Rizal, seorang pemuda yatim piatu yang baru saja dipecat dari pekerjaannya dan ditipu habis-habisan oleh mantan kekasihnya, mendapati hidupnya hancur berantakan di sebuah taman kota Jakarta. Namun, takdirnya berbalik seratus delapan puluh derajat ketika sebuah [Sistem Kebohongan menjadi Kenyataan] tiba-tiba masuk ke dalam kepalanya. Sistem ajaib ini mengubah setiap cacian, kebohongan, dan modus penipuan yang diarahkan padanya menjadi kenyataan yang sesungguhnya. Berawal dari pesan penipuan undian palsu, Rizal mendadak menjadi miliarder yang membuat semua orang yang pernah merendahkannya menyesal, sekaligus menarik perhatian banyak wanita cantik yang terpikat oleh kesuksesan dan pesonanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Brum... Brum... Brum...
Suara deru mesin diesel berkekuatan tinggi memecah kesunyian malam di jalur lintas antar kota yang gelap gulita.
Tiga buah truk tronton berukuran raksasa melaju beriringan membawa puluhan ton batuan Baja Hitam Titanium murni.
Ini adalah pengiriman perdana dari tambang Wijaya Group di Jawa Barat menuju pabrik pengolahan khusus di pinggiran Jakarta.
Di posisi paling depan, memimpin konvoi tersebut, melaju sebuah SUV antipeluru berwarna hitam pekat.
Rizal duduk dengan santai di kursi penumpang SUV tersebut, menatap jalanan gelap melalui kaca jendela yang tebal.
Di sebelahnya duduk Kapten Bima, kepala keamanan tertinggi Wijaya Group yang sengaja ditugaskan oleh Clara untuk mengawal pengiriman vital ini.
"Tuan Rizal, sebaiknya Anda tidak perlu ikut mengawal pengiriman malam ini."
Kapten Bima berbicara dengan nada penuh hormat namun menyiratkan kekhawatiran.
"Jalur ini terkenal cukup rawan, dan keselamatan Anda sebagai pemilik perusahaan adalah prioritas utama kami."
Rizal hanya tersenyum tipis tanpa menoleh dari jendela.
"Justru karena rawan, makanya saya ikut, Kapten Bima."
Rizal menopang dagunya dengan sebelah tangan.
"Ada bau busuk yang mengintai dari kejauhan, dan saya lebih suka memotong kepala ular yang berani mendekat daripada sekadar bersembunyi di balik dinding."
Kapten Bima menelan ludah mendengar ucapan bos barunya itu.
Aura yang dipancarkan oleh Rizal malam ini terasa sangat berbeda, jauh lebih dingin dan mematikan.
Di depan mereka, jalanan berkelok menembus kawasan perbukitan yang sepi dan jauh dari pemukiman warga.
Hanya lampu depan dari mobil mereka dan ketiga truk di belakang yang menjadi sumber cahaya.
Syuuu.
Tiba-tiba, tanpa ada peringatan apa pun, sebuah batang pohon raksasa tumbang dan menutup seluruh badan jalan di depan mereka.
Ciiiit!
Supir SUV langsung menginjak rem dalam-dalam, membuat ban mobil berdecit keras bergesekan dengan aspal.
Ketiga truk di belakang juga ikut mengerem mendadak, membunyikan klakson angin mereka secara bersamaan.
"Semuanya bersiaga! Ini bukan kecelakaan alam!"
Kapten Bima langsung mencabut pistol dari balik jasnya dan memberikan perintah melalui radio komunikasi ke seluruh penjaga di konvoi.
"Tuan Rizal, mohon tetap berada di dalam mobil, kacanya tahan terhadap peluru kaliber besar."
Belum sempat Kapten Bima menyelesaikan kalimatnya, rentetan tembakan senjata otomatis langsung menghujani konvoi mereka dari arah perbukitan di sisi kiri dan kanan jalan.
Dor! Dor! Dor!
Suara tembakan memekakkan telinga memecah keheningan malam.
Percikan api bermunculan saat peluru-peluru tajam itu menghantam bodi baja SUV dan kepala truk.
Para pengawal Wijaya Group yang berada di dalam mobil pengawal belakang langsung keluar dan membalas tembakan.
Terjadilah baku tembak sengit di tengah jalanan yang gelap tersebut.
Namun, jumlah penyerang rupanya jauh lebih banyak dari perkiraan.
Puluhan pria berpakaian serba hitam dan memakai topeng tengkorak turun dari perbukitan dengan gerakan yang sangat terlatih.
Mereka bukan perampok jalanan biasa, melainkan pasukan tentara bayaran elit.
"Sial! Mereka pakai peluru penembus lapis baja!"
Kapten Bima berteriak saat melihat kaca depan SUV mereka mulai retak akibat tembakan beruntun.
Dari arah depan, seorang pria bertubuh kekar dengan tato ular kobra di lehernya berjalan mendekat dengan santai.
Dia memegang sebuah senapan mesin ringan di satu tangan dan tersenyum sinis di balik topengnya.
