NovelToon NovelToon
Sistem Pekerja Super

Sistem Pekerja Super

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:23.2k
Nilai: 5
Nama Author: Bulu-Halus

Adrian Wijaya hanya ingin mendapatkan uang tambahan sebelum kuliah dimulai. Namun sebuah sistem misterius tiba-tiba memberinya akses ke berbagai pekerjaan dengan bayaran luar biasa.

Setiap pekerjaan memberinya uang, kemampuan, dan pengalaman baru.

Dari pekerjaan biasa hingga tugas berbahaya di berbagai penjuru dunia, Adrian perlahan menyadari bahwa sistem ini bukan sekadar alat untuk mencari uang.

Ini adalah awal dari kehidupan yang jauh lebih besar dari yang pernah dia bayangkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bulu-Halus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Bukankah Kita Harus Menandatangani Kontrak Kerja?

Adrian sama sekali tidak memedulikan ejekan orang-orang di sekitarnya.

Dia menjadikan tas besar yang dibawanya sebagai bantal, lalu bersandar di sudut bak kendaraan.

Matanya terpejam.

Namun pikirannya tetap bekerja.

Kemampuan yang diberikan sistem membuatnya jauh lebih peka terhadap keadaan sekitar. Bahkan tanpa melihat, Adrian dapat memperkirakan putaran mesin, getaran kendaraan, kondisi permukaan jalan, hingga jarak kendaraan-kendaraan bersenjata yang mengikuti mereka dari belakang.

Pikap melaju semakin cepat melewati jalanan kota yang rusak.

Beberapa kali kendaraan itu harus bermanuver tajam untuk menghindari lubang dan reruntuhan.

Tidak lama kemudian, bangunan kota mulai menghilang.

Jalanan berubah menjadi hamparan pasir.

Dua jam kemudian—

Screeech!

Pikap berhenti mendadak.

Debu beterbangan dan langsung memenuhi bak kendaraan.

Adrian membuka mata.

Di hadapannya berdiri sebuah kamp sederhana.

Beberapa lapis kawat berduri mengelilingi area tersebut. Karung pasir disusun seadanya sebagai perlindungan, sementara beberapa kendaraan lapis ringan terparkir di dekat bangunan utama.

Tidak terlihat seperti pangkalan militer yang terorganisasi.

Lebih mirip tempat bertahan hidup sementara.

Adrian turun dari kendaraan.

Aroma bahan bakar dan debu bercampur dengan bau anyir yang samar.

Di salah satu sisi kamp terdapat tenda medis.

Dari dalamnya terdengar suara orang mengerang kesakitan.

Beberapa peserta yang sebelumnya banyak bicara kini mulai diam.

Wajah mereka berubah tegang.

Mereka akhirnya melihat sendiri seperti apa tempat yang akan menjadi lokasi kerja mereka.

“Turun! Semuanya turun!”

Suara keras terdengar dari depan.

Raka berjalan mendekat.

Di belakangnya ada seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun dengan penutup mata hitam dan langkah sedikit pincang. Wajahnya penuh bekas luka lama.

Dia membawa sebuah daftar nama yang sudah kusam.

Tatapannya menyapu seluruh peserta baru.

“Dengar baik-baik.”

Suaranya berat dan dingin.

“Di sini saya tidak peduli siapa kalian sebelum datang. Kalian boleh saja pernah menjadi petugas keamanan, pekerja biasa, atau orang yang tidak punya pengalaman apa pun.”

Dia berhenti di depan barisan.

“Mulai hari ini, kalian mengikuti aturan kamp ini.”

Dia mengangkat satu jari.

“Pertama, patuhi perintah.”

Jari kedua terangkat.

“Kedua, jangan meninggalkan posisi tanpa izin.”

Tatapannya berubah tajam.

“Kalau ada yang melanggar, konsekuensinya kalian tanggung sendiri.”

Beberapa peserta langsung mengangguk.

“Jelas?”

“Jelas!”

Jawaban terdengar tidak serempak.

Pria itu mendengus.

Dia berjalan menyusuri barisan.

Ketika sampai di bagian belakang, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Tatapannya tertuju pada Adrian.

Lebih tepatnya pada pakaian Adrian.

Celana pendek.

Sandal jepit.

Dan tas besar yang masih dipeluknya.

Pria itu berjalan mendekat.

“Apa yang kau bawa?”

Adrian melihat tasnya.

“Makanan.”

Pria itu menunjuk tas tersebut.

“Buang.”

