NovelToon NovelToon
BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

BAYI UNTUK BOS MAFIA DINGIN

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Mafia / Romansa Fantasi
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yudi Chandra

Kael Lucien Raventhorne dikenal sebagai bos mafia paling berkuasa, tampan, dan dingin. Di balik reputasinya yang membuat semua orang segan, ia menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun. Sebuah kecelakaan tragis merenggut harapan terbesarnya setelah dokter memvonisnya mandul. Kehancuran itu mengubah cara pandangnya terhadap hidup. Ia berhenti memercayai cinta dan memilih menjalani kehidupan tanpa ikatan, berganti pasangan dari waktu ke waktu demi mengisi kekosongan yang terus menghantuinya.
Namun takdir mempermainkannya.
Suatu malam, takdir mempertemukannya dengan seorang gadis berusia dua puluh tahun yang polos dan cantik. Kesalahpahaman dan rangkaian kejadian di luar dugaan membuat gadis itu kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Kael menganggap peristiwa itu hanya akan menjadi satu bab yang terlupakan, sementara sang gadis berusaha bangkit dari kenyataan yang mengubah hidupnya.
Sebulan kemudian, gadis itu kembali hadir di hadapan Kael dengan kabar yang musta

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yudi Chandra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

Kael berdiri membelakangi pintu yang kini telah terkunci. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis, sementara sorot matanya tak pernah lepas dari gadis yang berdiri beberapa langkah di hadapannya.

"Jadi... inikah gadis yang dipilih Cassian?" batinnya, mengamati Aurora tanpa berkedip.

Aurora merasakan hawa dingin menjalar di sepanjang punggungnya.

Ada sesuatu yang terasa sangat janggal.

Namun, sedikit pun ia belum menaruh curiga pada manajernya. Dalam benaknya, pasti telah terjadi sebuah kesalahpahaman.

Lalu bayangan kejadian di toilet basement siang tadi kembali memenuhi pikirannya.

"Jangan-jangan... dia mengenaliku?"

Dadanya semakin sesak.

"Apa dia mengira aku akan menceritakan semua yang kulihat?"

Padahal, sejak awal Aurora sama sekali tidak berniat mencampuri urusan pria itu. Ia bahkan telah berjanji pada dirinya sendiri untuk melupakan kejadian tersebut dan tidak mengatakannya kepada siapa pun.

Langkah kaki Kael terdengar perlahan memecah keheningan.

Tok...

Tok...

Tok...

Setiap langkah yang mendekat membuat napas Aurora semakin tidak beraturan.

Kael berhenti hanya beberapa langkah di depannya.

"Kau..." ucapnya singkat, suaranya rendah namun cukup untuk membuat Aurora menelan ludah.

Aurora spontan mundur selangkah.

"O-Om... aku benar-benar tidak mengatakan apa pun kepada siapa pun," katanya terbata-bata. "Aku juga tidak berniat mencampuri urusanmu, Om. Tolong... biarkan aku pergi."

Sambil berbicara, ia buru-buru meraih tas yang tadi diletakkannya di atas sofa. Jemarinya gemetar hingga hampir menjatuhkan tali tas itu.

Kael tidak menjawab.

Ia hanya menatap Aurora beberapa detik, seolah sedang membaca setiap ekspresi di wajah gadis itu.

"Kau yang datang ke kamar yang telah disiapkan untukku," katanya akhirnya dengan nada tenang. "Sebelum kau selesai melayaniku, aku tidak akan membiarkanmu pergi begitu saja."

Kalimat itu membuat wajah Aurora semakin pucat.

Ia menggeleng berulang kali.

"Tidak... pasti ada kesalahan. Aku datang karena dijemput orang dari manajerku untuk membicarakan pekerjaan dengan seorang klien dari perusahaan besar di bidang perhiasan yang tertarik menjadikan aku wajah baru mereka."

Suara Aurora mulai bergetar.

"Kalau begitu... tolong izinkan aku pulang."

Tanpa sadar, ia kembali melangkah mundur.

Tatapan Kael tetap tak berubah.

Dingin.

Sulit ditebak.

Aurora terus melangkah mundur.

Wajahnya pucat. Napasnya memburu. Kedua tangannya mencengkeram erat tali tas yang kini terasa seperti satu-satunya benda yang mampu memberinya sedikit rasa aman.

