Spin-of Baby's breath untuk Aretha
Arlo dan Queena sudah bersahabat sejak kecil, sebenarnya di bilang sahabat juga bukan atau lebih tepatnya musuh bebuyutan. Lebih pada Queena adalah sasaran empuk kejahilan dan kenakalan Arlo, si cantik putri dari pasangan Rega dan Rhea tersebut sudah menjadi target keusilan putra Hana dan Leo sedari Queena masih bayi.
“Apa? Mi-mom jangan bercanda, ya!” Arlo terkejut saat mi-mom Hana memberikan usulan untuk menikahkan Arlo dan Queena diusia mereka yang masih muda.
Arlo mengusak rambutnya frustasi, kecerobohannya memanjat balkon kamar Queena membuatnya terjebak dalam situasi yang membuat kedua orang tuanya dan orang tua Queena murka. Dan satu-satunya orang yang harus di salahkan adalah kakak sepupu Arlo yang tidak lain adalag Gavin.
Lalu apa alasan Arlo dan Queena menyembunyikan pernikahan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Anfi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3# Regantara Family
“Assalamu’alaikum,” Queena sampai di rumahnya, dia menyapa kedua orang tua dan sang adik yang sedang bercengkeram di ruang keluarga.
“Wa’alaikumussalam,” jawab mereka bertiga yang duduk di sofa ruang keluarga.
Dengan langkah gontai dia berjalan menuju sang mama. Queena duduk di samping mama Rhea, gadis itu memeluk dan mendusel mama Rhea dari samping. Rhea mengusap lembut puncak kepala putrinya. “Kenapa lemas begitu, sayang?” tanya mama Rhea.
“Istri papa itu, sayang.” Papa Rega menggoda putrinya, dia menyingkirkan tangan Queena yang memeluk pinggang mama Rhea.
“Papa, ih!”gerutu Queena, dia kembali memeluk pinggang mama Rhea. “Lapar, ma. Makan siangku di habisin sama begundal red flag,” Queena menjawab pertanyaan sang mama.
“Arlo?” tebak mama Rhea diangguki Queena.
“Pfff… musuh bebuyutan kakak dari orok tidak ada peningkatan sama sekali,” ledek Dean.
“Satu Arlo saja sudah buat kepalaku ini pusing, Dean. Dari pada ganti musuh, mending aku nge lab kultur bakteri saja. Lebih asik dari pada Arlo,” balas Queena.
“Butuh bantuan papa, sayang? Biar papa kasih paham itu anak Leo,” sahut papa Rega.
Mama Rhea langsung mengerutkan dahi, dia menoleh pada suaminya.
“Eskpresimu itu, yank. Kamu meragukan suami tampanmu ini?” protes papa Rega saat sang istri menatapnya penuh ragu.
“Bukan ragu, mas. Coba mas Rega ingat-ingat lagi, sudah berapa kali dan apa saja yang mas lakukan buat negur Arlo. Ada yang mempan, tidak?” mama Rhea tersenyum penuh tanya.
Papa Rega tersenyum kikuk, dia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Sudah tak terhingga, yank.”
Mereka tertawa setelah mendengar jawaban papa Rega, pasalnya apa yang di katakan mama Rhea memang benar adanya. Sampai hari ini belum ada satu orang pun yang berhasil membuat Arlo berhenti untuk tidak menjahili Queena, makin hari ada saja ide Arlo dalam menjahili Queena.
“Mama sama mbak Yuyun buat zuppa soup tadi, kakak mau?” mama Rhea menepuk lembut lengan putrinya.
“Apapun asal masakan mama, Ueena mau. Masakan mama selalu enak,” pujinya pada masakan mama Rhea. “Dean juga mau, ma. Perutku bilang mau masakan mama,” ujarnya sambil mengusap perutnya sendiri.
Mama Rhea tersenyum. “Mama hangatkan zuppa supnya dulu untuk kakak sama Dean. Kakak bersih-bersih, ganti baju. Anak mama masa bau formalin,”
Queena mengangguk. “Mama memang terbaik,” putri pasangan Rega dan Rhea tersebut meng3cup pipi sang mama.
“Pipinya papa belum ini, sayang.” papa Rega menunjuk pipi kirinya.
“Ish… papa iri banget sih,” ucap Queena yang selanjutnya meng3cup pipi kiri sang papa.
“Bener bau formalin ternyata,” celetuk papa Rega. “Papa…” cebik Queena yang kemudian mendapatkan rangkulan di pundak dari sang papa. “Tapi tetap cantik ini anak papa,” ujar papa Rega.
Mama Rhea terkekeh, dia hanya menggeleng melihat suaminya sedang menggoda sang putri. “Mas Rega mau zuppa sup juga?” tanya mama Rhea diangguki papa Rega.
Mama Rhea bangkit dari sofa, dia menuju dapur untuk menghangatkan zuppa sup. Begitupun dengan Queena, dia menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
“Kakak mandi bebek?” celetuk Dean yang sedang menikmati zuppa sup bersama sang papa.
“Enak saja. Aku beneran mandi ya, Dean. Sudah wangi ini,” Queena Mengen dus aroma tubuhnya sendiri.
“Habisnya kakak mandi cepet banget. Biasanya cewe kalau mandi kan lama,” ujarnya lagi.
Queena hanya mengangkat kedua bahunya, tidak perduli dengan ocehan Dean. Dia duduk dan ikut menikmati zuppa sup buatan sang mama.
