Namaku Jefri Andalas Sinaga. Orang rumah memanggilku Jepot, pelanggan yang marah memanggilku bodat, dan satu kota kecil di internet memanggilku Bang Jepot sambil tertawa. Semua bermula ketika aku berkata “aman, bah” di pesta pernikahan, lalu satu gedung gelap sebelum kalimatku selesai.
Setelah kehilangan pekerjaan, aku pulang ke bengkel Bapak yang nyaris tutup. Bersama Liza Cemberut, Deli Patah, Bibir Ember, Tia Cekrek, dan orang-orang yang lebih bising daripada mesin gerinda, aku membuka jasa Konslet Medan. Setiap kerusakan ternyata tersambung ke gengsi, utang, pertengkaran keluarga, konten viral, atau rahasia yang tak seharusnya kusentuh.
Ketika serangkaian korsleting mengarah pada sambungan ilegal yang dapat membakar satu kawasan, lelucon tidak lagi cukup untuk melindungi siapa pun. Aku harus memilih diam demi usaha atau membuka sistem yang juga menyeret dosa lama keluargaku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heriawan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
VIRAL KEDUA YANG LEBIH BAGUS
Video kedua tentang Bang Jepot dimulai dengan asap, teriakan pengantin, dan Fadli berambut emas memegang lampu ponsel.
Seharusnya itu cukup untuk menghancurkan sisa harga diriku. Anehnya, tiga puluh detik berikutnya justru memperlihatkan sesuatu yang belum pernah terekam orang tentangku: aku memutus terminal berbahaya, menjauhkan alat dari kain dan hairspray, lalu menjelaskan mengapa pengering itu harus dihentikan.
Rani tidak memotong bagian ketika aku memeriksa kabel. Ia juga tidak memberi judul yang menuduh kami membuat ledakan. Judul siaran ulangnya berbunyi: BANG JEPOT CEGAH SALON TERBAKAR SAAT PENGANTIN BELUM SELESAI DISANGGUL.
“Panjang kali,” kataku saat melihatnya di bengkel malam itu.
Tia memegang ponsel di depan wajahku. “Panjang, tapi orang klik.”
Komentarnya berbeda dari video pesta. Masih ada yang menulis aman, bah dengan emoji petir. Masih ada yang menyebut kepalaku mirip MCB jatuh. Namun, lebih banyak orang bertanya tentang kabel gulung, terminal bertumpuk, dan batas penggunaan alat.
Satu komentar berbunyi: Ternyata dia tahu listrik juga.
Aku membacanya dua kali. Pujian itu tetap terasa seperti tamparan yang dibungkus plastik.
Liza duduk di meja kas dengan dua ponsel. Satu miliknya, satu ponsel bengkel. Keduanya berbunyi bergantian sampai nada pesan terdengar seperti jangkrik kawin massal.
“Tiga belas permintaan servis,” katanya. “Empat minta besok. Dua minta malam ini. Satu menanyakan apakah kita bisa memperbaiki suaminya.”
“Jawab tidak menerima barang tanpa garansi,” kata Fadli.
Tia tertawa. Binsar yang sedang menggulung kabel ikut tertawa kecil, lalu kembali bekerja. Hubungan kami belum pulih, tetapi siang tadi ia sudah membiarkanku memegang satu ujung kabel tanpa mengira aku akan menuduhnya lagi. Itu kemajuan kecil.
Aku mengambil ponsel bengkel. Pesanan terus masuk dari berbagai kawasan. Kipas, pompa air, papan toko, lampu teras, mesin cuci, bahkan satu orang mengirim foto blender dengan pesan mendesak.
“Terima semua,” kataku.
Liza berhenti mengetik. “Semua?”
“Mumpung ramai. Besok kita bagi. Aku ke dua lokasi, Binsar ikut. Fadli antar. Bapak pegang bengkel.”
“Kau mau selesai berapa pekerjaan sehari?”
“Lima.”
Pak Tor mengangkat kepala dari radio yang sedang diperbaiki. “Dengan alat berapa?”
“Cukup.”
“Teknisi terlatih berapa?”
Aku melirik Binsar.
Binsar mengangkat kedua tangan. “Jangan hitung aku penuh dulu. Masa percobaan, ingat.”
Fadli menunjuk dirinya. “Aku ahli jalan.”
“Jalan bukan panel,” kata Pak Tor.
Aku duduk di meja kerja. “Kalau kita tolak, pelanggan pindah ke orang lain.”
Liza memutar layar laptop. “Kalau kita terima lalu terlambat, hasil buruk, atau lupa mencatat material, pelanggan juga pindah. Bedanya, mereka pergi sambil memberi bintang satu.”
“Popularitas begini tidak datang dua kali.”
“Masalahnya memang itu. Kau mengira semua yang datang harus langsung ditangkap.”
Untuk membuktikan aku mampu, aku menelepon salah satu pelanggan yang meminta kunjungan malam itu. Baru tiga menit berbicara, ia meminta harga pasti untuk pompa yang belum kami lihat, jaminan selesai satu jam, dan potongan karena menemukan kami dari video. Aku mengatakan bisa dibicarakan di lokasi. Liza mengambil ponsel sebelum aku menambah janji.
