat menciptakan riak yang mengancam keseimbangan antara terang dan kegelapan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S. Sage, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Ibu Kota
Sinar mentari pagi di Kekaisaran Elgarth tidak pernah benar-benar hangat. Cahaya pucatnya menerobos celah gorden beludru yang mulai memudar di kamar Aria, melukis garis-garis emas tipis di atas lantai kayu yang berderit. Di atas meja kecil dekat jendela, kepulan uap tipis membubung dari cangkir teh chamomile. Teh itu murah, aromanya tidak sekuat teh melati kelas atas yang biasa disajikan di istana, tetapi bagi Aria, kehangatan yang menjalar ke jemarinya saat memegang cangkir itu sudah lebih dari cukup.
Pintu kayu jati berukir tua itu terbuka dengan desis pelan.
“Nona, sarapan Anda sudah siap,” kata Mia Florent pelan. Gadis pelayan itu melangkah masuk dengan nampan berisi roti gandum panggang dan mentega segar. Wajahnya yang biasa ditekuk murung kini tampak jauh lebih cerah. Ada binar lega yang tidak bisa ia sembunyikan.
Aria menyesap tehnya perlahan, merasakan cairan hangat itu membasahi tenggorokannya yang kering. “Ayah sudah sarapan?”
“Baron Edward sedang berada di halaman belakang bersama Madam Elena,” jawab Mia, menyusun piring di atas meja dengan gerakan ringan. “Beliau terlihat... sangat berbeda pagi ini, Nona. Bahunya tidak lagi tegang seperti hari-hari kemarin. Sejak kereta dari Persekutuan Dagang Werner mengantarkan peti itu kemarin sore, seluruh pelayan di kediaman merasa seolah-olah batu besar yang menghimpit atap rumah ini telah lenyap.”
Aria tersenyum tipis. Lima ratus koin emas. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran keluarga Baron yang hampir diusir dari tanah leluhur mereka sendiri. Uang itu tidak hanya melunasi seluruh utang mendesak yang ditinggalkan para penagih berwajah bengis, tetapi juga mengembalikan martabat ayahnya yang sempat terkikis habis.
Namun, Aria tahu ini baru permulaan. Lembaran kertas takdir yang ia manipulasi bersama Lumi belum selesai bekerja.
Sebutir cahaya keemasan seukuran kunang-kunang mendadak muncul dari balik bayangan cermin riasnya. Cahaya itu berputar-putar di udara sebelum akhirnya memadat menjadi sosok mungil berparas elok dengan sayap transparan yang berkilau. Lumi, sang roh pena takdir, mendarat dengan anggun di tepi cangkir teh Aria.
“Aria, riak pertama telah bergerak,” bisik Lumi, suaranya seperti gemercik air di malam sunyi. “Gadis berambut pirang di ibu kota itu telah membaca berita pagi ini. Wajahnya memerah karena amarah saat mengetahui reputasimu tidak hancur seperti yang ia rencanakan.”
Aria meletakkan cangkirnya ke piring porselen dengan denting pelan. “Evelyn Roselia. Dia tidak akan membiarkan bidaknya kalah begitu saja tanpa perlawanan.”
“Benar,” sahut Lumi sembari merapikan gaun cahayanya yang berpendar lembut. “Seorang wanita paruh baya dengan gaun berhias bulu merak baru saja memasuki batas wilayah Baron Evander. Dia membawa seorang pria paruh baya yang mengenakan kacamata tebal tunggal.”
Aria berdiri dari kursi kayunya, merapikan lipatan gaun hijau mint miliknya yang meskipun bersih, sudah kehilangan kilau mewahnya. Tatapannya beralih ke luar jendela, menatap jalan setapak berbatu yang membelah kebun mawar liar yang terbengkalai di depan manor. Di sana, sebuah kereta kuda mewah dengan lambang mawar putih—simbol keluarga Roselia—sedang bergerak mendekat.
Evelyn terlalu licik untuk datang sendiri ke tempat yang ia anggap kumuh ini. Ia mengirim kerabat jauhnya, Lady Catherine, bersama seorang penilai barang antik terkenal dari ibu kota, Master Boris. Tujuannya sangat jelas: membongkar kebohongan tentang ‘Pedang Pelindung’, pusaka keluarga Evander yang dirumorkan telah digadaikan secara diam-diam.
“Mari kita sambut tamu kita, Mia,” kata Aria dengan nada suara yang terlampau tenang untuk seseorang yang akan menghadapi badai.
Di ruang tamu kediaman Evander, udara terasa dingin dan kaku. Baron Edward duduk di kursi lengan kayu ek dengan punggung tegak, sementara istrinya, Elena, meremas saputangan sutra di pangkuannya. Di hadapan mereka, Lady Catherine duduk dengan keanggunan yang dipaksakan. Kipas sutra di tangannya bergerak-gerak cepat, seolah-olah udara di dalam manor ini terlalu berdebu untuk paru-parunya yang mulia.
“Paman Edward, kita semua tahu bagaimana kondisi keuangan keluarga ini akhir-akhir ini,” kata Catherine dengan nada prihatin yang terdengar begitu palsu di telinga Aria yang baru saja melangkah masuk. “Ibu kota dipenuhi rumor yang kurang menyenangkan. Mereka bilang, demi menyambung hidup, Anda telah menjual Pedang Pelindung yang diberikan oleh Kaisar terdahulu. Sungguh sebuah aib jika hal itu benar, bukan?”
Baron Edward mengepalkan tangannya di atas lutut hingga buku-buku jarinya memutih. “Pedang itu ada di tempat yang seharusnya, Catherine. Keluarga Evander tidak akan pernah menjual kehormatan kami.”
