NovelToon NovelToon
Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Epos Tak Berujung: Pedang Sampah Terbang

Status: sedang berlangsung
Genre:Sci-Fi / Action / Fantasi
Popularitas:107
Nilai: 5
Nama Author: Liam Harrison

Kaelen—seorang pendekar dengan pedang besi berkarat yang menyimpan misteri dimensi lain—bersama Lyra, seorang alkemis cerdas berdarah dingin, nekat menerobos reruntuhan kuil kuno peninggalan Mazhab Pedang Purba.

Diintai oleh bayangan mematikan dari Faksi Tengkorak Darah dan desakan ancaman dari pengkhianat faksi lokal bernama Vance, perjalanan mereka bukan sekadar pelarian, melainkan perburuan berbahaya demi menemukan Jiwa Artefak Reruntuhan Langit. Menghadapi entitas Qi gelap, formasi penjara kuno, dan bisikan purba yang menguji jiwa, Kaelen dan Lyra harus mempertaruhkan nyawa untuk mengungkap kebenaran di balik masa lalu yang terkubur, sebelum perangkap pengkhianatan merenggut nyawa mereka di ujung lorong yang sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liam Harrison, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Melodi Angin di Lembah Pengembara

Mentari pagi menggantung di ufuk timur, memancarkan bias keemasan yang menembus celah-celah dedaunan pinus di perbatasan wilayah barat. Embun pagi yang menempel di ujung-ujung rumput liar berkilauan bagai permata kecil di bawah terpaan cahaya pertama. Suasana di sekitar Lembah Pengembara terasa begitu tenang, menyisakan suara gemercik air sungai jernih yang mengalir di antara bebatuan kali dan kicauan burung-burung liar yang menyambut datangnya hari baru.

Di atas sebuah batu datar yang cukup besar di tepi aliran sungai tersebut, Kaelen duduk bersila dengan mata terpejam rapat. Jubah abu-abunya tampak menyatu dengan warna alam sekitar, sementara pedang baja gelap tersandar rapi di sampingnya. Tidak ada lagi gelombang tenaga dalam yang bergejolak ganas atau aura hampa yang menakutkan di sekeliling pemuda itu; yang ada hanyalah kestabilan mutlak, menyatu sepenuhnya dengan frekuensi alam semesta. Setiap kali ia menarik dan mengembuskan napas, riak air di sungai kecil di depannya bergetar lembut seirama dengan detak jantungnya.

Beberapa meter dari tempat Kaelen bermeditasi, Lyra tampak sibuk meracik ramuan herbal di atas sebuah tungku kecil berbahan bakar kayu kering. Di sekelilingnya, berbagai jenis bunga liar dan akar tanaman obat tertata rapi di dalam keranjang rotan kecil. Gadis itu mengenakan jubah perjalanan berwarna ungu muda, rambut peraknya terikat longgar di belakang kepala, dan wajahnya memancarkan ketenangan yang terpancar dari kedamaian jiwa. Sesekali ia meniup api kecil di bawah kuali tanah liat, memastikan suhu panasnya stabil agar ekstrak tanaman obat tidak rusak.

"Aroma ramuan ini sudah pas," gumam Lyra pelan pada dirinya sendiri, mencium aroma harum dedaunan mint yang mulai menguap ke udara. Ia menuangkan cairan berwarna hijau muda itu ke dalam botol kaca kecil, lalu menutupnya rapat-rapat.

Sesaat kemudian, Kaelen membuka matanya perlahan. Iris matanya yang jernih memancarkan binar kosmik yang sangat dalam, sebelum akhirnya kembali menjadi sorot mata normal seorang pemuda biasa. Ia merentangkan kedua tangannya sejenak untuk meregangkan otot-otot tubuhnya, lalu bangkit berdiri dan melangkah menghampiri Lyra.

"Pagi yang indah," ucap Kaelen lembut, tersenyum hangat saat melihat botol-botol ramuan yang berbaris rapi di sebelah gadis itu. "Apakah persediaan obat penawar untuk para pengembara di desa seberang sudah cukup?"

Lyra mendongak, membalas senyuman Kaelen dengan binar mata yang berbinar-binar. "Lebih dari cukup. Kita bahkan masih memiliki sisa salep penyembuh luka bakar dan pil penurun demam yang cukup untuk dibagikan kepada para pedagang keliling yang melintasi jalur utara pekan ini. Bagaimana hasil meditasimu? Apakah sisa-sisa resonansi kosmik dari pasak dimensi kemarin sudah benar-benar selaras dengan dantianmu?"

