NovelToon NovelToon
JODOH KU CEO DINGIN

JODOH KU CEO DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Romansa
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: nabila claraaa

Aku, *Aira Putri*, dipaksa nikah sama *Arka Mahendra* demi bayar utang rumah sakit mamaku.
Dia CEO dingin, tajir, dan paling benci sama wanita matre. Aku? Cuma karyawan biasa yg apes.

Aturannya jelas:
1. Gak boleh saling cinta
2. Gak boleh pegang tangan
3. Cerai setelah 1 tahun

Masalahnya...
Kenapa dia yg paling pertama nolongin pas aku diganggu?
Kenapa dia yg marah pas aku deket sama cowok lain?
Kenapa tatapan dinginnya bikin jantungku anget?

*Arka Mahendra* bersumpah gak akan jatuh cinta.
Tapi takdir bilang: *"Jodoh gak akan kemana"*

Akankah pernikahan kontrak ini berakhir di meja hijau... atau di pelaminan beneran?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nabila claraaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6 - DEMI KAMJ

*JAM 7 PAGI - RUMAH*

Pintu kamarku udah dibobok tukang. Sekarang ada pintu kecil yang langsung nyambung ke kamar Arka.

Aku berdiri di depan pintu itu. Deg-degan.

_Tok tok_

"Masuk," suara Arka dari dalam. Serak tapi udah baikan.

Aku buka. Arka lagi duduk di sofa pake kemeja putih, dasi belum dipake. Di meja ada 2 mangkok bubur + obat.

"Sarapan," katanya singkat. "Terus kita ke dokter."

Kami makan bareng. Jarak 1 meter. Tapi rasanya deket banget karena ada pintu tembus itu.

"Pak," kataku pelan. "Kemarin... makasih udah belain saya ke Ibu."

Arka nyuapin bubur. Gak nengok. "Itu kewajiban suami."

"Tapi kita kontrak--"

"Kontrak juga ada pasalnya," potongnya. Dia baru nengok. Matanya serius. "Pasal 1: Saling melindungi."

_Deg_

*JAM 10 PAGI - RUMAH SAKIT*

Dokter kandungan: "Jantung janin bagus. Ibu sehat. Cuma kurang istirahat."

Dokter umum: "Pak Arka, demamnya karena kecapekan. Istirahat 3 hari."

Di mobil pulang, Arka diem. Tangan di stir.

"Tiga hari istirahat," gumamnya. "Gak bisa."

"Tinggal di rumah aja Pak," kataku. "Kerja dari rumah."

Dia melirikku sekilas. "Kamu temenin?"

Aku kaget. "I-iya Pak."

*JAM 3 SORE - RUANG KERJA ARKA DI RUMAH*

Arka kerja di laptop. Aku duduk di kursi sebelah. Ngetik laporan.

Tiba-tiba _brup_ Listrik mati. Lagi.

"Pak?"

"Generator nyala 5 menit," katanya tenang. Tapi ruangan gelap.

HP Arka bunyi. Nama: *"Natasha ❤️"*

Dia tolak. 1 detik kemudian bunyi lagi.

Arka angkat dengan nada kesel. "Apa lagi?"

"Aku di depan rumah kamu, Ark. Bukain. Aku bawa dokumen penting buat merger."

Arka nutup mata. "Nat, pulang. Aku sakit."

"Oh sakit? Sama siapa? Sama asisten itu? Aku liat dari IG satpam."

_Klik_ Arka matiin telpon. Rahangnya keras.

5 menit kemudian. Bel rumah bunyi kenceng.

_Tintinnn tintinnn_

Bu Yati lapor: "Tuan, Nona Natasha maksa masuk."

Arka berdiri. Jalan ke depan. Aku ngikut dari belakang.

Pintu dibuka. Natasha berdiri pake dress putih, bawa map, payung. Tapi makeupnya udah luntur. Kayak habis nangis.

"Ark kamu sakit? Beneran?" katanya. Mau nyentuh dahi Arka.

Arka mundur selangkah. "Jangan sentuh aku."

Natasha liat aku di belakang Arka. Matanya langsung merah.

"Oh jadi bener. Kamu milih dia? Perempuan ini??"

"Nat cukup," kata Arka dingin. "Aku udah bilang. Aira istri aku. Titik."

