Nathan, seorang polisi yang gagal menjalankan tugasnya, menemui akhir yang tragis. Namun, takdir memberinya kesempatan kedua dengan mengirimnya kembali ke masa ketika ia baru memulai karier sebagai polisi.
Kali ini, Nathan bertekad mengubah nasibnya. Dengan bantuan sebuah sistem misterius yang memberinya hadiah setiap kali berhasil menangkap penjahat, ia akan memburu para kriminal satu per satu dan memperbaiki semua penyesalan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Berkunjung
Nathan dan Lisa berkunjung ke rumah kediaman Niko.
Setibanya di depan pintu, Nathan mengetuk pintu rumah yang tampak hangat itu. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan Niko muncul di ambang pintu. Raut wajah Niko seketika berseri-seri menyambut kedatangan mereka.
"Nathan, akhirnya datang juga! Eh... bukannya dia?" tanya Niko kaget, memandangi sosok wanita di samping Nathan.
Nathan menyodorkan kantong-kantong belanjaan besar berisi perlengkapan ibu hamil dan mainan anak yang dibelinya tadi. "Ya, dia orang yang sama. Aku kebetulan ketemu dia di cafe tadi, dan ya... seperti itulah."
Lisa tersenyum ramah sembari mengangkat tangannya pelan. "Salam kenal."
Niko menerima kantong-kantong belanjaan itu dengan kedua tangannya, lalu membalas senyuman Lisa dengan hangat. "Ah, iya. Terima kasih banyak, ya! Ayo masuk, masuk."
Mereka kemudian dipersilakan melangkah ke dalam ruang tamu. Istri Niko yang sedang mengandung tampak keluar dari kamar, wajahnya berbinar senang saat tahu ada tamu yang datang berkunjung.
Di dalam ruang tamu yang sederhana namun nyaman itu, mereka dijamu dengan teh hangat dan camilan.
Mereka mengobrol banyak hal, mulai dari perkembangan kehamilan istri Niko, lelucon di kantor polisi, hingga nostalgia masa-masa tugas mereka.
Setelah beberapa jam berlalu dan waktu semakin larut, Nathan memutuskan untuk pamit pulang bersama Lisa.
Niko dan istrinya mengantar mereka berdua hingga ke depan teras rumah. "Hati-hati ya, Nathan. Mampir lagi lain kali."
"Kalau senggang aku mampir lagi," balas Nathan sambil melambaikan tangan.
Sepulangnya di rumah, suasana pekarangan yang sedang direnovasi terasa hening.
Nathan masuk ke dalam rumah, lalu memilih duduk di depan meja kerjanya dan langsung memeriksa layar laptopnya yang menyala.
Sementara itu, Lisa yang merasa sudah sangat akrab langsung merebahkan tubuhnya dengan santai di sofa ruang tengah. "Rumahmu semakin bagus saja."
"Hmph," Nathan hanya berdehem pelan tanpa mengalihkan pandangannya dari monitor.
Mata Nathan menyipit saat membaca bilah surel yang masuk.
Ada sebuah email mendesak dari Komisaris Martin mengenai laporan kasus pembunuhan tragis di sebuah rumah pemukiman warga.
Yang membuat kasus ini menarik perhatian Nathan adalah kenyataan bahwa yang melaporkan kejadian tersebut adalah suami korban sendiri.
Melihat ada tindak kejahatan baru yang harus ditangani, Nathan berniat untuk segera menyelesaikan masalah ini.
Ia beranjak dari kursinya, berjalan menuju lemari, dan mengenakan seragam dinas kepolisiannya dengan sigap.
Lisa yang melihat perubahan gerakan Nathan mendongakkan kepala dari sofa, menatapnya penasaran. "Mau ke mana? Sudah mau malam, lho."
Nathan melangkah menuju pintu depan, merapikan kerah seragamnya lalu membuka pintu keluar. "Aku ada urusan. Jangan melakukan hal yang aneh-aneh, aku memantaumu dari layar CCTV."
Mendengar ucapan itu, Lisa mendongak dan memutar pandangannya ke sekeliling langit-langit ruangan.
Ia sama sekali tidak melihat ada monitor atau kamera pengawas yang mencolok mungkin Nathan sengaja memasang kamera mikro tersembunyi di sudut yang tak terlihat.
Lisa terkekeh pelan. "Ah, baiklah kalau begitu. Hati-hati di jalan."
Dengan langkah yang tenang namun mantap, Nathan membelah kegelapan malam menuju lokasi kejadian perkara.
Menurut informasi awal di laporan, beberapa personel kepolisian sudah berada di lokasi untuk mengamankan area.
Saat sampai di lokasi sebuah rumah dua lantai yang sudah dipasangi garis polisi, lampu kilat kamera forensik tampak menyala berulang kali dari jendela. Nathan melangkah mendekati garis pembatas.
Di sana, ia melihat Reno sedang berdiri tegap sembari memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
Pandangan Reno tertuju pada pintu rumah, raut wajahnya menunjukkan bahwa ia sedang berpikir keras.
Langkah kaki Nathan mendekat, memecah lamunan Reno hingga seniornya itu tersadar.
"Sudah datang ternyata," panggil Reno saat melihat sosok Nathan. "Untuk sekarang, kita masih melakukan penyelidikan awal terkait kematian korban."
"Begitu ya... Aku akan memeriksa ke dalam," sahut Nathan.
Nathan melangkah maju. Beberapa petugas polisi yang menjaga tali pembatas garis polisi langsung memberi hormat dan mempersilakan Nathan masuk tanpa halangan.
Di dalam rumah, aroma amis darah yang pekat menyengat hidung.
Nathan melangkah dengan sangat hati-hati, memperhatikan setiap detail ruangan bersama beberapa tim forensik yang sedang bekerja.
Di lantai ruang tengah, tergeletak mayat seorang perempuan dengan kondisi yang mengenaskan.
Terdapat ceceran dan bercak darah di sekitarnya.
Tubuh korban dipenuhi luka tusukan yang cukup dalam di area perut, hingga beberapa organ dalamnya terlihat keluar.
Di dekat area tangga, seorang polisi lain sedang mencatat keterangan awal.
Nathan mendengar petugas itu menyampaikan bahwa ada beberapa barang berharga dan perhiasan rumah yang hilang dari tempatnya.
"Untuk sekarang, ini kita anggap sebagai kasus pencurian dengan kekerasan," ujar polisi yang mencatat tersebut. "Kita akan melakukan visum et repertum dan pemeriksaan laboratorium lebih lanjut besok pagi."
Namun, Nathan yang berdiri tak jauh dari jasad korban justru tampak curiga.
Ia berlutut pelan, mengamati pola luka dan arah cipratan darah di sekitarnya. Jika melihat dari arah dan kedalaman tikaman di perut korban, wanita ini dibunuh secara tiba-tiba tanpa ada jeda negosiasi.
Meskipun terlihat ada jejak perlawanan kecil yang dilakukan oleh korban sebelum tewas, ada beberapa hal mendasar yang terasa sangat mengganjal di mata Nathan.
Di lokasi kejadian yang seharusnya acak-acakan akibat aksi perampokan, tim forensik sama sekali tidak menemukan sidik jari asing, jejak sepatu yang tertinggal, maupun helai rambut pelaku.
Semua terasa terlalu bersih dan rapi untuk sebuah aksi pencurian biasa yang panik.
Nathan berdiri kembali, memasukkan tangannya ke saku seragamnya sembari menatap dingin ke arah jasad korban.
"Sepertinya kejahatan ini sudah direncanakan..." pikir Nathan dalam hati.