Kaelen mengangguk meyakinkan, mengambil salah satu botol ramuan buatan Lyra dan mengamatinya sekilas. "Semuanya sudah stabil. Esensi artefak di dalam tubuhku tidak lagi bertindak sebagai kekuatan asing, melainkan bagian dari aliran darahku sendiri. Aku bisa merasakan setiap denyut kehidupan di bumi ini terhubung dengan jelas."

Sejak kepulangan mereka dari perbatasan timur dan singgah sejenak di gubuk Mo Xingchen beberapa waktu lalu, Kaelen dan Lyra memang memilih untuk menjalani kehidupan sebagai pengembara bebas. Mereka menolak segala bentuk pujian, gelar kehormatan, atau kedudukan tinggi yang sempat ingin diberikan oleh dewan penasihat aliansi daratan tengah. Bagi mereka berdua, kebebasan untuk berjalan menyusuri padang rumput, menolong orang-orang yang membutuhkan di desa-desa terpencil, dan menikmati hembusan angin tanpa beban jauh lebih berharga daripada singgasana emas manapun di dunia ini.

Perjalanan Menuju Desa Kademangan

Menjelang tengah hari, setelah membereskan peralatan alkimia dan merapikan perbekalan, Kaelen dan Lyra melanjutkan perjalanan menyusuri jalan setapak yang membelah perbukitan hijau. Tujuan mereka hari ini adalah Desa Kademangan—sebuah pemukiman petani dan pengrajin kayu tradisional yang terletak di lembah subur, berjarak sekitar dua jam perjalanan kaki dari tempat mereka berkemah semalam.

Selama perjalanan, mereka menikmati keindahan alam tanpa terburu-buru. Kaelen berjalan santai di samping Lyra, sesekali memetik buah beri liar yang manis dari semak-semak di pinggir jalan dan memberikannya kepada gadis itu. Di sepanjang jalur perdagangan tersebut, mereka kerap berpapasan dengan para pedagang keliling atau petani lokal yang membawa hasil bumi menggunakan kereta dorong sederhana. Berbeda dengan masa lalu di mana setiap orang selalu saling mencurigai dan memegang senjata di tangan, kini orang-orang berjalan dengan senyum ramah di wajah mereka, saling menyapa dan bertukar salam hangat—sebuah bukti nyata bahwa kedamaian di daratan tengah benar-benar telah pulih sepenuhnya.

"Lihat anak-anak itu," bisik Lyra sambil menunjuk ke arah sekumpulan anak kecil yang sedang berlari-lari riang di padang rumput dekat desa, bermain kejar-kejaran tanpa rasa takut. "Masa depan mereka jauh lebih baik daripada apa yang harus kita lalui dulu. Mereka tidak perlu tahu betapa kelamnya sejarah pertempuran di bawah menara aliansi atau kengerian celah dimensi di ujung timur."

Kaelen mengikuti arah pandangan Lyra, senyum tipis terukir di bibirnya. "Itulah alasan mengapa kita berjuang sampai titik darah penghabisan, Lyra. Agar mereka bisa menikmati tawa tanpa harus memikirkan ancaman pedang atau intrik kekuasaan."

Menjelang sore hari, gerbang kayu sederhana Desa Kademangan mulai tampak di hadapan mereka. Penduduk desa yang sedang duduk-duduk di balai bambu depan gerbang langsung mengenali sosok Kaelen dan Lyra begitu mereka mendekat. Kepala desa—seorang pria paruh baya berambut ubanan dengan senyum ramah—segera berdiri dan menyambut kedatangan mereka dengan membungkuk hormat.

"Selamat datang kembali, Tuan Kaelen dan Nona Lyra!" sapa kepala desa antusias. "Kehadiran kalian selalu membawa berkah bagi desa kami. Tanpa ramuan pencegah wabah yang Nona berikan bulan lalu, mungkin separuh ternak kami sudah mati karena penyakit musim hujan."

Lyra menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum ramah. "Jangan berlebihan, Pak Tua. Aku hanya meracik ramuan biasa dari tanaman yang tumbuh di sekitar lembah ini. Bagaimana kondisi hasil panen gandum tahun ini? Apakah ancaman hama sudah teratasi?"

"Puji Tuhan, semuanya berjalan sangat lancar. Tanah di ladang terasa jauh lebih subur dan air sungai mengalir sangat jernih," jawab kepala desa bersemangat, mengantar mereka masuk ke dalam desa yang dipenuhi rumah-rumah kayu beratap jerami rapi.