Natasha ketawa. Ketawa sakit. "Istri kontrak! Kamu lupa kita mau tunangan Ark? Ayah kamu udah setuju!"

"Ayahku setuju karena dia pikir aku bahagia sama kamu. Ternyata tidak."

Natasha nampol dada Arka pelan. "Kamu berubah. Gara-gara dia!"

"Aku yang berubah," kata Arka. Suaranya rendah tapi tegas. "Karena aku capek pura-pura. Dan aku baru nemu orang yang tulus sama aku pas aku gak punya apa-apa."

Dia nengok ke aku. Genggam tanganku di depan Natasha. Kuat.

"Keluar, Nat. Sebelum aku panggil satpam."

Natasha pergi sambil nangis. Ngebut.

Pintu ketutup.

Arka masih genggam tanganku. Gak dilepas.

"Aira," bisiknya. "Kamu... mau gak nemenin aku 3 hari ini? 24 jam. Demi aku."

Aku mengangguk. Air mata jatuh. "Mau Pak."

*HARI 1 - 3 : DI RUMAH*

3 hari itu kami kayak suami istri beneran.

Pagi: Arka bangunin aku. "Bangun. Sarapan."

Siang: Aku nyuapin Arka obat. Dia baca laporan sambil sandaran di bahuku.

Malam: Kami nonton film di sofa. Selimutan 1 selimut. Jarak 0 cm.

Hari ke 3 malam. Arka udah sembuh total.

Kami duduk di balkon. Angin malam.

"Terima kasih," kata Arka tiba-tiba.

"Buat apa Pak?"

"Karena kamu. Karena kamu bikin rumah ini ada isinya lagi."

Dia menoleh. Jarak kami dekat. Napasnya kerasa.

"Aira... kalau kontrak ini habis 1 bulan lagi. Kamu mau perpanjang gak? Bukan kontrak. Tapi... beneran."

Jantungku copot. "Pak..."

"Jawab besok," katanya. Dia berdiri. "Tidur. Kamu pasti capek."

Dia masuk. Tapi sebelum masuk, dia bisik: "Aku nunggu jawaban kamu. Demi aku."

Pintu ketutup.

Aku duduk di balkon. Menatap langit.

Tembok es itu udah runtuh.

Sekarang tinggal aku. Mau masuk... atau lari.

*JAM 11 MALAM - KAMAR*

Setelah Arka masuk, aku masih duduk di balkon 30 menit.

Angin Bekasi malam ini dingin. Tapi dada aku anget.

_"Perpanjang gak? Bukan kontrak. Tapi... beneran."_

Kalimat itu muter terus.

Aku masuk kamar. Lewat pintu tembus itu.

Arka udah tiduran. Lampu meja masih nyala. Dia baca buku.

Pas liat aku, dia langsung nutup buku. "Belum tidur?"

"Belum Pak," jawabku kecil. "Lagi mikir."

Arka duduk. Naro bantal di belakang punggungnya. "Mikir apa?"

"Mikir... jawaban Bapak tadi."

Hening 5 detik. Cuma suara AC.

"Kamu gak usah jawab sekarang," kata Arka cepat. "Aku cuma... gak mau kehilangan kamu pas kontrak habis. Rumah ini sepi lagi."

Aku manggut. Keluar pelan. Nutup pintu tembus.

Tapi 10 menit kemudian pintu itu kebuka lagi.

Arka berdiri di ambang pintu. Pake kaos abu-abu + celana training. Rambutnya berantakan.

"Kamu beneran mau mikir semaleman?" tanyanya.

Aku kaget. "Eh?"

"Aku gak bisa tidur kalau kamu mikir," katanya jujur. "Jadi sekalian aja. Ngobrol."

Dia masuk. Duduk di lantai. Nyender ke ranjangku. Jarak 50cm.

"Kamu tau gak," katanya. "5 tahun terakhir rumah ini kayak kuburan. Gak ada suara. Gak ada yang masak bubur jam 11 malem. Gak ada yang marahin aku kalau demam masih kerja."

Aku diem. Dengerin.

"Terus kamu dateng," lanjut Arka. "Berisik. Cerewet. Suka nyolong makananku. Tapi... rumah ini jadi rumah lagi."

Air mataku jatuh. "Pak..."

"Aku gak jago ngomong manis, Aira," katanya. Dia nengok. "Aku CEO. Dingin. Tapi sama kamu... aku mau belajar. Belajar jadi manusia."

