NovelToon NovelToon
My Ashford Side

My Ashford Side

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:7.5k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Satu jalan keluar dari balik jeruji besi, namun berujung pada labirin tanpa pintu keluar.

Ketika Dorris Gate menawarkan kunci kebebasan, La Bonna De Luca tidak pernah menduga bahwa harga yang harus dibayar adalah jiwanya sendiri.

Terlempar ke dalam gemerlap remang Velvet Noir, Bonna dipaksa menari di atas benang tipis antara penyamaran dan kehancuran. Targetnya adalah Ezequiel Nolan Ashford—pria dingin bernapas racun yang tak pernah terpeleset oleh hukum.

Bonna menyadari satu hal: ini bukanlah misi penyelidikan, ini adalah eksekusi yang tertunda.

Ezequiel tidak hanya sulit dibaca; ia memegang kendali atas hidup dan mati siapa pun di wilayah kekuasaannya. Bagi Ezequiel, Bonna hanyalah mainan baru yang sewaktu-waktu bisa dihancurkan.

Untuk bertahan hidup di tangan pria yang memperlakukan manusia tak ubahnya properti, Bonna hanya punya satu senjata tersisa: memainkan sandiwara paling berbahaya. Berpura-pura menyerahkan hatinya pada sang iblis, atau menjadi bidak yang ditumbalkan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#2

Pagi harinya, suasana kantin Penjara Wanita Lembaga Pemasyarakatan Utama tampak riuh. Uap tipis dari bubur gandum yang terlalu encer dan aroma karbol pembersih lantai yang menyengat berbaur menjadi udara berat yang harus dihirup ratusan tahanan setiap hari.

Suara benturan sendok, dentang nampan, serta gelak tawa kasar bersahut-sahut menembus dinding-dinding beton yang lembap. Di tempat ini, hidup diukur dari seberapa pintar seseorang menjaga jarak dari masalah, atau seberapa cepat seseorang bisa memukul sebelum dipukul.

Bonna berjalan pelan menyusuri deretan meja panjang, kedua tangannya memegang nampan kaleng berisi porsi sarapan minimalisnya. Rambutnya yang bergelombang diikat seadanya, dan matanya melirik tajam ke sekeliling, mencari sudut yang relatif aman dari kerumunan kelompok tahanan yang agresif. Namun, keamanan di tempat ini hanyalah ilusi.

PRANKK!!!

Suara nampan jatuh menghantam lantai semen terdengar nyaring, memotong keriuhan kantin selama semangkuk detik. Nampan milik Bonna terlepas dari genggamannya, terpelanting beberapa kaki ke depan.

Jatah makanan siangnya—bubur hambar, sepotong roti keras, dan secangkir air teh tawar—terbuang dan berceceran kotor di lantai yang berdebu.

Sebuah kaki melangkah mundur dengan santai.

"Ups, aku tidak sengaja. Kau tahu aku ini mantan model, jadi kakiku ini panjang," ucap seorang wanita berambut blonde yang dicepol asal-asalan. Ia menyibakkan poni tipisnya, lalu tersenyum mengejek tepat ke arah La Bonna. Matanya yang tajam dilapisi kebencian yang terang-terangan.

Bonna menarik napas panjang. Dadanya naik turun menahan gumpalan amarah yang membakar tenggorokannya. Ia tahu persis itu bukan ketidaksengajaan.

Tahanan nomor XX200 itu—seorang narapidana kasus penganiayaan berat dan pencucian uang—sengaja menyandung kaki La Bonna.

Sejak hari pertama Bonna melangkah masuk ke dalam sel dengan gaun mahal yang sudah tercabik-cabik oleh pemeriksaan petugas, tahanan nomor XX200 itu tidak pernah menyukainya. Bagi para kriminal kawakan di sini, gadis dari keluarga kaya seperti La Bonna adalah sasaran empuk untuk dilampiaskan kekesalan.

Mengabaikan senyum culas wanita blonde itu, La Bonna berjongkok sebentar, memungut nampan kosongnya. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Mengeluh pada wanita itu hanya akan memberinya kepuasan.

La Bonna tahu diri; ia tidak mungkin memakan jatah makanannya yang telah jatuh dan kotor di lantai kantin yang diinjak ratusan pasang sepatu bot.

