Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23
Indri terbangun dengan tubuh yang terasa begitu berat. Ia membuka mata perlahan ketika cahaya matahari mulai masuk melalui celah tirai.
Biasanya, suara alarm yang berbunyi pukul enam sudah cukup membuatnya bangkit dan bersiap menjalani rutinitas. Namun pagi ini berbeda.
Kepalanya terasa sedikit berputar. Tubuhnya lemas. Dan yang paling mengganggu adalah rasa mual yang kembali muncul sejak beberapa hari terakhir.
Indri memejamkan mata lagi. Ia mencoba mengumpulkan tenaga untuk bangun, tetapi tubuhnya terasa enggan bergerak.
"Kenapa badanku seperti habis dipukuli?" gumamnya.
Ia akhirnya duduk di tepi ranjang. Beberapa saat ia hanya diam sambil memijat pelipis. Pikirannya langsung tertuju pada pekerjaan.
Hari ini sebenarnya ada beberapa dokumen yang harus diperiksa. Ia juga sudah berjanji kepada salah satu rekan kerja untuk menghadiri rapat singkat menjelang siang.nNamun setelah mencoba berdiri, kepalanya kembali terasa berputar.
Indri segera berpegangan pada meja. "Sepertinya aku memang harus istirahat."
Ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan kepada Nisa, sekretarisnya, memberitahu bahwa hari ini ia tidak bisa datang ke kantor karena kurang sehat.
Setelah itu, Indri kembali merebahkan tubuh. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia memutuskan membiarkan pekerjaannya menunggu.
Ia tidak tahu bahwa keputusan sederhana untuk tinggal di rumah itu justru akan memberinya kesempatan menyadari sesuatu tentang tubuhnya yang selama beberapa hari ini ia abaikan.
Menjelang pukul sembilan, Indri sudah merasa sedikit lebih baik.
Ia turun ke lantai bawah dengan pakaian rumah sederhana.
Haris yang sedang sarapan menoleh ketika melihat putrinya. "Kamu tidak ke kantor?"
Indri menggeleng. "Hari ini tidak Pa."
"Kenapa?"
"Badanku kurang enak. Sepertinya terlalu lelah."
Haris langsung memperhatikan wajahnya. "Kamu demam?"
"Tidak."
"Pusing?"
"Sedikit. Kadang mual juga."
Haris mengernyit. "Kamu sudah makan?"
"Belum, Pa."
"Ya sudah, sarapan dulu. Jangan membiarkan perut kosong."
Indri tersenyum kecil. "Iya, Pa."
Haris kemudian mengambilkan makanan untuknya. Indri duduk di meja makan. Namun baru beberapa suap, ia sudah merasa tidak nyaman. Ia meletakkan sendok.
Haris memperhatikannya. "Kenapa?"
"Sudah kenyang, Pa."
"Baru makan sedikit."
Indri tersenyum. "Aku memang tidak terlalu lapar."
Haris menghela napas. "Kalau tidak enak badan, jangan dipaksakan."
Indri mengangguk. "Iya." Ia tidak terlalu memikirkan keadaan tersebut. Dalam pikirannya, semua memang akibat kelelahan.
Beberapa minggu terakhir dirinya bekerja terlalu keras. Ditambah tekanan setelah kematian Evan. Wajar jika tubuhnya membutuhkan waktu untuk kembali pulih.
Setelah sarapan, Indri ke ruang keluarga. Laura kecil sedang bermain dengan beberapa boneka di atas karpet.
Begitu melihat Indri, wajah anak itu langsung berubah ceria. "Tante!"
Indri tersenyum. "Hm?"
Laura kecil berlari menghampirinya. "Mau main."
"Main apa?"
"Rumah-rumahan." Laura kecil menyerahkan salah satu bonekanya. "Ini Tante."
Indri tertawa kecil. "Kenapa Tante jadi boneka?"
"Karena Tante harus jadi ibu."
Indri terdiam sesaat. Kemudian ia tersenyum. "Baiklah." Ia menerima boneka tersebut. "Kalau begitu, siapa Ayahnya?"
Laura kecil mengambil boneka lain. "Ini."
Indri tertawa. Permainan sederhana itu perlahan membuat pikirannya sedikit lebih ringan.
Untuk beberapa saat, ia tidak memikirkan Evan. Tidak memikirkan pekerjaannya. Tidak memikirkan masa lalu. Ia hanya bermain bersama seorang anak kecil yang sama sekali tidak tahu betapa rumitnya dunia orang dewasa.
"Tante harus masak," kata Laura kecil.
"Masak apa?"
"Nasi goreng."
"Oke." Indri berpura-pura sibuk layaknya memasak di dapur. "Gimana, enak, gak?"
"Enak, Tante."
"Kalau begitu Tante akan masak banyak dan kamu harus makan nasi goreng buatan Tante setiap hari."
Laura kecil tertawa. Suara tawanya membuat hati Indri terasa hangat.
Tidak lama kemudian, Brian datang dari arah ruang tengah. Anak laki-laki itu langsung bergabung.
"Kak, aku juga mau ikut."
"Ya sudah."
