Aurel Nathania tidak pernah percaya bahwa hidup harus berjalan sesuai aturan orang lain. Di usia dua puluh satu tahun, ia menikmati kebebasan, sahabat, perjalanan spontan, dan kehidupan yang jauh dari lingkungan pesantren. Sampai ayahnya tiba-tiba menjodohkannya dengan Rasyid, ustadz muda sekaligus putra seorang kiai. Bagi Aurel, Rasyid adalah simbol segala sesuatu yang ingin ia hindari: aturan, nasihat, dan kehidupan yang terkekang. Namun Rasyid tidak pernah berniat mengubah istrinya dengan paksaan. Ia hanya berusaha menjadi teladan sambil memberinya ruang untuk memilih. Pernikahan yang dimulai dengan penolakan perlahan mempertemukan dua manusia berbeda yang sama-sama menyimpan luka, rahasia, dan ketakutan tentang arti sebuah keluarga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Secret A, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5 — “AKAD”
Pagi itu, Kota Arunika diselimuti kabut tipis dan udara dingin sisa hujan deras semalam. Di dalam kamar utama rumah keluarga Hamdan, keheningan terasa begitu pekat, bertolak belakang dengan kesibukan halus di luar pintu tempat para perias dan kerabat sibuk berlalu-lalang.
Aurel duduk kaku di depan cermin rias yang dikelilingi bohlam-bohlam kuning terang.
Ia mengenakan kebaya akad berwarna putih bersih bermotif payet mutiara halus. Kain jarik batik bernuansa cokelat klasik membebat bagian bawah tubuhnya, membatasi ruang geraknya. Rambutnya disanggul rapi dan tertutup kain sutra tipis bertabur payet yang menjuntai lembut hingga ke pinggang.
Perias wajah baru saja merapikan polesan lipstik warna soft pink di bibir Aurel.
"Mbak Aurel... Masya Allah, cantik sekali," puji sang perias tulus seraya mundur dua langkah untuk mengagumi hasilnya. "Aura pengantinnya bener-bener keluar."
Aurel menatap pantulan dirinya di cermin. Cantik. Memang. Tapi matanya yang jernih memantulkan kekosongan yang nyata. Wajah di dalam cermin itu terasa seperti milik orang lain.
Pintu kamar berdecit pelan. Maya masuk dengan gaun kebayanya yang berwarna hijau sage. Wajah sahabatnya itu tampak sembap, menahan haru sekaligus gelisah.
"Rel..." bisik Maya pelan. Ia mendekat, menggenggam jemari Aurel yang terasa sedingin es. "Tanganmu dingin banget."
"Aku masih berharap ada gempa bumi kecil atau angin kencang yang bikin acaranya ditunda, May," bisik Aurel dengan tawa kering yang hampa.
Maya meremas jemari Aurel lebih erat. "Nggak ada keajaiban kayak gitu, Rel. Rombongan keluarga Pak Kiai udah dateng sepuluh menit lalu. Di bawah... semuanya udah siap."
Aurel memejamkan mata sejenak. Hatinya mencelos. Sampai detik terakhir ini, sebuah bagian kecil di dalam dadanya masih berharap takdir akan melakukan selintasan keajaiban untuk menyelamatkannya. Namun realitas melaju kencang tanpa peduli pada ketakutannya.
"Kamu siap?" tanya Maya halus.
Aurel membuka mata, menarik napas panjang yang terasa menyiksa dadanya. "Siap nggak siap... ini kan yang Ayah mau?"
Lantai dasar rumah Hamdan telah disulap menjadi ruang akad bernuansa putih dan hijau zaitun. Bunga melati segar dan mawar putih melapisi setiap sudut ruangan, menyebarkan aroma wangi yang khas.
Di tengah ruangan, di atas karpet bulu tebal, terbentang meja kayu rendah.
Hamdan Nathan duduk di salah satu sisi meja, mengenakan jas batik mewah. Di seberangnya, telah duduk Muhammad Rasyid Al-Faruqi.
Pria itu mengenakan jas pengantin tradisional berwarna putih gading dengan kain sarung sutra bermotif elegan. Peci hitam polos bertengger anggun di kepalanya, dan seuntai ronce melati melingkar di lehernya. Rasyid duduk dengan tegak, wajahnya sangat tenang, meski jika dilihat lebih dekat, jemarinya yang tertaut di paha saling mencengkeram halus.
Di samping Rasyid, Kiai Abdul Faruqi dan penghulu dari KUA kota duduk menyaksikan.