Dengan kepala terangkat dan rahang terkunci rapat, La Bonna memutar tubuhnya. Ia berniat untuk kembali mengantri di depan loket pembagian makanan. Ia berdiri di barisan paling belakang, menunggu gilirannya dengan kesabaran yang tipis.

Suasana kantin yang sempat hening kini kembali riuh, disertai bisik-bisik yang tertuju padanya. Namun, saat gilirannya akhirnya tiba dan La Bonna menyodorkan nampan kosongnya ke celah terali besi pembatas, petugas makanan berpakaian seragam abu-abu tidak menggerakkan centongnya.

"Kau sudah dapat bagianmu, kau tidak bisa meminta makanan lagi," ucap si petugas makanan yang mengenakan masker bening dari plastik itu.

Suaranya datar, dingin, dan penuh kebosanan.

"Apa kau tidak melihat makananku telah jatuh? Aku belum makan sama sekali," kata La Bonna. Suaranya tertahan, mencoba menuntut hak paling dasar di tempat terkutuk ini.

Petugas itu mendengus kecil, menatap La Bona dari balik maskernya dengan tatapan malas. "Mau kau sudah makan ataupun belum, itu bukan urusan kami. Kau sudah dapat jatahmu dan kau tidak bisa memintanya lagi. Kalau kami memberikanmu makanan lagi, yang lain juga akan protes hingga meminta makanan lagi. Semua orang hanya dapat satu kali jatah makanan, tidak peduli makanan itu masuk ke perutmu atau jatuh ke lantai."

Belum sempat La Bonna membalas, seorang tahanan wanita tua berwajah keriput yang duduk di meja dekat pembagian makanan ikut mencetuskan suara.

"Kalau dia bisa ambil makanan dua kali, kami juga ingin ambil dua kali! Porsi sedikit seperti ini tidak cukup untuk perut kami! Kalian harus adil!" teriak tahanan tua itu, menggebrak meja kayu hingga cangkirnya bergetar.

Beberapa tahanan lain mulai bersorak menyetujui, menciptakan gelombang seruan pembangkangan kecil yang membuat para sipir di sudut kantin mulai memegang tongkat pemukul mereka.

La Bona merasakan darahnya berdesir hebat. Amarah memuncak di ubun-ubunnya. Tangannya mencekram kuat pinggiran nampan makanan miliknya yang kosong hingga buku-buku jarinya memutih dan memucat. Ia merasa begitu terhina, begitu konyol, dihancurkan oleh sistem dan manusia-manusia jahat yang berkerumun di sekitarnya.

Namun, sebelum amarah itu meledak dalam bentuk makian, pergelangan tangan La Bonna tiba-tiba saja disentuh oleh seseorang. Sentuhan itu lembut, hangat, dan terasa teramat asing di tengah dinginnya jeruji besi.

La Bonna menoleh cepat ke sampingnya dan tersentak menyadari siapa yang berdiri di sana. Ibunya.

Wanita yang pernah menghiasi sampul majalah bisnis dan sosialita itu kini mengenakan pakaian tahanan longgar yang kusam. Namun wajahnya, meski tirus dan pucat, menyimpan kepasrahan yang mendalam. Ibunya menghampiri La Bona sembari menyodorkan nampan makanannya sendiri yang masih utuh ke arah Putrinya.

"Kau bisa makan milik Mommy, Bonna. Mommy tidak lapar," bisik sang ibu, matanya menatap La Bonna dengan rasa bersalah yang teramat sangat.

Tindakan itu tidak terlewatkan oleh mata-mata licik di kantin. Tiba-tiba para tahanan lain ikut riuh melihat adegan sentimental tersebut. Bagi mereka, penderitaan orang lain adalah satu-satunya hiburan gratis di tempat ini. Mereka langsung menjadikan La Bona dan ibunya sebagai bahan tontonan dan hidangan hinaan.

"Wah, sungguh keluarga yang sangat harmonis! Seorang ibu menolong anaknya yang kelaparan!" teriak si tahanan nomor XX200 dari tempat duduknya.

Wanita blonde itu kembali berdiri, mengangkat tangannya seolah sedang memberikan tepuk tangan teatrikal. Kebencian di matanya makin menyala.