“Kami perlu pemeriksaan dahulu,” katanya kepada pelanggan. “Biaya kunjungan sekian. Perbaikan dilakukan setelah persetujuan.”
Pelanggan menolak biaya kunjungan dan menutup telepon. Aku merasa satu pekerjaan lepas.
“Ia bukan pekerjaan kalau syaratnya membuat kita rugi,” kata Liza.
Pak Tor menambahkan, “Ramai bukan berarti sehat. Pasar malam juga ramai, tapi kau tidak buka bengkel di tengah bianglala.”
Fadli mengangkat tangan. “Sebenarnya kalau buka dekat bianglala, lampunya banyak.”
Tidak ada yang menanggapi. Ia menurunkan tangan sendiri.
Tia membuka statistik video. Penonton sudah melewati seratus ribu. Jumlah pengikut akun Konslet Medan naik cepat. Aku membayangkan papan nama baru, motor servis, kotak alat lengkap, dan surat sewa yang akhirnya lunas. Semua gambaran itu berdiri di belakang layar, membuat angka-angka terasa seperti uang yang belum masuk.
Sebelum makan, Liza membuat simulasi jadwal di papan. Waktu perjalanan dihitung, bukan hanya waktu memperbaiki. Fadli menunjukkan bahwa alamat Medan Denai dan Petisah tidak bisa diperlakukan seperti dua rumah bertetangga. Tia menambahkan waktu untuk meminta izin dokumentasi. Binsar menulis bahwa setiap alat harus kembali diperiksa sebelum berpindah lokasi.
Dalam hitungan sepuluh menit, lima pekerjaan yang tadi terasa mudah berubah menjadi hari kerja tanpa makan, tanpa jeda, dan tanpa kemungkinan kesalahan. Aku menghapus dua nama dari papan dengan enggan.
“Kita tambah orang,” kataku.
“Orang siapa?” Liza bertanya.
“Cari teknisi harian.”
Pak Tor meletakkan solder. “Siapa yang periksa hasilnya?”
“Aku.”
“Kapan? Kau juga mau ke lima tempat.”
Aku tidak menjawab.
Liza mulai menyusun jadwal. Dua pekerjaan dipilih untuk besok, satu untuk lusa, sisanya diberi estimasi. Beberapa calon pelanggan protes. Satu orang berkata teknisi lain bisa datang lebih cepat. Liza menjawab singkat bahwa mereka bebas memilih.
Aku mengambil ponsel. “Jangan gampang melepas pelanggan.”
“Kita bukan memelihara ayam,” katanya.
“Kalimat itu mulai populer di bengkel ini.”
“Karena kau memperlakukan pelanggan seperti mau dimasukkan kandang.”
Rani datang membawa dua bungkus mi goreng dan sebuah tripod. Ia sudah meminta izin sebelum merekam apa pun, perubahan yang cukup ajaib untuk membuat Tia memeriksa apakah perempuan itu diganti orang lain.
“Video kalian bagus,” kata Rani. “Orang suka penjelasan singkat tadi. Kita bisa bikin seri edukasi.”
Aku langsung tertarik. “Berapa bagian?”
Liza bertanya hal lain. “Siapa yang menyetujui materi? Wajah pelanggan bagaimana? Lokasi?”
Rani mengangkat kedua tangan. “Iya, Bu Aturan. Kita bahas.”
“Panggil Liza.”
“Baik, Bu Liza Aturan.”
Untuk pertama kali, mereka tertawa dalam satu arah. Aku sedikit tidak nyaman melihatnya, seolah dua negara yang biasanya bertengkar mendadak menandatangani perjanjian tanpa mengundangku.
Pak Tor meminta kertas prosedur pekerjaan. Liza menunjukkan formulir sederhana: data pelanggan, keluhan, pemeriksaan awal, persetujuan biaya, material, dan foto sebelum-sesudah. Ia ingin semua pekerjaan memakai itu mulai besok.
“Terlalu banyak tulis-menulis,” kataku.
Pak Tor menatapku. “Kalau tanganmu sibuk menulis, mungkin lebih sedikit menyentuh kabel sembarangan.”
Fadli tertawa terlalu keras.
Malam makin larut. Pesanan akhirnya tersusun. Aku masih merasa kami seharusnya menerima lebih banyak, tetapi angka di papan jadwal setidaknya terlihat nyata. Dua pekerjaan besok. Satu kunjungan survei. Waktu untuk memeriksa hasil. Tidak secepat yang kuinginkan, tetapi mungkin cukup.
Tia menaruh ponselnya di meja. “Ada komentar baru yang ramai dibalas.”
Akun itu tidak memakai foto. Namanya hanya rangkaian angka. Komentarnya berbunyi: Jangan mudah percaya. Orang ini pernah hampir membakar gedung pesta karena bekerja tanpa izin. Cari video aslinya.
Di bawahnya, seseorang sudah mengunggah potongan lama ketika aku berkata, “Aman, bah,” sesaat sebelum seluruh gedung gelap.
Jumlah balasan naik setiap kali layar diperbarui.