Bagi Raina, sekolah adalah tempat untuk belajar dan mengukir prestasi, bukan untuk berurusan dengan makhluk ajaib bernama Devan Adhitama. Devan adalah definisi hidup dari kata "NYEBELIN". Dia berisik, pamer, sering melanggar aturan, dan entah kenapa, selalu punya cara untuk mengacaukan hari Raina yang tertata rapi.
Raina bersumpah akan menjaga jarak radius satu kilometer dari Devan. Namun, takdir berkata lain ketika mereka dipaksa bekerja sama dalam proyek besar sekolah yang mempertaruhkan reputasi mereka berdua. Di antara prank konyol Devan, hukuman bersama di perpustakaan, dan rahasia-rahasia keluarga yang perlahan terkuak, Raina mulai melihat sisi lain dari si raja nyebelin.
Apakah Raina bisa mempertahankan hatinya, atau justru dia akan melakukan hal paling konyol sedunia: Jatuh cinta sama cowok yang paling ingin dia tenggelamkan ke laut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon silasepentin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: LES PERTAMA DI PERPUSTAKAAN
Raina bersandar di kursinya, memperhatikan Devan yang mendadak serius bergelut dengan rumus-rumus Fisika. Di balik sifat nyebelin dan kekanak-kanakannya, Raina untuk pertama kalinya melihat selarik kesungguhan di mata cowok itu—kesungguhan dari seseorang yang bertarung demi impian basketnya.
BAB 9: RAHASIA DI BALIK NILAI NOL
Sore kedua sesi tutoring berlangsung di meja yang sama. Suasana perpustakaan mulai remang dilapisi jingga matahari terbenam. Raina memperhatikan cara kerja Devan dari balik bukunya. Cowok itu menopang dahi dengan telapak tangan, pensilnya bergerak lambat di atas kertas buram, lalu berhenti lama setiap kali bertemu angka variabel.
"Kamu salah di bagian perkalian matriksnya," ujar Raina pelan, menarik kertas buram Devan. "Rumus yang kamu pilih sudah benar. Tapi kenapa langkah hitungannya meloncat ke bawah?"
"Soalnya kalau dihitung urut, otaknya pusing," jawab Devan jujur, mengusap tengkuknya kasar. "Gua gak bisa kalau cuma ngelihat rumus tumpuk-tumpuk gitu di papan tulis. Semuanya kelihatan kayak barisan semut."
Raina mengerutkan dahi. Ia mengambil spidol warna-warni dari tempat pensilnya, lalu merombak susunan rumus rumit itu menjadi diagram visual dengan panah-panah berwarna. "Coba lihat yang ini. Kalau jalurnya dibagi warna gini, kelihatan lebih jelas?"
Devan menatap diagram itu beberapa detik. Matanya berbinar sebentar, lalu jemarinya dengan cepat mengambil pensil dan menyelesaikan sisa hitungan tanpa ragu. Hasil akhirnya tepat.
Raina tertegun. "Kamu... sebenarnya bukan gak bisa, kan?"
Devan terkekeh canggung, menyandarkan punggungnya ke kursi. "Pak Bambang kalau ngajar cuma nulis rumus panjang di papan terus nyuruh ngapal. Gua gak bisa cara begitu. Mata gua gampang capek kalau ngelihat teks panjang tanpa gambar."
Raina menatap lembar kuis bernilai nol milik Devan yang tergeletak di pojok meja. Ia baru menyadari bahwa nilai nol itu bukan karena Devan tidak memiliki kapasitas otak, melainkan karena metode belajarnya yang sama sekali tidak tersentuh oleh sistem pengajaran biasa.
"Kenapa gak pernah bilang ke guru?" tanya Raina, suaranya melunak tanpa ia sadari.
"Buat apa? Yang ada disuruh tambah les atau dibilang banyak alasan," Devan memutar pensil di jarinya, tersenyum tipis—senyum yang kali ini tidak memiliki nada jahil sama sekali. "Lagian, image kapten basket yang rada pemalas kan lebih keren daripada dibilang lemot."
Raina menggelengkan kepala, namun kali ini bibirnya tak lagi menyunggingkan ejekan. Ada rasa hormat kecil yang perlahan tumbuh. "Mulai besok, kita pakai metode diagram. Dan kamu harus janji, berhenti pura-pura bodoh cuma demi jaga image."
BAB 10: PRANK YANG GAGAL TOTAL
Sore itu, suasana perpustakaan sudah sangat sepi. Hanya ada Raina dan Devan yang masih berkutat dengan soal-soal latihan Fisika. Raina sedang menunduk khusyuk memeriksa lembar jawaban Devan, sementara Devan mulai merasa bosan karena sudah hampir dua jam memeras otak.
Insting jahil Devan kembali bergejolak. Dari dalam saku celananya, ia mengeluarkan sebuah mainan kejutan berbentuk laba-laba karet hitam berukuran cukup besar yang dilengkapi pegas tersembunyi. Devan menyelipkan mainan itu secara perlahan di bawah tumpukan buku tebal milik Raina, lalu sengaja menggeser buku tersebut ke arah lengan Raina.
"Raina, coba cek rumus yang di halaman belakang buku ini deh," usul Devan dengan raut wajah sok polos.
Raina yang tidak curiga langsung meraih buku tebal itu dan mengangkatnya.
Puk!