"Dengar semuanya!" teriak tahanan XX200 itu lagi, membuat suasana kantin kian memanas. "Kalau kau tidak membunuh suamimu, dan putri keduamu tidak mencoba membunuh kakak dan adiknya sendiri, kalian tidak akan mendekam di sini! Sungguh keluarga yang lucu! Di televisi terlihat harmonis dan sempurna, tapi di belakang layar saling bunuh satu sama lain!"

Tawa riuh memecah kantin. Kata-kata itu menghantam La Bonna tepat di dadanya, membuka luka berdarah yang berusaha ia kubur rapat-rapat.

La Bonna tidak tahan lagi. Batas kesabarannya runtuh menjadi kepingan abu.

Dengan gerakan kasar dan penuh kebencian, La Bonna menepis tangan sang Mommy. BRAK!

Untung saja nampan makanan yang dipegang ibunya tidak ikut jatuh ke lantai; sang ibu berhasil menahannya walau tubuhnya terdorong ke belakang.

Tanpa memikirkan akibatnya, La Bonna memutar tubuh. Dengan langkah lebar dan napas memburu, ia menghampiri tahanan nomor XX200 yang masih tertawa mengejek.

Nampan kosong di tangannya ia genggam erat-erat hingga terasa menyatu dengan tulang tangannya. Sebelum wanita blonde itu menyadari bahaya yang mengancamnya, La Bona langsung mengayunkan nampan kaleng itu sejauh dan sekeras mungkin.

PANGGG!!

Suara logam menghantam tulang tengkorak terdengar begitu nyaring. Nampan itu mendarat telak di samping kepala tahanan nomor XX200.

Wanita itu menjerit kesakitan, terhuyung ke belakang, dan menabrak meja kayu sebelum jatuh tersungkur ke lantai. Darah segar mulai merembes dari pelipisnya.

Namun, tindakan nekad Bonna adalah memicu ledakan di dalam sarang lebah.

Melihat rekan mereka tumbang, beberapa tahanan lain yang duduk di sekitar meja itu langsung berdiri dengan wajah beringas. Kebencian kelompok meletus seketika.

Dua orang tahanan wanita bertubuh kekar melompat menerjang La Bonna. Mereka mendorong La Bonna dengan kekuatan penuh hingga tubuh gadis itu melayang dan menghantam lantai semen yang keras.

"Gadis sialan!"

Sebelum La Bonna sempat bangkit, tendangan pertama mendarat keras di perutnya. Udara keluar berhamburan dari paru-parunya. Disusul tendangan kedua, ketiga, dan dorongan-dorongan brutal.

Tubuhnya dikerumuni, diinjak-injak, dan dipukuli tanpa ampun oleh tahanan lain yang memanfaatkan kekacauan itu untuk meluapkan amarah mereka sendiri.

"Bonna! Bonna!"

Ibu La Bonna berteriak histeris. Tanpa memikirkan keselamatannya sendiri, wanita tua itu menerobos kerumunan, mencoba melempar tubuhnya di atas tubuh La Bonna untuk melindunginya dari injakan sepatu-sepatu keras.

Namun dua orang melawan belasan orang yang kalap adalah hal yang mustahil. Sang ibu ditarik, didorong, dan dipukul hingga tersungkur di samping anaknya.

La Bona dikeroyok hingga tidak berdaya. Pandangannya mulai mengabur, dipenuhi warna merah dan rasa sakit yang menjalar di setiap jengkal tubuhnya.

Di tengah suara makian dan pukulan yang tak henti-hentinya mendarat, ia hanya bisa mendengar suara ibunya yang menjerit pasrah, berteriak sekencang-kencangnya meminta pertolongan sipir penjara yang akhirnya berlari mendekat sambil meniup peluit pemecah kerusuhan.

***

Beberapa jam kemudian. Bau antiseptik dan alkohol yang menyengat menggantikan bau busuk kantin.

Tubuh Bonna terbaring kaku di atas selimut tipis ruang medis lapas. Banyak luka lebam membiru melingkupi tubuhnya, termasuk di wajahnya. Mata kirinya membengkak hingga hampir tertutup, pipinya memar keunguan, sudut bibirnya robek, dan hidungnya yang tadi mengeluarkan banyak darah kini disumbat dengan kasa steril. Setiap kali ia bernapas, rusuknya terasa seperti ditusuk jarum-jarum halus.