Adrian menggeleng.

“Tidak bisa.”

Suasana langsung berubah.

Beberapa peserta menatap Adrian dengan wajah tegang.

Pria itu mengerutkan kening.

“Kenapa?”

“Karena itu barang pribadi saya.”

“Di tempat ini, kau tidak membutuhkan barang seperti itu.”

Adrian memeluk tasnya sedikit lebih erat.

“Justru karena kita akan tinggal di sini, saya membutuhkannya.”

Pria itu terdiam.

Adrian kemudian menambahkan dengan nada serius,

“Isinya mi instan dan makanan ringan. Kalau makanan di sini tidak cocok dengan selera saya, saya masih punya cadangan.”

Beberapa peserta menundukkan kepala, berusaha menahan tawa.

Pria itu menatap Adrian cukup lama.

Adrian tetap tenang.

Kemudian dia seperti baru teringat sesuatu.

“Ngomong-ngomong, Pak.”

“Apa?”

“Sebelum mulai kerja, kita harus tanda tangan kontrak dulu, kan?”

Semua orang langsung diam.

Adrian melanjutkan dengan santai.

“Soalnya saya mau memastikan beberapa hal.”

Pria itu menatapnya.

“Hal apa?”

“Jam kerja, pembayaran, fasilitas, dan prosedur kalau terjadi sesuatu selama bertugas.”

Adrian mengangkat satu jari.

“Termasuk pembayaran harian.”

Dia mengeluarkan ponselnya.

“Pembayarannya nanti melalui transfer atau tunai?”

Tidak ada yang menjawab.

Adrian masih melanjutkan.

“Kalau transfer internasional, biaya administrasinya ditanggung perusahaan atau pekerja?”

Beberapa orang di belakang Adrian sudah menutup wajah.

Mereka tidak tahu apakah pemuda ini terlalu berani atau memang tidak memahami situasi.

Pria bermata satu itu akhirnya menghela napas.

“Raka.”

“Ya?”

“Jelaskan pada anak ini seperti apa tempat kerjanya.”

Raka menatap Adrian.

“Sepertinya dia memang perlu melihat sendiri.”

Pria bermata satu itu berjalan menuju sebuah kotak perlengkapan di dekat kendaraan.

Dia mengambil sebuah senapan tua dan meletakkannya di depan Adrian.

“Kalau kau ingin tahu soal pekerjaan...”

Dia menunjuk ke arah gurun di luar kamp.

“Lihat ke sana.”

Sekitar dua kilometer dari kamp terdapat deretan bangunan tua yang sebagian besar sudah rusak.

“Kelompok bersenjata yang bermusuhan memasang pengintai di sekitar wilayah itu.”

Dia menunjuk beberapa titik di kejauhan.

“Tim kami pernah mencoba memeriksa daerah tersebut. Mereka mendapat perlawanan dan terpaksa mundur.”

Pria itu kembali menatap peserta baru.

“Malam ini kalian akan ikut dalam pemeriksaan perimeter.”

Beberapa wajah langsung berubah.

“Kalian bukan pasukan utama.”

“Tidak perlu melakukan sesuatu yang heroik.”

“Tugas kalian hanya membantu memastikan jalur aman dan melaporkan apa pun yang ditemukan.”

Dia berhenti sejenak.

“Yang bisa menjalankan tugasnya dengan baik akan tetap bekerja.”

“Yang tidak sanggup... akan kami tarik kembali.”

Setelah memberikan instruksi, dia pergi.

Beberapa anggota lama kemudian mengarahkan para peserta baru menuju sebuah tenda besar di sisi kamp.

“Masuk!”

Para peserta bergerak masuk.

Kondisinya jauh dari nyaman.

Beberapa ranjang lipat tersusun seadanya.

Udara di dalam tenda terasa pengap dan bercampur bau keringat.

Pria bertato yang sebelumnya mengejek Adrian langsung duduk di salah satu ranjang.

“Ini gila.”

Dia mengusap wajah.

“Bayarannya memang besar, tapi tempatnya seperti neraka.”

Seorang peserta lain duduk sambil menatap kosong ke lantai.

“Kalau dari awal tahu begini, aku mungkin tidak datang.”

Tidak ada yang menertawakan Adrian lagi.

Mereka mulai menyadari bahwa pekerjaan ini jauh lebih serius daripada yang mereka bayangkan.

Adrian sendiri tidak terlalu memikirkan percakapan mereka.

Dia meletakkan tasnya di atas ranjang kosong.