***
Usai makan malam, Queena dan keluarganya menikmati desert sambil menikmati pemandangan langit malam dari balkon kamarnya. Mereka berempat duduk di sofa yang ada di balkon kamar Queena.
“Liburan dong, pa! Ini kepala isinya sudah mau luber-luber,” pinta Dean.
“Coba sini papa lihat! Mau meluber ke kanan atau ke kiri itu isi kepala,” Rega memiting kepala putranya di bawah lengan, dia mengusak rambut putranya yang sebentar lagi tujuh belas tahun tersebut.
“Ck… seriusan ini, pa. Biar fresh sebelum ujian,” ucap Dean.
“Belum ada sebulan kamu dari US, Dean. Masa iya mau liburan lagi,” jawab papa Rega.
“Olimpiade itu, pa. Bukan liburan,” Dean memang sering pergi ke luar negeri untuk mengikuti olimpiade sains bersama dengan Aila sepupunya dan juga Aqila adik Arlo, kebetulan memang mereka satu sekolah. Ketiganya sering ikut lomba sains nasional maunpun internasional.
“Nanti tunggu kamu lulus dulu. Papa mau lihat bagaimana nilai akhirmu nanti,” jawab papa Rega.
Dean menghela napas, dia tahu sang papa tidak bisa dengan mudah dia taklukkan. Pawang papa Rega hanyalah mama Rhea, dan Dean tidak enak hati jika harus minta bantuan sang mama. Karena mama Rhea sebulan lalu sudah membantu membujuk papa Rega untuk membelikan Dean PC terbaru.
Putra kedua pasangan Rega dan Rhea tersebut tidak kehilangan akal, dia bealih merayu sang kakak. Dean tersenyum penuh makna pada Queena, dia bahkan sudah menempeli sang kakak.
“Aku tidak bisa, Dean. Satu tahun kedepan jadwalku padat,” ucap Queena yang paham maksud sang adik.
“Padahal aku belum bilang. Sudah tahu saja apa yang aku mau,” gerutu Dean.
Queena mengusak rambut adik beda usia empat tahun dengan dirinya itu. “Maaf. Kamu tahu sendiri, Dean. Kakak sudah semester tujuh,” selain sudah harus mempersiapkan skripsi, Queena juga masih punya tanggung jawab sebagai asisten dosen. Satu tahun kedepan dia benar-benar sibuk.
“Nasib punya kakak cerdas diatas rata-rata,” celetuk Dean.
Papa Rega terkekeh mendengar putranya menggerutu. “Papa kasih ijin kalau kamu liburan ke Lembang, nginap di Villa om Arka. Tapi hanya boleh bawa teman-teman laki-laki. Tidak ada teman perempuan, tidak ada alkohol. Tidak ada yang aneh-aneh,”
Dean langsung tersenyum lebar. “Siap yang mulia Regantara Setyadarma. Hamba patuhi perintah,” jawabnya membuat semua tertawa ringan.
Mereka masih berbincang di balkon kamar Queena, karena memang belum terlalu larut malam. Hingga obrolan mereka terhenti karena ponsel mama Rhea berdering. “Mommynya mbak Aretha,” ucap mama Rhea, dia lantas mengusap tombol hijau dan muncul wajah mommy Rena pada layar.
“Kak Rena. Ada apa?”
“Aku tidak mengganggu kalian, kan?”
“Tidak, kak. Aku, mas Rega sama anak-anak sedang bersantai. Ada yang penting?”
“Azura lagi ngambek gara-gara Aretha lembur di kantor, Rhea. Jadinya dia minta vidcall mama Rhea. Princess kangen mama Rhea katanya,”
Azura langsung menyembul entah dari mana.
“Mama Lhea, plincess Zula lindu. Mau cheese cakenya mama,”
“Kangen mama Rhea atau kangen sama cheese cakenya mama ini?”
“Dua-duanya,”
“Besok mama buatkan untuk princess. Besok princess ke mari sama pak Aji, ya! Ambil cakenya,”
“Jangan banyak-banyak makan cake, cil. Nanti itu gigi di bawa semut,”
“Abang pololo belicik,”
Queena tiba-tiba menyembul dari balik badan sang mama. “Kalau Ueena saja yang jemput princess boleh, mom? Sekalian mau jalan-jalan sebentar,”
“Boleh, sayang. Azura jangan di tanya mau atau tidak kamu ajak jalan. Jawabnya sudah pasti mau,”
“Siap mommy,”
“Holle…plincess becok jalan-jalan,”
Setelah perbincangan menghebohkan tersebut, mereka mengakhiri panggilan video. Kebetulan malam juga sudah makin larut, papa dan mama juga Dean sudah kembali ke kamar mereka masing-masing. Queena juga memutuskan untuk segera istirahat, karena besok dia ada kuliah pagi.
Si manusia red flag
“Jangan lupa pemintaan bang Gavin.”
Little Queen
“Besok jemput Azura jam sebelas di sekolah. Suruh bang Gavin ke flowers café,”
Si manusia red flag
“Oke,”
Queena menghela napas setelah membaca pesan dirinya dengan Arlo. “Bang Gavin benar-benar nyusahin, segala pakai bikin mbak Aretha ngambek. Ujung-ujungnya aku juga yang ikut repot, mana harus sama manusia red flag satu itu.” Gumam Queena, dia lantas menaruh ponselnya diatas nakas. Setelah itu dia merebahkan dirinya, menarik selimut hingga menutupi dada. Dia memang butuh istirahat setelah energinya sudah habis untuk kegiatan di laboratorium pagi tadi.