Dokter lapas baru saja selesai membersihkan luka-lukanya. Sang mommy berdiri tak jauh di depan ranjang tempat La Bonna dibaringkan, menatap putrinya dengan bibir bergetar.

"Kenapa kau tidak menerima saja makanan yang Mommy berikan?" kata sang Ibu dengan suara gemetar, tertahan oleh isak tangis.

La Bona memejamkan matanya, enggan menatap wanita itu.

"Andai kau menerima makanannya, kau tidak mungkin mendapatkan masalah dengan tahanan lain... dan wajahmu tidak akan terluka seperti ini," kata sang ibu kembali. Mata ibu La Bonna basah.

Air mata mengalir tanpa henti membasahi pipinya yang kusam, menyaksikan keadaan putrinya yang mengenaskan.

Beberapa detik kemudian, La Bonna membuka matanya yang penuh luka. Ia melirik sinis ke arah ibunya.

Di dalam hati La Bonna, rasa sakit di tubuhnya tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa mual yang meluap setiap kali ia melihat ibunya menangis. Ia benci melihat sang Mommy menangis. Bagi La Bona, tangisan itu bukanlah bentuk kasih sayang, melainkan simbol kelemahan dan kepalsuan yang melingkupi hidup mereka selama puluhan tahun.

"Bisakah kau diam?" ucap Bonna, suaranya parau dan terputus-putus karena bibirnya yang bengkak. "Yang bisa kau lakukan sejak dulu hanya menangis dan menangis. Aku muak melihatmu menangis."

Dokter yang mengobati La Bonna menghentikan kegiatannya, merapikan peralatan medisnya, lalu perlahan mundur menuju pintu. Ia menyadari ketegangan dingin di antara ibu dan anak itu, memberi La Bonna dan ibunya privasi untuk bicara selagi mereka memiliki beberapa menit tersisa sebelum bel pertanda kembali ke sel masing-masing dibunyikan.

Pintu medis tertutup pelan.

Suasana menjadi begitu sunyi, hanya diselingi napas berat La Bona dan isakan pelan sang ibu.

"Bonna... apa kau masih marah dengan Mommy?" tanya sang ibu sekali lagi. Langkah kakinya mendekat secara ragu-ragu. Tangannya terulur, berniat untuk menyentuh jemari La Bonna yang memar.

Namun dengan cepat dan kasar, La Bonna menarik tangannya menghindar, menolak sentuhan itu seolah-olah kulit ibunya mengandung racun.

La Bonna mengatupkan rahangnya, lalu memaksakan tubuhnya untuk duduk walau rasa nyeri menjalar hebat di punggungnya. Ia menatap ibunya tepat di manik mata dengan tatapan yang sarat akan kepahitan bertahun-tahun.

"Jangan bersikap seolah kita keluarga yang harmonis di sini," bisik La Bonna dengan nada dingin yang menusuk tulang.

"Sejak dulu yang Mom lakukan hanya menangis. Mom tidak pernah mau berkorban untuk melindungiku dari Daddy! Selalu aku yang menjadi sasaran kemarahannya, selalu aku yang harus menanggung siksaannya!" Suara La Bonna mulai naik, tertahan oleh rasa panas di dadanya.

"Tapi di saat Laura yang dalam bahaya... Mommy menolongnya. Mom bahkan membunuh laki-laki sialan itu untuknya! Kenapa? Kenapa dia? Tapi dulu saat aku butuh Mommy untuk melindungiku, Mommy hanya bisa menangis dan menanam kebencian di kepalaku untuk Laura dan ibunya yang seorang pelacur itu!"

Setiap kata yang keluar dari mulut La Bonna seperti belati yang menghantam dada sang ibu. Wanita itu tertunduk dalam, air matanya menetes makin deras ke lantai ruang medis, tak mampu membela diri karena ia tahu semua ucapan putrinya adalah kebenaran yang teramat menyakitkan.

La Bonna tidak menurunkan pandangannya. Tanpa menunggu jawaban, ia memutar kakinya ke tepi ranjang medis, lalu berdiri dengan payah. Ia mengabaikan rasa pusing yang menghantam kepalanya. Ia berjalan hendak keluar dari ruang medis.