Kemudian membuka resletingnya.

Beberapa bungkus makanan terlihat di dalam.

Dia mengambil satu bungkus mi instan.

“Untung tadi bawa.”

Di sudut tenda terdapat sebuah ketel listrik.

Adrian mengambilnya dan memeriksa isinya.

Masih ada air.

“Lumayan.”

Dia memasang kabelnya.

Beberapa menit kemudian, air mulai mendidih.

Adrian membuka bungkus mi, menuangkan bumbu, lalu memasukkan air panas.

Dia menutup wadahnya dan menunggu beberapa menit.

Aroma makanan perlahan memenuhi tenda.

Beberapa kepala langsung menoleh.

Adrian membuka tutupnya.

Uap panas naik ke udara.

Dia mengambil garpu plastik, mengaduk mi, lalu mencicipinya.

“Ah.”

Adrian mengangguk puas.

“Begini baru makanan.”

Dia mengambil sebungkus acar sayuran yang dibawanya dan memakannya bersama mi.

Kriuk.

Salah seorang peserta yang duduk tidak jauh darinya menatap dengan ekspresi aneh.

“Serius?”

Adrian menoleh.

“Apa?”

“Kita semua sedang memikirkan apakah bisa pulang hidup-hidup, sementara kau malah makan mi dengan santai.”

Adrian mengangkat bahu.

“Panik juga bikin kenyang?”

Pria itu terdiam.

Beberapa orang akhirnya tertawa kecil.

Untuk pertama kalinya sejak tiba di kamp, suasana tegang di dalam tenda sedikit mencair.

Namun di luar tenda, matahari perlahan tenggelam.

Dan ketika malam tiba, tugas pertama para pekerja baru Black Fox akan segera dimulai.

1
Was pray
kok turun dari balkon lagi, apa tadi setelah turun dan berkelahi Adrian naik balkon lagi kah Thor? capek deh. ... 😱
Was pray: oke Thor.... jangan lupa ngopi biar tetap fokus dan semangat up nya... 👍
total 2 replies
Was pray
banyak kalimat yg berulang, inti cerita cuma dikit banget, pengembangan kalimat penjelas perlu ditingkatkan agar alur cerita tidak jalan ditempat
Ardi
kok MC bisa bahasa luar negeri yah nggak dikasih penjelasan, orang luar negeri itu pakai bahasa Indonesia atau bahasa luar,kalau bahasa luar kok nggak dikasih penjelasan ini MC bisa bahasa luar, atau di kasih kemampuan bahasa luar tolong di kasih tau min?.
Was pray
Adrian lagi ikut audisi perekrutan pemain teater kah? dan Hendra sebagai jurinya
Was pray
dari tadi kebanyakan ngomong doang gak ada tindakan
Shiky Ganal
MC nya goblok
Was pray
kelamaan mikir
Was pray
gak pernah mandikah Adrian?
Was pray
buang uang sia sia buat game online,tapi buat makan pelit
Was pray
kok jadi miskin amat?
Was pray
ini baru keren... bat bet.. dari awal gitu udah beres.sedikit bicara tapi bukti nyata tindakan
Was pray
kapan sampai kampusnya ? kalau cuma ngobrol doang di jalan macet? han Adrian jam planet Pluto kah? perjalanan waktu di jam Adrian jalanya kayak siput lagi pacaran.
Was pray
ya emang Adrian itu gak normal.... baru nyadar kah kau elang kelabu?
Was pray
di bab ini gak ada daya tariknya... cuma seperti omongan emak emak yg lagi sibuk nawar cabai pada tukang sayur keliling. .muter2 gak ada ujungnya
Was pray
betul... banyak berdebat kayak emak nawar sayur
Was pray
sebenarnya mau aja kasih like. . tapi sayang MC nya terlalu blo'on...
Was pray
crewet kebanyakan bacot doang, keburu terlambat tapi masih diam ditempat tanpa tindakan apa apa, dasar tolol
Was pray
gantilah karung merah putih biru dengan tas ransel, sederhana tapi gak norak
Was pray
katanya uang cuma alat tapi semua sisi kehidupan yg berkaitan dengan nya selalu diukur dengan uang. Adrian mau melakukan pekerjaan jika ada uangnya, semuanya rela Adrian lakukan asal ada uangnya, berarti di ditu kedudukan uang bukan alat tapi tujuan.... paham kau adrian
Was pray
Adrian naik level bukan karena kemampuan tapi karena sogokan uang, .agak kecewa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!