NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 25

​Pernyataan Papa Mahendra membuat Nadia terdiam sejenak, mata bulatnya menatap bergiliran ke arah Mama Bella dan Papa Mahendra yang tersenyum penuh kehangatan. Rasa canggung yang tadinya membelenggu perlahan melunak, digantikan oleh keharuan yang melingkupi dadanya.

​Aksa, yang berdiri beberapa langkah di belakang ayahnya, bersedekap dada. Pandangannya yang pekat tak berkedip memperhatikan reaksi Nadia, ada kilat kepuasan yang samar di matanya ketika melihat gadis itu tidak lagi bisa berkutik atau mencari alasan untuk menolak.

​"Nadia, kamu tidak perlu mengkhawatirkan apa pun lagi, bereskan barang-barang pentingmu sekarang. Hanya baju, dokumen dan kenangan almarhum orang tuamu, sisanya nanti Tante yang siapkan di rumah," ujar Mama Bella lembut seraya menepuk punggung tangan Nadia.

​Nadia mengangguk pelan, ia melangkah menuju kamar tidurnya yang kecil di sudut rumah. Di dalam kamar bersahaja itu, Nadia berdiri terpaku memandangi lemari kayu tua dan foto berbingkai sederhana yang memperlihatkan senyum hangat Ayah Herman dan Ibu Sintia, air matanya menetes pelan dan membasahi pipi.

​'Ayah, Ibu… Nadia pamit ya. Keluarganya Om Mahendra sangat baik, Nadia janji akan menjaga diri dengan baik,' batin Nadia.

​Dengan jemari yang gemetar, Nadia memasukkan beberapa helai pakaian sederhana, buku-buku catatan kuliahnya, serta foto kedua orang tuanya ke dalam sebuah tas ransel lusuh. Tidak ada barang mewah yang ia miliki, seluruh harta berharganya hanyalah kenangan manis bersama keluarganya.

​Ketika Nadia kembali ke ruang tamu sambil menggendong tas ranselnya, Aksa langsung melangkah maju. Tanpa mengucap sepatah kata pun dan tanpa menunggu izin dari Nadia, tangan kekar Aksa terulur mengambil alih tas ransel lusuh itu dari genggaman Nadia.

​Nadia tersentak dan refleks hendak menahan tasnya. Namun, Aksa hanya menatapnya datar, seolah menegaskan bahwa bantahan apa pun tidak akan mempan baginya, pria itu berbalik dan berjalan keluar membawa tas Nadia menuju bagasi mobil mewahnya.

​"Ayo, sayang," ajak Mama Bella merangkul pundak Nadia dengan kasih sayang yang tulus.

​Saat melangkah keluar dari ambang pintu, Nadia menyempatkan diri untuk berbalik sejenak, mengunci pintu kayu rumah peninggalan orang tuanya dan menggenggam kuncinya erat-erat di dalam saku kemejanya.

​Perjalanan menuju kediaman Mahendra berlangsung dalam keheningan, Nadia duduk di kursi belakang bersama Mama Bella, sementara Papa Mahendra duduk di depan bersama Pak Edo yang mengemudi. Aksa memilih mengendarai mobil sports hitamnya sendiri, mengawal mobil mewah keluarganya dari belakang.

​Beberapa puluh menit kemudian, mobil memasuki kawasan perumahan elit dengan pengawasan ketat. Gerbang besi berukir tinggi terbuka lebar menyambut kedatangan mereka, memperlihatkan sebuah rumah megah bergaya klasik modern dengan pilar-pilar tinggi dan halaman rumput hijau yang terawat sempurna.

​Nadia menatap pemandangan di luar jendela dengan mata membelalak heran. Rumah ini ratusan kali lebih besar dari rumah sederhananya, sebuah tempat yang tak pernah ia bayangkan akan ia injak sebagai calon anggota keluarga.

​"Selamat datang di rumah baru kamu, sayang," ucap Mama Bella penuh kehangatan saat mobil berhenti tepat di depan tangga utama.

​Seorang wanita paruh baya berseragam pelayan bernama Bi Nita, dengan sigap menyambut mereka di pintu depan bersama dua asisten rumah tangga lainnya.

​"Bi Nita, tolong antarkan Nadia ke kamar tamu utama di lantai dua, ya. Pastikan semua kebutuhannya terpenuhi," perintah Mama Bella.

​"Baik, Nyonya Besar," jawab Bi Nita sopan, lalu memberikan senyuman ramah kepada Nadia.

"Mari, Nona Nadia, Bibi antarkan ke kamar," ucap Bi Nita.

