Lin Qian adalah sosok misterius yang menyembunyikan kekuatan dahsyatnya di balik kehidupan sederhana sebagai pemilik Pusat Seni Bela Diri di Kota Yunzhou. Di matanya, kehidupan fana adalah pelarian dari dunia persilatan yang penuh intrik dan pertumpahan darah.
Namun ketenangan itu terusik ketika murid kesayangannya, Han Yu, hampir tewas akibat konspirasi licik Han Bojin dari Kamar Dagang Yunzhou. Kejadian itu memaksa Lin Qian keluar dari bayang-bayang ketenangan dan menunjukkan secuil kekuatan sesungguhnya—kekuatan yang bahkan membuat seorang Kaisar Bela Diri sekelas Ye Bei berlutut ketakutan hanya dalam hitungan detik.
Kini, berbagai pihak mulai melirik keberadaan Lin Qian. Ada yang ingin berlindung di bawah naungannya, ada yang ingin memanfaatkannya, dan ada pula yang—karena ketidaktahuan—berani mengusiknya.
Semuanya akan segera menyadari satu kebenaran yang sama:
Ada langit di atas langit. Dan langit itu bernama Lin Qian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Gunung yang Tak Terlihat & Dunia yang Runtuh dalam Satu Kata
Ning Xuanwu melesat seperti kilat yang tidak sabar menunggu langit.
Amarah yang sudah berhari-hari ia tahan—amarah yang menumpuk lapis demi lapis sejak laporan Yao Linger, sejak melihat Artefak Jubah Cepat berayun di pagar seperti kain bekas—kini meledak menjadi bahan bakar yang mendorongnya melintasi atap-atap kota dengan kecepatan yang membuat para pengikutnya tertinggal di belakang.
Di benaknya sudah terbentuk gambaran yang jelas: sasana kumuh milik manusia biasa. Dinding yang akan hancur dalam satu hantaman. Pemilik yang akan bertekuk lutut memohon ampun sebelum napas terakhirnya.
Ia naik ke udara, mengumpulkan qi di telapak tangannya—cukup untuk meratakan sebuah bukit kecil—dan membidik bangunan sederhana di bawahnya.
Lalu matanya menangkap empat sosok yang duduk bersila di depan pintu.
Ia menahan gerakannya di udara.
Orang tua. Empat orang tua. Tidak penting.
Namun naluri seorang cultivator yang sudah menempuh ratusan tahun latihan tidak bisa dibungkam semudah itu. Sesuatu di keempat sosok itu—sesuatu yang tidak kasat mata namun terasa seperti kehadiran empat gunung berapi yang tertidur—membuat ujung jarinya berhenti mengalirkan qi.
Ia mengirimkan sedikit tekanan ke arah mereka. Pemindaian ringan, cara seorang kuat mengukur lawan tanpa terlihat mengancam.
Keempat pasang mata terbuka serentak.
Dan dunia berubah.
Aura yang meledak keluar dari keempat tubuh tua itu bukan seperti gelombang—ia lebih menyerupai dinding. Langit di atas sasana itu menggelap dalam hitungan detik. Udara menjadi berat seperti cairan. Tekanan yang mencengkeram seluruh area membuat burung-burung di dahan pohon terdekat jatuh pingsan tanpa tahu apa yang menghantam mereka.
Di udara, Ning Xuanwu membeku.
Bukan karena memilih untuk berhenti. Melainkan karena tubuhnya—tubuh seorang Raja Bela Diri yang sudah menembus lapisan tertinggi di tingkatannya,tidak bisa bergerak di bawah tekanan itu seperti serangga yang terjebak dalam getah pohon yang mengeras.
Leluhur Bela Diri.
Pikirannya berputar dengan kecepatan panik. Satu per satu, detail yang ia abaikan tadi—sempoa besar di punggung, cincin-cincin tengkorak, perawakan kurus hitam yang ia kenali dari lukisan kuno di perpustakaan sekte—menyusun dirinya menjadi nama-nama yang membuat seluruh bulu di tubuhnya berdiri.
Nama-nama yang sudah tidak disebut dengan suara normal selama ratusan tahun. Sosok-sosok yang bahkan kaisar dinasti terkuat sekalipun tidak berani membuat keputusan besar tanpa mempertimbangkan apakah tindakannya akan menyinggung mereka.
Dan Ning Xuanwu, Raja Bela Diri dengan satu lengan yang penuh amarah—baru saja hampir mengayunkan serangan ke arah keempat sosok itu sekaligus.
Brengsek. Kenapa mereka ada di sini?!
Ia menarik seluruh qi-nya kembali secepat mungkin dan memutar tubuh—kabur. Satu-satunya pilihan masuk akal yang tersisa.
Seberkas cahaya dingin menyambar punggungnya.
Tubuhnya yang sudah bergerak dengan kecepatan penuh tiba-tiba tertarik balik seperti ada tangan tak kasat mata yang mencengkeram kerah jubahnya. Ia jatuh ke tanah tepat di hadapan keempat tetua itu dengan bunyi yang lebih keras dari yang ingin ia buat.
Hening.
Wu Yonghong—yang biasanya hanya duduk menggeser bidak catur dengan ekspresi orang yang sudah pasrah kalah—menatapnya dari atas dengan nada yang tidak cocok dengan wajah kakek ramahnya. "Kau tadi bilang mau meratakan tempat ini. Mau menampar sampai rata."