"Tolong... biarkan aku pergi, Om." ucapnya dengan suara bergetar. "Aku masih terlalu muda. Aku tidak seharusnya berada di sini."

Kael tetap berdiri di tempatnya.

Tatapan pria itu mengamati Aurora beberapa saat, mencoba memastikan apakah kepanikan yang terpancar di wajah gadis itu hanyalah sandiwara atau benar-benar nyata.

Dari caranya menggigil, dari sorot matanya yang dipenuhi ketakutan, hingga tubuhnya yang tampak gemetar, Aurora sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang telah terbiasa menghadapi situasi seperti ini.

Kael mengembuskan napas pelan.

"Aku tidak akan membiarkanmu pergi," katanya datar. "Seseorang telah menerima bayaran untuk mempertemukanmu denganku. Kau harus melayaniku sampai aku puas."

Aurora mengernyit bingung.

"Bayaran?" ulangnya lirih.

Ia menggeleng kuat-kuat.

"Aku sama sekali tidak menerima uang apa pun. Aku datang karena diberi tahu kalau manajerku ingin mempertemukanku dengan seorang klien besar,. Kalau aku tahu jadinya seperti ini, aku tidak akan pernah datang."

Nada suaranya mulai meninggi, bukan karena marah, melainkan karena putus asa.

"Aku bukan orang yang kau cari, Om."

Kael memicingkan mata. Lalu perlahan melangkah mendekat.

Sementara itu, Aurora semakin panik. Dengan tangan yang masih gemetar, ia melepaskan salah satu sepatu hak tinggi yang dikenakannya. Bukan untuk menyerang, tetapi sebagai bentuk perlindungan diri jika keadaan memaksanya.

"Jangan mendekat!" katanya, berusaha terdengar tegas meski suaranya bergetar. "Aku sungguh tidak ingin menjual diriku."

Kael menghentikan langkahnya.

Untuk sesaat, keduanya saling menatap dalam diam.

Aurora menelan ludah, lalu tanpa sadar melontarkan kekesalannya.

"Kau benar-benar pria tua yang menyebalkan."

Sudut bibir Kael bergerak nyaris membentuk senyum tipis.

"Namaku Kael." ujarnya singkat.

Aurora mendengus pelan sambil tetap menjaga jarak.

"Aku tidak sedang ingin berkenalan denganmu."

Aurora masih terus mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya membentur dinding.

Tak ada lagi ruang untuk menghindar.

Dengan napas memburu, ia menggenggam kedua sepatu hak tingginya yang telah ia lepaskan beberapa saat lalu. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkannya ke arah Kael.

Buk!

Salah satu sepatu itu mengenai pelipis Kael.

Namun pria itu hanya memiringkan kepalanya sedikit. Tidak ada ekspresi marah, apalagi rasa kesakitan. Seolah lemparan itu sama sekali tidak berarti baginya.

Ia kembali melangkah maju.

Setiap langkahnya tenang, tetapi cukup membuat jantung Aurora semakin berdegup tak karuan.

Kini jarak mereka hanya tinggal beberapa langkah.

Aurora dapat melihat jelas sorot mata dingin pria itu.

Kael menghentikan langkahnya tepat di depan Aurora. Tatapannya turun sejenak, mengamati gadis yang sejak tadi berusaha melawan rasa takutnya.

Aurora menggigit bibir bawahnya, berusaha mengumpulkan keberanian yang nyaris habis.

"Kumohon... jangan dekati aku lagi," ucapnya lirih, suaranya bergetar. "Aku tidak mengenalmu."

Kael menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan nada datar,

"Mungkin kita memang belum saling mengenal. Karena itu, setidaknya kau perlu tahu siapa orang yang sedang berdiri di hadapanmu."

Aurora menggeleng kuat.

"Aku tidak peduli siapa namamu. Yang kuinginkan hanya satu... biarkan aku pergi."

Matanya mulai berkaca-kaca.

Dengan sisa keberanian yang dimilikinya, Aurora mendorong dada Kael menggunakan kedua tangannya. Dorongan itu nyaris tidak menggeser tubuh pria bertubuh tegap tersebut.

Ia mencoba lagi.

Dan lagi.

Namun hasilnya tetap sama.

"Tolong... lepaskan aku." Suaranya kini nyaris pecah. "Aku ingin pulang."

Kael tidak membalas dorongan itu.