Dia ngeluarin sesuatu dari saku. Gelang. Simple. Rantai perak tipis. Ada inisial A.

"Ini buat kamu," katanya. "Bukan cincin. Karena aku tau kita belum di tahap itu. Tapi... biar kamu inget. Kamu punya tempat di sini."

Dia pasangin ke tanganku. Pelan. Dingin.

"Gak usah jawab sekarang. Tapi kalau kamu pake ini besok... artinya kamu mau coba. Sama aku. Beneran."

Arka berdiri. "Tidur. Besok kita ke pasar. Kamu katanya ngidam sayur asem."

Pintu ketutup.

Aku natap gelang itu. Nangis.

*JAM 6 PAGI - HARI KE 4*

Aku bangun. Gelang masih di tangan.

Pas turun, Arka udah di dapur. Pake apron. Lagi masak. Gosong.

"Pak itu apa?"

"Telur," katanya datar. "Buat kamu. Katanya ngidam."

Aku ketawa. Pertama kalinya ketawa lepas di rumah ini.

"Biar aku aja Pak."

"Tidak," katanya. "Aku mau belajar. Jadi suami yang beneran."

Bu Yati di belakang ketawa. "Tuh kan. Akhirnya Tuan bisa masak juga."

*JAM 9 PAGI - PASAR TRADISIONAL*

Kami ke pasar. Arka pake kemeja + jeans + kacamata hitam. Tetep CEO.

Orang-orang pada nengok. "Itu Pak Arka ya? Kok ke pasar?"

"Iya. Sama istrinya," jawab Arka lantang. Tanpa mikir.

Aku langsung diem. Wajah merah.

Arka nuntun aku. Beneran nuntun. Jari kelingkingnya nyangkut di jari aku.

Pas milih sayur, ada ibu-ibu bisik: "Itu istrinya ya? Cantik. Hamil juga."

Arka denger. Dia langsung jawab. "Iya. Istri saya. Lagi ngidam sayur asem. Doain ya Bu biar sehat."

Aku mau nangis. Malu. Bahagia.

Di mobil pulang, Arka masih genggam tanganku.

"Gimana? Malu?"

"Enggak Pak," kataku jujur. "Seneng."

*JAM 2 SIANG - ADA TELPON*

HP Arka bunyi. Nomor Ayah Arka.

"Ark. Kamu beneran usir Natasha?" suara di seberang tegas.

"Iya Yah."

"Kamu gila? Merger kita gagal kalau gak sama keluarga Natasha!"

"Gak apa-apa Yah," jawab Arka. Matanya liat aku. "Aku milih yang bikin aku tenang. Bukan yang bikin aku kaya."

_Klik_ Telpon ditutup.

Arka narik napas. "Mungkin aku dipecat dari perusahaan keluarga."

"Pak..."

"Aku punya perusahaan sendiri," katanya. Dia senyum tipis. "Arka Corp. Hasil keringat sendiri. Jadi gak apa-apa."

Dia narik aku ke pelukannya. Peluk dari samping. 3 detik.

"Asal kamu ada. Aku gak takut kehilangan apa-apa."

*JAM 8 MALAM - DI KAMAR*

Hari ini capek. Tapi bahagia.

Aku duduk di lantai. Arka duduk di kursi. Kami main catur. Aku kalah terus.

"Curang," kataku.

"Kamu yang payah," katanya. Tapi dia cubit pipiku pelan.

Tiba-tiba HP ku bunyi. Raka. Mantan.

*"Aira. Kita ketemu ya. Penting. Soal anak."*

Darahku dingin.

Arka liat layar HP ku. Wajahnya langsung berubah. Datar. Marah.

"Kasih sini," katanya. Dia angkat telpon. Pake speaker.

"Raka?" suara Arka berat.

"Siapa ini?"

"Suami Aira. Ada apa?"

"Oh suami kontrak," Raka ketawa. "Bilangin ke dia. Aku mau tanggung jawab sama anak itu. Kita nikah aja."

_Bruk_ Arka banting HP ke sofa. Tapi gak pecah.

Dia berdiri. Jalan ke jendela. Punggungnya tegang.

"Pak..."

"Dia bohong," kata Arka. "Anak itu bukan dia. Itu anak kita. Kontrak."

Dia balik. Matanya merah. Bukan marah. Sakit.

