Amir adalah seorang pemuda yatim piatu yang selama bertahun-tahun hidup menderita sebagai menantu yang sama sekali tidak dianggap oleh keluarga istrinya, meskipun ia sudah bekerja keras banting tulang dari pagi hingga larut malam setiap harinya. Kesabarannya diuji hingga batas maksimal ketika ibu mertua dan adik iparnya dengan kejam menendangnya ke dalam danau saat ia sedang memancing, hanya demi memaksanya menceraikan istrinya yang hendak dijodohkan dengan pria kaya. Namun, di saat Amir tenggelam dan hampir kehilangan nyawanya, ia justru membangkitkan [Sistem Check-in Memancing] yang akan mengubah jalan hidupnya yang menyedihkan menjadi seorang legenda yang bergelimang harta dan kekuatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
Siti menendang kaki Siska dengan kasar membuat mantan sosialita itu menjerit kesakitan.
"Ma... maafkan saya Kak, saya tidak mengganggu kalian, saya cuma mau tidur."
Siska memohon dengan suara bergetar dan air mata yang tidak berhenti mengalir.
"Tidur? Lu baru boleh tidur kalau kamar mandi pesing di ujung sana udah lu sikat sampai bersih pake sikat gigi lu sendiri!"
Siti menjambak rambut panjang Siska dan menyeretnya secara paksa menuju arah kamar mandi yang sangat kotor.
"Lepaskan saya! Saya ini korban penipuan, tunangan saya yang konglomerat itu yang salah!"
Siska mencoba meronta dan memamerkan gelar palsunya karena terbiasa sombong di luar sana.
Plak!
Sebuah tamparan sangat keras mendarat di pipi Siska hingga sudut bibirnya berdarah.
"Konglomerat? Hahaha!"
Siti tertawa terbahak-bahak diikuti oleh tahanan lainnya.
"Lu pikir kalau tunangan lu konglomerat, lu bakal berakhir di sel tikus bareng kita-kita ini?"
"Di sini gak ada yang peduli lu siapa di luar sana, di sini gue rajanya dan lu cuma babu gue!"
Siti mendorong tubuh Siska hingga tersungkur ke lantai kamar mandi yang licin.
Siska menangis histeris di atas lantai kotor itu.
Riasan wajahnya sudah hancur lebur, tubuhnya memar-memar, dan harga dirinya telah diinjak-injak hingga setara dengan kotoran.
Ia teringat betapa nyaman dan aman hidupnya saat masih menjadi istri Amir.
Amir yang selalu bekerja keras memberikan gajinya, Amir yang selalu membersihkan rumah, Amir yang tidak pernah memukulnya.
Namun ia membuang pria sebaik itu demi ilusi harta yang ditawarkan oleh Kevin sang penipu ulung.
"Amir... tolong aku Amir... aku menyesal... aku benar-benar menyesal."
Siska merintih menyebut nama mantan suaminya di tengah kegelapan penjara yang menyiksanya.
Keesokan paginya, di dalam istana mewah Bukit Permata.
Amir sedang sarapan santai di ruang makannya sementara Sebastian berdiri tegap di samping meja.
"Sebastian, mulai hari ini aku mengangkatmu sebagai CEO dari PT Bangun Persada dan semua aset propertiku."
"Kau akan mengurus semua surat legalitas, memimpin rapat direksi, dan menjalankan operasional perusahaan."
"Tapi ingat, kau hanya bertindak atas namaku, jangan pernah mengambil keputusan besar tanpa laporanku."
Amir memberikan instruksi mutlaknya pada pelayan biologis ciptaan sistem tersebut.
"Perintah diterima, Tuan Besar Amir."
"Saya akan menjalankan perusahaan Anda dengan efisiensi maksimal dan memastikan keuntungan terus mengalir tanpa henti."
Sebastian membungkuk hormat, sorot matanya memancarkan kecerdasan buatan tingkat dewa yang siap menghancurkan pesaing bisnis mana pun.