Pria itu adalah Kobra, pemimpin kelompok bayaran yang disewa oleh Broto Sanjaya.
Kobra memberi isyarat tangan, dan pasukannya perlahan mengepung SUV yang ditumpangi Rizal.
"Keluar dari mobil, atau kami akan membakar kalian di dalam sana!"
Kobra berteriak dengan suara serak yang mengerikan.
Para pengawal Wijaya Group di belakang sudah berhasil dilumpuhkan dan disandera oleh pasukan Kobra.
Kapten Bima menatap Rizal dengan raut wajah putus asa.
"Maafkan saya Tuan Rizal, saya gagal melindungi Anda."
Rizal hanya menepuk pelan bahu Kapten Bima dan tersenyum menenangkan.
"Tidak apa-apa Kapten, buka saja pintunya. Saya ingin melihat siapa yang berani menyapa saya malam-malam begini."
Rizal membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan sangat tenang, seolah dia sedang turun untuk menikmati angin malam di taman.
Kapten Bima menyusul keluar dengan tangan masih memegang pistol, bersiap mati demi melindungi bosnya.
Kobra tertawa keras melihat pemuda berpakaian kasual yang berdiri di depannya tanpa rasa takut sedikit pun.
"Jadi kau yang namanya Rizal? Pemilik baru Wijaya Group yang sangat sombong itu?"
Kobra menodongkan moncong senjatanya tepat ke dahi Rizal dari jarak beberapa meter.
"Tuan Broto Sanjaya menitipkan salam kematian untukmu, anak muda."
"Tuan Broto ya? Ternyata dia lebih bodoh dari yang aku kira."
Rizal menjawab dengan nada datar sambil memasukkan tangannya ke dalam saku.
"Dia mengirim sekelompok badut bertopeng untuk menggangguku."
Wajah Kobra di balik topengnya langsung memerah karena marah mendengar hinaan tersebut.
Dia adalah pembunuh bayaran paling ditakuti di dunia bawah tanah, dan pemuda ingusan di depannya ini berani memanggilnya badut.
"Jaga mulutmu, anak anjing!"
Kobra meludah ke tanah dan menatap Rizal dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
"Kau pikir kau ini jagoan karena punya banyak uang? Di tempat ini, uangmu tidak ada harganya!"
Kobra menunjuk tubuh Rizal dengan senjatanya, dari atas sampai bawah.
"Lihat tubuh kurusmu itu, kau bahkan tidak akan bisa bertahan sepuluh detik melawanku dengan tangan kosong!"
"Satu pukulanku saja sudah cukup untuk menghancurkan seluruh tulang rusukmu yang rapuh itu!"
Kobra tertawa terbahak-bahak diikuti oleh sorakan mengejek dari puluhan anak buahnya yang mengepung mereka.
"Bos Kobra benar! Anak ini pasti akan menangis memanggil ibunya kalau kita pukul sedikit saja!"
Ting!
[Mendeteksi adanya omong kosong dan hinaan merendahkan yang meragukan kemampuan fisik Anda.]
[Kebohongan: Tubuh Anda rapuh, tidak bisa bertahan sepuluh detik, dan tulang rusuk Anda akan hancur dengan satu pukulan.]
Rizal seketika menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum iblis yang tidak bisa ia tahan lagi.
Bulan purnama yang bersinar redup di atas sana seolah menjadi saksi bisu dari kebangkitan monster yang sesungguhnya.
[Memproses manipulasi realitas pada batas kemampuan fisik Anda...]
[Manipulasi berhasil. Sistem telah mengubah kelemahan yang dituduhkan menjadi kekuatan mutlak.]
[Tuan telah memperoleh Keahlian Bela Diri Tingkat Dewa dan Penguatan Tulang Rangka Baja secara permanen.]
Boom!
Aliran energi yang sangat panas tiba-tiba meledak dari dalam tubuh Rizal, mengalir deras ke seluruh jaringan otot, saraf, dan tulang-tulangnya.
Tubuhnya yang tadinya memang terlihat biasa saja, kini terasa sepadat dan sekeras intan murni.
Berbagai macam teknik bela diri kuno dan mematikan dari seluruh dunia tercetak jelas di dalam otaknya layaknya insting alami yang sudah ia miliki sejak lahir.
Rizal perlahan mengangkat kepalanya dan menatap Kobra.
Aura yang memancar dari mata Rizal kini bukan lagi aura seorang pengusaha, melainkan aura sang dewa petarung yang siap mencabut nyawa.
"Tidak bisa bertahan sepuluh detik dengan tangan kosong?"
Rizal mengulangi kalimat Kobra dengan nada yang sangat pelan dan berat.
"Bagaimana kalau kita buktikan bualanmu itu sekarang, Kobra?"
Rizal melangkah maju satu langkah, menantang pembunuh bayaran itu secara langsung.
Kobra mendengus kesal dan memberikan senjatanya kepada salah satu anak buahnya.
"Sombong sekali! Biar aku yang mematahkan lehernya!"
Kobra melangkah maju dan langsung melayangkan pukulan tangan kanan yang sangat keras ke arah wajah Rizal.