Brian duduk di samping mereka. "Tante jadi ibu, aku jadi apa?"
"Jadi kakak," jawab Laura kecil.
Brian mengangguk puas. "Aku mau jadi kakak yang kuat."
Indri tersenyum. "Kalau begitu kamu harus melindungi adikmu."
Brian mengangguk serius. "Aku akan lindungi."
Indri memandangi keduanya. Seketika hatinya terasa begitu tenang. Ia menyadari bahwa kebahagiaan terkadang datang dari hal-hal sederhana. Tidak perlu sesuatu yang besar. Cukup tawa anak-anak. Cukup rumah yang masih dipenuhi orang-orang yang menyayanginya.
Ia kemudian menyadari sesuatu.
Selama beberapa tahun terakhir, dirinya terlalu sibuk berhadapan dengan masa lalu sampai lupa menikmati apa yang masih dimilikinya.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Beberapa saat kemudian, rasa mual kembali datang. Indri langsung berdiri.
"Tante kenapa?" tanya Laura kecil.
"Enggak apa-apa." Indri berjalan cepat menuju kamar mandi dekat dapur.
Brian dan Laura kecil saling memandang.
Beberapa menit kemudian, Indri kembali. Wajahnya tampak sedikit pucat.
Brian mendekat. "Tante sakit?"
Indri tersenyum. "Cuma mual sedikit."
"Tante harus ke dokter."
Indri mengusap rambut Brian. "Tante gak apa-apa, kok."
"Tapi Tante kelihatan pucat."
Indri tertawa kecil. "Kamu sekarang sudah seperti Kakek Haris."
Brian tersenyum.
Indri kemudian kembali duduk.
Namun tubuhnya terasa semakin lemas. Ia memilih bersandar di sofa.
...
Siang hari, Indri mencoba tidur.
Namun meskipun sudah beberapa jam beristirahat, tubuhnya tidak terasa jauh lebih segar. Ketika bangun, kepalanya masih sedikit pusing. Ia duduk sambil menghela napas.
"Kenapa tidak membaik juga?"
Indri mengambil ponsel. Ia membaca beberapa artikel tentang kelelahan dan tubuh yang kurang fit. Kesimpulan yang ia ambil sederhana. Ia mungkin membutuhkan vitamin atau suplemen tambahan.
"Sepertinya aku memang kurang menjaga kesehatan."
Ia tidak berpikir lebih jauh. Tidak ada sedikit pun dugaan mengenai kemungkinan lain. Indri kemudian membuat catatan kecil untuk membeli suplemen. Ia berencana mulai mengonsumsinya secara teratur agar tubuhnya kembali fit.
Baginya, masalah itu sederhana.
Kurang tidur. Terlalu banyak bekerja. Pola makan yang tidak teratur. Ditambah stres. Semua pasti bisa diperbaiki dengan istirahat dan menjaga kesehatan.
Sore hari, Haris pulang lebih awal. Ia langsung mencari Indri.
"Bagaimana keadaanmu?"
"Masih sedikit lemas, Pa."
Haris duduk di sampingnya. "Sudah makan?"
"Sudah."
"Benar?"
Indri tertawa kecil. "Benar."
Haris memperhatikan wajah putrinya. "Kalau besok masih begini, kita periksa ke dokter."
Indri mengangguk. "Iya."
"Jangan menganggap remeh kesehatan."
"Iya Papa."
Haris mengusap kepala putrinya.
"Papa cuma khawatir."
Indri tersenyum. "Terima kasih, Pa."
Setelah Haris pergi, Indri kembali memandang ke arah ruang bermain. Laura kecil dan Brian masih bermain bersama. Ia tersenyum.
Tubuhnya memang belum terasa benar-benar pulih. Namun setidaknya pikirannya sedikit lebih tenang.
Ia merasa keputusan untuk tidak masuk kantor adalah keputusan yang tepat. Ia membutuhkan waktu untuk berhenti sejenak. Untuk bernapas dengan lega. Untuk menghabiskan waktu bersama keluarganya. Dan untuk mengingat bahwa hidupnya tidak hanya berisi pekerjaan dan masa lalu.
Malam tiba. Indri berada di kamar. Ia membuka laci meja dan mengambil daftar kecil yang tadi dibuatnya.
Suplemen. Ia menuliskan beberapa kebutuhan lain. Kemudian menutup buku. Ia berdiri di depan cermin. Wajahnya masih terlihat sedikit pucat.
"Besok pasti lebih baik." Indri tersenyum kepada bayangannya sendiri.
Ia kemudian mematikan lampu. Sebelum tidur, pikirannya sempat kembali kepada Evan.
Aneh. Beberapa hari lalu, ia merasa kematian pria itu adalah akhir dari sebuah perjalanan panjang. Namun sekarang, ketika rumah mulai tenang dan malam semakin larut, penyesalan kembali menyelinap.
"Seandainya aku memilih jalan lain..."
Indri membuka mata. Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu.
Semuanya sudah terjadi. Ia menarik selimut hingga menutupi tubuh.
"Aku harus menjalani hidupku dengan tenang."
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