Kaelen dan Lyra menghabiskan waktu beberapa jam di Desa Kademangan untuk membantu warga memperbaiki beberapa saluran irigasi ladang yang sedikit tersumbat, serta membagikan botol-botol ramuan kesehatan kepada para keluarga petani yang membutuhkan. Tidak ada kesombongan atau jarak di antara mereka; Kaelen turun tangan langsung mengangkat batu-batu saluran air bersama para pemuda desa, sementara Lyra dengan sabar memeriksa kesehatan anak-anak dan orang tua di balai desa.

Senja di Ujung Bukit Bintang

Ketika matahari mulai terbenam di balik deretan bukit barat, memancarkan bias warna merah jambu dan keunguan yang memesona di langit sore, Kaelen dan Lyra pamit meninggalkan Desa Kademangan untuk melanjutkan perjalanan mencari tempat berkemah malam ini. Penduduk desa sempat memaksa mereka untuk menginap di rumah-rumah warga, namun Kaelen menolak secara halus, mengatakan bahwa jiwa mereka lebih menyukai ketenangan alam terbuka di bawah naungan bintang-bintang.

Mereka mendaki sebuah bukit kecil yang dikenal oleh penduduk setempat sebagai Bukit Bintang—sebuah dataran tinggi berumput lembut yang menawarkan pemandangan 360 derajat ke seluruh penjuru lembah. Dari atas bukit itu, lampu-lampu pelita kecil dari rumah penduduk desa di bawah tampak mulai menyala satu per satu, menyerupai kunang-kunang kuning yang berkedip-kedip di tengah kegelapan malam yang mulai turun.

Kaelen menggelar selembar kain wol tebal di atas rumput hijau, sementara Lyra mengeluarkan beberapa potong roti kering dan sekantong air segar dari dalam tas punggung mereka untuk dinikmati sebagai makan malam sederhana.

Mereka duduk berdampingan di atas kain tersebut, merapatkan jaket masing-masing untuk menghalau angin malam yang mulai bertiup agak kencang di puncak bukit. Langit malam di atas kepala mereka bersih tanpa awan, menampilkan gugusan bintang yang bertaburan sangat terang, seolah berada dalam jangkauan tangan.

"Tempat ini mengingatkanku pada malam pertama kita keluar dari lorong bawah tanah reruntuhan kuil kuno," kenang Lyra pelan, merebahkan kepalanya dengan nyaman di atas bahu Kaelen sambil menatap langit malam. "Saat itu, kita dikelilingi oleh ketidakpastian, ancaman musuh di mana-mana, dan beban berat yang menghimpit dada. Rasanya sulit dipercaya bahwa kita sekarang bisa duduk santai di sini tanpa ada satu pun beban yang mengejar."

Kaelen merangkul bahu Lyra, menarik gadis itu lebih dekat ke dalam pelukannya untuk memberikan kehangatan tambahan. Ia menengadah, memandang gugusan bintang yang bersinar terang di angkasa luas. "Waktu terus berjalan ke depan, Lyra. Luka masa lalu ada bukan untuk diratapi, melainkan untuk menjadi fondasi yang membuat kita berdiri lebih kokoh hari ini."

"Apa kau memiliki penyesalan atas semua hal yang telah kita lewati?" tanya Lyra tiba-tiba, menoleh sedikit untuk menatap wajah Kaelen dari samping.

Kaelen menggelar senyuman kecil, menunduk membalas tatapan jernih gadis di sisinya. "Satu-satunya hal yang mungkin kusesali adalah... aku hampir saja kehilangan kesempatan untuk mengenalmu lebih jauh di tengah kekacauan dunia waktu itu. Selebihnya, setiap luka, setiap pertempuran, dan setiap air mata terbayar lunas karena membawaku pada kedamaian yang kita miliki sekarang."

Lyra tertawa kecil, suara tawa yang renyah dan penuh kebahagiaan. Ia merapatkan jemarinya ke telapak tangan Kaelen, menggenggamnya erat-erat. "Kalau begitu, aku tidak punya penyesalan apa pun. Selama kau ada di sisiku, ke mana pun angin membawa kita, tempat itu akan selalu terasa seperti rumah."

Di bawah naungan jutaan bintang yang berkedip lembut di langit malam, angin perbukitan berbisik pelan membawa melodi alam yang menenangkan. Kaelen dan Lyra duduk berdampingan dalam keheningan yang penuh makna, menikmati keabadian cinta dan kedamaian yang mereka ukir dengan keberanian serta ketulusan jiwa. Perjalanan hidup mereka mungkin tidak memiliki akhir yang tertulis di dalam buku sejarah resmi daratan tengah, namun kisah tentang sang pengembara dan sang alkemis akan terus hidup di dalam hati setiap orang yang percaya bahwa kebaikan dan ketulusan selalu mampu mengalahkan segala bentuk kegelapan di dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!