Ia hanya memandang Aurora dengan sorot mata yang semakin sulit ditebak.

Selama ini, hampir tidak ada seorang pun yang berani menentangnya secara langsung. Namun gadis di hadapannya berbeda. Meski tubuhnya gemetar dan jelas diliputi ketakutan, ia tetap berusaha melawan dan menolak keadaan.

Penolakan itu justru membuat Kael semakin tertantang.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Kael mengangkat dagu Aurora dengan jemarinya. Tatapannya yang dingin dan tajam mengunci mata gadis itu, seolah tak memberi ruang untuk menghindar. Dalam hitungan detik, ia merapatkan wajahnya lalu mencium bibir ranum Aurora dengan brutal.

Aurora membelalak. Napasnya tertahan, jantungnya berdetak tak karuan. Ia menatap Kael dengan campuran syok, marah, dan bingung, sama sekali tak menyangka pria yang dikenal dingin itu akan bertindak seberani itu.

"Apa-apaan ini?" desis Aurora dalam hati.

Kael hanya menyunggingkan senyum tipis, sorot matanya tetap tenang. "Sekarang kau tahu," ucapnya rendah setelah ciuman terlepas, "aku tidak pernah bercanda soal apa yang kuinginkan."

Plak!

"Apa kau sudah gila?! Beraninya kau merampas ciuman pertamaku. Lebih baik aku menghadapi kematian daripada harus melayanimu!" teriak Aurora dengan napas memburu dan wajah memerah menahan emosi.

Kael sama sekali tidak menggubris amarah yang terpancar di wajah Aurora. Tatapannya tetap datar, seolah luapan emosi gadis itu tak mampu menggoyahkan keputusannya.

Ia mengeluarkan sebutir obat yang mengandung afrodisiak dari saku jasnya. Sebelum Aurora sempat memahami maksudnya, Kael menyodorkan obat itu ke hadapan gadis tersebut.

"Minum ini." ucapnya singkat.

Tanpa memberi kesempatan Aurora menolak, Kael berusaha memasukkan pil itu ke mulut Aurora. Gadis itu langsung berusaha menepis tangannya, tatapannya dipenuhi kemarahan atas tindakan pria di hadapannya.

Hingga akhirnya, Kael mencengkeram pergelangan tangan Aurora. Dalam satu gerakan cepat, ia memaksa gadis itu menelan obat yang telah ia siapkan tersebut.

Aurora terbatuk, menatap Kael dengan mata membelalak. "Apa yang baru saja kau lakukan?" tanyanya penuh amarah dan kebingungan.

Kael menyunggingkan senyum tipis ketika Aurora akhirnya menelan obat tersebut.

Beberapa saat kemudian, Aurora mulai merasakan ada sesuatu yang tidak wajar. Kepalanya terasa berat, napasnya tidak teratur, dan tubuhnya seolah tidak lagi patuh pada keinginannya sendiri. Ia berusaha mengangkat tangan untuk mendorong Kael menjauh, tetapi tenaganya seperti terkuras habis. Ia sadar ada yang salah, namun sulit mengendalikan dirinya.

Kael menyadari perubahan itu. Sorot matanya menunjukkan keyakinan bahwa semua telah berjalan sesuai rencananya. Baginya, keadaan Aurora membuat gadis itu tidak lagi mampu memberikan perlawanan berarti. Ia memanfaatkan situasi tersebut demi memenuhi keinginannya sendiri, tanpa sedikit pun memedulikan ketakutan yang terpancar dari mata Aurora.

Di balik wajahnya yang tetap dingin, Kael merasa telah menguasai keadaan sepenuhnya. Ia begitu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkan hingga menganggap penolakan Aurora tidak lagi berarti. Keyakinan itulah yang membuatnya terus melangkah, tanpa memikirkan luka yang sedang ia tinggalkan.

Pria tampan itu menyadari bahwa Aurora adalah gadis yang belum pernah mengalami situasi seperti ini. Kael sengaja mengendalikan keadaan dengan sikap yang tampak tenang. Pengalaman panjang membuatnya membaca setiap perubahan raut wajah gadis itu. Aurora perlahan berhenti melawan, bukan karena menyerah, melainkan karena kesadarannya mulai terasa kabur dan tubuhnya kehilangan tenaga untuk terus memberontak.