Bukan pertanyaan. Pernyataan.
Kulit kepala Ning Xuanwu terasa terbakar. Keringat dingin mengalir di punggungnya lebih deras dari yang pernah ia rasakan bahkan di tengah pertempuran paling berbahaya dalam hidupnya.
"Salah paham, Senior!" Ia membungkuk dalam-dalam, lebih dalam dari yang pernah dilakukannya di hadapan siapa pun dalam hidupnya. "Saya hanya lewat. Saya tidak tahu Para Senior sedang bermeditasi di sini. Tolong maafkan ketidaktahuan saya—"
Tatapan keempat tetua itu tidak berubah. Dingin. Menilai. Dengan kesabaran orang-orang yang sudah hidup cukup lama untuk tahu kapan seseorang berbohong.
Ning Xuanwu merasakan kata-katanya menguap tidak berguna di udara.
Menghina sasana ini sama saja dengan menghina mereka. Dan mereka tahu itu.
Sesuatu di dalam dirinya—sesuatu yang sudah ia jaga selama ratusan tahun, yang bernama harga diri—runtuh bersamaan dengan bunyi kedua lututnya menghantam tanah.
Ia berlutut.
Kepala menunduk.
"Salah saya! Saya salah bicara!" Suaranya pecah di tengah jalan antara penjelasan dan permohonan. "Saya hanya—saya hanya bermaksud menepuk nyamuk! Bukan tempat ini!"
Tangannya dengan panik menepuk-nepuk lengan jubahnya, dan oleh keberuntungan yang tidak masuk akal, telapaknya menghantam seekor nyamuk yang kebetulan hinggap di sana. Ia membuka tangan, memperlihatkan bangkai kecil itu.
"Ini! Ini buktinya!"
Keempat tetua itu saling bertukar pandang.
Kakek bergigi emas berhenti memutar bolanya sejenak. Kakek cincin tengkorak mengangkat satu alis. Kakek kurus hitam mengeluarkan suara di tenggorokannya yang tidak jelas apakah itu tawa tertahan atau dengusan jijik.
Mereka tidak bergerak. Ini bukan wilayah mereka—dan pemilik wilayah ini belum keluar.
Maka Ning Xuanwu tetap berlutut, menahan seluruh amarah dan rasa malunya dalam dada yang makin sesak, menunggu.
Di kejauhan, di balik sudut bangunan, Yao Linger dan barisan pengikut Sekte Xuanwu menyaksikan semuanya dengan ekspresi yang tidak bisa digambarkan dengan satu kata saja. Ketua mereka—Ning Xuanwu, yang namanya membuat sekte-sekte kecil bubar sebelum bertempur—berlutut di depan empat orang tua dengan kepala menunduk seperti murid yang ketahuan mencuri di dapur.
Pintu sasana terbuka.
Lin Qian berjalan keluar sambil menggaruk belakang kepalanya, matanya menyapu halaman dengan ekspresi orang yang sedang mencari sesuatu yang tidak terlalu penting.
"Ah, maaf ya tadi lama. Aku mencari papan catur,entah kutaruh di mana tadi."
Suaranya ringan. Langkahnya santai. Jubah putihnya biasa saja.
Keempat tetua yang satu detik lalu memancarkan aura yang membuat Raja Bela Diri tidak bisa bergerak itu—serentak bangkit berdiri. Punggung yang tadi rileks dalam posisi meditasi kini tegak dengan penghormatan yang berbeda kualitasnya dari sekadar sopan santun. Kepala mereka menunduk dalam postur yang hanya diperuntukkan bagi sosok tertentu.
Serempak, keempat suara itu bergabung menjadi satu:
"Kami siap melayani Anda, Tuan."
Kraaak
Suara itu bukan dari benda fisik apa pun. Itu adalah suara sesuatu di dalam dada Ning Xuanwu yang tidak bisa pulih kembali setelah patah.
Matanya—yang masih menunduk dalam posisi berlutut—perlahan mengangkat pandangan ke arah sosok yang baru keluar itu.
Pemuda biasa. Jubah putih tanpa hiasan. Rambut disanggul sederhana. Wajah yang tersenyum sedikit bingung melihat tamunya berdiri tiba-tiba.
Tidak ada qi yang memancar. Tidak ada tekanan. Tidak ada tanda-tanda apa pun yang seharusnya membuat empat Leluhur Bela Diri yang sudah melanglang buana selama ratusan tahun mengucapkan kata itu.
Tuan.
Kenyataan itu menghantam Ning Xuanwu lebih keras dari serangan apa pun yang pernah mendarat di tubuhnya sepanjang hidupnya—termasuk serangan yang merenggut lengan kirinya.
Ia telah salah menilai bukan sekali, bukan dua kali. Ia mengirim Wuchen—musnah. Ia mengirim Wufeng—musnah. Ia hampir menyerbu sendiri dengan seluruh kekuatan elite sektenya.
Dan orang yang ingin ia bunuh dengan tangan sendiri itu... adalah majikan dari empat makhluk paling berbahaya yang ia ketahui keberadaannya di dunia ini.
Kepala Ning Xuanwu kembali menunduk ke tanah, bukan karena ada yang memaksanya, melainkan karena ia tidak tahu harus mengangkatnya ke mana lagi.
Di kejauhan, Yao Linger menutup matanya.