Suasana ruangan mendadak hening ketika langkah kaki lembut terdengar dari arah tangga utama. Aurel berjalan pelan, diapit oleh Maya dan Nur Aini. Pakaian putihnya menyapu lantai, dan penutup kepala sutranya bergerak perlahan mengiringi tiap langkahnya.
Rasyid mendongak sedikit saat Aurel menempati kursi di samping kanan agak ke belakang dari posisinya. Tatapan mereka berselisih sekejap. Aurel menemukan ketenangan yang sama di mata Rasyid—ketenangan yang malam itu berjanji tidak akan memenjarakannya.
Penghulu membetulkan letak kacamata dan mikrofon di depannya, lalu menatap Hamdan dan Rasyid bergantian.
"Bismillah... Kita mulai prosesi akad nikah."
Hamdan mengulurkan tangan kanannya melintasi meja kayu. Rasyid menyambut uluran tangan calon mertuanya itu. Genggaman mereka terkunci.
Aurel menahan napas. Jantungnya berdegup kencang hingga suaranya seolah bergema di dalam kepalanya sendiri. Jemari tangannya yang bertumpuk di atas paha saling meremas kencang hingga bukunya memutih.
Hamdan berdehem pelan, menguasai suara yang bergetar menahan gejolak emosi di dadanya.
"Ananda Muhammad Rasyid Al-Faruqi bin Abdul Faruqi..." suara Hamdan terdengar berat dan bergema di seluruh ruangan.
"Saya, Pak," jawab Rasyid mantap, jernih, tanpa keraguan.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri kandung saya, Aurelia Nathania binti Hamdan Nathan, dengan mas maskawin berupa seperangkat alat shalat dan logam mulia sebesar lima puluh gram, dibayar tunai."
Genggaman tangan Hamdan menegang. Rasyid menarik napas dalam-dalam, menatap lurus ke dalam mata pria tua di depannya, lalu menjawab dalam satu helaan napas yang kokoh:
"Saya terima nikah dan kawinnya Aurelia Nathania binti Hamdan Nathan dengan mas maskawin tersebut, dibayar tunai!"
Keheningan menggantung selama satu detik yang terasa abadi.
"Bagaimana Saksi? Sah?" tanya Penghulu.
"SAH!" sahut Kiai Abdul dan para saksi secara serentak.
"Alhamdulillahirabbil 'alamin..."
Lantunan doa berkumandang menyelimuti ruangan. Suara penghulu yang membacakan doa pernikahan terdengar seperti igauan samar di telinga Aurel.
Sah.
Satu kata sederhana yang baru saja meruntuhkan dinding kebebasan yang selama 21 tahun ini ia agung-agungkan. Dalam hitungan detik, statusnya berubah total. Ia bukan lagi sekadar gadis bebas yang bisa datang dan pergi sesuka hati. Ia kini adalah istri dari seorang ustadz muda.
Aurel menunduk dalam-dalam. Semetara di depannya, Rasyid membalikkan badan sedikit.
Sesuai petunjuk protokol acara, Rasyid menyerahkan mas pencaharian dan memegang puncak kepala Aurel pelan untuk melantunkan doa keberkahan. Usapan jemari Rasyid di atas kain penutup kepalanya terasa hangat, sangat berhati-hati, seolah Rasyid tahu betapa rapuhnya wanita di depannya saat ini.
Saat Aurel mencium punggung tangan Rasyid sebagai tanda hormat, rasa dingin dari cincin emas polos di jari manis Rasyid menyentuh bibirnya. Cincin yang kini juga melingkar pas di jari manis tangan kanannya sendiri.
Malam harinya, pesta resepsi sederhana yang hanya dihadiri keluarga dekat dan sahabat telah usai.
Rumah besar keluarga Hamdan kembali sunyi. Sebagian besar tamu dari pihak keluarga Faruqi telah kembali ke area pesantren, menyisakan Rasyid yang malam ini resmi tinggal di kamar atas bersama Aurel sebelum mereka pindah ke rumah sederhana Rasyid pekan depan.
Aurel duduk di tepi tempat tidur berseprai putih bersih.
Ia sudah membersihkan riasan tebalnya dan mengganti kebayanya dengan kaus katun longgar warna abu-abu dan celana kulot hitam. Rambut bergelombangnya dibiarkan terurai basah bekas keramas.
Di tangannya, ia memandangi cincin emas polos di jari manisnya.
Terasa asing. Sangat berat. Kebebasan yang selama ini ia banggakan—malam-malam spontan bersama teman, kebebasan menentukan arah tanpa melapor pada siapa pun—terasa seperti masa lalu yang baru saja terenggut paksa.