"Aira... kamu percaya sama aku kan? Aku akan lindungin kamu. Demi aku. Demi anak kita."

Aku langsung lari. Peluk Arka dari belakang. Kenceng.

"Aku percaya Pak. Aku cuma punya Bapak."

Arka balik. Genggam wajahku. Jempolnya ngusap air mataku.

"Besok kita lapor polisi," katanya. "Biar Raka gak ganggu lagi."

Malam itu kami tidur telat. Tapi di kamar yang sama.

Arka di sofa. Aku di ranjang. Pintu tembus kebuka.

Sebelum tidur dia bisik: "Besok jawab aku ya. Soal gelang itu."

*JAM 6 PAGI - HARI KE 5*

Aku bangun. Gelang masih di tangan.

Pas keluar, Arka udah nunggu di meja makan. Ada 2 mangkok sayur asem. Buatan dia.

Dia liat tanganku. Gelang masih kepake.

Arka diem 3 detik. Terus senyum. Senyum beneran. Pertama kalinya aku liat.

"Jadi?" tanyanya.

Aku manggut. Air mata jatuh. "Iya Pak. Aku mau coba. Beneran. Sama Bapak."

Arka langsung berdiri. Peluk aku. Kenceng.

"Terima kasih, Aira. Demi kamu. Aku akan jadi suami terbaik."

*JAM 10 PAGI - KANTOR ARKA CORP*

Arka bawa Aira ke kantor. Kali ini bukan sebagai "asisten".

Tapi digandeng. Di depan semua karyawan.

"Ini istri saya," katanya ke semua. Datar. Tegas. "Mulai hari ini dia pegang divisi HRD. Bantu saya."

Semua karyawan langsung nunduk. "Selamat pagi Bu Aira."

Natasha denger dari luar. Dia lempar map ke lantai. "GILA!"

*JAM 1 SIANG - RUANGAN ARKA*

Aira lagi belajar bikin laporan. Bingung.

"Pak, ini gimana?" tanyanya.

Arka langsung geser kursi. Duduk di sebelahnya. Bahu ketemu bahu.

"Nih. Liat sini. Klik ini dulu."

Aroma parfum Arka nyampur sama bau kertas.

Tangan Arka nuntun tangan Aira di mouse. 5 menit.

"Tangan Bapak... gede," kata Aira gugup.

"Kerja," jawab Arka. Tapi telinganya merah.

Tiba-tiba pintu kebuka. Bu Ratna masuk.

Lihat pemandangan itu langsung diem.

"Mama," kata Arka berdiri. "Ada apa?"

Bu Ratna liat Aira. Terus liat gelang di tangan Aira. Gelang yang dia kenal. Gelang warisan nenek Arka.

"Itu... gelang nenek?" tanya Bu Ratna kaget.

Arka manggut. "Iya. Aku kasih ke Aira."

Bu Ratna duduk. 10 detik hening.

"Kalau kamu serius sama dia," katanya pelan. "Aku minta maaf soal 50 juta itu. Aku... takut kehilangan kamu."

Aira langsung berdiri. "Bu, saya gak mau harta. Saya cuma mau--"

"Sudahlah," potong Bu Ratna. "Aku tau. Mata kamu tulus."

Dia peluk Aira. Kaget. "Jaga anakku ya. Dia kaku. Tapi hatinya bagus."

Aira nangis. Arka diem. Tapi tangannya megang bahu Aira. Nemenin.

*JAM 4 SORE - DI MOBIL*

Setelah dari kantor, mereka mampir ke toko bayi.

Arka yang nyetir. Aira di sebelah.

"Beli apa Pak?"

"Perlengkapan lahiran," jawab Arka. "6 bulan lagi kan?"

Di toko, Arka milih baju bayi warna biru. "Kalau cowok."

"Kalau cewek?" tanya Aira.

"Pink. Kayak kamu," jawab Arka cepat. Terus batuk. "Maksudnya..."

Aira ketawa. "Iya Pak."

Kasir: "Pakai nama siapa Bu?"

Arka langsung jawab: "Arka dan Aira."

Aira langsung pegang tangan Arka di bawah meja. "Makasih Pak."

*JAM 8 MALAM - RUMAH*

Malam ini hujan deres. Listrik mati lagi.

Mereka duduk di lantai. Lilin 3 biji. Makan indomie rebus bareng.