“Kalau begitu, biarkan Master Boris memeriksanya,” sahut Catherine cepat, mengisyaratkan pria gemuk di sebelahnya untuk maju. “Jika pedang itu asli, gosip di ibu kota akan mereda dengan sendirinya. Saya melakukan ini demi kebaikan nama baik keluarga kita.”
Aria melangkah maju, memecah ketegangan yang hampir membekukan ruangan. “Sungguh perhatian yang luar biasa dari seorang kerabat jauh, Lady Catherine.”
Catherine menoleh, matanya menyipit menatap Aria dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Aria. Kudengar kau baru saja sembuh dari sakit keras. Seharusnya kau beristirahat di kamar daripada mencampuri urusan orang dewasa.”
“Saya sudah cukup sehat untuk melihat bagaimana kehormatan keluarga saya diuji di rumah kami sendiri,” kata Aria pelan namun tegas. Ia memberi isyarat kepada Mia, yang kemudian melangkah masuk membawa sebuah kotak kayu panjang berukir lambang keluarga Evander.
Master Boris maju dengan senyum meremehkan yang tersamar di sudut bibirnya. Tangannya yang mengenakan sarung tangan putih membuka penutup kotak tersebut, memperlihatkan sebuah pedang tua dengan gagang perak yang tampak kusam karena usia.
Aria menahan napasnya sejenak. Tadi malam, ia telah menggunakan kemampuan ‘Penulis Takdir’ untuk menuliskan beberapa baris kalimat di atas naskah realitas milik Lumi:
*“Ketika tangan yang dipenuhi niat busuk menyentuh bilah besi tua itu\, sisa-sisa Mana Suci kuno akan meledak dari gagangnya\, memperlihatkan kebenaran\, sementara replika palsu yang disembunyikan di dalam jubah sang penilai akan kehilangan sihir penyamarannya.”*
Master Boris mengeluarkan sebotol cairan pendeteksi dari sakunya. Ia bermaksud meneteskan cairan tersebut untuk memicu reaksi kimia yang akan membuat pedang asli itu terlihat seperti replika murahan—sebuah trik kotor yang telah dipersiapkan oleh Evelyn.
Namun, begitu ujung jarinya menyentuh permukaan logam pedang tersebut, getaran hebat menjalar di udara ruangan.
Cahaya perak yang menyilaukan mendadak memancar dari bilah pedang tua itu. Cahaya itu begitu murni, begitu suci, hingga membuat Master Boris terpekik dan melangkah mundur hingga menabrak meja teh. Cairan pendeteksi di tangannya tumpah, membakar sarung tangan putihnya hingga hangus.
“A-Apa ini?!” teriak Boris dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar hebat, dan dari balik lipatan jubah tebalnya, sebuah benda logam berdentang jatuh ke atas lantai marmer.
Benda itu adalah sebuah pedang pendek dengan gagang perak tiruan yang sangat mirip dengan pusaka Evander, namun terbuat dari tembaga murah yang disepuh.
Ruangan itu seketika hening. Hanya ada deru napas panik Boris dan detak jam dinding tua.
Aria melangkah mendekat, membungkuk pelan untuk memungut pedang tembaga yang terjatuh di dekat kaki Catherine. Ia memutar-mutar senjata mainan itu di tangannya dengan senyum dingin.
“Menarik sekali,” kata Aria, suaranya terdengar begitu lembut namun mematikan. “Saya tidak tahu bahwa seorang penilai terkenal dari ibu kota terbiasa membawa replika murah dari pusaka keluarga kami di dalam jubahnya. Apakah ini bagian dari metode penilaian Anda, Master Boris? Ataukah... ada yang berniat menukar pedang asli kami dengan sampah ini?”
Wajah Catherine berubah drastis dari meremehkan menjadi seputih kertas. Ia berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser kasar. “I-Ini keterlaluan! Boris, jelaskan apa maksud semua ini!”
“Saya... saya tidak tahu! Seseorang memberikan benda ini kepada saya kemarin malam dan menyuruh saya—” Boris menghentikan kalimatnya sendiri, menyadari bahwa ia hampir membongkar siapa dalang di balik semua ini.
“Cukup,” sela Baron Edward, suaranya bergemuruh rendah dengan wibawa seorang mantan jenderal yang telah lama tertidur. “Keluar dari rumahku sebelum aku menggunakan pedang asli ini untuk memotong tangan kalian yang kotor.”
Tanpa menunggu perintah kedua, Catherine dan Boris bergegas meninggalkan ruangan dengan langkah seribu, mengabaikan segala tata krama bangsawan yang selalu mereka agung-agungkan.
Aria berdiri di dekat jendela, menyaksikan kereta kuda berlogo mawar putih itu pergi dengan tergesa-gesa, meninggalkan kepulan debu di jalanan berbatu. Di sudut terjauh jalan tersebut, ia menangkap bayangan sebuah kereta hitam tanpa lambang yang terparkir di bawah bayang-bayang pohon ek tua.
Tirai kereta hitam itu sedikit tersingkap, memperlihatkan sepasang netra kelam yang mengawasinya dari kejauhan, sebelum kereta itu perlahan berbalik dan melaju pergi.
“Lumi,” bisik Aria, jemarinya meremas tepi jendela kayu. “Siapa yang ada di dalam kereta hitam itu?”
Lumi terbang mendekat, mendarat di bahu Aria dengan ekspresi yang mendadak serius. “Seseorang yang tidak ada dalam naskah aslimu hari ini, Aria. Sang Duke dari Utara telah mulai mengamatimu.”