Sementara itu, di dalam hati Aurora berkecamuk rasa bingung dan takut. Tubuhnya tidak lagi merespons seperti yang ia inginkan. Ia membenci kenyataan bahwa dirinya tidak mampu bergerak bebas, seolah ada sesuatu yang merampas kendali atas dirinya.

"Apa yang terjadi padaku...?" batinnya panik.

"Aku ingin melawan... aku ingin menjauh... tapi kenapa tubuhku tidak menurut?"

Air mata mulai menggenang di sudut matanya. Aurora menggigit bibirnya, menahan tangis dan rasa putus asa yang semakin memenuhi dadanya. Di tengah keadaan yang begitu mencekam, ia hanya berharap ada seseorang yang datang sebelum semuanya terlambat.

Dan akhirnya, Kael berhasil merenggut sesuatu yang berharga di dalam diri Aurora.

Beberapa saat kemudian, Kael memandang Aurora yang semakin kehilangan tenaga. Pakaian gadis itu tampak berantakan akibat pergulatan yang baru saja terjadi. Napas Aurora tersengal, sementara air mata terus mengalir tanpa mampu ia bendung.

Tubuhnya gemetar hebat. Kepalanya terasa berat, dan setiap kali ia mencoba mengumpulkan kekuatan untuk melawan, rasa lemah kembali menguasainya. Satu-satunya yang mampu ia lakukan hanyalah memeluk dirinya sendiri, berusaha mempertahankan sisa harga diri yang masih ia miliki.

Kael berdiri beberapa langkah darinya dengan raut wajah sulit ditebak. Ia merasa telah berhasil mengendalikan keadaan sesuai keinginannya. Di benaknya, semua telah berakhir sebagaimana yang ia rencanakan sejak awal, meski ia sama sekali mengabaikan ketakutan dan penderitaan yang jelas terpancar dari wajah Aurora.

Malam terasa berjalan begitu lambat. Sementara Kael akhirnya membiarkan dirinya beristirahat, Aurora hanya mampu memejamkan mata karena kelelahan fisik dan batin. Tidurnya bukanlah tidur yang tenang, melainkan pelarian singkat dari mimpi buruk yang baru saja ia alami.

...****************...

1
Badkill 99
cerita nyaa baagus..tpi diaalog nyaa sedikit bngt...
maap,unfollow dan unsubscribe
Badkill 99
dialog nya dikit banget,
Lisa
Halo Kak..aku mampir nih
Nur Halida
kenapa gak kamu aja kel yg gantiin brema malah gak datang juga terus aurora gimana kalo gak ada yg nikahin .. gak ngerti d3h sama jalan pikirannya si kael ini
Nur Halida
ihhhh .. masih saja gak percaya kalo itu anakmu..
Yudi Chandra: sabar ya bu🤭🤭🤭🤭 jangan emosi🤗 calm down😘
total 1 replies
Nur Halida
gimana kael ???kamu rela aurora nikah sama orang laen?? buang itu ke egoisan kamu
Yudi Chandra: hahhaha...jahat banget🤭
total 1 replies
Enz99
bagus
Yudi Chandra: makaciiiiiih🙏😘
total 1 replies
Nur Halida
dasar kael .. awas ya nanti kalo anakmu lahir dan mirip kamu entr kamu rebut dari aurora .. sok sok an gak mau ngakuin anakmu sekarang
Yudi Chandra: Hahaha....smoga dapat karma dia🤭
total 1 replies
Nur Halida
kael ini umur berapa sih??
Yudi Chandra: 35 kalo nggak salah😅
total 1 replies
Nur Halida
ku kira waktu kael nyelametin aurora di rumah sakit dia udah bisa menerima aurora dan bayi dalam kandungannya .. sampe katanya mau melindunhi aurora dari siapapun yg akan menyakiti aurora tapi ternyata kael balik lagi ke mode egois dan kek karakternya cenderung plin plan .. tumben kak author bikin karakter cowok yg plin plan kek si kael ini.. gak kayak karakter ethan, aiden atau ryuga yg tegas dari awal
Nur Halida
loh kok kael gitu lagi sikapnya??bukannya tafi katanya fia mau melindungi aurora??
Resti Guriangdani
seruuuuuuuuu
Yudi Chandra: Makaciiiiiih😘🙏
Ku harap kamu nggak bosen sama ceritanya ya😅
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!