"Ceritain dong Pak, kecilnya kayak gimana?" tanya Aira.

Arka diem. "Kaku. Ayah sibuk. Mama di luar negeri. Aku gede sendiri."

"Pantasan jadi CEO es," kata Aira bercanda.

Arka nyubit hidung Aira. "Kamu juga. Hamil masih kerja."

"Ya kan demi--"

"Demi aku," potong Arka. Dia serius. "Aku tau. Makanya aku gak akan lepasin kamu."

Hening. Cuma suara hujan.

"Aira," kata Arka. "Boleh aku... pegang tangan kamu?"

Aira ngulur tangan. Arka genggam. 10 jari.

"Hangat," bisik Arka. "Tangan kamu angetin aku terus dari pertama ketemu."

Aira bersandar di bahu Arka. "Pak... aku takut."

"Takut apa?"

"Takut ini mimpi. Takut besok Bapak bangun terus bilang ini cuma kontrak."

Arka neken bahu Aira. "Cubit aku."

"Ah sakit Pak!"

"Nah. Berarti nyata," katanya. Dia kecup kening Aira. Cepet. Lembut.

Aira langsung beku. "P-Pak..."

"Tidur," kata Arka. Berdiri. "Besok kita ke pengadilan. Urus surat biar Raka gak bisa ganggu."

Dia jalan ke kamar. Berhenti di pintu tembus.

"Oh ya. Mulai besok panggil aku 'Mas'. Jangan 'Pak' lagi. Kita udah... beneran."

Pintu ketutup.

Aira duduk di lantai. Pegang keningnya.

Mas.

*JAM 12 MALAM - KAMAR*

Aira gak bisa tidur. Dia ke kamar Arka lewat pintu tembus.

Arka belum tidur. Lagi duduk di sofa.

"Kok belum tidur, Mas?" tanya Aira kecil.

Arka kaget dipanggil "Mas". Dia senyum. "Kamu juga."

"Aku... takut petir," bohong Aira.

Arka langsung tepuk sofa sebelahnya. "Sini."

Aira duduk. Jarak 10cm.

Arka selimutin mereka berdua. "Tidur. Aku jagain."

Jam 2 pagi. Petir nyamber.

Aira kejerit. Langsung peluk tangan Arka.

Arka malah senyum. Ngusap rambut Aira. "Shhh. Ada aku."

Mereka ketiduran gitu. Pelukan.

*JAM 7 PAGI*

Matahari masuk dari jendela.

Aira bangun duluan. Masih di pelukan Arka.

Arka kebangun. Liat Aira di pelukannya. Dia gak ngelepas. Malah ngerat.

"Pagi, Istri," bisiknya.

Aira merah. "Pagi, Mas."

Arka kecup jidat Aira lagi. Lama. 3 detik.

"Ini bukan kontrak lagi ya," katanya.

"Iya, Mas."

Bu Yati dari luar teriak: "Tuan, Nona! Sarapan udah siap!"

Mereka ketawa bareng.

Hari ini... hari pertama mereka beneran jadi suami istri.

Bukan di atas kertas.

Tapi di hati.

*BERSAMBUNG KE BAB 7 : "JAWABAN"*

---

*CATATAN PENULIS* ✍

Akhirnya full 1 bab. Ada cium kening, pelukan, "Mas", "Istri", Bu Ratna luluh, ke pasar, belanja bayi

*HIGHLIGHT BAB 6:*

Arka ngusir Natasha + gandeng tangan Aira

Kasih gelang warisan nenek

Bu Ratna minta maaf + peluk Aira

Ke pasar + belanja bayi

Cium kening 2x + tidur pelukan

Resmi jadi "Mas" dan "Istri"

*VOTING BAB 7 WAJIB!!!*

A. *"JAWABAN"* \= Lamaran beneran di pantai, Arka sujud

B. *"MANTAN RAKA KEMBALI"* \= Raka bawa pengacara + surat DNA

C. *"KECELAKAAN"* \= Arka lindungin Aira dari tabrakan, koma 3 hari

Komen A/B/C + VOTE ⭐ 6K ya! Kalau tembus Bab 7 aku up adegan lamaran + honeymoon 3000 kata 🔥

Makasih udah baca ! Kalian reader terbaik sedunia 🤍

- _Penulis: Askara Senja_ -

1
Nureliya Yajid
Lanjut thor 👍
Nureliya Yajid
Lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!