Ting tong.
Bel pintu rumah berbunyi menyela percakapan mereka.
Maria, pelayan wanita biologis, berjalan cepat menuju pintu utama dan membukanya.
Di luar pintu, berdiri seorang pria berkacamata yang memakai setelan jas rapi membawa sebuah tas kerja kulit.
"Selamat pagi, nama saya Budi, saya adalah pengacara yang ditunjuk oleh Nyonya Siska Anindya."
"Apakah Tuan Amir ada di dalam, saya membawa pesan penting dari klien saya."
Pengacara itu berbicara dengan sopan pada Maria yang langsung mempersilakannya masuk.
Amir yang masih menikmati kopinya menatap kedatangan pengacara itu dengan tatapan datar yang sangat dingin.
"Aku adalah Amir, katakan apa yang diinginkan oleh wanita narapidana itu pagi-pagi begini."
Pengacara Budi sedikit merinding mendengar nada bicara Amir yang tanpa belas kasihan sedikit pun.
Ia membuka tas kerjanya dan mengeluarkan selembar surat yang ditulis tangan dengan tinta yang sedikit luntur oleh air mata.
"Nyonya Siska memohon pada Anda Tuan Amir, dia sedang disiksa di dalam sel tahanan oleh napi lain."
"Dia meminta Anda untuk menyewa pengacara terbaik dan membayar uang jaminan ke pihak bank agar dia tidak ditahan."
"Dia berjanji jika Anda membebaskannya, dia rela menjadi pembantu di rumah ini seumur hidupnya tanpa digaji."
Pengacara itu membacakan isi surat memelas dari Siska dengan suara yang pelan.
Amir tidak mengambil surat itu, ia hanya menatap pengacara tersebut dengan senyum sinis yang sangat mengerikan.
"Pengacara Budi, tolong sampaikan pesan ini langsung ke telinga klienmu itu."
"Katakan padanya, jangankan uang jaminan miliaran rupiah, memberinya sepotong roti basi pun aku tidak sudi."
"Biarkan dia membusuk di dalam penjara dan nikmati setiap siksaan dari napi lain sebagai ganjaran atas pengkhianatannya padaku."
Amir berbicara dengan nada mutlak yang memancarkan kebencian murni tak tertandingi.
"Tapi Tuan Amir, dia adalah mantan istri Anda, apakah Anda tidak punya sedikit pun rasa kasihan?"
Pengacara Budi mencoba membujuk karena ia telah dibayar mahal oleh sisa perhiasan Bu Rina untuk menemui Amir.
Srak.
Amir mengambil gelas kopinya dan membantingnya ke dinding hingga hancur berkeping-keping.
"Jangan pernah berani menyebut kata kasihan di depanku!"
"Di mana rasa kasihannya saat dia dan keluarganya memaksaku bercerai dan menendangku ke danau untuk mati?"
Aura intimidasi dari Keris Naga Darah meledak keluar dari tubuh Amir, mencekik leher pengacara itu.
Pengacara Budi sampai terbatuk-batuk dan mundur ketakutan hingga menabrak pintu.
"Ma... maafkan saya Tuan Amir, saya hanya menyampaikan pesan, saya akan segera pergi!"
Pengacara itu berlari terbirit-birit keluar dari istana Amir, sadar bahwa ia sedang berhadapan dengan iblis yang tidak bisa dinegosiasi.
Amir kembali duduk dan menarik nafas panjang menenangkan emosinya.
Masa lalunya telah benar-benar ia kunci dan buang kuncinya ke dasar lautan.
Ia kini akan kembali fokus pada tujuannya yang lebih besar.
"Sebastian, urus semua pendaftaran perusahaanku hari ini."
"Aku akan pergi memancing ke laut lepas lagi, poinku butuh diisi ulang untuk membeli kemampuan magis lainnya."
Amir beranjak dari kursinya, bersiap memulai petualangan baru menuju puncak kekuatan dan kekayaan yang tak terbayangkan.