Namun, saat melangkah melewati ibunya, sudut mata La Bona yang melotot memperhatikan sesuatu. Ada lebam kebiruan yang tebal di pergelangan tangan sang mommy, serta memar kemerahan di pipinya.

La Bonna tahu betul, sang mommy pasti mendapatkan lebam itu saat wanita tua itu nekat melempar tubuhnya ke tengah kerumunan untuk menyelamatkan dirinya dari pengeroyokan liar di kantin tadi.

Dada La Bona berdenyut aneh. Ada kilatan emosi terlarang yang coba ia tekan kuat-kuat: rasa kasihan, dan rasa bersalah. Tapi dengan cepat ia mengeras hati kembali.

BRAK.

Pintu ruang medis terbuka kasar dari luar. Dua orang sipir berbadan tegap berdiri di ambang pintu dengan tongkat di pinggang mereka.

"Waktu habis! Isabella La Bonna, kau membuat keributan besar di kantin. Ikut kami sekarang!" tegas salah satu petugas.

Beberapa detik kemudian, petugas itu mencengkeram lengan La Bonna dan membawanya menuju koridor gelap. La Bonna diseret ke ruang isolasi—hukuman standar bagi siapa pun yang memicu pertumpahan darah di area umum penjara.

***

Langkah kaki sepatu bot sipir bergetar di koridor bawah tanah yang dingin. Pintu besi tebal berdecit nyaring saat dibuka, mengungkap sebuah ruangan sempit di ujung lorong.

Ruang isolasi sangat sempit, jauh lebih sempit dan pengap dari sel biasa tempat La Bona mendekam bersama rekan satu selnya. Di ruangan itu hanya ada sebuah pembuangan air kecil di sudut dan lantai semen tanpa alas sama sekali. Begitu tubuh La Bona didorong masuk dan pintu besi tebal itu ditutup rapat dengan dentuman keras BAM!, seluruh warna dunia seolah sirnah.

Tak ada suara. Tak ada cahaya. Dark total.

Tempat itu begitu kedap dan sunyi hingga suara napasnya sendiri terdengar begitu keras. Bahkan, La Bona bisa mendengar suara telinganya berdenging nyaring—sebuah fenomena aneh yang terjadi ketika manusia diletakkan di dalam kegelapan dan kesunyian yang terlalu ekstrem.

La Bonna terduduk lemah di lantai semen yang dingin, menyandarkan punggungnya yang penuh luka memar ke dinding batu. Dalam kegelapan mutlak itu, kepalanya tidak bisa berhenti berputar.

Ia berpikir dalam diam. Bayangan wajah-wajah beringas para tahanan di kantin tadi melintas di benaknya.

Tahanan nomor XX200, tahanan tua berkeriput, dan puluhan pasang mata lainnya yang penuh dengan rasa lapar akan penderitaan orang lain. Mereka sangat membenci La Bonna dan ibunya—membenci nama besar keluarga mereka yang runtuh, membenci kemewahan masa lalu yang pernah mereka miliki, dan membenci fakta bahwa keluarga yang dulunya dipuja kini merayap di kotoran yang sama dengan mereka.

Namun, di tengah kebencian itu, pikiran La Bonna perlahan teralihkan pada bayangan memar di tubuh sang ibu.

Memar di pergelangan tangan dan pipi Mommy-nya.

La Bona mengepalkan tangannya di atas lutut. Ya, La Bona memang membenci sang ibu. Ia benci setengah mati karena sang ibu rela mengorbankan segalanya—bahkan masuk ke dalam neraka penjara ini—demi menolong Laura, sosok yang paling La Bona benci dan cemburui di dunia ini.

Tapi membenci ibunya adalah hak pribadinya. Bukan berarti La Bonna tidak masalah jika sang ibu disakiti oleh orang lain. Ia tidak bisa menerima ibunya diperlakukan buruk, dihina, dipukuli, bahkan oleh tahanan penjara yang berengsek atau sipir-sipir korup yang merasa diri mereka dewa.

Rasa tidak terima itu membakar dadanya dari dalam, perlahan mengikis kepasrahan yang selama ini mengurungnya.

Di tempat sepi ini, di dalam kegelapan ruang isolasi yang mencekat leher, La Bonna merenung sendiri. Kesunyian ekstrim itu secara perlahan membuat La Bonna teringat kembali dengan tawaran yang diberikan oleh Detektif Dorris beberapa waktu lalu.