​Nadia tersenyum ramah dan sopan kepada Bi Nita, lalu meraih buku kecil dari sakunya yang masih dibawanya untuk mengucapkan terima kasih.

​Aksa yang baru saja melangkah masuk ke dalam rumah menyerahkan tas ransel Nadia kepada Bi Nita, pandangan pekatnya beradu sejenak dengan mata jernih Nadia.

​"Istirahatlah, wajahmu masih pucat," ucap Aksa dengan nada suara berat yang datar, namun sarat akan perhatian yang tersembunyi.

​Nadia mengangguk pelan, menyatukan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda terima kasih, lalu melangkah mengikuti Bi Nita menyusuri tangga berkarpet tebal menuju lantai dua.

​Kamar yang disiapkan untuk Nadia sangat luas dan elegan, didominasi warna krem dan nuansa kayu hangat. Di tengah ruangan terhampar tempat tidur berukuran king-size dengan sprei sutra yang lembut, serta balkon pribadi yang menghadap langsung ke taman belakang dan kolam renang.

​Setelah Bi Nita pamit keluar, Nadia meletakkan tas ranselnya di atas sofa. Ia melangkah menuju balkon, merasakan hembusan angin sore yang menyejukkan. Rasa lelah yang menumpuk selama berminggu-minggu akibat kerja keras dan intimidasi perlahan terangkat dari pundaknya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Nadia merasa aman.

Sementara itu, Aksa duduk di sofa ruang tamu utama, kedua tangannya terbenam santai di dalam saku celana kainnya. Pandangannya masih tertuju ke arah tangga berkarpet tebal tempat sosok ringkih Nadia baru saja menghilang, suara langkah kaki lembut gadis itu di lantai dua seolah meninggalkan jejak tak kasat mata yang terus menarik perhatiannya.

​Papa Mahendra yang baru saja minum pun membalikkan badan, dahi pria paruh baya itu berkerut dalam saat mendapati putra tunggalnya masih duduk di tempat yang sama, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan bergerak menuju pintu keluar.

​"Kenapa kamu masih di sini, Aksa?" tanya Papa Mahendra dengan nada selidik, berjalan mendekati sofa ruang tengah.

​Aksa memalingkan wajahnya dengan tenang, mempertahankan ekpresi datar yang menjadi perisai andalannya. "Memangnya kenapa, Pa? Ini kan rumah Aksa juga," jawabnya singkat dengan suara beratnya yang santai.

​Papa Mahendra menaikkan sebelah alisnya, menghentikan langkahnya tepat di depan Aksa. "Rumah kamu? Bukannya selama ini kamu selalu mengagungkan apartemenmu itu? Bahkan kalau Papa suruh kamu datang, kamu nggak pernah mau," sindir sang Papa dengan tatapan menelisik.

​"Aksa mau tidur di rumah malam ini," potong Aksa cepat dan mengabaikan sindiran ayahnya.

Aksa bangkit, berniat melangkah menuju tangga untuk naik ke kamarnya sendiri yang berada di lantai dua, yang kebetulan berada di lorong yang sama dengan kamar tamu utama yang ditempati Nadia.

​Namun, sebelum kaki Aksa menyentuh anak tangga pertama, suara teguran keras Papa Mahendra menghentikan langkahnya.

​"Tidak boleh! Papa menolak. Sekarang kamu kembali ke apartemenmu!" tegas Papa Mahendra seraya menyilangkan kedua tangannya di dada.

Aksa berbalik, dahinya sedikit berkerut heran atas penolakan terang-terangan dari sang ayah. "Kenapa tidak boleh? Kamar Aksa masih ada dan dirawat setiap hari, Pa. Aksa cuma mau tidur di kamar Aksa sendiri," tanyanya.

​"Papa tidak mengizinkan kamu menginap di sini malam ini!" balas Papa Mahendra tanpa ragu.

Pria paruh baya itu melangkah maju dan menatap putranya dengan sorot mata penuh ketegasan sekaligus godaan yang tertahan.

​"Nadia baru saja pindah ke rumah ini, dia masih butuh waktu untuk beradaptasi dan menenangkan dirinya. Kalian berdua belum resmi menikah, tidak pantas rasanya kalau kamu berkeliaran di lorong yang sama dengan kamar calon istrimu di malam hari. Papa tidak mau Nadia merasa canggung, risih atau tidak nyaman hanya karena keberadaanmu! Apalagi Papa belum siap punya cucu kalau kalian belum menikah!" lanjut Papa Mahendra panjang lebar.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!