Suara pintu kamar mandi terbuka.
Rasyid melangkah keluar. Pria itu telah mengganti jas pengantinnya dengan baju koko bahan katun warna biru gelap dan celana kain santai. Rambutnya yang sedikit basah disisir rapi ke belakang. Tidak ada peci malam ini.
Melihat Aurel duduk terdiam menatap cincin, Rasyid menghentikan langkahnya di dekat meja rias, memberikan jarak beberapa meter agar Aurel tidak merasa terintimidasi.
"Mbak Aurel... kamu baik-baik saja?" tanya Rasyid pelan. Suaranya selalu hangat dan sopan, persis seperti pertemuan-pertemuan mereka sebelumnya.
Aurel tidak langsung mendongak. Ia mengelus cincin emas itu dengan jempolnya.
"Aneh ya," bisik Aurel. Suaranya terdengar agak serak. "Tadi pagi aku masih Aurel yang bebas. Sekarang... aku istri orang."
Rasyid mendengarkan dengan penuh perhatian. Ia menarik kursi kerja di dekat meja rias lalu duduk di atasnya, bersedekap pelan.
"Pernikahan tidak menutup siapa dirimu, Aurel," ujar Rasyid. Untuk pertama kalinya, pria itu melepas sebutan Mbak dari nama Aurel, menyisakan panggilan yang terdengar jauh lebih intim namun tetap menghormati. "Kamu tetap Aurel yang sama. Kamu tetap punya mimpimu, teman-temanmu, dan hidupmu."
Aurel mengangkat kepalanya, menatap Rasyid yang duduk tenang di seberang ruangan.
"Tapi semuanya udah beda, Rasyid," kata Aurel, matanya mulai berkaca-kaca akibat emosi yang tertahan seharian. "Aku harus pindah ke lingkungan pesantrenmu minggu depan. Aku harus idup di antara orang-orang yang ekspektasinya tinggi banget sama kamu. Gimana kalau aku bikin malu kamu? Gimana kalau aku nggak sanggup?"
Rasyid menatap Aurel lurus-lurus. Matanya memancarkan keteguhan yang menenangkan.
"Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa pada siapa pun di pesantren," tegas Rasyid halus. "Tugasmu bukan untuk menyenangkan ekspektasi orang lain. Jika ada orang yang mempertanyakan tentangmu, itu adalah urusanku untuk menjawabnya, bukan urusanmu."
Aurel menyapu sudut matanya yang basah sebelum air mata itu sempat menetes.
Pria ini selalu punya cara untuk melumpuhkan ketakutannya dengan kalimat-kalimat yang begitu rasional dan menenangkan.
Rasyid kemudian berdiri, mengambil sebuah bantal dan selimut cadangan dari dalam lemari pakaian.
Aurel mengerutkan dahi, memperhatikan pergerakan suaminya. "Kamu mau ngapain?"
"Saya tidur di sofa," jawab Rasyid seraya menunjuk sofa panjang bahan beludru yang terletak di sudut kamar dekat jendela.
"Hah?" Aurel terbelalak kaget. "Tapi itu... kasurnya kan luas banget, Rasyid."
Rasyid tersenyum tipis, menatap Aurel dengan kelembutan yang jujur. "Hari ini sangat melelahkan buatmu. Kamu butuh ruang dan waktu untuk memproses semuanya tanpa merasa canggung. Kasur ini milikmu malam ini."
Aurel terpaku di tempatnya. Ia menatap Rasyid yang dengan santai menata bantal di atas sofa yang ukurannya bahkan agak kekecilan untuk postur tubuh pria itu yang tinggi.
"Rasyid... kamu nggak perlu—"
"Tidak apa-apa," potong Rasyid pelan seraya mematikan lampu utama kamar dan menyalakan lampu tidur bernuansa kuning temaram di samping tempat tidur. "Tidurlah, Aurel. Selamat malam."
Rasyid membaringkan tubuhnya di sofa, memunggungi posisi tempat tidur dan memejamkan mata.
Aurel bersandar pada kepala ranjang, menatap punggung tegap Rasyid dalam pendar lampu remang. Di luar jendela, angin malam berembus perlahan membelai dedaunan.
Malam pertama dalam ikatan pernikahan yang paling ia hindari ini ternyata tidak dipenuhi tekanan atau ketakutan seperti yang ia bayangkan. Di dalam kamar yang hening itu, Aurel perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk, menari selimut hingga ke dada.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, Aurel memejamkan matanya dengan napas yang terasa jauh lebih ringan.