Wajah detektif itu, senyum tipisnya yang misterius, dan berkas perjanjian yang disodorkannya seolah terpampang di kegelapan udara di depannya.

Memang, La Bonna sudah bisa menebak sejak awal kalau tawaran yang detektif itu berikan tidak mungkin akan mudah dilakukan. Tidak ada hal gratis di dunia ini, apalagi yang datang dari seorang polisi atau agen pemerintah. Imbalan dari tawaran itu sangat fantastis: Kebebasan sepenuhnya dari penjara.

Jadi, apa pun tugas yang harus La Bonna lakukan nanti di luar sana, pasti sangatlah berat, berbahaya, dan mungkin akan merenggut nyawanya.

Namun, La Bonna menghembuskan napas panjang lewat hidungnya yang masih terasa nyeri.

Apakah tugas berbahaya dari Detektif Dorris itu lebih berat dari menjalani sisa hidup bertahun-tahun di dalam penjara terisolasi ini? Hidup tanpa kemewahan yang dulu selalu Isabella La Bonna punya? Hidup menjadi mangsa empuk yang disiksa secara sengaja oleh tahanan-tahanan liar dan juga sipir penjara yang sadis?

Jawaban itu mendadak menjadi begitu jelas di dalam benaknya.

Tidak.

Lebih baik mati di luar sana karena nekat mengambil risiko dan bertarung, dibandingkan harus mati perlahan di dalam lapas busuk ini karena dianiaya oleh tahanan lain seperti binatang pembawa sial.

Setidaknya, jika ia mati di luar sana... La Bonna bisa mati sambil menghirup udara segar sebagai manusia bebas.

La Bonna menyandarkan kepalanya ke dinding semen yang dingin. Di dalam kegelapan ruang isolasi yang tak bertepi, sudut bibirnya yang robek dan berdarah perlahan terangkat sedikit, membentuk sebuah ukiran senyum tipis yang berbahaya. Keputusan-nya sudah bulat.

1
Nita Nita
hahaha sama2 bingung jg🤔
Yusry Ajay
ditunggu updatenya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
nah lho gak semudah itu dariush di kalahkan🤣
Rosdianah 🌷: Hahahaha Pria iblis memang agak lain🤭🤣
total 1 replies
Nita Nita
brian gimana nasibnya 🤔
Nita Nita
pasti pd merinding sebadan2 😰
Rosdianah 🌷: wkwkwkw🤭
total 1 replies
Yusry Ajay
semangat up trus ya Thor 💪💪🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳 siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
semenjak terpikir olehku akan ada adegan slow living tahu2 udah dibuat dari der dor sama othor 😵
Rosdianah 🌷: wkwkw semoga suka ya kaa🤭 boleh saran dan masukannya ya kaa, author terima🫠
total 1 replies
Asriani Rini
Lanjut 🙏🏻🙏🏻❤️
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Kok q jd kasihan sama duarius yaa,,, 🤔🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: Dariush butuh disemangati Kaa Readers 🤭
total 1 replies
nayla tsaqif
Astogeeee,,, duarius ikutan kabur! 😌
Nita Nita
makin panas ini,, lanjut kak😍💪
Rosdianah 🌷: Uhuuuuuiii siap kaa🥳
total 1 replies
Nita Nita
waduh waduh. apa lg lg ini 🤔
Yusry Ajay
semangat up Thor 💪💪
Rosdianah 🌷: siap makasih ya kaa
total 1 replies
Yusry Ajay
deg...deg...bgt Thor 🤗
pika shu
next thor
Rosdianah 🌷: siap kaa
total 1 replies
Debu Nakal
next... next... next...
Rosdianah 🌷: siap kaa🫶
total 1 replies
Debu Nakal
ahhhh... jadi suka 🥰
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
brarti korban aslinya dariush dong korban konspirasi lucifer dll😭😭 dan nanti kalo bona punya kesempatan buat bunuh dariush pasti gak bakal bunuh sih 🤭
Rosdianah 🌷: Huhuhu Ditunggu kelanjutannya kak🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
alurnya seruu kak😭tp kasian nolan jg atau dariush😭
Rosdianah 🌷: Semoga suka kaa ya🤭
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
sedih bangett kak jadi Bona 😭😭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!